Saturday, May 16, 2026

Adab di atas Ilmu 2; Panduan belajar mengajar Al Qur’an yang barakah

 


Adab di atas Ilmu 2; Panduan belajar mengajar Al Qur’an yang barakah

Penulis Imam Nawawi

Penerbit Diva Press, Yogyakarta 2022

ISBN 978-623-293-711-6

264 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan buku at-Tibyan fi adab Hamalatil Qur’an  karya Imam Nawawi. Imam Nawawi bernama asli Abu Zakariya Yahya bin Syaraf, berasal dari keluarga pedagang dan dilahirkan di sebuah desa Nawa (dekat Damaskus-Syria) pada tahun 631 Hijriyah atau sekitar 1233/1234 Masehi. Beliau rajin beribadah harian seperti puasa, shalat malam, dzikir dan baca Quran. Selain itu beliau rajin melakukan aktivitas keilmuan. Beliau banyak berguru ke ulama kenamaan berkenaan dengan ilmu Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh dan Bahasa. Beliau meninggal pada tahun 676 Hijriyah (sekitar 1277/1278 Masehi)  dalam usia 45 tahun. Beliau meninggalkan banyak karya di bidang Fiqh, Hadits, Ilmu Hadits dan lain-lain. Keaktifannya dalam menulis dan syiar Islam membuat beliau diberi gelar ”muhyidin” atau yang menghidupkan agama. Selain itu beliau juga mendapat gelar Nashir as-Sunnah (Penolong Sunnah).

Dalam buku ini Imam Nawawi mengupas arti penting adab belajar mengajar Al-Qur’an dan adab membaca Al-Qur’an.

 

Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an

 Beberapa hadits yang menekankan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an:

  • Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR Bukhari)
  • Orang membaca al-Qur’an dengan mahir akan bersama malaikat yang mulia lagi baik. Orang yang membaca al-Qur’an  dengan terbata-bata dan susah payah, maka ia akan mendapatkan pahala dua kali (HR Bukhari dan HR Muslim).
  • Orang mukmin yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah jeruk, baunya wangi dan rasanya manis. Orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, tidak berbau tapi manis rasanya. Orang munafiq yang membaca al-Qur’an  adalah seperti bunga kanthil , baunya harum tapi pahit rasanya. Orang munafik yang tidak baca al-Qur’an ibarat daun brotowali (hanzhalah), tidak berbau dan rasanya pahit. (HR al Bukhari dan Muslim).
  • Sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat derajat segolongan kaum muslim dengan al Qur’an ini, dan dengannya pula Dia merendahkan segolongan kaum lainnya (kafir) (HR Muslim)
  • Baalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi pembacanya (HR Muslim)
  • Tidak boleh ada hasad (dengki) yang dibenarkan kecuali terhadap dua macam orang  yaitu oang yang dikaruniai pengetahuan tentang al-Qur’an dan dia mengamalkannya sepanjang siang dan malam dan orang yang dianugerahiu harta oleh Allah Ta’ala  kemudian dia menginfal-Qur’an-kannya sepanjang siang dan malam (HR al Bukhari dan Muslim).

 

Memuliakan ahli al-Qur’an

 Beberapa hadits yang menekankan tentang keutamaan memuliakan ahli Al-Qur’an:

  • Hendaklah orang yang berhak menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling pandai membaca al-Qur’an di antara mereka. (HR Muslim)
  • Termasuk diantara perilaku mengagungkan Allah Ta’ala adalah menghornati orang islam yang sudah tua umurnya, memuliakan orang yang hafal al-Qur’an dengan sepatutnya serta menghormati pemimpin yang adil (HR Abu Dawud)


 AAdab seorang guru dalam mengajar al Qur’an

  • Berangkat dari rasa ikhlas
  • Jangan mengharap keuntungan duniawi
  • Jangan bertujuan semata-mata memperbanyak jumlah murid
  • Hiasi diri dengan akhlak mulia
  • Perlakukan murid dengan sebaik-baiknya
  • Berikan nasehat dan hormati murid
  • Jangan congkak terhadap murid
  • Didiklah murid dengan akhlak yang luhur
  • Ketahuilah hukum (ilmu) mengajar
  • Cintailah aktivitas mengajar
  • Dahulukan murid sesuai dengan urutan kedatangannya
  • Jangan menolak mengajari murid yang belum baik niatnya
  • Penuh konsentrasi saat mengajar
  • Jangan sekali-kalui merendahkan ilmu
  • Sediakan ruang belajar yang luas

 

