Tuesday, September 29, 2026

The Maxwell Daily Reader

 


The Maxwell Daily Reader: Bacaan Inspirasional 365 Hari untuk Mengembangkan Jiwa Pemimpin di Dalam Diri Anda dan Memengaruhi Orang di Sekitar Anda

Penulis: John C. Maxwell

Penerjemah: Paul A. Rajoe

Penerbit: PT Buana Ilmu Populer (BIP)

Halaman: 421 halaman

 

John Maxwell merupakan penulis buku “the 21 Irreputable laws of Leadership”, yang konon merupakan salah satu buku leadership terlaris versi New York Times. Buku The Maxwell Daily Reader sendiri adalah kumpulan renungan harian karya John C. Maxwell, yang merangkum gagasan-gagasan utama Maxwell tentang kepemimpinan, pengembangan diri, karakter, hubungan dengan orang lain, dan pertumbuhan pribadi.

 Buku ini pada dasarnya membawa satu gagasan besar bahwa:

“Kepemimpinan bukan terutama tentang jabatan, melainkan tentang kemampuan memengaruhi, melayani, dan mengembangkan orang lain—dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri”.

Dalam buku ini setiap hari pembaca diajak merenungkan satu prinsip singkat. Jika disarikan, gagasan Maxwell dapat dikelompokkan menjadi beberapa tema berikut.

Tema

Gagasan utama

Pertumbuhan pribadi

Seseorang berkembang ketika terus belajar, membaca, mengevaluasi diri, dan keluar dari zona nyaman.

Kepemimpinan

Pemimpin memperoleh pengaruh melalui karakter, keteladanan, kompetensi, dan hubungan, bukan sekadar posisi formal.

Karakter

Kepercayaan orang lain dibangun melalui integritas dan konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Sikap   

Cara seseorang merespons keadaan sering lebih menentukan daripada keadaan itu sendiri.

Disiplin

Keberhasilan jangka panjang merupakan akumulasi kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Hubungan

Orang tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga penghargaan, perhatian, empati, dan kepercayaan.

Pengambilan keputusan

Kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran apabila seseorang berani mengevaluasi dan memperbaikinya.

Kerja tim

Pemimpin yang baik tidak berusaha menjadi orang paling hebat dalam tim, tetapi membantu anggota tim menjadi lebih baik.

Pelayanan

Pengaruh yang kuat lahir ketika kepemimpinan digunakan untuk memberi nilai kepada orang lain.

Warisan kepemimpinan

Ukuran keberhasilan pemimpin bukan hanya apa yang ia capai, tetapi juga orang-orang yang berhasil ia kembangkan.

          

1. Pertumbuhan adalah proses, bukan peristiwa

Salah satu benang merah terpenting Maxwell adalah bahwa pertumbuhan pribadi harus disengaja. Seseorang tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena bertambah usia atau pengalaman.

Pertumbuhan membutuhkan:

belajar → mempraktikkan → mengevaluasi → memperbaiki → mengulangi.

Karena itu, pengalaman baru mempunyai nilai apabila seseorang mau mengambil pelajaran darinya. Dalam konteks pekerjaan, ini berarti seorang pejabat atau manajer tidak cukup hanya menyelesaikan pekerjaan. Ia juga perlu bertanya:

  • Apa yang saya pelajari?
  • Apa yang belum berjalan baik?
  •  Apa yang harus saya ubah?
  • Bagaimana saya membantu anggota tim berkembang?

 

2. Memimpin diri sebelum memimpin orang lain

Maxwell melihat self-leadership sebagai dasar kepemimpinan. Sebelum seseorang mampu memengaruhi orang lain, ia perlu mampu mengelola:

  • waktu,
  • emosi,
  • kebiasaan,
  • prioritas,
  • komitmen,
  • dan tanggung jawabnya sendiri.

Dengan kata lain, kredibilitas pemimpin dibangun dari perilaku sehari-hari. Orang mungkin mengikuti jabatan kita karena struktur organisasi, tetapi mereka lebih mungkin memberikan kepercayaan apabila melihat konsistensi antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan.

 

3. Pengaruh lebih penting daripada jabatan

Ini salah satu gagasan Maxwell yang paling terkenal.

Leadership = influence.

Jabatan memberikan otoritas formal, tetapi belum tentu memberikan pengaruh personal. Pengaruh berkembang melalui:

karakter + kompetensi + hubungan + konsistensi.

