1. Nasi goreng paling lezat didunia
Nasi goreng sejati di Shinseim dan stasiun kereta di Freiburg Jerman.
Alasannya: saat 3 minggu di Jerman dan udah lama tidak ketemu nasi terus nemu nasi goreng sejati (merknya di daftar menu restoran tertulis "nasi Goreng" bukan Fried Rice) maka terasa enak banget. Maklum, perutku benar-benar perut asli Indonesia yang tidak terbiasa berkhianat dari nasi....
2. Burger paling enak sedunia
Burger di Mc donald stasiun kereta Leipzig - Jerman
Alasannya: saat itu kedinginan akibat udara menjelang musim dingin. Trus nemu Mc Donald dan pesan Burger yang hangat....nyaman benar...
3. Pizza paling enak sedunia
Pizza di kaki lima di Sydney Harbour - Aussie
Alasannya: saat di Aussie sempat terdampar karena uang saku habis buat deposit hotel. untuk bertahan makan terpaksa makan irit dengan pizza kaki lima....Udara dingin, perut laper, duit cekak...membuat pizza yang sepotong itu terasa sangat lezat di lidah...
4. Sop asparagus kepiting paling enak di dunia
Sop kepiting di sebuah warung makan di Ruteng - Flores.
Alsannya; sehabis jalan kaki berkilo-kilo untuk monitoring dan diguyur hujan ditambah udara dingin Ruteng yang berada di ketinggian 1200 meter dpl, membuat sop asparagus kepiting bisa menghangatkan sungsum dan peredaran darahku...
5. Bakso paling enak
Bakso di dalam pasar Muntilan - Jateng.
Alasannya: kuahnya penuh kaldu daging sapi sehingga rasa gurihnya nendang banget,....
6. Tongseng paling enak
Tongseng Pak Sungkono di Pasar Muntilan - Jateng
Alasannya: dagingnya gurih dan lunak, bumbunya aduhai sedap, dan cara memasaknya akrobatik seperti koki atau chef terkenal...
7. Soto Babat paling enak
Soto Pak Dul di Pasar Muntilan - Jateng
Alasannya kuahnya enak, babatnya dari babat kerbau yang dibacem sehingga tebal dan gurih...
8. Sate kambing paling maknyuss..
Sate kambing warung malam di dekat jembatan Kalikeruh, Bumiayu - Jateng
Alasannya: irisan dagingnya gede-gede, dagingnya lunak, tidak bau, bumbunya sedap...kalo sate kambing di samarinda, kambingnya kebanyakan makan silet sehingga irisannya kecil-kecil dan hanya jadi slilit...
9. Ayam ingkung yang puuuuaaaliiiing uuuenaaak
Ayam ingkung masakan ibuku sendiri khususnya saat kenduri
Alasannya: karena diungkep (direbus) cukup lama maka dagingnya empuk dan bumbunya merasuk ke dalam daging. Karena ayamnya jenis ayam kampung maka dagingnya tetap kesat dan tidak hancur...
10. Bubur ndeso paling enak...
Buburnya mbok sugeng di kampungku....
alasannya bubur di campur dengan santan dan daun salam sehingga gurih dan bau harum... apalagi dimakan pake daun pincuk dan sambel goreng tempe... (jamanku kecil satu pincuk hanya 10-15 rupiah saja)
11. Teh poci paling enak
Teh poci di warung Faidzin pinggir Kali Keruh Bumiayu - Jateng
Alasannya: tehnya harum dan kental dalam poci tanah, pake gula batu,...apalagi ditambah tempe mendoan ...ehm...lekeeeer bangetz
12. Pecel pincuk paling enak
Pecel pincuk warung ponorogo di seberang pom bensin jl. Juanda - samarinda
Alasannya pecelnya enak, disajikan dalam piring bambu dialasi daun pisang, lauknya sederhana macam baceman, peyek kacang, ayam gule, telur... harga murah plus lesehan nyantai..
13. Indomie rebus paling enak
Indomie di kantin kantor Bina Swadaya - Gunung Sahari , Jakarta
Alasannya; kuahnya nyemek-nyemek, bakminya masih kenyal, kuahnya mak nyuss mungkin karena pancinya berkerak dan jarang dicuci...
14. Coto Makasar paling enak
Coto Makasar di depon kantor Polisi Polsek Samarinda Utara
Alasan: kuahnya kental dan gurih...apalagi ketupatnya padat berisi...
