Penulis: Asghar Ali
Engineer
Pustaka Pelajar,
Yogyakarta 2009
ISBN 979-9289-01-7
332 halaman
Buku Islam dan Teologi Pembebasan karya Asghar Ali Engineer merupakan salah satu karya penting yang menawarkan cara pandang kritis terhadap hubungan antara Islam, keadilan sosial, kemanusiaan, dan pembebasan. Asghar Ali Engineer (1939-2013) adalah seorang pemikir Islam asal India yang dikenal karena gagasannya tentang Islam sebagai agama pembebasan, keadilan sosial, kesetaraan gender, dan perdamaian antarumat beragama. Ia berasal dari keluarga ulama komunitas Dawoodi Bohra, salah satu kelompok dalam tradisi Syiah Ismailiyah. Melalui buku ini, Engineer mengajak umat Islam untuk memahami ajaran agama bukan hanya sebagai seperangkat aturan ibadah dan keyakinan, melainkan juga sebagai kekuatan moral dan sosial untuk mengubah kehidupan masyarakat yang ditandai oleh ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan ketimpangan kekuasaan.
Gagasan utama buku ini adalah bahwa Islam pada hakikatnya merupakan agama pembebasan (liberation theology). Islam tidak seharusnya hanya menjadi legitimasi bagi kekuasaan atau mempertahankan tatanan sosial yang tidak adil. Sebaliknya, ajaran Islam harus berpihak kepada kelompok yang tertindas, masyarakat miskin, kaum lemah, dan mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan hak-haknya.
Engineer mengembangkan pemikiran tersebut melalui pembacaan Al-Qur'an yang kontekstual, historis, dan berorientasi pada perubahan sosial. Baginya, keberagamaan yang sejati tidak cukup diukur dari kesalehan individual, tetapi juga dari kepedulian dan tindakan nyata untuk mewujudkan kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.
1. Islam sebagai Teologi Pembebasan
Menurut Engineer, teologi tidak boleh berhenti pada perdebatan mengenai persoalan ketuhanan, takdir, dosa, pahala, surga, dan neraka. Persoalan-persoalan tersebut memang penting, tetapi agama juga harus memberikan jawaban terhadap persoalan konkret yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Teologi pembebasan harus mampu menjelaskan mengapa kemiskinan, penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan terjadi, sekaligus mendorong manusia untuk mengubah keadaan tersebut. Dengan demikian, teologi tidak hanya bersifat normatif dan abstrak, tetapi harus menjadi landasan tindakan nyata.
Engineer menegaskan bahwa agama tidak boleh menjadi alat untuk mempertahankan status quo. Agama justru harus berani mengkritik kemapanan, terutama ketika kemapanan tersebut dibangun di atas penderitaan dan eksploitasi kelompok masyarakat yang lemah.
Dalam pandangan ini, masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi dan menindas anggota masyarakat lainnya tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam yang sesungguhnya. Ukuran keberhasilan kehidupan beragama bukan semata-mata banyaknya orang yang menjalankan ritual keagamaan, melainkan sejauh mana nilai-nilai agama terwujud dalam keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Tauhid, Iman, dan Jihad sebagai Landasan Pembebasan
Engineer mengembangkan teologi pembebasan melalui tiga konsep penting,
yaitu tauhid, iman, dan jihad.
Pertama, tauhid. Tauhid tidak hanya berarti pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga mengandung konsekuensi sosial berupa pengakuan atas kesetaraan seluruh manusia. Jika hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak, tidak seharusnya ada manusia atau kelompok tertentu yang menganggap dirinya berhak menguasai, menindas, dan memperbudak manusia lainnya. Tauhid dengan demikian menjadi dasar penolakan terhadap segala bentuk dominasi manusia atas manusia. Prinsip ini juga menentang diskriminasi berdasarkan kelas sosial, kekayaan, jenis kelamin, ras, maupun agama.