Karena itu, seseorang tanpa jabatan tinggi sekalipun dapat menjadi pemimpin informal apabila orang lain mempercayai pendapatnya dan bersedia mengikutinya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki jabatan tinggi belum tentu memiliki kepemimpinan yang kuat apabila hanya mengandalkan kekuasaan formal.

 

4. Hubungan adalah fondasi kepemimpinan

Maxwell banyak menekankan bahwa manusia bukan sekadar "sumber daya" untuk mencapai target. Pemimpin perlu mengenal orang yang dipimpinnya. Bukan hanya:

"Apa pekerjaan yang harus dia lakukan?"

tetapi juga:

"Siapa orang ini, apa kekuatannya, apa yang ingin dikembangkannya, dan bagaimana saya dapat membantunya?"

Di sinilah pentingnya listening, empathy, appreciation, trust, dan komunikasi terbuka. Kepemimpinan pada akhirnya adalah pekerjaan dengan manusia.

 

5. Sikap menentukan respons terhadap keadaan

Maxwell membedakan antara apa yang terjadi dan bagaimana kita merespons apa yang terjadi.  Kita tidak selalu dapat mengendalikan:

·       perubahan organisasi,

·       keputusan atasan,

·       perilaku mitra,

·       konflik,

·       kegagalan,

·       atau kondisi eksternal.

Tetapi kita masih mempunyai ruang untuk mengendalikan respons kita. Karena itu, sikap positif dalam buku ini bukan sekadar "berpikir positif", melainkan memilih respons konstruktif terhadap keadaan yang tidak selalu ideal.

 

6. Disiplin mengubah potensi menjadi hasil

Potensi saja tidak cukup. Seseorang mungkin mempunyai:

·       kecerdasan,

·       pengalaman,

·       bakat,

·       jaringan,

·       dan kesempatan,

 

tetapi tanpa disiplin, semuanya dapat tidak menghasilkan banyak hal. Maxwell melihat keberhasilan sebagai sesuatu yang sering dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang konsisten. Ini relevan dengan prinsip:

Apa yang kita lakukan sesekali menentukan keadaan kita; apa yang kita lakukan secara konsisten menentukan arah hidup kita.

 

7. Kegagalan bukan akhir

Maxwell tidak memandang kegagalan sebagai lawan dari keberhasilan. Kegagalan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Yang penting adalah kemampuan untuk:

mengakui → menganalisis → belajar → memperbaiki → mencoba kembali.

Pemimpin yang takut mengakui kesalahan cenderung menciptakan organisasi yang juga takut belajar. Sebaliknya, lingkungan yang memungkinkan orang mengakui kesalahan secara bertanggung jawab dapat menjadi lingkungan pembelajaran.

 

8. Pemimpin yang baik mengembangkan pemimpin baru

Ini menurut saya salah satu gagasan paling relevan untuk organisasi. Pemimpin yang hanya menghasilkan pengikut memiliki pengaruh terbatas. Pemimpin yang menghasilkan pemimpin baru menciptakan efek berantai. Karena itu, tugas seorang atasan bukan hanya:

"Bagaimana pekerjaan ini selesai?" tetapi juga:

"Siapa yang menjadi lebih mampu karena bekerja bersama saya?"

Ukuran kepemimpinan akhirnya bergeser dari personal achievement menjadi people development.



Benang merah buku kalau seluruh buku ini diringkas menjadi satu siklus, kira-kira seperti ini:

 Memimpin diri → terus bertumbuh → membangun karakter → membangun hubungan → memperoleh kepercayaan → memengaruhi orang lain → mengembangkan orang lain → menciptakan pemimpin baru.

 Jadi, bagi Maxwell, kepemimpinan bukan sebuah posisi yang diperoleh, melainkan proses pengembangan diri dan pengembangan orang lain yang berlangsung terus-menerus.

 

 Relevansi untuk pekerjaan seorang manajer

 Jika diterapkan pada lingkungan organisasi seperti pekerjaan pemerintahan atau proyek pembangunan, beberapa prinsipnya menjadi sangat praktis:

 

·       Jangan hanya mengejar output; bangun kapasitas orang.

·       Delegasi bukan sekadar membagi pekerjaan, tetapi memberi ruang belajar.

·       Berikan feedback secara teratur, bukan hanya ketika ada masalah.

·       Kenali kekuatan dan kebutuhan pengembangan setiap anggota tim.

·       Bangun kepercayaan sebelum menuntut kinerja tinggi.

·       Jadilah contoh terhadap disiplin dan integritas yang diharapkan dari staf.