15. Ketupat Kandangan paling enak
Ketupat Kandangan bikinan saudaranya Mama Jodi pemilik ayam gepuk M. Yamin - samarinda
Alasannya: kuahnya kental dan gurih, ketupatnya padat, dan ikannya tidak amis....
Belajar dan berbagi kisah kasih kehidupan yang penuh kehangatan dan kebersahajaan
Showing posts with label makanan. Show all posts
Showing posts with label makanan. Show all posts
Tuesday, June 16, 2009
Wednesday, August 01, 2007
Ongol-ongol, jadah dan bubur Mbok Sugeng
Hunkwe merupakan kue seperti agar-agar yang dibuat dari terigu, rasanya manis dan biasanya berwarna merah jambu. Kue hunkwe semacam itu merupakan makanan mewah bagi orang di kampungku dulu. Untunglah di kampongku ada Mbok Sugeng yang kreatif membuat hunkwe tiruan yang dibuat dari tepung aci pohon aren atau sagu. Hunkwe tiruan ini biasa disebut ongol-ongol dimakan dengan dikasih parutan kelapa. Walaupun tidak seenak hunkwe, ongol-ongol ini cukup laris. Di tahun 70-an, sepotong kue ongol-ongol ukuran3x4x 1cm dijual seharga 5 rupiah.
Selain ongol-ongol di warung mbok Sugeng juga dijual jadah. Jadah ini merupakan ketan yang diberi parutan kelapa lalu dikukus kemudian ditumbuk halus. Jadah ini enak dimakan dengan teh pahit (tawar) yang kenthal. Jadah ini akan lebih enak bila digoreng atau dipanggang pakai kuali…ehmmm nyamleng dan ueeenaaak tenan…..
Menu lain tempat Mbok Sugeng adalah bubur nasi ala ndeso yang gurih dan ditambah sayuran tahu atau tempe. Sepincuk bubur Mbok Sugeng seharga 10 rupiah saat itu. Walaupun tidak pakai daging seperti bubur ayam, dan tempatnya sederhana tapi bubur mbok Sugeng terkadang ngangeni. Menu lain adalah nasi dengan lauk tahu atau tempe besengek atau bumbu santan kuning. Sepiring nasi paling harganya 15-20 rupiah.
Sayang seiring merambatnya usia mbok Sugeng, sekarang beliau sudah tidak jualan lagi karena sudah tua. Namun menu jajanan warung Mbok Sugeng yang sederhana, murah dan ndesani kan selalu kukenang….
Selain ongol-ongol di warung mbok Sugeng juga dijual jadah. Jadah ini merupakan ketan yang diberi parutan kelapa lalu dikukus kemudian ditumbuk halus. Jadah ini enak dimakan dengan teh pahit (tawar) yang kenthal. Jadah ini akan lebih enak bila digoreng atau dipanggang pakai kuali…ehmmm nyamleng dan ueeenaaak tenan…..
Menu lain tempat Mbok Sugeng adalah bubur nasi ala ndeso yang gurih dan ditambah sayuran tahu atau tempe. Sepincuk bubur Mbok Sugeng seharga 10 rupiah saat itu. Walaupun tidak pakai daging seperti bubur ayam, dan tempatnya sederhana tapi bubur mbok Sugeng terkadang ngangeni. Menu lain adalah nasi dengan lauk tahu atau tempe besengek atau bumbu santan kuning. Sepiring nasi paling harganya 15-20 rupiah.
Sayang seiring merambatnya usia mbok Sugeng, sekarang beliau sudah tidak jualan lagi karena sudah tua. Namun menu jajanan warung Mbok Sugeng yang sederhana, murah dan ndesani kan selalu kukenang….
Monday, July 02, 2007
Jaburan
Dulu, bulan ramadhan merupakan saat yang dinanti anak-anak di kampungku. Alasannya, saat bulan ramadhan di kampungku agak terang dan tidak terlalu sepi karena ada orang-orang yang mengaji di musholla dan memakai lampu petromax. Pada bulan lainnya, pada jam 20.00 biasanya di kampungku sudah sepi dan gelap karena masing-masing rumah hanya pake lampu teplok (lampu minyak yang kecil). Alasan lain anak-anak senang dengan bulan ramadhan karena mereka bisa ikut minum jaburan dan snack (kue) yang disuguhkan untuk orang-orang yang mengaji tadarus.
