Penulis Ahmad Tohari
PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta 2013
ISBN 978-602-03-0045-0
216 halaman
Mata yang Enak
Dipandang adalah kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang menggambarkan
kehidupan masyarakat kecil dengan penuh empati, kritik sosial, dan nilai
kemanusiaan. Cerita-ceritanya banyak menyoroti kemiskinan,
ketimpangan sosial, serta perjuangan hidup orang-orang sederhana di pedesaan
maupun pinggiran kota. Dengan gaya bahasa yang ringan tetapi menyentuh, Ahmad
Tohari memperlihatkan bagaimana manusia tetap berusaha menjaga harga diri dan
harapan di tengah keterbatasan.
Cerpen utama berjudul Mata yang Enak Dipandang berkisah tentang seorang pengemis cacat bernama Mirta yang hidup bersama seorang anak kecil bernama Tarsa. Kondisi fisik Mirta yang cacat justru dimanfaatkan untuk menarik belas kasihan orang lain. Tarsa yang masih polos perlahan belajar tentang kerasnya hidup jalanan dan bagaimana kemiskinan membuatnya kehilangan pilihan sehingga dia mengeksploitasi Mirta dengan menjadi penuntun jalan Mirta ketika mengemis. Pengalaman Mirta menunjukkan bahwa seringkali orang biasa seringkali punya kepekaan sosial terhadap sesamanya dibandingkan dengan orang yang kaya. Dalam kisah ini, Ahmad Tohari juga mengkritik masyarakat yang sering hanya memandang penderitaan sebagai tontonan tanpa benar-benar peduli pada akar masalah sosial.
Cerpen kedua berjudul Bila Jebris di rumah kami, bercerita tentang Jebris yang dicurigai oleh tetangga-tetangganya menjadi pelacur karena himpitan ekonomi. Di masa lalu, emaknya Jebris sendiri juga dipandang sering berselingkuh dengan orang yang mau membayarnya. Warga kampung kuatir bahwa perilaku Jebris tadi akan membawa kutukan bagi kampungnya. Tapi pandangan tersebut tidak berlaku bagi pasangan Ratib dan Sar. Pasangan ini berpendapat bahwa selama mereka punya empati dan niat baik untuk menuntun Jebris ke arah yang benar, keberkahan pasti akan mengiringinya.
Cerpen ketiga berjudul Penipu yang keempat, berkisah tentang makin banyaknya penipu yang berseliweran di masyarakat dengan mengatas namakan sumbangan untuk anak sakit, untuk pesantren dan lain-lain. Suatu hari si tokoh cerita mengalami penipuan oleh 3 orang, Dia tahu dia sitipu, tapi dia sengaja menikmati penipuan itu. Karena di lubuk hatinya sendiri dia berefleksi bahwa dia sering menipu Tuhan dengan bersedekah, tetapi dia bersedekah dengan uang yang berasal dari harta haram atau abu-abu...
Cerpen keempat berjudul Daruan, yang berkisah tentang tanggungjawab seorang suami dengan idealisme menjadi seorang penulis. Menjadi penulis novel yang sukses ternyata tidak mudah, dan dia harus dihadapkan pada tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus memberikan nafkah untuk keluarganya.
Cerpen kelima
berjudul Warung Penajem, yang berkisah tentang kegundahan
seorangpetani muda bernama Kartawi yang merasa harga dirinya hancur lebur karena istrinya mencari ilmu
penglaris bagi warungnya dengan cara berselingkuh dengan seorang dukun, Harta
yang banyak ternyata tidak memberikan kebahagiaan ketika diperoleh dengan cara
yang tidak lurus.
Cerpen keenam berjudul Paman Doblo Merobek Layang-layang, yang berkisah tentang seorang yang sangat ramah terhadap tetangga di lingkungannya dan anak-anak. Namun perangai Paman Doblo tadi berubah ketika dia diangkat menjadi satpam di perusahaan luar yang berdiri di kampung itu. Paman Doblo yang dulu suka nmenolong, kini menjadi galak dan tidak peduli terhadap orang lain. Harta dan uang memang bisa merubah segalanya...
Cerpen ketujuh berjudul Kang Sarpin Minta dikebiri, bercerita tentang Kang Sarpin penjual beras bersepeda yang meninggal tertabrak mobil. Kang Sarpin sendiri dikenal sebagai pria yang suka berselingkuh, karena dia punya gejala hiperseks, kang sarpin mengakui hal itu mdan dia sangat ingin bisa mengendalikan nafsunya. Dia sudah terpikir untuk minta dikebiri agar dia bisa menjinakkan nafsunya. Tapi belum sampai niatnya terkabul, dia sudah meninggal duluan. Semoga niat baik Kang Sarpin untuk jadi orang baik menjadi bekal untuk menghadap Tuhannya ...
