MANIFESTO MASJID NABI: Rumah Allah yang memihak
Rakyat
Penulis: Muhammad Jazir ASP
Penerbit: Artisankata Publishing House
Yogyakarta 2024
247 halaman
Buku Manifesto Masjid Nabi ini merupakan kisah pengalaman ustadz Muhammad Jazir ASP dalam mengembangkan
Masjid Jogokaryan di Yogyakarta. Masjid Jogokaryan ini popular dengan pendekatan dakwah ekonomi dan
pendekatan ”saldo nol”. Melalui dakwah tersebut, lingkungan Jogokaryan
yang di tahun 1960an merupakan basis Partai Komunis Indonesia dan kaum abangan,
berubah menjadi masyarakat Islami.
Konsep awal yang dikembangkan oleh masjid Jogokaryan ini adalah (1)
mengajak orang untuk shalat dan (2) mengajak orang untuk menunaikan zakat.
Untuk mengajak orang mau menjalankan ibadah shalat, masjid Jogokaryan melakukan
pendataan warga Masyarakat dengan kategori orang yang belum menjalankan shalat,
orang sudah shalat tapi di rumah saja dan orang yang sudah shalat rutin
berjamaah di masjid. Untuk mereka yang belum shalat, takmir masjid Jogokaryan
membentuk tim untuk melakukan pendekatan personal dan membimbing mereka shalat.
Program ini mereka namakan “menshalatkan orang hidup”. Takmir masjid
Jogokaryan juga membuat terobosan dengan menyediakan hadiah doorprize
bagi mereka yang rajin shalat berjamaah di masjid. Hadiah ini bahkan meningkat
menjadi tiket umroh. Program pendataan dan pembinaan juga dilakukan untuk
identifikasi warga yang sudah bisa mengaji dan yang belum. Melalui pendataan
dan pembinaan yang intensif ini, hampir 99% penduduk muslim Jogokaryan sekarang
sudah menjalankan ibadah shalat.
Terkait dengan pembayaran zakat, pada tahun 2003 zakat yang diperoleh
berkisar Rp. 5 juta rupiah dari 19 muzaki (pembayar zakat). Pada tahun
2022, zakat yang diperoleh berkisar 3,2 milyar rupiah dari 659 muzaki dan
wakaf produktif mencapai 7 milyar rupiah. Infaq dan zakat mal dibiayai digunakan
untuk kesejahteraan rakyat seperti perbaikan rumah, beasiswa, modal usaha dll. Infaq
dari jamaah, diupayakan segera tersalur ke jamaah yang membutuhkan agar
barokahnya segera dirasakan oleh orang yang berinfaq maupun bagi jamaah yang
membutuhkan. Pendekatan ini disebut ”saldo nol”.
Keberhasilan mengembangkan kesadaran berzakat ini antara lain didukung
dengan dakwah yang intensif serta pendampingan usaha. Banyak warga masyarakat,
yang semula miskin dan menerima zakat, diberi modal usaha dan bimbingan usaha.
Bimbingan usaha ini berjalan baik sehingga mereka bisa meningkat pendapatannya
dan mereka yang semula menjadi penerima zakat berubah menjadi muzaki (pembayar
zakat). Bimbingan usaha juga diberikan dalam bentuk pembukaan warung sekitar
masjid, dan masjid membeli produk-produk
masyarakat seperti konsumsi jumat berkah biasanya disediakan oleh catering
masyarakat setempat yang sudah lolos uji kelayakan dan kesehatan.
Masjid Jogokaryan juga mengembangkan usaha seperti penginapan syariah, dan
percetakan yang keuntungannya digunakan untuk membiayai operasional masjid.
Konsep ini mengadopsi konsep di Masjidil Haram yang biaya operasionalnya
ditopang dari wakaf dan usaha yang dikelola masjid. Dengan dukungan ini, masjid
Jogokaryan bisa menggaji Imam Masjid senilai 10 juta rupiah. Pegawai-pegawai
masjid, yang ditempat lain disebut marbot, juga digaji minimal setara
UMR Yogyakarta. Takmir menggaji karyawan tersebut agar karyawan bisa bekerja
dengan fokus. Demikian pula dengan imam masjid, mereka diseleksi dan digaji
sangat layak agar mereka bisa fokus dalam membimbing umat.