Adab bagi Murid ketika belajar Al-Qur’an

  • Jangan menyibukkan diri dengan hal yang tidak penting
  • Sucikanlah hatinu
  • Tunduk dan patuh kepada guru
  • Belajarlah kepada ahlinya
  • Gunakan adab dalam memasuki majelis ilmu
  • Gunakan adab terhadap sesama murid
  • Pilihlah waktu terbaik untuk belajar
  • Milikilah semangat tinggi dalam belajar
  • Berangkatlah belajar pada pagi hari, serta hindari perihal iri hati dan kesombongan


 Adab bagi penghafal Al Qur’an

  •  Jangan sekali-kali menjadikan al Qur’an sebagai mata pencaharian
  • Khatamkan bacaan al Qur’an  dalam waktu tertentu
  • Lestarikan kebiasaan membaca al Qur’an pada malam hari
  • Senantiasa mengikat (mengingat) al Qur’an  dan peringatan terhadap orang yang melalaikannya karena terlupa.
  • Jangan meninggalkan wirid karena tertidur

·    

Adab dalam membaca al Qur’an

  • Bersiwaklah (menggosok gigi) sebelum membaca al Qur’an
  • Bacalah al-Qur’an dalam keadaan suci
  • Bertayamumlah ketika membaca al-Qur’an
  • Bacalah al-Qur’an di tempat yang bersih dan utama
  • Bacalah al-Qur’an dengan menghadap qiblat
  • Mohonlah perlindungan dengan membaca ta’awudz
  • Senantiasa membaca basmallah
  • Bacalah al-Qur’an dengan khusyuk dan resapi maknanya
  • Ulangi bacaan ayat agar dapat merenungi maknanya
  • Menangislah ketika membaca al-Qur’an
  • Bacalah al-Qur’an dengan tartil
  • Bacalah tasbih, mohonlah perlindungan dan mintalah karunia ketika menemukan bacaan ayat yang sesuai dengannya
  • Muliakan al-Qur’an
  • Jangan membaca al-Qur’an dengan selain bahasa Arab
  • Bacalah al-Qur’an  dengan cara baca (qira’ah) yang mutawatir
  • Jangan berpindah dari satu qira’ah kepada qira’ah yang lain
  • Bacalah sesuai urutan mushaf
  • Bacalah al-Qur’an dari mushaf
  • Bacalah al-Qur’an secara bersama-sama
  • Bacalah al-Qur’an secara bergantian
  • Bacalah al-Qur’an dengan suara nyaring
  • Bacalah al-Qur’an dengan suara yang indah
  • Carilah guru yang baik bacaannya dan bagus suaranya
  • Perhatikan makna kalimat ketika berhenti ataupun melanjutkan bacaan
  • Jangan membaca al-Qur’an dalam situasi yang dimakruhkan

·      

D      Dalam buku ini juga dikupas tentang

  • Hal penting terkait membaca alQuran dalam shalat
  • Hal penting terkait sujud Tilawah
  • Adab dalam mengkhatamkan al-Qur’an
  • Adab semua orang berinteraksi dengan al-Qur’an
  • Ayat dan surat yang disunnahkan dibaca dalam waktu dan kondisi tertentu misal bacaan sebelum tidur, sesudah bangun tidur, menengok orang sakit
  • Penulisan al-Qur’an dan cara memuliakan mushaf


Catatan:

Beberapa bagian buku jilid 2 ini mengalami overlap dengan jilid 1 khusunya bab etika guru sedang mengajar dan etika murid sedang belajar.  Beberapa bagian buku ini nmenurut saya harusnya diperkenalkan sejak dini ketika seseorang mulai belajar membaca al-Qur’an, khususnya adab murid dalam belajar dan adab ketika membaca al-Qur’an. Membaca buku ini saya semakin kagum pada Imam Nawawi yang pengetahuannya sangat luas dan bijak dalam menuntun pembaca dalam merangkum sesuatu pemikiran. Semoga berkah melimpah untuk Imam Nawawi yang sudah bersedekah ilmu dan juga kepada siapapun yang terlibat dalam proses berbagi ilmu ini.