Setelah orang selesai shalat Tarawih, biasanya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu yang berisi Asmaul Husna dengan diiringi tabuh bedug. Setelah selesai acara tabuh bedug, untuk anak-anak dan orang yang akan tadarus dibagikan jaburan. Jaburan merupakan minuman khas bulan puasa yang dibuat dari air yang diberi gula merah terkadang dicampur daging kelapa muda atau kelapa tua yang diiris-iris kecil, tape singkong, nangka dan lain-lain. Karena saat itu di kampungku pada hari-hari biasa belum tersedia minuman lain seperti sirup, fanta dll maka minuman jaburan terasa enak sekali. Biasanya orang yang menyediakan jaburan digilir satu kampung. Misalnya hari pertama puasa keluarga A membuat jaburan, hari kedua keluarga B dst. Anak-anak juga terbiasa mengamati dari waktu ke waktu bahwa jaburan yang dari keluarga A sangat enak, jaburan dari keluarga D tidak manis dll. Biasanya kalau jaburan dari keluarga A yang terkenal enak, nanti banyak anak yang berebutan minta. Karena jumlah anak-anak saat itu cukup banyak (KB belum berjalan lancar) maka dalam satu malam jaburan yang dibagi biasanya 1 dandang ukuran sedang.
Untuk wadah jaburan, anak-anak biasanya sudah membawa gelas dari rumah masing-masing sehingga dia tinggal menaruh gelas dan setelah diisi oleh petugas yang membagi, dia bisa membawa jaburan itu pulang kerumahnya. Aku dulu senang kalau disuruh mengambil jaburan di sebuah keluarga karena biasanya kami akan disuruh mencicipi jaburan di rumah itu dulu . Jadi aku dapat dobel karena minum di rumah pembuat jaburan, dan nanti masih dapat jatah minum jaburan lagi di musholla.
Hakikat dari jaburan ini mungkin berupa (a) media untuk menarik dan mengumpulkan anak sehingga bulan ramadhan menjadi lebih semarak (b) Memberikan doping dengan minuman berkalori tinggi bagi orang-orang yang tadarus agar pada malam selikuran (malam ke 21), mereka sudah bisa khatam Al Quran.
Setelah orang selesai shalat Tarawih, biasanya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu yang berisi Asmaul Husna dengan diiringi tabuh bedug. Setelah selesai acara tabuh bedug, untuk anak-anak dan orang yang akan tadarus dibagikan jaburan. Jaburan merupakan minuman khas bulan puasa yang dibuat dari air yang diberi gula merah terkadang dicampur daging kelapa muda atau kelapa tua yang diiris-iris kecil, tape singkong, nangka dan lain-lain. Karena saat itu di kampungku pada hari-hari biasa belum tersedia minuman lain seperti sirup, fanta dll maka minuman jaburan terasa enak sekali. Biasanya orang yang menyediakan jaburan digilir satu kampung. Misalnya hari pertama puasa keluarga A membuat jaburan, hari kedua keluarga B dst. Anak-anak juga terbiasa mengamati dari waktu ke waktu bahwa jaburan yang dari keluarga A sangat enak, jaburan dari keluarga D tidak manis dll. Biasanya kalau jaburan dari keluarga A yang terkenal enak, nanti banyak anak yang berebutan minta. Karena jumlah anak-anak saat itu cukup banyak (KB belum berjalan lancar) maka dalam satu malam jaburan yang dibagi biasanya 1 dandang ukuran sedang.
Untuk wadah jaburan, anak-anak biasanya sudah membawa gelas dari rumah masing-masing sehingga dia tinggal menaruh gelas dan setelah diisi oleh petugas yang membagi, dia bisa membawa jaburan itu pulang kerumahnya. Aku dulu senang kalau disuruh mengambil jaburan di sebuah keluarga karena biasanya kami akan disuruh mencicipi jaburan di rumah itu dulu . Jadi aku dapat dobel karena minum di rumah pembuat jaburan, dan nanti masih dapat jatah minum jaburan lagi di musholla.
Hakikat dari jaburan ini mungkin berupa (a) media untuk menarik dan mengumpulkan anak sehingga bulan ramadhan menjadi lebih semarak (b) Memberikan doping dengan minuman berkalori tinggi bagi orang-orang yang tadarus agar pada malam selikuran (malam ke 21), mereka sudah bisa khatam Al Quran.