·       Jadikan kesalahan sebagai bahan evaluasi, bukan semata-mata bahan menyalahkan.

·       Ukur keberhasilan kepemimpinan dari kemampuan tim bekerja tanpa ketergantungan berlebihan pada pemimpinnya.

 

 

Satu kalimat untuk mengingat buku ini

 "Pemimpin yang baik tidak hanya menghasilkan pekerjaan yang selesai, tetapi menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih baik, lebih mandiri, dan mampu memimpin orang lain”.

 

 

ooOOOoo

Friday, May 29, 2026

Mata yang enak dipandang

 


Mata yang enak dipandang

Penulis Ahmad Tohari

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2013

ISBN 978-602-03-0045-0

216 halaman

Mata yang Enak Dipandang adalah kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang menggambarkan kehidupan masyarakat kecil dengan penuh empati, kritik sosial, dan nilai kemanusiaan. Cerita-ceritanya banyak menyoroti kemiskinan, ketimpangan sosial, serta perjuangan hidup orang-orang sederhana di pedesaan maupun pinggiran kota. Dengan gaya bahasa yang ringan tetapi menyentuh, Ahmad Tohari memperlihatkan bagaimana manusia tetap berusaha menjaga harga diri dan harapan di tengah keterbatasan.

Cerpen utama berjudul Mata yang Enak Dipandang berkisah tentang seorang pengemis cacat bernama Mirta yang hidup bersama seorang anak kecil bernama Tarsa. Kondisi fisik Mirta yang cacat justru dimanfaatkan untuk menarik belas kasihan orang lain. Tarsa yang masih polos perlahan belajar tentang kerasnya hidup jalanan dan bagaimana kemiskinan  membuatnya kehilangan pilihan sehingga dia mengeksploitasi Mirta dengan menjadi penuntun jalan Mirta ketika mengemis. Pengalaman Mirta menunjukkan bahwa seringkali orang biasa seringkali punya kepekaan sosial terhadap sesamanya dibandingkan dengan orang yang kaya. Dalam kisah ini, Ahmad Tohari juga mengkritik masyarakat yang sering hanya memandang penderitaan sebagai tontonan tanpa benar-benar peduli pada akar masalah sosial.

Cerpen kedua berjudul Bila Jebris di rumah kami, bercerita tentang Jebris yang dicurigai oleh tetangga-tetangganya menjadi pelacur karena himpitan ekonomi. Di masa lalu, emaknya Jebris sendiri juga dipandang sering berselingkuh dengan orang yang mau membayarnya. Warga kampung kuatir bahwa perilaku Jebris tadi akan membawa kutukan bagi kampungnya. Tapi pandangan tersebut  tidak berlaku bagi pasangan Ratib dan Sar. Pasangan ini berpendapat bahwa selama mereka punya empati dan niat baik untuk menuntun Jebris ke arah yang benar, keberkahan pasti akan mengiringinya.

Cerpen ketiga berjudul Penipu yang keempat, berkisah tentang makin banyaknya penipu yang berseliweran di masyarakat dengan mengatas namakan sumbangan untuk anak sakit, untuk pesantren dan lain-lain. Suatu hari si tokoh cerita mengalami penipuan oleh 3 orang, Dia tahu dia sitipu, tapi dia sengaja menikmati penipuan itu. Karena di lubuk hatinya sendiri dia berefleksi bahwa dia sering menipu Tuhan dengan bersedekah, tetapi dia bersedekah dengan uang yang berasal dari harta haram atau abu-abu...

Cerpen keempat berjudul Daruan, yang berkisah tentang tanggungjawab seorang suami dengan idealisme menjadi seorang penulis. Menjadi penulis novel yang sukses ternyata tidak mudah, dan dia harus dihadapkan pada tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus memberikan nafkah untuk keluarganya.

Cerpen kelima berjudul Warung Penajem, yang berkisah tentang kegundahan seorangpetani muda bernama Kartawi yang merasa harga dirinya  hancur lebur karena istrinya mencari ilmu penglaris bagi warungnya dengan cara berselingkuh dengan seorang dukun, Harta yang banyak ternyata tidak memberikan kebahagiaan ketika diperoleh dengan cara yang tidak lurus.

Cerpen keenam berjudul Paman Doblo Merobek Layang-layang, yang berkisah tentang seorang yang sangat ramah terhadap tetangga di lingkungannya dan anak-anak. Namun perangai Paman Doblo tadi berubah ketika dia diangkat menjadi satpam di perusahaan luar yang berdiri  di kampung itu. Paman Doblo yang dulu suka nmenolong, kini menjadi galak dan tidak peduli terhadap orang lain. Harta dan uang memang bisa merubah segalanya...

