Seni Mencinta
karya Erich Fromm
Bagi seorang anak,
Ibu adalah rumah darimana kita datang,
Ia adalah alam, tanah, lautan.
Bagi seorang anak,
Ibu adalah kehangatan,
Ibu adalah makanan,
Ibu adalah keadaan perasaan nyaman dan aman,
Ibu memberikan cinta yang tak bersyarat.
Bagi seorang bayi,
Keamanan adalah kebersatuannya dengan seorang ibu,
Pemberi makanan dan kehangatan,
Keterpisahan dengan ibu merupakan sumber kecemasan,
Keterpisahan juga merupakan rasa malu dan bersalah,
Rasa kesepian terobati oleh kehadiran fisik ibunya,
buah dadanya,
kedekatannya.......
Belajar dan berbagi kisah kasih kehidupan yang penuh kehangatan dan kebersahajaan
Showing posts with label Inspiring people. Show all posts
Showing posts with label Inspiring people. Show all posts
Monday, February 02, 2009
Wednesday, July 02, 2008
Aussie 3: Boss yang baik hati....
Konperensi kebakaran yang penuh dengan presentasi para pakar maupun praktisi lapangan berlangsung selama 3 hari dan setiap harinya mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore.
Di suatu sore setelah acara presentasi, saya dan Bu Sulasih diajak Pak Helmut Dotzauer dan istrinya (ibu Doris) untuk jalan-jalan ke Mall Queen Victoria. Bangunan mall itu sangat indah dengan arsitektur klasik penuh ukiran, lantainya berupa mosaik porselin dengan ornamen indah dan jendelanya dibuat dengan kaca warna-warni yang sangat mempesona. Di mall itu Pak Helmut mentraktir kami minum kopi dan menikmati kue black forest. "Kami yang mengundang anda untuk jalan ke mall ini, maka kami yang mentraktir jajanan ini", kata Pak Helmut ketika aku mau membayar minuman dan makanan itu.
Dari mall kami berempat kemudian jalan-jalan ke Taman Botani yang agak dekat dengan mall itu sehingga bisa kami tempuh dengan jalan kaki. Di Taman itu Ibu Sulasih berbisik dengan penuh haru kepada saya; "Mas Edy, Pak Helmut itu bule tapi baik hati bener ya. Dia seorang boss tapi rendah hati dan mau mentraktir bawahan seperti kita. Kalau di Indonesia, mana ada boss mentraktir bawahan. Yang ada malah bawahan menyediakan upeti dan mentraktir boss".
Saya sendiri sangat setuju dengan pendapat ibu Sulasih. Pak Helmut memang seorang boss yang rendah hati, ramah, suka guyon, pintar diplomasi dengan pejabat namun tetap tegas dan beliau sangat perhatian dengan anak buah. Banyak karyawan yang diberi bea siswa untuk menempuh jenjang S1, S2 atau ikut training level nasional dan internasional. Beliau juga nggak segan-segan menaikkan gaji karyawan untuk karyawan berprestasi. Selama periode Pak Helmut, aku nggak pernah minta kenaikan gaji, karena tanpa kuminta beliaupun sudah menaikkan gajiku. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada staf nasional seperti saya, dik Lenny, Mbak Yana dll untuk berkreasi dalam menjalankan tugas. Beliau hanya memberikan arah kebijakan program, dan implementasinya dipercayakan ke kami. Meski demikian beliau akan mudah turun tangan bila kami memerlukan dukungan misalnya saat lobby-lobby dengan para pejabat. Kami yang staf nasional GTZ merasa sangat berkembang dengan gaya kepemimpinan beliau.
Tahun 2004 proyek kami selesai dengan prestasi yang cukup bagus. Pak Helmutpun harus meninggalkan Indonesia untuk sebuah jabatan baru di Honduras (Amerika Tengah). Aku berpikir, tidak mudah cari pimpinan yang sebaik beliau. Perilaku kepemimpinan beliau menjadi inspirasi sumber pembelajaran bagiku. Selamat jalan Pak Helmut dan Bu Doris, you are my inspiration.....