 

 

 

 

 

Monday, May 04, 2026

Adab di atas Ilmu; Tuntunan belajar mengajar yang barakah

 


Adab di atas Ilmu; Tuntunan belajar mengajar yang barakah

Penulis Imam Nawawi

Penerbit Diva Press, Yogyakarta 2021

ISBN 978-623-293-165-7

200 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan buku Adabul ’alim wal muta’allim karya Imam Nawawi. Imam Nawawi bernama asli Yahya bin Syaraf, berasal dari keluarga pedagang dan dilahirkan di sebuah desa Nawa (dekat Damaskus-Syria) pada tahun 631 Hijriyah atau sekitar 1233/1234 Masehi. Beliau rajin beribadah harian seperti puasa, shalat malam, dzikir dan baca Quran. Selain itu beliau rajin melakukan aktivitas keilmuan. Beliau banyak berguru ke ulama kenamaan berkenaan dengan ilmu Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh dan Bahasa. Beliau meninggal pada tahun 676 Hijriyah (sekitar 1277/1278 Masehi)  dalam usia 45 tahun. Beliau meninggalkan banyak karya di bidang Fiqh, Hadits, Ilmu Hadits dan lain-lain. Keaktifannya dalam menulis dan syiar Islam membuat beliau diberi gelar ”muhyidin” atau yang menghidupkan agama.

Dalam buku ini Imam Nawawi mengupas arti penting ilmu agama untuk kehidupan manusia. Beliau mengutip berbagai hadits yang mengungkapkan pentingnya ilmu, seperti hadits yang diriwayatkan Anas Ra bahwa: ”Satu orang yang berilmu jauh lebih utama kedudukannya di sisi Allah swt, daripada seribu orang ahli ibadah”.  Oleh karenanya beliau mendorong orang untuk rajin menghadiri majelis ilmu dan memuliakan para ulama.

 

Pengelompokan ilmu

 Imam Nawawi mengelompokkan ilmu agama dalam dua kelompok besar sebagai berikut:

1.     Ilmu Syar’i:

1.1.          Wajib (Fardhu)

1.1.1.     Fardhu Ain adalah ilmu yang wajib dipelajari setiap umat Islam. Ilmu kategori ini terkait dengan ilmu tentang sifat-sifat allah, ilmu tentang kewajiban tertentu seperti shalat, berwudhu, ilmu tentang halal dan haram dst.

1.1.2.     Fardhu Kifayah adalah ilmu pendukung yang tidak setiap umat Islam harus menekuninya seperti ilmu ushul fiqh, ilmu bahasa dll.

1.2.          Sunnah

2.     Ilmu Ghairu Syar’i

2.1.          Haram dipelajari seperti ilmu sihir.

2.2.          Makruh seperti syair dan musik (catatan: ada banyak debat tentang ini).

2.3.          Mubah yakni ilmu yang tidak memberikan kemanfaatan untuk umat manusia.

 

 

Etika Seorang Guru

Seorang guru menurut Imam Nawawi harus mempunyai etika personal yang mencakup:

1.     Menuntut ilmu dan mengajar hanya untuk mencari ridho allah semata.

2.     Berperilaku baik seperti tawadhu’ (rendah hati)

3.     Menjauhi sifat tercela seperti sombong, riya (suka pamer).

4.     Rajin melakukan amalan seperti doa, dzikir

5.     Selalu merasa diawasi oleh allah sehingga dia hanya berorientasi untuk mencari ridho Allah semata.

6.     Menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat dan tidak semena-mena menggunakan ilmunya.

7.     Menghindari yang makruh apalagi haram

8.     Mengingatkan orang lain untuk senantiasa berbuat kebaikan.

 

Adapun perilaku yang harus diperhatikan seorang guru ketika sedang belajar adalah:

1.     Rendah hati sehingga mau terus belajar dan membaca,

2.     Fokus ketika belajar

3.     Melakukan kajian/penelitian dan menuliskan pengetahuan dan kepakarannya dalam sebuah buku.

4.     Waspada dan ekstra hati-hati dalam menulis supaya akurasi tinggi. Hindarkan menulis yang bukan bidang keahliannya.

5.     Tidak tergesa-gesa mempublikasikan hasil karyanya (chek and re-check)

6.     Guru harus bisa menjelaskan terminologi ilmiah yang digunakannya secara jelas.

7.     Guru harus mampu menyajikan hal-hal baru yang belum banyak dikaji sebelumnya.

 

Etika Guru dalam mengajar mencakup:

1.     Niat seorang guru ketika mengajar adalah mencari ridha Allah semata.

2.     Seorang guru tidak menghalangi siapapun untuk belajar, walaupun niat orang tadi belum benar.

3.     Guru mendidik murid secara bertahap dan disesuaikan dengan umur dan kemampuannya.

4.     Seorang guru hendaknya cinta dengan ilmu yang akan diajarkannya.

5.     Seorang guru hendaknya peduli kepada siswanya seprti dia peduli pada dirinya sendiri dan anak-anaknya sendiri.

6.     Seorang guru hendaknya memberikan kepada muridnya hal yang dia cinta dan tidak memaksakan hal yang tidak ia suka.

7.     Seorang guru harus ramah ketika mengajar dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

8.     Seorang guru tidak boleh mnyembunyikan ilmu yang dia kuasai ketika murid membutuhkannya dan mereka mampu menerimanya.