Cerpen ketujuh berjudul Kang Sarpin Minta dikebiri, bercerita tentang Kang Sarpin penjual beras bersepeda yang meninggal  tertabrak mobil. Kang Sarpin sendiri dikenal sebagai pria yang suka berselingkuh, karena dia punya gejala hiperseks, kang sarpin mengakui hal itu mdan dia sangat ingin bisa mengendalikan nafsunya. Dia sudah terpikir untuk minta dikebiri agar dia bisa menjinakkan nafsunya. Tapi belum sampai niatnya terkabul, dia sudah meninggal duluan. Semoga niat baik Kang Sarpin untuk jadi orang baik menjadi bekal untuk menghadap Tuhannya ...

Cerpen ke delapan berjudul akhirnya Karsim menyeberang jalan, berkisah tentang Karsim seorang petani tua yang miskin. Dia selalu takut menyeberang jalan menuju sawahnya khususnya ketika menjelang Lebaran karena lalu lintas yang sangat padat. Para pengendara mobil dan motor begitu penuh ego untuk berlomba mudik, sehingga  gak memberi kesempatan untuk petani tua seperti Karsim menyeberang. Sampai suatu ketika, dia berusaha menyeberang namun apes menimpanya. Dia tertabrak..terlindas mobil sampai menginggal dunia. Ketika menuju pemakaman, Karsim terpana ketika mobil-mobil mau berhenti untuk memberikan kesempatan bagi jenazah untuk menyeberang jalan menuju kuburan. Ternyata orang terkadang lebih peduli terhadap orang yang mati daripada orang yang hidup.

Cerpen ke sembilan berjudul Sayur Bleketupuk, bercerita tentang pasangan Dalbun dan Parsih. Dalbun, seorang pekerja proyek menikah dengan Parsih dan punya anak dua. Sebagai pekerja proyek, Dalbun terima gaji setiap sabtu sore. Gaji yang sebenarnya hanya numpang lewat karena setelah diterima, langsung habis untuk membayar hutang di warung sebelah. Untuk menyenangkan anak-anaknya, beberapa hari sebelum gajian,  Dalbun dan Parsih menjanjikan ke anak-anaknya untuk menonton pasar malam dan naik komedi putar di malam minggu. Anak-anak penuh harap untuk pergi ke pasar malam.Sejak sabtu sore mereka sudah berdandan. Namun waktu terus berjalan, Dalbun tidak datang juga membawa uang. Karena kasihan dengan anak-anaknya yang sudah lama menanti, Parsih kemudian memasak sayur Bleketupuk dan menyuruh anak-anak makan lauk sayur itu dan ikan asin. Sehabis makan, anak-anak kekenyangan dan tertidur pulas karena sayur tadi mengandung zat penidur, Saat tengah malam Dalbun baru datang sambil ngomel karena mandornya terlambat datang sehingga dia terlambat terima bayaran dan gagal mengajak anak-anak jalan. Parsih pun hanya bisa menangis karena gagal menyenangkan anak-anaknya walaupun hanya dengan sekedar naik komedi putar...

Cerpen ke sepuluh berjudul Rusmi ingin pulang, yang  berkisah tentang kegalauan seorang ayah yang anaknya yang janda pergi merantau dan diisukan menjadi pelacur. Kang Hamim bimbang ketika Rusmi anaknya ingin pulang ke kampong halamannya. Dia takut warga sekitarnya akan menolak kehadiran anaknya. Untunglah dia menemukan tetua kampong dan ustadz yang mampu mengajak warganya untuk berpikir positif dan menjauhkan diri dari syak wasangka. Bahkan ustadz berhasil menyadarkan warganya untuk melindungi warga lemah seperti kaum janda.

Cerpen ke sebelas berjudul Dawir, Turah dan Totol, yang  berkisah tentang kehidupan pasangan gelandangan Dawir dan Turah serta anak mereka Totol. Mereka dibesarkan di lingkungan terminal dan seharihari hidup di sana sebagai pengamen. Mereka tinggal dan bermalam di sudut terminal. Dawir berusaha menghidupi keluarga dengan mengamen. Suatu ketika Dawir ditangkap polisi karena dituduh mencopet. Rupanya dia mencopet karena saking inginnya menyenangkan anak dan istrinya. Demi mainan untuk anak dan biskuit untuk istrinya, dia melakukan pencopetan itu. Cinta itu sederhana namun bisa membuat kita melakukan segalanya....