Di suatu sore setelah acara presentasi, saya dan Bu Sulasih diajak Pak Helmut Dotzauer dan istrinya (ibu Doris) untuk jalan-jalan ke Mall Queen Victoria. Bangunan mall itu sangat indah dengan arsitektur klasik penuh ukiran, lantainya berupa mosaik porselin dengan ornamen indah dan jendelanya dibuat dengan kaca warna-warni yang sangat mempesona. Di mall itu Pak Helmut mentraktir kami minum kopi dan menikmati kue black forest. "Kami yang mengundang anda untuk jalan ke mall ini, maka kami yang mentraktir jajanan ini", kata Pak Helmut ketika aku mau membayar minuman dan makanan itu.
Dari mall kami berempat kemudian jalan-jalan ke Taman Botani yang agak dekat dengan mall itu sehingga bisa kami tempuh dengan jalan kaki. Di Taman itu Ibu Sulasih berbisik dengan penuh haru kepada saya; "Mas Edy, Pak Helmut itu bule tapi baik hati bener ya. Dia seorang boss tapi rendah hati dan mau mentraktir bawahan seperti kita. Kalau di Indonesia, mana ada boss mentraktir bawahan. Yang ada malah bawahan menyediakan upeti dan mentraktir boss".
Saya sendiri sangat setuju dengan pendapat ibu Sulasih. Pak Helmut memang seorang boss yang rendah hati, ramah, suka guyon, pintar diplomasi dengan pejabat namun tetap tegas dan beliau sangat perhatian dengan anak buah. Banyak karyawan yang diberi bea siswa untuk menempuh jenjang S1, S2 atau ikut training level nasional dan internasional. Beliau juga nggak segan-segan menaikkan gaji karyawan untuk karyawan berprestasi. Selama periode Pak Helmut, aku nggak pernah minta kenaikan gaji, karena tanpa kuminta beliaupun sudah menaikkan gajiku. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada staf nasional seperti saya, dik Lenny, Mbak Yana dll untuk berkreasi dalam menjalankan tugas. Beliau hanya memberikan arah kebijakan program, dan implementasinya dipercayakan ke kami. Meski demikian beliau akan mudah turun tangan bila kami memerlukan dukungan misalnya saat lobby-lobby dengan para pejabat. Kami yang staf nasional GTZ merasa sangat berkembang dengan gaya kepemimpinan beliau.
Tahun 2004 proyek kami selesai dengan prestasi yang cukup bagus. Pak Helmutpun harus meninggalkan Indonesia untuk sebuah jabatan baru di Honduras (Amerika Tengah). Aku berpikir, tidak mudah cari pimpinan yang sebaik beliau. Perilaku kepemimpinan beliau menjadi inspirasi sumber pembelajaran bagiku. Selamat jalan Pak Helmut dan Bu Doris, you are my inspiration.....
Monday, May 19, 2008
TUJUH DOSA (menurut Mahatma Gandhi)
Friday, April 25, 2008
Melayani dengan hati

Ihsan namanya. Dia bekerja sebagai driver di PT Kaltim Prima Coal yang merupakan salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Walau sudah bekerja beberapa tahun, Mas Ihsan masih sebagai karyawan kontrak dengan gaji yang tidak terlalu besar dibandingkan profesionalisme yang dimilikinya. Dia sangat ahli untuk menyetir mobil di medan yang sangat berat, dan cara dia membawa mobil sangat halus dan nyaman.
Aku mengenal Mas Ihsan secara agak intensif ketika dia mengantar kami ke desa Mukti Jaya - Kec. Rantau Pulung - Kutai Timur. Di balik kebersahajaannya, Mas Ihsan merupakan sosok yang ramah, mudah akrab, terbuka dan tahan banting. Mas Ihsan melayani kami dengan sangat luar biasa sabarnya. Ketika kami terjebak lumpur sampai jam 2 malam, Mas Ihsan melayani kami masih dengan penuh senyum dan optimisme. Walau kami semua tahu beliau saat itu juga harus menahan lapar dan letih karena melakukan berbagai upaya keras untuk mengeluarkan mobilnya dari jebakan kubangan lumpur. Saya sendiri kalau dalam posisi dia mungkin sudah stress dan jadi pemarah... Tapi beliau malah masih selalu tersenyum dan menghibur kami... Beliau melayani kami dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih... padahal kami adalah orang "luar" yang cuma numpang mobil beliau...