9.     Seorang guru tidak diperkenankan mengajarkan sesuatu yang muridnya belum siap menerimanya atau terlalu berat.

10.  Seorang guru tidak boleh sombong terhadap guru lainnya.

11.  Guru harus serius dan bersemangat ketika mengajar.

12.  Guru harus mengabsen murid-muridnya dan mencari tahu ketika ada yang membolos.

13.  Guru bersungguh-sungguh dalam memberikan penjelasan dan dengan bahasa yang mudah dipahami.

14.  Guru harus mampu menjelaskan segala hal yang berkaitan  dengan hukum yang dibutuhkan murid-muridnya  misal Qur’an, hadits, ijma’, qiyas  dan lain-lain.

15.  Guru bisa menjelaskan qiyas dan tingkatannya serta tata cara menggali dalil hukum.

16.  Guru bisa menjelaskan batasan-batasan hukum dalam perintah dan larangan.

17.  Guru sebaiknya mengajari muridnya dengan mengenalkan tokoh-tokoh ulama yang bisa dijadikan referensi kepakarannya.

18.  Guru mengajari muridnya secara step by step

19.  Guru harus bis amemotivasi muridnya untuk giat belajar.

20.  Sebelum berpindah ke topik bahasan baru, hendaknya Guru menanyakan ke murid terkait pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajarinya.

21.  Ketika mengajar guru harus bisa membuat alur pembelajaran yang sesuai agar memudahkan pemahaman oleh siswa.

22.  Guru harus bertingkah dan berbusana yang sopan, sederhana dan tidak berlebihan.

23.  Gerak-gerik dan cara pandang guru harus sopan dan seperlunya.

24.  Guru harus bisa berdiri pada posisi yang pas dan bisa dijangkau melalui pandangan semua murid.

25.  Guru memulai pelajaran dengan doa dan sholawat

26.  Guru harus bisa menjelaskan arti penting pelajaran yang dia sampaikan.

27.  Guru ketika mengajar harus bisa mengantisipasi dan menghindari hal-hal yang bisa mengganggu proses belajar mengajar.

28.  Guru harus mampu mengelola waktu dan membaca tingkat kejenuhan siswa.

29.  Guru hendaknya mengajar di ruangan yang mampu menampung siswa secara memadai.

30.  Guru hendaknya bisa mengontrol suasana dalam kelas.

31.  Guru mampu menghindarkan adanya olok-olok atau cemooh antar siswa dalam kelas.

32.  Guru juga harus jujur dalam menjawab pertanyaan. Bila dia belum tahu jawaban sebuah pertanyaan, dia harus jujur menjawab bahwa dia belum tahu.

 

 

Etika Murid

Etika Murid dalam belajar:

1.     Murid harus menyucikan hatinya dari perkara yang dapat mencederai kesungguhan hatinya untuk belajar

2.     Murid menyingkirkan segala hal yang bisa mengganggu konsentrasi belajar

3.     Murid rendah hati terhadap ilmu yang dipelajari dan terhadap guru yang mengajarinya.

4.     Suatu ilmu tidak akan benar-benar diraih kecuali siswa telah cakap akal sehatnya, tampak perilaku relijiusnya, terbukti pengetahuannya, senantiasa belajar dan bisa jadi suri teladan.