Kedua, iman. Iman bukan sekadar keyakinan yang tersimpan dalam hati atau pengakuan secara lisan. Iman harus tercermin dalam perilaku yang dapat dipercaya, sikap peduli terhadap sesama, serta keberanian membela kebenaran dan keadilan. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya beriman apabila membiarkan penindasan dan ketidakadilan berlangsung di sekitarnya.
Ketiga, jihad. Jihad dalam perspektif pembebasan merupakan perjuangan sungguh-sungguh untuk mengatasi berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan. Jihad tidak terbatas pada pengertian peperangan, tetapi mencakup perjuangan sosial, ekonomi, politik, intelektual, dan kemanusiaan untuk membangun masyarakat yang lebih adil.
Ketiga konsep tersebut menunjukkan bahwa keimanan harus mempunyai konsekuensi sosial. Hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia terhadap kehidupan sesamanya.
3.
Islam, Keadilan Ekonomi, dan Pembelaan terhadap Kaum Tertindas
Salah satu perhatian utama Engineer adalah persoalan ketidakadilan ekonomi. Ia melihat bahwa kemiskinan dan kesenjangan bukan semata-mata persoalan ketidakmampuan individu, melainkan juga berkaitan dengan struktur sosial dan ekonomi yang memungkinkan terjadinya eksploitasi. Dalam masyarakat yang timpang, sebagian kecil kelompok dapat menguasai sumber daya dan kekayaan, sementara sebagian besar masyarakat lainnya harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Situasi semacam ini bertentangan dengan semangat dasar Islam.
Engineer mengkritik penumpukan kekayaan, monopoli ekonomi, eksploitasi tenaga kerja, dan berbagai praktik yang menyebabkan kekayaan hanya berputar di kalangan kelompok tertentu. Islam, melalui ajaran zakat, infak, sedekah, dan larangan riba serta praktik ekonomi yang eksploitatif, memberikan dasar moral untuk membangun distribusi kekayaan yang lebih adil. Namun, keadilan ekonomi tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan amal atau pemberian bantuan kepada orang miskin. Yang lebih penting adalah mengubah kondisi dan struktur yang menyebabkan kemiskinan itu terus berlangsung. Dengan kata lain, masyarakat miskin tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat, hak, dan kemampuan untuk memperjuangkan perubahan kehidupannya.
Dalam konteks ini, Islam harus berpihak kepada kelompok mustadh'afin (kaum yang dilemahkan atau tertindas), bukan kepada kelompok mustakbirin (mereka yang menyombongkan diri dan mempertahankan kekuasaan dengan menindas orang lain).
4.
Pembebasan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Persoalan perempuan merupakan salah satu tema penting dalam pemikiran
Engineer. Ia mengkritik praktik diskriminasi terhadap perempuan yang sering
kali dibenarkan dengan menggunakan tafsir keagamaan yang bias terhadap
laki-laki.
Menurutnya, ajaran Islam pada dasarnya membawa semangat pembebasan perempuan. Islam hadir dalam masyarakat Arab yang pada masa itu mengenal berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Karena itu, pesan-pesan Al-Qur'an mengenai martabat manusia, persamaan derajat, dan keadilan harus dipahami sebagai bagian dari upaya memperbaiki posisi perempuan dalam masyarakat.
Engineer membedakan antara ajaran agama yang bersumber dari nilai-nilai dasar Al-Qur'an dengan penafsiran manusia yang dipengaruhi oleh budaya patriarki dan kondisi sosial pada zamannya. Oleh karena itu, penafsiran terhadap ajaran Islam harus terus dikaji secara kritis dengan mempertimbangkan konteks sejarah dan perkembangan masyarakat. Tidak semua praktik sosial yang diwariskan atas nama agama otomatis mencerminkan nilai keadilan Islam.
Pembebasan perempuan bukan hanya menyangkut hubungan dalam keluarga, tetapi juga hak untuk memperoleh pendidikan, kesempatan bekerja, berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik, serta menentukan masa depannya sendiri.