Dibalik kesederhanaannya, dengan posisinya sebagai driver (yang notabene masuk klas blue collar), Mas Ihsan menyimpan mutiara budi pekerti yang sangat luhur. Saya merasa perlu belajar banyak kepada beliau tentang ilmu kehidupan ini... Doa tulus kupanjatkan, semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkati langkah-langkahnya dan memberikan hidayah kebahagiaan untuk Mas Ihsan sekeluarga... Amin...
Wednesday, April 23, 2008
Bule yang murah hati
Saya punya kawan bernama Marc Nicolas. Beliau orang Perancis yang sudah sejak tahun 1996-an kerja di Indonesia. Keahlian beliau adalah di bidang Rescue dan kebakaran hutan. Saya kenal beliau ketika beliau bekerja di proyek pengendalian kebakaran hutan di Samarinda.
Beliau karakternya sangat keras bahkan cenderung tidak sabaran dan pemarah. Tapi dibalik sikapnya yang keras, beliau sangat romantic dan lembut hati. Beliau juga seorang yang mempunyai jiwa seni tinggi. Rumah tempat tinggalnya beliau renovasi dengan desain sendiri dan hasilnya woooww… indah dan nyaman …. Walau beliau orang Prancis, tapi beliau sangat cinta pada tanah air Indonesia. Beliau pernah bekerja di Palembang, Samarinda dan Banjarmasin. Di Banjarmasin, beliau masuk Islam dengan dibimbing oleh ulama besar Martapura yang akrab dipanggil Guru Ijai (almarhum). Beliau masuk Islam karena benar-benar panggilan jiwa dan beliau sudah mempelajarinya cukup lama bahkan konon sejak di Perancis dulu. Alhamdulillah, dua tahun lalu beliau menunaikan ibadah haji…
Aku belajar banyak dari beliau tentang disiplin, cara berpikir yang focus, cara menulis yang baik, rasa cinta kepada tanah air, keimanan dan khususnya perhatian terhadap kaum dhuafa (solidaritas social). Di jaman krismon tahun 1997, ketika beras mahal, beliau sudah berinisiatif beli beras di pasar dan di tengah malam dia kunjungi kaum fakir miskin sambil membagikan beras itu. Beliau juga mengangkat beberapa orang adik angkat yang dia bantu biaya pendidikan hingga sarjana..Saat inipun beliau mempunyai banyak anak angkat (konon sampai lebih 30 orang) yang beliau support biaya pendidikannya di SD, SMP dan SLTA.
Terkadang aku berpikir, beliau yang bule asing ternyata penuh cinta kasih terhadap kaum dhuafa di sekeliling kita. Sementara saya dan banyak orang Indonesia lainnya terkadang menutup mata melihat kesengsaraan orang yang sebangsa yang ada di depan mata kita… Ya Tuhan ampunilah kami….. Bukakan pintu hati kami agar kami mempunyai jiwa yang peduli dan pemurah terhadap sesama..jauhkanlah kami dari jiwa tamak dan kikir….