Cerpen ke duabelas berjudul Harta Gantungan, berkisah tentang Kang Nurya, seorang petani miskin yang ditinggal anak-anaknya transmigrasi ke luar Jawa. Transmigrasi nampaknya tidak membuat anak-anaknya sejahtera dan lama-lam komunikasi semakin jarang.Dalam kesendiriannya, kang Nurya ditemani seekor kerbau peliharaan kesayangannya. Kang Nurya berwasiat ke tetangganya bahwa setelah dia meninggal nanti, kerbau tersebut hendaknya dijual untuk membiayai pemakamannya dan selamatan atas kematiannya.Tiba saatnya Kang Nurya meninggal dunia. Tetangganya yang ikut prihatin kemudian mengabari anak-anak Kang Nurya di tanah rantau dan segera memakamkan jenasah Kang Nurya secara gotong royong. Beberapa hari kemudian, salah seorang anak Kang Nurya pulang untuk menengok kubur ayahnya. Dia bercerita bahwa kondisi ekonominya lemah sehingga tidak bisa segera pulang kampung ketika mendengar kabar ayahnya meninggal dunia. Tetangga-tetangga yang bersimpati kemudian menginformasikan bahwa ayahnya meninggalkan warisan (harta gantungan) seekor kerbau. Mereka menyarankan agar kerbau tersebut dijual sebagai warisan  untuk anak tersebut. Saran yang segera diterima oleh anak Kang Nurya karena dia sejujurya sangat membutuhkan uang untuk membiayai pernikahan anaknya, Walau hanya seekor kerbau, tapi bisa sangat bermakna untuk menopang kehidupan berkeluarga anak dan cucunya kelak.....

Cerpen ke tigabelas berjudul Pemandangan Perut, berkisah tentang Sardupi, seorang laki-laki tua pekerja serabutan di pasar atau sebagai petani. Dia suka bergaul dengan anak-anak. Di suatu hari, Sardupi dipukuli oleh Braja, satpam pasar karena Braja merasa ditertawakan oleh Sardupi. Sardupi membuka rahasianya bahwa dia bisa melihat jiwa seseorang. Dia melihat perut seseorang seperti layar TV. Perut anak-anak biasanya berisi hal-hal yang menyenangkan seperti makanan enak, pemandangan indah dan lain-lain. Sedangkan perut orang dewasa biasanya berisi gambar yang mencerminkan kelakuannya. Seperti dia mentertawakan pak Braja karena melihat perut Pak Braja berisi ikan lele yang sedang menelan kepala pak Braja. Itu menggambarkan kelakuan pak Braja yang sering mengambil barang dagangan tukang lele. Ada juga gambar perut seseorang yang menelan pulau dengan hutan yang gundul dan lain-lain. Terdapat pula gambar perut yang bagus seperti guru yang mengajar bidadari... Pertanyaannya, seperti apakah gambar isi perut kita sendiri?

Cerpen ke empatbelas berjudul Salam dari penyangga Langit berkisah tentang Markatab yang diundang kenduri. Karena sangat mengantuk, dia sempat tertidur ketika doa kenduri dimulai. Dia merasa terbang dan berdialog dengan malaikat yang bertugas menyangga langit. Tugas yang sangat berat bagi malaikat karena harus ikut menjaga kelangsungan hidup di muka bumi. Bayangkan bila malaikat capek dan istirahat menyangga langit... langit akan runtuh dan bumi porak poranda. Menyadari hal itu masihkan kita tidak mau berdoa untuk sekedar mengucapkan terima kasih kepada para malaikat yang telah menyangga langit dan menjaga bumi?  

Cerpen ke limabelas berjudul Bulan Kuning yang sudah tenggelam berkisah tentang Yuning, seorang putri angkat Raden Barnas Rahadikusumah, bangsawan mantan Bupati. Yuning yang menikah dengan Koswara, tinggal di Ciamis untuk mengembangkan usaha ternak babi. Oleh Raden Barnas, Yuning diminta pindah ke Garut untuk menemani dirinya dan istrinya yang sudah tua. Namun Yuning menolaknya karena merasa berat meninggalkan suaminya di Ciamis. Penolakan Yuning mengakibatkan Raden Barnas menjadi sakit jantung dan meninggal dunia. Yuning yang merasa berdosa, kemudian memohon ampunan almarhum ayahnya dan ibundanya. Perlahan-lahan hubungan dengan ibunya menjadi cair dan Koswara pun akhirnya bersedia untuk tinggal bersama dengan mertuanya.