Wetonan
Wetonan merupakan peringatan kelahiran setiap 35 hari sekali yang dihitung berdasarkan hari dan pasaran. Misalnya saya lahir hari Minggu Legi, maka setiap hari minggu legi ibu saya membuat acara wetonan.
Menu wetonan untuk anak-anak biasanya berupa nasi urap (kluban) dan sebutir telur yang diiris dibagi delapan atau enam belas. Biasanya anak-anak disuruh kumpul dan nanti langsung nasi urap itu dibagi dalam daun pisang dan dimakan bersama-sama. Rasanya enak sekali makan bersama walau hanya sekedar nasi kluban...
Untuk peringatan wetonan orang dewasa misal bapak saya, menu wetonan biasanya berupa nasi urap dalam bentuk tumpeng. Biasanya diundang pak kaum (modin) untuk mimpin doa keselamatan dan enteng rejeki kemudian tumpeng itu dibagi dan dimakan bersama.
Wetonan ini dari sisi hakikat mungkin lebih sebagai sedekah dan doa bersama agar yang bersngkutan senantiasa dilimpahi berkah keselamatan dan kebahagiaan. Nampaknya saat ini acara wetonan ini sudah semakin tergusur dengan acara ulang tahun, yang lebih dominan unsur pesta dan hura-huranya....
Menu wetonan untuk anak-anak biasanya berupa nasi urap (kluban) dan sebutir telur yang diiris dibagi delapan atau enam belas. Biasanya anak-anak disuruh kumpul dan nanti langsung nasi urap itu dibagi dalam daun pisang dan dimakan bersama-sama. Rasanya enak sekali makan bersama walau hanya sekedar nasi kluban...
Untuk peringatan wetonan orang dewasa misal bapak saya, menu wetonan biasanya berupa nasi urap dalam bentuk tumpeng. Biasanya diundang pak kaum (modin) untuk mimpin doa keselamatan dan enteng rejeki kemudian tumpeng itu dibagi dan dimakan bersama.
Wetonan ini dari sisi hakikat mungkin lebih sebagai sedekah dan doa bersama agar yang bersngkutan senantiasa dilimpahi berkah keselamatan dan kebahagiaan. Nampaknya saat ini acara wetonan ini sudah semakin tergusur dengan acara ulang tahun, yang lebih dominan unsur pesta dan hura-huranya....
Menu sarapanku; Sego Wadhang dan Sayur sisa
Di daerahku yang penuh dengan daerah persawahan, para petani biasanya makan sehari hanya dua kali yakni sekitar jam 10-11 pagi dan jam 19.00 habis maghrib. Sebagian besar petani jarang sarapan, dan dipagi hari mereka hanya minum secangkir teh pahit dengan secuil gula merah. Gula merah ini konon mempunyai nilai kalori yang cukup tinggi.
Kebiasaan tersebut juga berlangsung di keluargaku. Tapi mengingat saya dan kakak saya harus sekolah pagi dan ketika di SMP kami harus menempuh perjalanan jalan kaki 2 kilometer, ibu biasa menyediakan sarapan pagi buat kami walau saya sendiri tidak terlalu bernafsu. Menu sarapan pagi yang biasa kami nikmati adalah sego wadhang (nasi sisa kemarin) dan sayur sisa. Terkadang ada lauk seperti tempe atau tahu, tapi seingatku lebih sering hanya nasi dan sayur saja. Kami makan sisa nasi hari kemarin yang sudah dingin karena saat itu di kampungku belum ada magic jar atau rice cooker plus listriknya. Sementara ibu baru selesai masak sekitar jam 10 pagi. Paling-paling sayur sisa kemarin dipanasi biar tidak basi dan terasa lebih enak.
Dari perjalanan hidupku sewaktu kecil ini, saya memetik hikmah untuk bisa lebih bersyukur karena kita masih bisa makan nasi (walau nasi sisa kemarin). Masih banyak orang lain yang harus mengais sampah atau bahkan mati karena kelaparan. Hikmah lain adalah kita dituntut untuk tidak suka mensia-siakan makanan, karena untuk mencari sesuap nasi terkadang orang tua saya harus bersusah payah dan penuh cucuran keringat. Hikmah ketiga adalah kita belajar untuk tidak serakah terhadap makanan ketika kita menghadapi makanan enak, karena kita akan teringat bahwa banyak saudara yang tidak bisa makan kenyang pada hari ini.......