Beliau karakternya sangat keras bahkan cenderung tidak sabaran dan pemarah. Tapi dibalik sikapnya yang keras, beliau sangat romantic dan lembut hati. Beliau juga seorang yang mempunyai jiwa seni tinggi. Rumah tempat tinggalnya beliau renovasi dengan desain sendiri dan hasilnya woooww… indah dan nyaman …. Walau beliau orang Prancis, tapi beliau sangat cinta pada tanah air Indonesia. Beliau pernah bekerja di Palembang, Samarinda dan Banjarmasin. Di Banjarmasin, beliau masuk Islam dengan dibimbing oleh ulama besar Martapura yang akrab dipanggil Guru Ijai (almarhum). Beliau masuk Islam karena benar-benar panggilan jiwa dan beliau sudah mempelajarinya cukup lama bahkan konon sejak di Perancis dulu. Alhamdulillah, dua tahun lalu beliau menunaikan ibadah haji…
Aku belajar banyak dari beliau tentang disiplin, cara berpikir yang focus, cara menulis yang baik, rasa cinta kepada tanah air, keimanan dan khususnya perhatian terhadap kaum dhuafa (solidaritas social). Di jaman krismon tahun 1997, ketika beras mahal, beliau sudah berinisiatif beli beras di pasar dan di tengah malam dia kunjungi kaum fakir miskin sambil membagikan beras itu. Beliau juga mengangkat beberapa orang adik angkat yang dia bantu biaya pendidikan hingga sarjana..Saat inipun beliau mempunyai banyak anak angkat (konon sampai lebih 30 orang) yang beliau support biaya pendidikannya di SD, SMP dan SLTA.
Terkadang aku berpikir, beliau yang bule asing ternyata penuh cinta kasih terhadap kaum dhuafa di sekeliling kita. Sementara saya dan banyak orang Indonesia lainnya terkadang menutup mata melihat kesengsaraan orang yang sebangsa yang ada di depan mata kita… Ya Tuhan ampunilah kami….. Bukakan pintu hati kami agar kami mempunyai jiwa yang peduli dan pemurah terhadap sesama..jauhkanlah kami dari jiwa tamak dan kikir….
Monday, December 17, 2007
Istriku yang pekerja keras
Dewi Setiawati, itu nama istriku. Dia lahir tahun 1972 dan menikah denganku di usia 23 tahun. Setahun kemudian lahirlah buah hati kami yang kami beri nama Dudi. Istriku rajin membersihkan rumah, mencuci baju, menyeterika, mengepel lantai dan segala urusan rumah tangga beres ditangannya. Dia juga rajin antar jemput si Dudi ke sekoilah dan kursus. Tak lupa dia juga selalu siap sedia melayani kebutuhanku. Walau kalau lagi kumat manjanya, dia malas masak dan malah minta aku yang masak bikin indomie. Kata istriku dan anakku, indomie buatanku memang mak nyuuuusssss.. nggak kalah rasanya sama mie kuah Mie Jogja-nya Pak Karso.
Ibuku memang wong ndeso, beliau punya indikator yang ndeso pula untuk menilai sesamanya. Seorang istri yang baik adalah istri yang trampil di dapur serta mampu membereskan urusan rumah tangga, itu katanya. Melihat segenap kerja keras istriku, ibuku jadi sangat sayang sama istriku. Saudara-saudaraku menyebutnya "menantu kesayangan". Istriku tidak hanya rajin di rumahku...kalo pas tinggal di rumah ibuku, di rumah mertuaku atau di rumah mbak Tatik kakakku, dia juga rajin beres-beres rumah...
Istriku seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Dulu waktu gadis pernah bekerja di BKIA atau poliklinik sebagai asisten perawat. Tapi semenjak menikah denganku, dia kuminta untuk fokus ngurus rumah. Aku kuatir kalo istriku juga kerja nanti anak dan keluarga nggak terurus... Alhamdulillah istriku setuju dengan ideku....
Istri yang rajin dan pekerja keras mrupakan suatu karunia bagiku. Dia rela mengorbankan segenap kepentingan pribadinya demi keluarga.....Walau terkadang ada hal-hal yang kurang sempurna, tapi kusadari itu merupakan fitrahnya sebagai manusia...
Istriku, I love you......
Monday, November 26, 2007
Bapakku, wong ndeso yang lugu dan pekerja keras
Menurut KTP, bapakku lahir tahun 1928 tanpa ada keterangan tanggal dan bulan. Beliau seaktu kecil bernama Ngabdul. Mungkin nama beliau diadopsi dari bahasa Arab "Abdul", hanya saja karena kesangkut lidah Jawa yang medok maka jadi Ngabdul. Setelah ayahku menikah dengan ibuku, beliau punya nama tua Sastrodiharjo. Meki demikian sebagian orang masih menyebut bapakku dengan sebutan Pak Ngabdul, Pak sastro ngabdul atau terkadang pak Sastro.
