Revolusi di Nusa Damai
Penulis: K’tut Tantri
PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta 1982
ISBN 979-22-1614-6
368 halaman
Buku ini merupkana terjemahan dari buku Revolt in Paradise karya K’tut Tantri.
Buku ini berkisah tentang K’tut Tantri, seorang wanita Amerika keturunan
Inggris (Skotlandia) yang pernah tinggal lima belas tahun di Indonesia dari
1932-1947.
K’tut Tantri merupakan gadis Skotlandia yang beremigrasi ke Amerika bersama keluarganya setelah Perang Dunia I usai. Dia punya bakat melukis dan nasib baik membawanya dekat dengan dunia artis di Hollywood. Dia banyak menulis tentang kehidupan para selebriti di sana.Suatu saat, dia melihat film tentang Bali dan dia jatuh cinta dengan Bali, Dia kemudian bertekad untuk ke Bali dan hidup di sana sebagai seniman. Dengan menumpang kapal, dia akhirnya sampai di Tanjung Priok Jakarta. Dengan penuh semangat dia membeli mobil dan mengendarainya sendiri menuju Bali. Dalam perjalanan itu dia menemukan Pito, seorang anak gelandangan yang kemudian diajak sampai ke Bali. Tapi anak tersebut kemudian minta dikembalikan ke Banyuwangi karena Bali terkesan masih angker.
K’tut sendiri kemudian melanjutkan perjalanan ke Bali. Suatu ketika tanpa disengaja mobil yang dibawanya menghantar ke sebuah istana raja Bali. Ktut berkenalan dengan istana dan diangkat sebagai anak. Dia diberi nama Ktut Tantri, karena raja sudah punya 3 anak dan dia diangkat jadi anak ke-empat (Ktut merupakan nama tradisional Bali yang menunjukkan statusnya sebagai anak ke empat). Di istana tersebut Ktut belajar budaya lokal Bali, bahasa Bali dan Melayu dari Agung Nura, pangeran istana.Dia pembelajar yang cepat sehingga tidak berapa lama dia fasih berbahasa Melayu dan Bali.
Di Bali sendiri Ktut sering berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda yang rasialis. Pejabat Belanda melarang ktut untuk bergaul dan membaur dengan pribumi, karena dikuatirkan akan merendahkan martabat orang kulit putih. Namun Ktut yang dibesarkan dalam budaya Amerika dan seorang seniman, memberontak terhadap anjuran pejabat tersebut. Bagi Ktut, semua orang punya derajat yang sama. Jadi tidak ada alasan untuk merasa superior. Ktut melanjutkan kehidupan sebagai seniman dengan menghasilkan lukisan-lukisan indah. Dia juga kemudian berinvestasi dengan membangun hotel artistik untuk menerima tamu-tamu dari kalangan seniman dari berbagai negara.
Pada saat Perang Dunia II, Bali merupakan salah satu wilayah pendaratan
tentara Jepang. Hotel milik Ktut hancur karena perang. Agung Nura, pangeran
istana kemudian menjadi tokoh pergerakan bawah tanah melawan Jepang. Ktut
sendiri kemudian terlibat dan membantu pergerakan tersebut sampai akhirnya dia
ditangkap dan dipenjara oleh Kempetai (polisi Jepang). Penderitaan dan siksaaan
di penjara sangat berat bagi Ktut. Fisik dan psikologi dia sempat terguncang.
Untunglah penjajahan jepang hanya 3 tahun, sehingga penderitaaanya cepat
berakhir. Meski demikian, Ktut juga menemukan pembelajaran bahwa selama di
penjara dia juga menemukan banyak orang Jepang yang baik hati dan welas asih
serta berjiwa seni. Jadi tidak semua orang Jepang itu jahat.
Menjelang tahun 1945, Jepang menyerah kepada tentara Sekutu. Pasukan Inggris kemudian direncanakan masuk Indonesia untuk melucuti tentara Jepang dan memulihkan keamanan di sini. Kekosongan pemerintahan ini dimanfaatkan oleh tokoh pergerakan seperti Sukarno dkk untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika Inggris masuk Indonesia, ternyata tentara Belanda membonceng dan ingin menguasai Indonesia kembali. Hal ini menimbulkan perlawanan dari pejuang dan rakyat Indonesia. Dalam situasi ini, Ktut kemudian bergabung dengan para pejuang untuk menyiarkan kemerdekaan dan kondisi bangsa Indonesia ke dunia Internasional melalui ”Radio Pemberontakan” di Jawa Timur yang dibawah komando Bung Tomo. Radio ini berpindah-pindah lokasi untuk menghindarkan serangan Belanda. Siaran yang dilakukan oleh Ktut menjangkau dunia internasional dan banyak menjadi rujukan bagi dunia internasional.
Keberadaan Ktut yang dinilai sangat membantu perjuangan di kancah
internasional, membuat Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta meminta Ktut
untuk membantu public relation khususnya siaran radio dan publikasi tentang
Indonesia. Dia kemudian berkenalan dengan Bung Karno, Bung Sjahrir dan
khususnya Bung Amir Sjarifuddin (Menteri Pertahanan). Peran ini membuat nama
Ktut semakin terkenal di kancah internasional.
Semangat juang Ktut dalam membela Indonesia, juga dilakukan dalam bentuk menembus blokade Belanda untuk membeli senjata ke Singapura. Dia juga bisa memfasilitasi seorang wakil dari mesir dan Liga Arab yang ingin menyampaikan dukungan pengakuan kemerdekaan Indonesia. Wakil dari mesir tersebut diterbangkan dari Singapura ke Yogyakarta. Pengakuan kemerdekaan dari Mesir tersebut menjadi sangat penting karena menjadi salah satu pengakuan awal bagi kemerdekaan Indonesia.
Selain ke Singapura, Ktut juga melakukan kunjungan ke Australia. Ktut berhasil melakukan penggalangan dana untuk membeli obat-obatan bagi bangsa Indonesia. Dia juga berhasil membangun solidaritas dari kaum buruh, politisi dan mahasiswa Australia untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
Setelah 15 tahun di Indonesia dan membantu perjuangan pergerakan Indonesia, Ktut yang capek secara fisik dan psikis, akhirnya pulang kembali ke Amerika.
Komentar:
Membaca buku ini yang berisi perjuangan Ktut dalam membantu Indonesia,
membuat kita berefleksi sejauh mana kita sudah berjuang untuk negara dan bangsa
kita? Saat banyak orang berebut jabatan dan berebut kekuasaan, sudah kah kita
dan mereka berjuang secara tulus untuk bangsa ini ??? Kita harus malu pada seorang Ktut tantri yang rela bertaruh nyawa untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia...
Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat indah dan alur yang sudah runtut. Saya sampai terkagum-kagum dengan gaya story telling yang digunakan. Saya sampai bingung, apakah ini sebuah novel? Ataukah sebuah true story?....