Cerpen ke delapan berjudul akhirnya Karsim menyeberang jalan, berkisah tentang Karsim seorang petani tua yang miskin. Dia selalu takut menyeberang jalan menuju sawahnya khususnya ketika menjelang Lebaran karena lalu lintas yang sangat padat. Para pengendara mobil dan motor begitu penuh ego untuk berlomba mudik, sehingga gak memberi kesempatan untuk petani tua seperti Karsim menyeberang. Sampai suatu ketika, dia berusaha menyeberang namun apes menimpanya. Dia tertabrak..terlindas mobil sampai menginggal dunia. Ketika menuju pemakaman, Karsim terpana ketika mobil-mobil mau berhenti untuk memberikan kesempatan bagi jenazah untuk menyeberang jalan menuju kuburan. Ternyata orang terkadang lebih peduli terhadap orang yang mati daripada orang yang hidup.
Cerpen ke sembilan berjudul Sayur Bleketupuk, bercerita tentang pasangan Dalbun dan Parsih. Dalbun, seorang pekerja proyek menikah dengan Parsih dan punya anak dua. Sebagai pekerja proyek, Dalbun terima gaji setiap sabtu sore. Gaji yang sebenarnya hanya numpang lewat karena setelah diterima, langsung habis untuk membayar hutang di warung sebelah. Untuk menyenangkan anak-anaknya, beberapa hari sebelum gajian, Dalbun dan Parsih menjanjikan ke anak-anaknya untuk menonton pasar malam dan naik komedi putar di malam minggu. Anak-anak penuh harap untuk pergi ke pasar malam.Sejak sabtu sore mereka sudah berdandan. Namun waktu terus berjalan, Dalbun tidak datang juga membawa uang. Karena kasihan dengan anak-anaknya yang sudah lama menanti, Parsih kemudian memasak sayur Bleketupuk dan menyuruh anak-anak makan lauk sayur itu dan ikan asin. Sehabis makan, anak-anak kekenyangan dan tertidur pulas karena sayur tadi mengandung zat penidur, Saat tengah malam Dalbun baru datang sambil ngomel karena mandornya terlambat datang sehingga dia terlambat terima bayaran dan gagal mengajak anak-anak jalan. Parsih pun hanya bisa menangis karena gagal menyenangkan anak-anaknya walaupun hanya dengan sekedar naik komedi putar...
Cerpen ke sepuluh berjudul Rusmi ingin pulang, yang berkisah tentang kegalauan seorang ayah yang anaknya yang janda pergi merantau dan diisukan menjadi pelacur. Kang Hamim bimbang ketika Rusmi anaknya ingin pulang ke kampong halamannya. Dia takut warga sekitarnya akan menolak kehadiran anaknya. Untunglah dia menemukan tetua kampong dan ustadz yang mampu mengajak warganya untuk berpikir positif dan menjauhkan diri dari syak wasangka. Bahkan ustadz berhasil menyadarkan warganya untuk melindungi warga lemah seperti kaum janda.
Cerpen ke sebelas berjudul Dawir, Turah dan Totol, yang berkisah tentang kehidupan pasangan gelandangan Dawir dan Turah serta anak mereka Totol. Mereka dibesarkan di lingkungan terminal dan seharihari hidup di sana sebagai pengamen. Mereka tinggal dan bermalam di sudut terminal. Dawir berusaha menghidupi keluarga dengan mengamen. Suatu ketika Dawir ditangkap polisi karena dituduh mencopet. Rupanya dia mencopet karena saking inginnya menyenangkan anak dan istrinya. Demi mainan untuk anak dan biskuit untuk istrinya, dia melakukan pencopetan itu. Cinta itu sederhana namun bisa membuat kita melakukan segalanya....
Cerpen ke duabelas berjudul Harta Gantungan, berkisah tentang Kang Nurya, seorang petani miskin yang ditinggal anak-anaknya transmigrasi ke luar Jawa. Transmigrasi nampaknya tidak membuat anak-anaknya sejahtera dan lama-lam komunikasi semakin jarang.Dalam kesendiriannya, kang Nurya ditemani seekor kerbau peliharaan kesayangannya. Kang Nurya berwasiat ke tetangganya bahwa setelah dia meninggal nanti, kerbau tersebut hendaknya dijual untuk membiayai pemakamannya dan selamatan atas kematiannya.Tiba saatnya Kang Nurya meninggal dunia. Tetangganya yang ikut prihatin kemudian mengabari anak-anak Kang Nurya di tanah rantau dan segera memakamkan jenasah Kang Nurya secara gotong royong. Beberapa hari kemudian, salah seorang anak Kang Nurya pulang untuk menengok kubur ayahnya. Dia bercerita bahwa kondisi ekonominya lemah sehingga tidak bisa segera pulang kampung ketika mendengar kabar ayahnya meninggal dunia. Tetangga-tetangga yang bersimpati kemudian menginformasikan bahwa ayahnya meninggalkan warisan (harta gantungan) seekor kerbau. Mereka menyarankan agar kerbau tersebut dijual sebagai warisan untuk anak tersebut. Saran yang segera diterima oleh anak Kang Nurya karena dia sejujurya sangat membutuhkan uang untuk membiayai pernikahan anaknya, Walau hanya seekor kerbau, tapi bisa sangat bermakna untuk menopang kehidupan berkeluarga anak dan cucunya kelak.....