Kebiasaan tersebut juga berlangsung di keluargaku. Tapi mengingat saya dan kakak saya harus sekolah pagi dan ketika di SMP kami harus menempuh perjalanan jalan kaki 2 kilometer, ibu biasa menyediakan sarapan pagi buat kami walau saya sendiri tidak terlalu bernafsu. Menu sarapan pagi yang biasa kami nikmati adalah sego wadhang (nasi sisa kemarin) dan sayur sisa. Terkadang ada lauk seperti tempe atau tahu, tapi seingatku lebih sering hanya nasi dan sayur saja. Kami makan sisa nasi hari kemarin yang sudah dingin karena saat itu di kampungku belum ada magic jar atau rice cooker plus listriknya. Sementara ibu baru selesai masak sekitar jam 10 pagi. Paling-paling sayur sisa kemarin dipanasi biar tidak basi dan terasa lebih enak.
Dari perjalanan hidupku sewaktu kecil ini, saya memetik hikmah untuk bisa lebih bersyukur karena kita masih bisa makan nasi (walau nasi sisa kemarin). Masih banyak orang lain yang harus mengais sampah atau bahkan mati karena kelaparan. Hikmah lain adalah kita dituntut untuk tidak suka mensia-siakan makanan, karena untuk mencari sesuap nasi terkadang orang tua saya harus bersusah payah dan penuh cucuran keringat. Hikmah ketiga adalah kita belajar untuk tidak serakah terhadap makanan ketika kita menghadapi makanan enak, karena kita akan teringat bahwa banyak saudara yang tidak bisa makan kenyang pada hari ini.......
Gethuk goreng ternyata enak ya....
Pada tahun 1996-an saya sering melakukan kunjungan kerja dalam rangka pengembangan program pengelolaan Taman Wisata Alam Ruteng di Kabupaten Manggarai – Flores Barat - NTT. Kabupaten Manggarai beribukotakan Ruteng yang berada pada ketinggian sekitar 1100 di atas permukaan laut sehingga udaranya dingin.
Salah satu kegiatan dalam kunjungan kerja tersebut adalah kunjungan monitoring ke desa-desa sekitar Taman Wisata Alam. Pada suatu kesempatan saya berkunjung ke rumah keluarga Konstan Mot. Dari obrolan dengan keluarga Konstan Mot saya mendapatkan informasi bahwa beberapa hasil bumi sebenarnya melimpah tapi mereka belum bisa mengolahnya. Sebagai contoh alpokat saat itu hanya dijadikan makanan babi. Singkong hanya direbus atau digoreng saja kalau sudah bosan singkong tersebut hanya dijadikan makanan babi. Sementara kalau mereka ingin makan kripik singkong mereka pergi ke toko di Ruteng yang jaraknya sekitar 5-8 kilometer dan beli di situ. Kripik itu konon didatangkan dari Surabaya.
Melihat kondisi yang ironis seperti itu, saya mengajak ibu-ibu disitu pergi ke dapur dan saya minta anak-anak untuk mencabut singkong di kebun. Setelahnya singkong dikupas dan dikukus. Setelah masak saya minta ibu-ibu untuk menumbuk singkong kukus tadi di lumpang (antan). Mereka terkejut dan berkomentar: ” lho singkong kok bisa kayak terigu ya?” . Saya kemudian ajari mereka membuat gethuk goreng. Semua yang hadir kemudian berebut mencicipi gethuk goreng yang mereka masak. Setiap kali mengangkat gethuk dari penggorengan, langsung habis jadi rebutan... Akhirnya mereka saya ajari pula membuat opak, slondhokan, lemet dan beberapa jenis makanan lainnya yang berbahan baku singkong.
Itulah potret kondisi saudara-saudara kita di daerah agak pinggiran. Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini yakni: (a) pekerjaan kaum perempuan Manggarai yang cukup padat untuk mengurus rumah tangga dan sekaligus kerja di ladang membuat mereka tidak cukup banyak waktu untuk mengembangkan kreatifitas mengolah hasil ladang mereka (b) Pembinaan oleh PKK Kabupaten pernah dilakukan terhadap kaum ibu. Namun yang diajarkan oleh mereka adalah membuat kue-kue dengan bahan mahal dan bahannya harus dibeli di kota seperti terigu, telur, mentega dll. Konsep pembinaan yang tidak memperhatikan budaya dan potensi lokal pada akhirnya akan mengakibatkan tujuan program pembinaan tidak tercapai atau tidak ada keberlanjutan. (c) Bagi kita sendiri, terkadang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang kelihatan sepele (seperti cara membuat gethuk). Tetapi dengan pengetahuan dan ketrampilan tersebut kita dapat memberikan sumbangsih yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Memberikan dukungan dan bantuan kepada orang lain tidak harus berupa uang, materi dan ketrampilan yang muluk-muluk. Berikan apa yang kita bisa dengan penuh ketulusan, itu menjadi langkah awal untuk berbuat sesuatu bagi sesama...