5. Pluralisme dan Hubungan Antarumat Beragama
Engineer juga menempatkan toleransi dan pluralisme sebagai bagian penting
dari teologi pembebasan. Menurutnya, perjuangan melawan ketidakadilan tidak
boleh dibatasi oleh identitas agama, suku, atau kelompok tertentu.
Permasalahan mendasar dalam masyarakat bukanlah perbedaan keyakinan, melainkan hubungan antara pihak yang menindas dan pihak yang tertindas. Penindas maupun mereka yang tertindas dapat berasal dari agama, suku, dan kelompok sosial mana pun. Karena itu, umat Islam perlu membangun solidaritas kemanusiaan dengan kelompok lain untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kehidupan bersama yang bermartabat.
Pemikiran ini sangat relevan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Perbedaan agama dan keyakinan seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam mengatasi kemiskinan, diskriminasi, konflik sosial, dan ketimpangan pembangunan.
6. Agama sebagai Kekuatan Perubahan Sosial
Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa agama harus hadir dalam
kehidupan nyata dan menjadi kekuatan yang mendorong perubahan sosial.
Keberagamaan tidak boleh hanya berorientasi pada keselamatan individu di
akhirat, tetapi juga harus memperhatikan kualitas kehidupan manusia di dunia.
Engineer mengajak umat Islam membaca Al-Qur'an dengan memperhatikan konteks sejarah, sosial, dan ekonomi ketika ayat-ayat diturunkan. Pendekatan ini memungkinkan umat Islam memahami pesan moral Al-Qur'an secara lebih mendalam dan menerapkannya sesuai dengan persoalan zaman.
Ajaran agama harus senantiasa diuji melalui dampaknya terhadap kehidupan manusia: apakah menghasilkan keadilan atau justru membenarkan ketidakadilan; apakah membebaskan manusia atau mempertahankan penindasan; apakah memperkuat solidaritas atau memperlebar kesenjangan.
Penutup: Relevansi bagi Pembangunan Masyarakat
Buku Islam dan Teologi Pembebasan memberikan perspektif penting bahwa Islam
bukan hanya agama ritual dan spiritual, melainkan juga agama yang mempunyai
misi transformasi sosial. Keimanan harus diwujudkan dalam keberpihakan kepada
kelompok miskin, lemah, dan tertindas serta perjuangan untuk menciptakan
masyarakat yang adil, setara, dan manusiawi.
Pemikiran Asghar Ali Engineer memiliki relevansi kuat dengan persoalan pembangunan masyarakat saat ini. Kemiskinan, ketimpangan penguasaan sumber daya, konflik agraria, diskriminasi, keterbatasan akses pendidikan, dan marginalisasi kelompok masyarakat merupakan persoalan yang tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan ekonomi dan teknis semata. Diperlukan pula landasan etika, moral, dan keberpihakan yang kuat terhadap keadilan sosial.
Dalam perspektif pemberdayaan masyarakat, gagasan Engineer mengandung pesan bahwa masyarakat miskin dan kelompok marginal bukan sekadar penerima bantuan pembangunan. Mereka harus ditempatkan sebagai subjek yang memiliki hak, pengetahuan, kemampuan, dan kekuatan untuk menentukan arah perubahan kehidupannya sendiri.
Pembangunan yang sejati bukan hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau membangun infrastruktur, tetapi juga mengubah relasi sosial yang timpang, memperluas akses terhadap sumber daya, memperkuat partisipasi masyarakat, dan memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil.
Pesan reflektif utama buku ini adalah bahwa kualitas keimanan seseorang tidak dapat dipisahkan dari keberpihakannya terhadap kemanusiaan. Kesalehan tidak cukup ditunjukkan melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia. Agama kehilangan sebagian besar makna sosialnya apabila tidak mampu memberikan harapan dan pembebasan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan.
Catatan:
Ringkasan ini dibuat dengan menggunakan chat GPT dan direview ulang dengan mengacu buku aslinya.