Ahmad Tohari merupakan sastrawan yang banyak menuliskan kehidupan masyarakat kecil.  Dalam buku ini dia mengangkat beberapa tema seperti kemiskinan dan ketidakadilan sosial, kemanusiaan dan empati, perjuangan mempertahankan martabat hidup, kritik terhadap sikap masyarakat yang apatis dan hubungan antarmanusia dalam kondisi sulit.  Pesan utama buku ini adalah bahwa setiap manusia, betapapun miskin dan terpinggirkan, tetap memiliki perasaan, harga diri, dan harapan untuk hidup lebih baik. Ahmad Tohari juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap realitas sosial di sekitar mereka, bukan hanya melihat penderitaan dari permukaannya saja

 

Catatan:

  • Cerpen dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun alur yang memikat. Ahmad Tohari pandai mengajak kita berefleksi dengan cerita-ceritanya yang ringan namun sarat makna.
  • Beberapa cerpen seperti Bila Jebris di rumah kami, Rusmi ingin pulang dan Bulan Kuning yang sudah tenggelam juga pernah dimuat di kumpulan Cerpen Rusmi ingin pulang (2004) 


Thursday, May 28, 2026

The Art of Reading; mengapa 90% buku yang dibeli tidak habis dibaca dan cara mengatasinya.




The Art of Reading; mengapa 90% buku yang dibeli tidak habis dibaca dan cara mengatasinya. 

Penulis Agus Setiawan

PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2012

ISBN 978-979-22-8166-8

146 halaman


Buku The Art of Reading: Mengapa 90% Buku yang Dibeli Tidak (Habis) Dibaca dan Cara Mengatasinya karya Agus Setiawan membahas tentang bagaimana membangun kebiasaan membaca yang efektif, menyenangkan, dan tuntas. Buku ini lahir dari fenomena banyak orang gemar membeli buku tetapi kesulitan menyelesaikannya. Penulis menjelaskan bahwa masalah utama bukan pada kemampuan membaca, melainkan pada hambatan mental, kurangnya motivasi, lemahnya fokus, dan strategi membaca yang kurang tepat.

Isi buku dibagi ke dalam beberapa pembahasan utama. Pertama, penulis mengajak pembaca mengenali penyebab rendahnya minat membaca, seperti rasa malas, cepat bosan, sulit konsentrasi, atau kebiasaan membaca tanpa tujuan yang jelas. Agus Setiawan menekankan bahwa membaca bukan sekadar menamatkan halaman demi halaman, tetapi memahami informasi yang benar-benar dibutuhkan. Karena itu, pembaca dianjurkan menentukan tujuan sebelum membaca agar lebih fokus dan tidak mudah jenuh.

Selanjutnya, buku ini menawarkan berbagai teknik membaca efektif. Beberapa di antaranya adalah menentukan posisi membaca yang nyaman, memahami gambaran besar isi buku sebelum membaca detail, menjaga fokus, menggunakan teknik “jump start”, melibatkan imajinasi dan dialog dengan isi buku, mengatur kecepatan membaca, serta mencatat poin penting seperti menggunakan mind mapping. Penulis juga menjelaskan bahwa kecepatan membaca harus disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi: bagian yang mudah bisa dibaca cepat, sedangkan bagian penting perlu dibaca lebih perlahan dan mendalam.

Buku ini juga memperkenalkan konsep “baca kilat” atau speed reading yang dikembangkan penulis. Namun, fokus utamanya bukan sekadar membaca cepat, melainkan meningkatkan pemahaman dan efisiensi belajar. Agus Setiawan percaya bahwa membaca yang baik dapat memperluas wawasan, meningkatkan kualitas berpikir, dan membantu pengembangan diri. Gaya penulisannya ringan, praktis, dan penuh motivasi sehingga mudah dipahami pembaca umum.

Secara keseluruhan, The Art of Reading adalah buku pengembangan diri yang cocok bagi siapa saja yang ingin membangun kebiasaan membaca, meningkatkan konsentrasi, serta memahami isi buku dengan lebih efektif. Pesan utama buku ini adalah bahwa membaca bukan tentang banyaknya buku yang dimiliki, tetapi bagaimana kita mampu mengambil manfaat dari buku yang dibaca.