Salah satu kegiatan dalam kunjungan kerja tersebut adalah kunjungan monitoring ke desa-desa sekitar Taman Wisata Alam. Pada suatu kesempatan saya berkunjung ke rumah keluarga Konstan Mot. Dari obrolan dengan keluarga Konstan Mot saya mendapatkan informasi bahwa beberapa hasil bumi sebenarnya melimpah tapi mereka belum bisa mengolahnya. Sebagai contoh alpokat saat itu hanya dijadikan makanan babi. Singkong hanya direbus atau digoreng saja kalau sudah bosan singkong tersebut hanya dijadikan makanan babi. Sementara kalau mereka ingin makan kripik singkong mereka pergi ke toko di Ruteng yang jaraknya sekitar 5-8 kilometer dan beli di situ. Kripik itu konon didatangkan dari Surabaya.
Melihat kondisi yang ironis seperti itu, saya mengajak ibu-ibu disitu pergi ke dapur dan saya minta anak-anak untuk mencabut singkong di kebun. Setelahnya singkong dikupas dan dikukus. Setelah masak saya minta ibu-ibu untuk menumbuk singkong kukus tadi di lumpang (antan). Mereka terkejut dan berkomentar: ” lho singkong kok bisa kayak terigu ya?” . Saya kemudian ajari mereka membuat gethuk goreng. Semua yang hadir kemudian berebut mencicipi gethuk goreng yang mereka masak. Setiap kali mengangkat gethuk dari penggorengan, langsung habis jadi rebutan... Akhirnya mereka saya ajari pula membuat opak, slondhokan, lemet dan beberapa jenis makanan lainnya yang berbahan baku singkong.
Itulah potret kondisi saudara-saudara kita di daerah agak pinggiran. Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini yakni: (a) pekerjaan kaum perempuan Manggarai yang cukup padat untuk mengurus rumah tangga dan sekaligus kerja di ladang membuat mereka tidak cukup banyak waktu untuk mengembangkan kreatifitas mengolah hasil ladang mereka (b) Pembinaan oleh PKK Kabupaten pernah dilakukan terhadap kaum ibu. Namun yang diajarkan oleh mereka adalah membuat kue-kue dengan bahan mahal dan bahannya harus dibeli di kota seperti terigu, telur, mentega dll. Konsep pembinaan yang tidak memperhatikan budaya dan potensi lokal pada akhirnya akan mengakibatkan tujuan program pembinaan tidak tercapai atau tidak ada keberlanjutan. (c) Bagi kita sendiri, terkadang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang kelihatan sepele (seperti cara membuat gethuk). Tetapi dengan pengetahuan dan ketrampilan tersebut kita dapat memberikan sumbangsih yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Memberikan dukungan dan bantuan kepada orang lain tidak harus berupa uang, materi dan ketrampilan yang muluk-muluk. Berikan apa yang kita bisa dengan penuh ketulusan, itu menjadi langkah awal untuk berbuat sesuatu bagi sesama...
Aneka masakan dari Singkong
Singkong merupakan sumber karbohidrat yang bisa dijadikan menu makanan pokok. Di beberapa daerah di Jawa, singkong ini sering dijadikan sumber makanan pokok ketika darurat dimana panen padi gagal ataupun harga beras sedang mahal. Meski demikian ada juga yang fanatik makan singkong sebagai makanan pokok karena makan singkong bikin perut awet kenyang (mungkin ini karena singkong membutuhkan lebih banyak waktu untuk dicerna dibanding nasi).
Di masa kecilku, singkong ini bisa dibuat menjadi berbagai jenis makanan kecil atau snack ala ndeso. Beberapa jenis snack dari singkong yang kuingat adalah:
(1) Singkong rebus, ini cara pengolahan singkong yang paling sederhana yakni singkung dikupas, dicuci, dipotong-potong lalu direbus atau dikukus dengan ditambah garam.