Meski namanya Sastro, sungguh mati bapakku bukan seorang sastrawan. Beliaupun kayaknya nggak pernah lulus Sekolah Rakyat (nama lain dari SD jaman itu). Beliau konon tidak terlalu cerdas di sekolah. Meski demikian sewaktu aku masih kelas 1-2 SD, bapakku dulu sangat rajin mengajariku membaca di bawah temaram lampu teplok minyak di setiap malam. Sehingga tidak mengherankan sewaktu kelas 1 SD aku sudah lancar membaca dan buku atau majalah apapun kulalap termasuk cerita silat Nogososro Sabukinten maupun Api di Bukit Menoreh karya SH Mintarja. Bapakku juga rajin membuatkan aku batang lidi untuk alat bantu berhitung. Mungkin bapakku berpikir bahwa beliau tidak bisa menempuh pendidikan yang memadai, maka beliau rela melakukan apapun agar aku bisa sekolah dengan baik.
Menjelang makan malam di atas balai-balai di dapur, sambil menunggu masakan dihidangkan oleh ibuku, bapakku biasa ngajari aku dengan lagu-lagu jawa sederhana. Balai-balai di dapur ini menjadi ajang kumpul keluarga setiap harinya sambil menikmati makan malam.
Bapaku seorang petani tulen. Dengan perawakan yang tinggi besar, beliau sangat kuat untuk mencangkul di kebun atau sawah. Aku sangat senang menemani beliau mencangkul sambil mencari dan mengumpulkan belut atau gangsir (jangkrik besar) untuk dibuat lauk makan. Aku paling suka lihat bapakku makan sehabis mencangkul, karena beliau akan makan dengan lahap meski menunya hanya nasi dengan sayuran hijau.
Bapakku seorang yang sangat lugu. Konon sewaktu sehabis G30S, banyak kerabat bapakku yang diciduk aparat karena diduga terlibat G30S. Saat itu bapakku tidak melarikan diri malah beliau kemudian mendatangi tentara dan menanyakan mengapa dirinya tidak ikut ditahan seperti saudara-saudaranya. Mungkin tentara saat itu tidak menangkap bapakku karena dianggapnya bapakku orang yang bodoh sehingga tidak perlu dicurigai ikut gerombolan G30S.
Bapakku terkasih meninggal dunia pada bulan puasa tahun 1996. Aku saat itu sedang kerja di Jakarta dan kaget bukan kepalang karena selama ini tidak dengar kabar beliau sakit. Dari ibuku aku mendengar bahwa bapakku menjelang meninggalnya masih sempat makan sahur terus kemudian bermain-main dengan salah seorang cucu di halaman rumah sambil berjemur. Sekitar jam 8 pagi beliau pergi ke kebun di samping rumah dan jam 9 pagi pulang ke rumah terus tiduran. Sekitar setengah jam kemudian ibuku mendengar bapakku mengorok dan ibu berusaha membangunkan bapakku. Tapi saat itu badan bapakku terasa dingin maka ibuku kemudian mengundang mantri kesehatan yang segera datang ke rumah. Meski sudah dilakukan beberapa upaya pertolongan, pada jam 11 pagi, ayahku sudah dipanggil menghadap Illahi.
Satu hal yang terkadang tersisa di hatiku adalah sebersit penyesalan karena ayahku meninggal ketika aku belum bisa membahagiakan beliau. Beliau yang telah bekerja keras membesarkanku dan menyekolahkanku, belum sempat menikmati buah atau hasil kerja kerasnya. Aku yakin beliau melakukan semua itu dengan ikhlas tanpa pamrih, tapi hati kecilku menyesal karena merasa aku belum berbuat sesuatu untuk membahagiakan bapakku. Aku hanya bisa mengirimkan doa untuk bapakku, semoga beliau diampuni segenap dosanya dan diberi limpahan surgawi oleh Illahi....