5.     Murid belajar dengan guru yang menuntunnya dan tidak sekedar membaca buku.

6.     Murid harus menatap gurunya dengan tatapan kemuliaan (hormat dan sopan).

7.     Murid harus mencari keridhoan gurunya dan tidak menyebarkan aib gurunya.

8.     Murid tidak boleh sesuka hati masuk ruang guru/majelis ilmu tanpa seijin guru.

9.     Ktika masuk majelis ilmu, murid hendaknya dengan kesadaran penuh untuk menghormatinya.

10.  Murid masuk ruang majelis ilmu dengan mengucapkan salam untuk siapa saja yang hadir.

11.  Murid tidak sembarangan melintasi kerumunan orang yang hadir untuk cari tempat duduk.

12.  Murid tidak meminta orang lain pindah tempat duduk kecuali tempat duduk yang lebih dekat dengan guru.

13.  Murid tidak diperkenankan tiba-tiba langsung duduk di antara kerumunan orang yang telah hadir.

14.  Murid harus beradab kepada siapa saja yang telah hadir.

15.  Murid tidak diperkenankan meninggikan suara atau teriak dalam majelis ilmu.

16.  Murid harus fokus dan tidak melakukan gerakan yang tidak perlu.

17.  Ketika ada murid bertanya, murid yang lain tidak boleh menjawabnya kecuali seijin guru.

18.  Murid bertanya dengan bahasa sopan dan perlahan.

19.  Murid menjawab pertanyaan guru dengan jujur termasuk ketika ditanya soal paham atau belum paham.

20.  Murid tidak boleh malu untuk mengakui bila dia belum paham.

21.  Murid harus paham materi secara mendalam agar pendapatnya tidak mudah goyah.

22.  Bila guru sedang menjelaskan, murid harus mendengarkan meski dia sudah tahu isi penjelasan itu.

23.  Murid harus menjaga mood belajar sehingga senantiasa rajin belajar dan tidak malas-malasan.

24.  Murid harus menerima dan sabar dengan ketegasan sikap dan tindakan guru.

25.  Murid harus punya cita-cita tinggi dan tidak menunda-nunda waktu belajar.

26.  Murid harus sabar menunggu bila guru belum datang dan menyiapkan diri untuk belajar.

27.  Murid memaksimalkan waktu luang untuk belajar.

28.  Murid harus rajin  mengulangi pelajaran yang telah diberikan agar semakin mendalam pemahamannya.

29.  Murid harus berdoa dan membaca puji-pujian sebelum belajar dimulai.

30.  Murid tidak pindah ke bab lain, sebelum día memahami dengan baik bab yang telah dipelajari sebelumnya.

31.  Murid harus menemani (belajar bersama) dengan siapa saja yang hadir dalam majelis ilmu.

32.  Murid senantiasa meminta bimbingan guru agar tidak salah jalan.

33.  Murid arus mencatat, menelaah dan menekuni ilmu baru dari gurunya.

34.  Murid tidak egois dan mau berbagi ilmu dengan yang lain.

35.  Murid tidak boleh menghina, sombong dan mendengki siapapun.

 

Etika bersama guru dan murid:

1.     Guru dan murid tidak melupakan tugas dan kewajiban masing-masing. Murid janganlah menanyakan hal-hal sulit yang membingungkan.

2.     Guru dan murid memiliki bahan belajar (buku) sendiri agar proses berjalan belajar lancar.

3.     Orang yang meminjam buku harus mengembalikan pada empunya dan disertai ucapan terima kasih.

 

Fatwa

·       Jaman dulu ketika teknologi komunikasi belum berkembang, umat seringkali kebingungan untuk memutuskan sebuah perkara. Mereka biasanya mendatangi ulama yang berilmu untuk meminta fatwa atau pertimbangan.

·       Meminta fatwa merupakan upaya mengurai hukum terhadap fenomena yang terjadi di muka bumi secara kontekstual.

·       Memberikan fatwa merupakan fardu kifayah namun bisa menjadi fardhu ain bila tidak ada orang lain yang mampu.

·       Orang yang boleh mengeluarkan fatwa antara lain mempunyai kriteria sebagai berikut: menguasai ilmu terkait dengan hal yang dimintakan fatwanya, menguasai métode untuk merangkai fatwa, alim dan shaleh, Dipercaya oleh masyarakat, obyektif dan jujur

 

 Catatan:

Buku ini diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Meski buku ini banyak dikaitkan dalam proses belajar mengajar ilmu agama, namun banyak pointers etika guru dan murid yang dituliskan di sini bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran ilmu-ilmu duniawi. Semoga berkah melimpah untuk Imam Nawawi yang sudah bersedekah ilmu dan juga kepada siapapun yang terlibat dalam proses berbagi ilmu ini.