Dalam buku ini juga dikupas sepintas tentang cara relaksasi, cara memfokuskan diri, cara membangkitkan alam bawah sadar serta teknik speed reading. Namun hanya sepintas dan kita sulit mempraktekkannya secara langsung. Mungkin itu dilakukan karena penulis "menjual" berbagai teknik tersebut dalam bentuk pelatihan, sehingga sengaja tidak dikupas tuntas dalam buku ini . 


Catatan:

Tulisan ini dibuat dengan menggunakan teknologi artificial inteligence dan saya menambahkan beberapa poin yang saya tangkap ketika membaca buku ini. 

Friday, May 22, 2026

Adab di atas Ilmu 3


Adab di atas Ilmu 3

Penulis Imam Az-Zarnuji

Penerbit Diva Press, Yogyakarta 2022

ISBN 978-623-293-730-7

120 halaman


Buku Adab di Atas Ilmu 3 ini merupakan terjemahan dari buku Ta'lim al-Muta'allim Thariq at-Ta'allum,  karya Imam Az-Zarnuji. Beliau yang bernama asli Burhanuddin Ibrahim az Zanurji merupakan ulama terkenal dari Zarnuj (Afganistan). Beliau penganut madzab Hanafi dan hidup pada abad 13 Masehi.

Buku ini menekankan bahwa adab merupakan fondasi utama dalam menuntut ilmu. Ilmu tanpa adab dianggap tidak akan membawa keberkahan, bahkan dapat menimbulkan kesombongan dan kerusakan. Penulis menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu harus memiliki niat yang lurus, menghormati guru, menghormati sesama murid, mengagungkan ilmu,  memuliakan kitab, menjaga akhlak, bersungguh-sungguh dalam belajar, serta mengamalkan ilmu yang diperoleh. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh sikap rendah hati, kesabaran, dan kedisiplinan.

Selain membahas hubungan murid dengan guru, buku ini juga memberikan panduan praktis tentang cara memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah. Di antaranya adalah memilih lingkungan yang baik, menjaga waktu, memperbanyak doa, menjauhi maksiat, rajin mencatat dan menghafal, berdiskusi, merenung, mau belajar dari siapapun serta menjaga hubungan dengan sesama pencari ilmu. Penulis mengingatkan bahwa tujuan akhir dari ilmu bukan sekadar pengakuan atau kedudukan, melainkan mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat bagi orang lain. Ilmu yang berkah lahir dari hati yang beradab. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlak dan kerendahan hatinya.

Pokok-pokok isi buku

  • Pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu.
  • Niat belajar harus ikhlas karena Allah.
  • Menghormati guru dan teman belajar.
  • Kesungguhan, kesabaran, dan istiqamah dalam menuntut ilmu.
  • Menjaga diri dari perilaku yang menghilangkan keberkahan ilmu.
  • Mengamalkan ilmu sebagai tanda keberhasilan belajar


Sunday, May 17, 2026

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

 

 


 

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Penulis dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Jakarta, 2025

ISBN 978-603-06-7467-4

191 halaman

Buku ini merupakan refleksi pribadi seorang psikiater yang mengalami kehilangan besar: wafatnya anak tercinta. Sebagai seorang profesional yang memahami teori psikologi tentang duka, Andreas justru menyadari bahwa teori tidak selalu mampu menjelaskan rasa kehilangan ketika itu dialami sendiri. Ia kemudian menjalani perjalanan panjang untuk memahami makna duka, penerimaan, dan cara bertahan hidup setelah kehilangan.

Judul “mencuci piring” menjadi metafora utama dalam buku ini. Menurut penulis, duka mirip seperti tumpukan piring kotor: tidak ada yang ingin mengerjakannya, tetapi pada akhirnya seseorang harus menghadapinya. Proses mencuci piring melambangkan langkah-langkah kecil dan sederhana untuk tetap hidup—melakukan rutinitas harian, bernapas, menangis, berbicara, dan perlahan menerima kenyataan.

Filosofi mencuci piring tersebut mencakup:

1. Buang sisa makanan ke tempat sampah, 
Bila kita sedang berduka, akan ada sisa perasaan, kenangan dan harapan. Sadari semua bahwa hal itu sudah tidak ada di piringmu lagi. Oleh karenanya kita perlu  meletakkan ke tempat yang seharusnya. Kit tidak perlu membuangnya karena itu akan sangat sulit dilakukan.