Wahai Bapakku yang lugu, dengarkanlah bahwa aku sangat mencintaimu ....
Meski namanya Sastro, sungguh mati bapakku bukan seorang sastrawan. Beliaupun kayaknya nggak pernah lulus Sekolah Rakyat (nama lain dari SD jaman itu). Beliau konon tidak terlalu cerdas di sekolah. Meski demikian sewaktu aku masih kelas 1-2 SD, bapakku dulu sangat rajin mengajariku membaca di bawah temaram lampu teplok minyak di setiap malam. Sehingga tidak mengherankan sewaktu kelas 1 SD aku sudah lancar membaca dan buku atau majalah apapun kulalap termasuk cerita silat Nogososro Sabukinten maupun Api di Bukit Menoreh karya SH Mintarja. Bapakku juga rajin membuatkan aku batang lidi untuk alat bantu berhitung. Mungkin bapakku berpikir bahwa beliau tidak bisa menempuh pendidikan yang memadai, maka beliau rela melakukan apapun agar aku bisa sekolah dengan baik.
Menjelang makan malam di atas balai-balai di dapur, sambil menunggu masakan dihidangkan oleh ibuku, bapakku biasa ngajari aku dengan lagu-lagu jawa sederhana. Balai-balai di dapur ini menjadi ajang kumpul keluarga setiap harinya sambil menikmati makan malam.
Bapaku seorang petani tulen. Dengan perawakan yang tinggi besar, beliau sangat kuat untuk mencangkul di kebun atau sawah. Aku sangat senang menemani beliau mencangkul sambil mencari dan mengumpulkan belut atau gangsir (jangkrik besar) untuk dibuat lauk makan. Aku paling suka lihat bapakku makan sehabis mencangkul, karena beliau akan makan dengan lahap meski menunya hanya nasi dengan sayuran hijau.
Bapakku seorang yang sangat lugu. Konon sewaktu sehabis G30S, banyak kerabat bapakku yang diciduk aparat karena diduga terlibat G30S. Saat itu bapakku tidak melarikan diri malah beliau kemudian mendatangi tentara dan menanyakan mengapa dirinya tidak ikut ditahan seperti saudara-saudaranya. Mungkin tentara saat itu tidak menangkap bapakku karena dianggapnya bapakku orang yang bodoh sehingga tidak perlu dicurigai ikut gerombolan G30S.
Bapakku terkasih meninggal dunia pada bulan puasa tahun 1996. Aku saat itu sedang kerja di Jakarta dan kaget bukan kepalang karena selama ini tidak dengar kabar beliau sakit. Dari ibuku aku mendengar bahwa bapakku menjelang meninggalnya masih sempat makan sahur terus kemudian bermain-main dengan salah seorang cucu di halaman rumah sambil berjemur. Sekitar jam 8 pagi beliau pergi ke kebun di samping rumah dan jam 9 pagi pulang ke rumah terus tiduran. Sekitar setengah jam kemudian ibuku mendengar bapakku mengorok dan ibu berusaha membangunkan bapakku. Tapi saat itu badan bapakku terasa dingin maka ibuku kemudian mengundang mantri kesehatan yang segera datang ke rumah. Meski sudah dilakukan beberapa upaya pertolongan, pada jam 11 pagi, ayahku sudah dipanggil menghadap Illahi.
Satu hal yang terkadang tersisa di hatiku adalah sebersit penyesalan karena ayahku meninggal ketika aku belum bisa membahagiakan beliau. Beliau yang telah bekerja keras membesarkanku dan menyekolahkanku, belum sempat menikmati buah atau hasil kerja kerasnya. Aku yakin beliau melakukan semua itu dengan ikhlas tanpa pamrih, tapi hati kecilku menyesal karena merasa aku belum berbuat sesuatu untuk membahagiakan bapakku. Aku hanya bisa mengirimkan doa untuk bapakku, semoga beliau diampuni segenap dosanya dan diberi limpahan surgawi oleh Illahi....