Dalam perkembangannya, pengembangan masjid Jogokaryan didorong mengadopsi konsep
Masjid Nabawi di Madinah pada masa Nabi Muhammad sebagai pusat peradaban Islam,
bukan sekadar tempat ibadah ritual semata. Konsep tersebut mencakup:
1.
Baitullah
yakni
tempat berdoa, beribadah, berkeluh kesah kepada Allah. Sebagai tempat
berkomunikasi dengan Allah, maka masjid harus senantiasa terbuka 24 jam untuk
jamaah, fasilitas dan kebersihan memadai sehingga jamaah nyaman, terang
benderang sehingga orang tidak takut untuk masuk ke dalamnya.
2.
Baitul
Mal,
Yakni
tempat menitipkan harta dari mereka yang berkelebihan untuk disalurkan kepada
mereka yang miskin dan atau membutuhkan.
3.
Baitul
Tarbiyah
Yakni
menjadi tempat belajar, pembentukan karakter, tempat belajar berorganisasi,
tempat belajar ilmu agama. Masjid Jogokaryan juga menyediakan beasiswa untuk
siswa dari keluarga miskin. Mereka juga menyadiakan pelatihan untuk guru-guru.
4.
Baitul
Dakwah
Yakni
masjid adalah tempat untuk merawat umat. Takmir Masjid harus aktif mendatangi
warganya dan tidak pasif menunggu didatangi. Mereka tidak sekedar
mengumandangkan adzan, tapi benar-benar door to door mendatangi warga
dan mengajak shalat.
5.
Baitu
Muamalah
Yakni
masjid mempunyai kiprah dalam pengembangan ekonomi. Hal ini untuk mendorong
pengembangan ekonomi syariah, sekaligus sebagai upaya pemberdayaan ekonomi
masyarakat dan fund raising untuk mendukung operasionalisasi masjid.
Beberapa kunci penting dalam pengembangan masjid Jogokaryan:
- Tersedianya kepemimpinan takmir masjid
yang kompak, ikhlas, visioner dan bisa diteladani.
- Pelibatan anak muda dan anak-anak sejak SD
untuk terlibat dalam kegiatan masjid atau kepengurusan masjid. Pelibatan ini
penting untuk membangun karakter, ketrampilan berorganisasi dan jiwa
kepemimpinan.
- Partisipasi aktif jamaah dalam kegiatan
masjid. Jamaah didorong untuk bisa saling mengenal dengan intensif sehingga
mereka bisa saling berkomunikasi, saling
belajar, dan tumbuh rasa setiakawan antar jamaah.
- Masjid harus mengutamakan program-program
sebagai baitullah, baitul mal, baitu tarbiyah, baitu dakwah dan baitu muamalah.
Takmir hendaknya menghindarkan bermegah-megah dengan bangunan fisik masjid,
namun tidak punya program kerja yang jelas.
Di saat kemunduran umat terjadi karena
fungsi masjid menyempit, kebangkitan harus dimulai dari revitalisasi masjid. Dalam
kehidupan sosial, masjid hendaknya bisa menawarkan pendekatan sosial, politik
dan pemerintahan yang lebih beretika, sebagai antitesis situasi politik dan
pemerintahan yang banyak menghalalkan
segala cara saat ini.
Pada akhir buku ini, ustadz Jazir selaku
penulis mengungkapkan bahwa keberhasilan
masjid Jogokaryan diharapkan bisa memotivasi masjid-masjid lain di Indonesia.
Pendekatan ATM (amati, tiru, modifikasi) bisa menjadi salah satu strategi,
sehingga pendekatan pengembangan masjid bisa disesuaikan dengan konteks lokal
yang ada.
Catatan:
Ustadz Jazir mempunyai pengalaman panjang
dalam berorganisasi serta pergaulan luas. Hal itu membuat beliau sangat kritis,
bahkan sempat di penjara karena kekritisannya di jaman Orba. Luasnya pergaulan
beliau beliau tersebut membuat buku yang
ditulis dengan gaya bertutur (story telling) ini terasa mudah dicerna untuk
publik. Adapun yang perlu diperbaiki adalah dalam beberapa bagian terkesan ada
pengulangan-pengulangan yang sedikit mengganggu.