 

 

 

 

 

 

Wednesday, April 15, 2026

Penyejuk Qolbu: Mencapai Akhlak Mulia

 


Penyejuk Qolbu: Mencapai Akhlak Mulia

Penulis  H.M. Komarudin Chalil

Penerbit Pustaka Madani, Bandung 2007

ISBN 979-9177-27-8

73 halaman

 

Buku ini ditulis oleh ustadz Komar yang aktif berdakwah melalui buku dan berkiprah di pesantren Daarut Tauhid Bandung. Dalam buku ini beliau memaparkan 5 hal yang patut dijadikan perhiasan hati kita, yakni:

 

Istighfar

Yakni memohon ampunan Allah swt. Istighfar yang sungguh-sungguh dilakukan dengan penyesalanakan menjadi saat-saat terindah dan paling mesra antara hamba dengan Tuhannya. Hamba yang beristighfar, ibarat seorang anak kecil yang merengek minta amun kepada ayah ibunya. Jika sudah demikian keadaannya, mana ada orangtua yang tega menolak permintaan maaf anaknya? Oleh karena itu jangan ragu atau takut untuk bertobat. Allah swt akan selalu merentangkan tangan-Nya yang lembut untuk memeluk setiap hamb-Nya yang datang kepadaNya memohon ampunan.

 

Zikir

Tidak ada hal yang dipikirkan seseorang dalam hatinya kecuali orang yang paling dicintainya. Zikir adalah tanda kita mencintai Allah dan Allah mencintai kita. Zikir sesungguhnya kemampuan yang diberikan kepada hamba-Nya agar senantiasa ingat pada sang Khalik. Oleh karena itu, bagi orang yang senang berzikir, sesunggunya itu adalah berkat karunia Allah semata, dan bukan karena kebaikan dan kehebatan dirinya.

 

Amal

Sungguh tertipu orang yang mengau beriman dan beribadah namun enggan beramal. Padahal amal itu adalah buah dari iman dan ibadah. Orang yang sungguh-sngguh imannya dan khusyuk ibadahnya maka amal kebaikannya pun berlipat ganda. Ia akan bersusah payah melakukan yang terbaik dalam hidp ini agar ia pun akan dapat mempersembahkan yang terbaik di hadapan Allah kelak.  

 

Ibadah

Ibadah berarti keyakinan kepada Allah Sang Pencipta yang kita sembah. Ibadah melahirkan akhlak yang baik dan keyakinan kokoh kepada Allah. Ibadah juga melahirkan amal yang istiqomah.  Walaupun banyak yang dijanjikan oleh Allah swt bagi orang bertakwa, bagi ahli ibadah, keinginan utamanya hanyalah kelak  dapat berjuma dan memandang Allah sang kekasih. Itulah sebaik-baik nikmat yang diterima oleh hamba   yang taat dan bahagia.

 

Ilmu

Iman tanpa ilmu adalah kesesatan. Orang yang meyakini adanya Allah dan mencari cinta-Nya tetapi tidak tahu ilmunya maka día akan tersesat. Dia tidak tahu amalan yang disukai dan tidak disukai Allah. Oleh karenanya sebaik-baik iman adalah yang disertai dengan ilmu. Allah akan meninggikan orang berilmu beberapa derajat dalam pandanganNya.

Tuesday, April 14, 2026

MANIFESTO MASJID NABI: Rumah Allah yang memihak Rakyat

 


MANIFESTO MASJID NABI: Rumah Allah yang memihak Rakyat

Penulis: Muhammad Jazir ASP

Penerbit: Artisankata Publishing House

Yogyakarta 2024

247 halaman


Buku Manifesto Masjid Nabi ini merupakan kisah pengalaman  ustadz Muhammad Jazir ASP dalam mengembangkan Masjid Jogokaryan di Yogyakarta. Masjid Jogokaryan ini popular dengan pendekatan dakwah ekonomi dan pendekatan ”saldo nol”. Melalui dakwah tersebut, lingkungan Jogokaryan yang di tahun 1960an merupakan basis Partai Komunis Indonesia dan kaum abangan, berubah menjadi masyarakat Islami.

Konsep awal yang dikembangkan oleh masjid Jogokaryan ini adalah (1) mengajak orang untuk shalat dan (2) mengajak orang untuk menunaikan zakat. Untuk mengajak orang mau menjalankan ibadah shalat, masjid Jogokaryan melakukan pendataan warga Masyarakat dengan kategori orang yang belum menjalankan shalat, orang sudah shalat tapi di rumah saja dan orang yang sudah shalat rutin berjamaah di masjid. Untuk mereka yang belum shalat, takmir masjid Jogokaryan membentuk tim untuk melakukan pendekatan personal dan membimbing mereka shalat. Program ini mereka namakan “menshalatkan orang hidup”. Takmir masjid Jogokaryan juga membuat terobosan dengan menyediakan hadiah doorprize bagi mereka yang rajin shalat berjamaah di masjid. Hadiah ini bahkan meningkat menjadi tiket umroh. Program pendataan dan pembinaan juga dilakukan untuk identifikasi warga yang sudah bisa mengaji dan yang belum. Melalui pendataan dan pembinaan yang intensif ini, hampir 99% penduduk muslim Jogokaryan sekarang sudah menjalankan ibadah shalat.