Cerpen ke tigabelas berjudul Pemandangan Perut, berkisah tentang Sardupi, seorang laki-laki tua pekerja serabutan di pasar atau sebagai petani. Dia suka bergaul dengan anak-anak. Di suatu hari, Sardupi dipukuli oleh Braja, satpam pasar karena Braja merasa ditertawakan oleh Sardupi. Sardupi membuka rahasianya bahwa dia bisa melihat jiwa seseorang. Dia melihat perut seseorang seperti layar TV. Perut anak-anak biasanya berisi hal-hal yang menyenangkan seperti makanan enak, pemandangan indah dan lain-lain. Sedangkan perut orang dewasa biasanya berisi gambar yang mencerminkan kelakuannya. Seperti dia mentertawakan pak Braja karena melihat perut Pak Braja berisi ikan lele yang sedang menelan kepala pak Braja. Itu menggambarkan kelakuan pak Braja yang sering mengambil barang dagangan tukang lele. Ada juga gambar perut seseorang yang menelan pulau dengan hutan yang gundul dan lain-lain. Terdapat pula gambar perut yang bagus seperti guru yang mengajar bidadari... Pertanyaannya, seperti apakah gambar isi perut kita sendiri?
Cerpen ke empatbelas berjudul Salam dari penyangga Langit berkisah tentang Markatab yang diundang kenduri. Karena sangat mengantuk, dia sempat tertidur ketika doa kenduri dimulai. Dia merasa terbang dan berdialog dengan malaikat yang bertugas menyangga langit. Tugas yang sangat berat bagi malaikat karena harus ikut menjaga kelangsungan hidup di muka bumi. Bayangkan bila malaikat capek dan istirahat menyangga langit... langit akan runtuh dan bumi porak poranda. Menyadari hal itu masihkan kita tidak mau berdoa untuk sekedar mengucapkan terima kasih kepada para malaikat yang telah menyangga langit dan menjaga bumi?
Cerpen ke limabelas berjudul Bulan Kuning yang sudah tenggelam berkisah tentang Yuning, seorang putri angkat Raden Barnas Rahadikusumah, bangsawan mantan Bupati. Yuning yang menikah dengan Koswara, tinggal di Ciamis untuk mengembangkan usaha ternak babi. Oleh Raden Barnas, Yuning diminta pindah ke Garut untuk menemani dirinya dan istrinya yang sudah tua. Namun Yuning menolaknya karena merasa berat meninggalkan suaminya di Ciamis. Penolakan Yuning mengakibatkan Raden Barnas menjadi sakit jantung dan meninggal dunia. Yuning yang merasa berdosa, kemudian memohon ampunan almarhum ayahnya dan ibundanya. Perlahan-lahan hubungan dengan ibunya menjadi cair dan Koswara pun akhirnya bersedia untuk tinggal bersama dengan mertuanya.
Ahmad Tohari merupakan sastrawan yang banyak menuliskan kehidupan masyarakat kecil. Dalam buku ini dia mengangkat beberapa tema seperti kemiskinan dan ketidakadilan sosial, kemanusiaan dan empati, perjuangan mempertahankan martabat hidup, kritik terhadap sikap masyarakat yang apatis dan hubungan antarmanusia dalam kondisi sulit. Pesan utama buku ini adalah bahwa setiap manusia, betapapun miskin dan terpinggirkan, tetap memiliki perasaan, harga diri, dan harapan untuk hidup lebih baik. Ahmad Tohari juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap realitas sosial di sekitar mereka, bukan hanya melihat penderitaan dari permukaannya saja
Catatan:
- Cerpen dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun alur yang memikat. Ahmad Tohari pandai mengajak kita berefleksi dengan cerita-ceritanya yang ringan namun sarat makna.
- Beberapa cerpen seperti Bila Jebris di rumah kami, Rusmi ingin pulang dan Bulan Kuning yang sudah tenggelam juga pernah dimuat di kumpulan Cerpen Rusmi ingin pulang (2004)