2. Bilas piring menggunakan air bersih yang mengalir
Air adalah kiasan dari pikiran kita. Untuk membasuh duka,  kita perlu mengalirkan pikiran kita. Mungkin kita bisa mengalirkan pikiran bersih dengan silaturahmi dengan orang lain, bisa healing menikmati alam yang indah dan lain-lain. Jangan sampai kita membiarkan air menggenang atau pikiran mandeg (down) karena itu akan menyebabkan iritasi yang membuat luka duka kita semakin parah.

3. Rendam alat makan di dalam air, tambahkan sabun bila ada noda yang lengket
Terkadang dalam piring ada noda yang sudah dihilangkan. Demikian pula dengan duka, terkadang ada hal-hal yang membuat duka tidak segera sembuh dan hilang dari pikiran kita. Untuk itu kita perlu menambahkan sabun untuk membantu ”noda bandel” tersebut hilang. Sabun penghilang duka antara lain bisa berupa doa, penghiburan dari teman, penerimaaan, rasa syukur dan hal lain  yang membuat hati kita terasa hangat

4. Cuci piring dan alat makan dengan spons, mulai dari yang paling sedikit nodanya
Untuk menghilangkan duka, disarankan bisa dimulai dengan hal yang paling mudah. Memang dalam hal ini istilah ”mudah” sangat subyektif. Ada hal yang mudah menurut saya, tapi itu sangat sulit bagi orang lain dan sebaliknya. Keberhasilan menyelesaikan mencuci piring yang paling sedikit noda, akan membangkitkan motivasi bahwa kita bisa mengatasi rintangan yang ada. Sebagai contoh kecil, piring yang sedikit nodanya adalah kita menyingkirkan barang-barang kecil yang membuat kita mudah terkenang pada orang  yang kita cintai yang telah pergi. Kita bisa menyingkirkan batrang2 yang tidak terlalu penting terlebih dulu, baru secara bertahap menyingkirkan barang yang lain

5. Keringkan peralatan makan yang sudah selesai dicuci
Pada saat berduka, dianjurkan untuk membiarkan duka mengering sehingga kita nanti bisa menggunakan pikiran kita kembali untuk aktivitas sehari-hari.Istirahat untuk menenangkan pikiran dan menyembuhkan duka, menjadi salah satu hal yang dianjurkan. Tidak ada waktu yang pasti berapa lama luka akan mengering karena hal itu sangat personal. Jangan biarkan peralatan yang basah dipakai kembali, jangan biarkan pikiran yang berduka dan belum siap kerja, dipaksanakn untuk menjalankan tugas kesehariannya

6.Rutin membersihkan spons dan area pencucian
Kita harus memperhatikan spons agar dalam keadaan baik selalu siap dipakai. Duka adalah proses yang Panjang, sehingga kita harus mengatur agar fisik dan  mental kita bersih dan siap digunakan untuk menyembuhkan atau menghilangkan duka yang terkadang muncul. Kita bisa melakukan healing, bersilaturahmi, berwisata, makan enak, melakukan hobby, meditasi dll untuk merawat kesehatan fisik dan jiwa kita. 

Buku ini menekankan bahwa:

  • tidak ada cara “benar” untuk berduka,
  • setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda,
  • kesedihan bukan sesuatu yang harus disembunyikan,
  • dan duka adalah bagian dari cinta itu sendiri.

Andreas juga mengkritik budaya yang sering memaksa orang untuk cepat “move on” atau tampak kuat. Ia menunjukkan bahwa menangis, marah, merasa kosong, bahkan diam, merupakan respons manusiawi terhadap kehilangan.

Secara keseluruhan, buku ini mengajarkan bahwa duka bukan sesuatu yang harus dilawan atau dipercepat selesai. Duka perlu dijalani perlahan, dirawat, dan diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan menghadapi duka secara jujur, seseorang dapat menemukan makna baru dan perlahan kembali menjalani hidup.

 Yang membuat buku ini menarik adalah gaya penulisannya yang ringan, hangat, dan kadang diselingi humor gelap. Meski membahas tema berat, buku ini terasa akrab dan tidak menggurui. Penulis menggunakan berbagai analogi sederhana—seperti mencuci piring atau menyusun puzzle—untuk membantu pembaca memahami proses penerimaan diri setelah kehilangan. Dengan gaya penulisan yang hangat, tidak mengherankan buku ini menjadi mega best seller yang sudah 13 kali naik cetak sejak edisi pertama Desember 2023.

 

Catatan:

Buku ini saya ringkas dengan bantuan AI dan saya tambahkan poin penting khususnya tetang filosofi mencuci piring.