Terkait dengan pembayaran zakat, pada tahun 2003 zakat yang diperoleh berkisar Rp. 5 juta rupiah dari 19 muzaki (pembayar zakat). Pada tahun 2022, zakat yang diperoleh berkisar 3,2 milyar rupiah dari 659 muzaki dan wakaf produktif mencapai 7 milyar rupiah. Infaq dan zakat mal dibiayai digunakan untuk kesejahteraan rakyat seperti perbaikan rumah, beasiswa, modal usaha dll. Infaq dari jamaah, diupayakan segera tersalur ke jamaah yang membutuhkan agar barokahnya segera dirasakan oleh orang yang berinfaq maupun bagi jamaah yang membutuhkan. Pendekatan ini disebut ”saldo nol”.

Keberhasilan mengembangkan kesadaran berzakat ini antara lain didukung dengan dakwah yang intensif serta pendampingan usaha. Banyak warga masyarakat, yang semula miskin dan menerima zakat, diberi modal usaha dan bimbingan usaha. Bimbingan usaha ini berjalan baik sehingga mereka bisa meningkat pendapatannya dan mereka yang semula menjadi penerima zakat berubah menjadi muzaki (pembayar zakat). Bimbingan usaha juga diberikan dalam bentuk pembukaan warung sekitar masjid, dan masjid membeli produk-produk  masyarakat seperti konsumsi jumat berkah biasanya disediakan oleh catering masyarakat setempat yang sudah lolos uji kelayakan dan kesehatan.

Masjid Jogokaryan juga mengembangkan usaha seperti penginapan syariah, dan percetakan yang keuntungannya digunakan untuk membiayai operasional masjid. Konsep ini mengadopsi konsep di Masjidil Haram yang biaya operasionalnya ditopang dari wakaf dan usaha yang dikelola masjid. Dengan dukungan ini, masjid Jogokaryan bisa menggaji Imam Masjid senilai 10 juta rupiah. Pegawai-pegawai masjid, yang ditempat lain disebut marbot, juga digaji minimal setara UMR Yogyakarta. Takmir menggaji karyawan tersebut agar karyawan bisa bekerja dengan fokus. Demikian pula dengan imam masjid, mereka diseleksi dan digaji sangat layak agar mereka bisa fokus dalam membimbing umat.

Dalam perkembangannya, pengembangan masjid Jogokaryan didorong mengadopsi konsep Masjid Nabawi di Madinah pada masa Nabi Muhammad sebagai pusat peradaban Islam, bukan sekadar tempat ibadah ritual semata. Konsep tersebut mencakup:

1.     Baitullah
yakni tempat berdoa, beribadah, berkeluh kesah kepada Allah. Sebagai tempat berkomunikasi dengan Allah, maka masjid harus senantiasa terbuka 24 jam untuk jamaah, fasilitas dan kebersihan memadai sehingga jamaah nyaman, terang benderang sehingga orang tidak takut untuk masuk ke dalamnya.

2.     Baitul Mal,
Yakni tempat menitipkan harta dari mereka yang berkelebihan untuk disalurkan kepada mereka yang miskin dan atau membutuhkan.

3.     Baitul Tarbiyah
Yakni menjadi tempat belajar, pembentukan karakter, tempat belajar berorganisasi, tempat belajar ilmu agama. Masjid Jogokaryan juga menyediakan beasiswa untuk siswa dari keluarga miskin. Mereka juga menyadiakan pelatihan untuk guru-guru.

4.     Baitul Dakwah
Yakni masjid adalah tempat untuk merawat umat. Takmir Masjid harus aktif mendatangi warganya dan tidak pasif menunggu didatangi. Mereka tidak sekedar mengumandangkan adzan, tapi benar-benar door to door mendatangi warga dan mengajak shalat.

5.     Baitu Muamalah
Yakni masjid mempunyai kiprah dalam pengembangan ekonomi. Hal ini untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah, sekaligus sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat dan fund raising untuk mendukung operasionalisasi masjid.