Wahai Bapakku yang lugu, dengarkanlah bahwa aku sangat mencintaimu ....
Friday, November 23, 2007
Meraih asa, bergelut derita
Badannya mungil dan imut, berwajah cantik, berbungkus kulit kuning langsat, berotak cerdas, berpikir dewasa dan bertingkah ceria nan lincah. Kalau dia pake kaos T-shirt dan celana overall, dia mirip anak SMP karena saking imutnya. Itulah sosok Lenny Christy, seorang karib yang biasa kupanggil dik Lenny. Dengan sosok yang jelita dan penuh inner beauty seperti itu, maka berbahagialah laki-laki yang mendapatkan cinta kasihnya...he..he...he...
Dia teman karib sekantorku dulu di proyek kebakaran hutan. Aku salut dengan perjuangan hidupnya. Dia mulai kerja di kantorku dengan menggunakan ijazah Diploma 1 sekretaris dan bekerja sebagai kasir. Setelah beberapa lama ada seorang bule perempuan ahli pemetaan GIS bernama Anja yang tertarik melihat ketrampilan dik Lenny dalam bidang komputer. Dik Lenny kemudian ditawari jadi asisten beliau. Dengan kerja keras dik Lenny dan bimbingan Anja, dik Lennypun tumbuh menjadi seorang yang ahli GIS. Dik Lenny tidak berhenti di situ saja dia terus belajar dan menempuh S1 dibidang informatika di sebuah Perguruan Tinggi di Samarinda dan berhasil lulus terbaik dengan predikat cum laude (atau bahkan summa cum laude). Dengan perjuangan kerasnya karir dik Lenny terus menanjak bahkan dari sisi salary, dia telah menyalip banyak kawan seangkatan dia bahkan menyalip kawan2 yang level pendidikannya lebih tinggi.
Setelah proyek selesai, dia pindah ke sebuah LSM Internasional di samarinda. Dia juga tidak puas dengan pendidikan S1, dik Lennypun menempuh pendidikan S2 di Universitas Mulawarman Samarinda walaupun untuk itu diapun harus mengorbankan waktu untuk sekolah hari demi hari. Karir diapun terus berkembang, walau tentu saja tidak sedikit riak yang menghadang.
Dari perjuangan dik Lenny, aku mendapat hikmah bahwa untuk meraih asa kita harus mau berjuang dan terus belajar dan belajar. Hidup adalah pembelajaran... Salut dan selamat untuk perjuangan dik Lenny yang tiada kenal lelah untuk belajar....
Wednesday, November 21, 2007
Hargailah jerih payah pasanganmu
Kakakku nomor dua bernama Sri Hartati dan biasa kupanggil Mbak Tatik. Beliau tinggal di Yogya dan berwirausaha buka kios kelontong. Mbak Tatik lahir tahun 1952 dan menikah tahun 1975. Sejak tahun 1981/1982, kakakku menjanda karena kakak iparku meninggal dunia akibat sakit lever. Dengan dukungan keluarga besar kakak iparku, kakakku berwiraswasta dan membesarkan ketiga orang anaknya. Beliau semenjak ditinggal kakak iparku fokus menangani wiraswasta dan tidak menikah lagi. Alhamdulillah perjuangannya membuahkan hasil dimana 2 orang anaknya saat ini sudah bekerja di kejaksaan dan 1 orang anaknya menemani kakakku berwiraswasta. Beliau juga sudah mempunyai seorang cucu yang cerdas dan lucu. Dudi anakkupun sangat dekat dengan Mbak Tatik dan biasa memanggilnya dengan sebutan Mama Ndut karena badan Mbak Tatik agak gemuk.
Dari kakakku aku belajar tentang sebuah kesetiaan dan perjuangan untuk membahagiakan keluarga. Aku ingat kakakku pernah bilang padaku bahwa suatu saat ketika suaminya (kakak iparku) masih hidup, di suatu sore Kakakku sibuk masak di dapur untuk menyiapkan makan malam. Ketika kakak iparku pulang dari kantor, kakak iparku bilang bahwa dia sudah makan di luar dengan teman-temannya. Mendengar kata suaminya, kakakku kemudian menangis karena merasa jerih payahnya menyiapkan makan malam menjadi sia-sia. Dari cerita kakakku tersebut, aku memperoleh pesan bahwa dalam berumahtangga kita hendaknya harus menghargai jerih payah pasangan kita dan terkadang kita harus memberikan perhatian untuk hal-hal kecil.. Pesan kakakku itu selalu terngiang di telingaku sehingga akupun berusaha untuk menghargai jerih payah istriku....
Tuesday, November 20, 2007
Cinta tulus tak berbatas waktu
Ibuku bernama Sumisih. Tidak ada bukti surat atau akte kelahiran tapi konon beliau dilahirkan tahun 1932 lalu. Beliau seorang perempuan ndeso yang bersahaja dan tinggal di sebuah desa kaki gunung Merbabu di Magelang sana. Seperti layaknya perempuan ndeso, beliau sehari-hari bekerja berkutat di dapur dan di sawah. Beliau membesarkan aku dan anak-anakku dengan penuh kasih sayang. Selain mengatur kebutuhan logistik rumah tangga (menteri urusan pangan), beliau juga bertanggungjawab sebagai Menteri keuangan di keluarga kami. setiap kami perlu uang untuk sekolah, beli baju sampai jajan semuanya minta ke ibuku.
Ibuku juga pinter masak, walau masakan ala ndeso. Apapun yang beliau masak, semua terasa enak di lidahku. Makanya aku tidak suka jajan makanan di luar (selain juga karena persoalan uang jajan yang minim). Walau aku sudah makan di luar rumah sekalipun, rasanya belum puas kalau belum makan masakan ibuku. Karena keahliannya dalam memasak, ibuku sering diminta bantuannya untuk ngurusi logistik bila ada famili atau tetangga punya gawe atau hajatan.
Dari ibuku aku belajar tentang kasih ibu yang tak lekang oleh jaman. Beliau menyayangi bapakku, kakak2ku dan diriku. Beliau sangat sayang pada cucu-cucunya termasuk Dudi anakku. Saking sayangnya sama Dudi, setiap anakku dari samarinda telpon beliau, beliau selalu menanyakan anakku pengin kiriman makanan apa? Terkadang beliau mengirim makanan snack kampung yang sebenarnya juga dijual di samarinda. Terkadang biaya kirim via pos paket jauh lebih mahal dari pada harga makanan yang dikirimkan.
Dari ibuku aku belajar tentang kasih ibu yang tak lekang oleh jaman. Beliau menyayangi bapakku, kakak2ku dan diriku. Beliau sangat sayang pada cucu-cucunya termasuk Dudi anakku. Saking sayangnya sama Dudi, setiap anakku dari samarinda telpon beliau, beliau selalu menanyakan anakku pengin kiriman makanan apa? Terkadang beliau mengirim makanan snack kampung yang sebenarnya juga dijual di samarinda. Terkadang biaya kirim via pos paket jauh lebih mahal dari pada harga makanan yang dikirimkan.
Untuk aku dan istrikupun beliau senantiasa mencurahkan kasih sayangnya. Berbagai barang beliau kirimkan sebagai tanda kasih untukku dan istriku, walau aku dan istriku sering melarangnya. Aku tahu untuk membeli berbagai barang itu beliau harus menyisihkan serupiah demi rupiah, dan aku sendiri sebenarnya tiada kesulitan untuk membeli barang itu. Tapi begitulah, kasih ibuku tidak memandang harga...demi cinta kasih sama keluargaku beliau rela mengorbankan apa saja.... Tiada keluh kesah dalam memberikan pelayanan terbaik untuk keluarga....Benar kata pepatah bahwa kasih ibu itu tiada berbatas waktu.......... Sungkem hormat dan kasih untuk ibuku, karena aku tak kan pernah bisa membalas budi jasamu........
Subscribe to:
Posts (Atom)