Beberapa kunci penting dalam pengembangan masjid Jogokaryan:

  •       Tersedianya kepemimpinan takmir masjid yang kompak, ikhlas, visioner dan bisa diteladani.
  •    Pelibatan anak muda dan anak-anak sejak SD untuk terlibat dalam kegiatan masjid atau kepengurusan masjid. Pelibatan ini penting untuk membangun karakter, ketrampilan berorganisasi dan jiwa kepemimpinan.
  •     Partisipasi aktif jamaah dalam kegiatan masjid. Jamaah didorong untuk bisa saling mengenal dengan intensif sehingga mereka bisa saling berkomunikasi,  saling belajar, dan tumbuh rasa setiakawan antar jamaah.
  •       Masjid harus mengutamakan program-program sebagai baitullah, baitul mal, baitu tarbiyah, baitu dakwah dan baitu muamalah. Takmir hendaknya menghindarkan bermegah-megah dengan bangunan fisik masjid, namun tidak punya program kerja yang jelas.

Di saat kemunduran umat terjadi karena fungsi masjid menyempit, kebangkitan harus dimulai dari revitalisasi masjid. Dalam kehidupan sosial, masjid hendaknya bisa menawarkan pendekatan sosial, politik dan pemerintahan yang lebih beretika, sebagai antitesis situasi politik dan pemerintahan yang  banyak menghalalkan segala cara saat ini.

Pada akhir buku ini, ustadz Jazir selaku penulis  mengungkapkan bahwa keberhasilan masjid Jogokaryan diharapkan bisa memotivasi masjid-masjid lain di Indonesia. Pendekatan ATM (amati, tiru, modifikasi) bisa menjadi salah satu strategi, sehingga pendekatan pengembangan masjid bisa disesuaikan dengan konteks lokal yang ada.

 

Catatan:

Ustadz Jazir mempunyai pengalaman panjang dalam berorganisasi serta pergaulan luas. Hal itu membuat beliau sangat kritis, bahkan sempat di penjara karena kekritisannya di jaman Orba. Luasnya pergaulan beliau  beliau tersebut membuat buku yang ditulis dengan gaya bertutur (story telling) ini terasa mudah dicerna untuk publik. Adapun yang perlu diperbaiki adalah dalam beberapa bagian terkesan ada pengulangan-pengulangan yang sedikit mengganggu.

 

Thursday, March 05, 2026

Panduan Praktis Ibadah Umrah

 


Panduan Praktis Ibadah Umrah

Penulis: Dave Ariant Yusuf Wicaksono

64 halaman

 

Buku ini berisi petunjuk tata cara ibadah Umrah. Secara bahasa, umroh berarti berziarah ke tempat ramai atau berpenghuni. Sedangkan secara istilah, umroh adalah ibadah dengan cara mendatangi Baitullah untuk melaksanakan rangkaian amalan tertentu, seperti thawaf (mengelilingi Ka'bah) dan sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah). Berbeda dengan haji, umroh dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun karena tidak terikat oleh waktu tertentu.

Umroh hanya memiliki 5 rukun, di antaranya adalah:

1. Ihram

Pakaian ihram yang digunakan untuk umroh sama dengan ibadah haji. Laki-laki menggunakan kain putih yang tidak terjahit, sedangkan perempuan mengenakan busana yang sopan sesuai ketentuan syariat.

2. Tawaf

Tawaf dalam umrah dilakukan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dan merupakan rukun yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan umrah. Thawaf dilakukan dalam keadaan bersuci (wudhu).

3. Sa’i

Sa’i dalam umrah juga sama dengan sa’i dalam haji, yaitu berjalan antara bukit Safa dan Marwah. Seperti dalam haji, sa’i dalam umrah juga dilakukan sebanyak tujuh kali. Jarak antara bukit Shafa dan bukit Marwah sekitar 450 meter. Sa’i boleh dilakukan dlam kondisi tidak bersuci.

4. Tahallul

Tahallul adalah rukun umroh yang keempat atau terakhir. Jamaah Umroh melakukan Tahallul selesai menunaikan Sa’i. Tahallul dilaksanakan di Bukit Marwah. Saat melakukan Tahallul, jamaah mencukur sebagian atau seluruh rambut di kepala.

5. Tertib

Tertib maksudnya semua rukun di atas harus dilakukan secara berurutan. Jika tidak ibadah umroh tidak sah

Selama melakukan ibadah Umroh, dianjurkan untuk banyak melakukan ibadah seperti shalat, membaca Qur’an, dan i’tikaf. Dalam buku ini juga dikupas tips melakukan ibadah Umroh seperti perlengkapan yang harus dibawa, cara bertayamum di pesawat dan lain-lain.