(2) Balok, yaitu singkong goreng. Cara membuatnya adalah singkung dikupas, dicuci, dipotong-potong laludirendam dalam bumbu (ulegan garam plus bawang) selama beberapa menit, kemudian digoreng masak.
(3) Thiwul, yang dibuat dari tatal gaplek (tatal dibuat dengan cara singkong dikupas, dijemur selama beberapa hari sampai kering). Cara membuat thiwul adalah tatal yang kering ditumbuk dan diayak kemudian dikukus sampai masak hingga menjadi butiran-butiran halus. Kalau sudah masak kemudian dimasukkan ke adonan gula merah (yang sudah dicairkan dan dipanasi sebelumnya) dan diaduk hingga rata.Setelah rata, thiwul tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(4) Gathot, variasi lain dari thiwul adalah gathot yang juga dibuat dari tatal gaplek. Gathot dibuat dengan cara tatal gaplek di rencan selama beberapa hari agar empuk. Setelah itu gaplek dipotong-potong kecil (ketebalan sekitar kurang dari 1 cm), kemudian dikukus hingga masak. Kalau sudah masak kemudian dimasukkan ke adonan gula merah (yang sudah dicairkan dan dipanasi sebelumnya) dan diaduk hingga rata. Setelah rata gathot tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(5) Lemet yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diparut halus. Setelahnya singkung dicampur butiran gula merah yang sudah dihaluskan, dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dikukus sampai masak.
(6) Riwit yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diserut dengan parut rawit (hasil parutannya seperti kelapa serut untuk es campur). Setelah itu hasil serutan di aduk dengan butiran gula merah yang sudah dihaluskan dan kemudian dikukus. Setelah masak, riwit tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(7) Sesek yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diiris agak tebal (sekitar 0,5 cm). Setelah itu irisan tadi dikukus sampai masak dan dihidangkan dengan tambahan parutan kelapa yang sudah dikukus sebelumnya.
(8) Tape singkong (ini kalau di Jawa Barat disebut peuyeum). Tape ini dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci, dipotong-potong kemudian dikukus sampai masak. Singkong yang masak kemudian diangin-anginkan kemudian diberi campuran ragi tape. Setelah itu singkong tersebut dimasukkan ke bakul yang sudah diberi alas dedaunan atau plastik yang rapat dan ditutup rapat untuk diperam selama beberapa hari.
(9) Gelanggem yaitu tape singkong yang digoreng dengan memakai adonan tepung.
(10) Gethuk, dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci, dipotong-potong kemudian dikukus sampai masak. Setalah masak, singkong itu ditumbuk halus dan jadilah gethuk. Ada banyak varian dari gethuk ini misal (a) gethuk kasar yang ketika menumbuk tidak perlu sampai halus. Gethuk kasar ini biasanya dicampur dengan butiran gula merah ketika menumbuknya agar terasa manis. Tapi bisa pula dimakan dengan ditaburi gula pasir (b) gethuk halus yang ditumbuk halus. Gethuk halus ini bisa ditambah gula merah ataupun dibuat gurih. (c) gethuk cothot, yaitu gethuk putih yang dikepal dan didalamnya diisi gula merah atau gula pasir lalu digoreng. Ketika digigit, terkadang gula yang ada didalamnya muncrat karena gula mencair ketika digoreng, karena itulah gethuk ini dinamakan gethuk ”cothot” atau muncrat. (d) gethuk lindri yaitu gethuk putih yang diberi bumbu pewangi dll dan digiling menjadi seperti gumpalan bergaris seperti bakmi. Varian lain yang terkenal dari Magelang adalah Gethuk Trio yang terdiri tiga warna dan rasa yakni putih, coklat dan merah jambu.
(11) Krepekan atau opak, biasanya dibuat dari gethuk putih yang digilas tipis pake botol kemudian dicetak bulat-bulat (bisa pake gelas). Setelah itu dijemur sampai kering kemudian digoreng.
(12) Slondhokan biasanya dibuat dari gethuk putih yang dibuat seperti gelang kemudian dijemur kering dan digoreng. Saat ini orang sudah bisa berkreasi sehingga ada yang rasa manis, pedas, gurih dll. Slondokan ini dulu biasanya dijual dengan diikat pake tali dari bambu. Seikat misalnya berisi 10 butir slondhokan.
(13) Pothil yaitu seperti slondokan hanya saja ukurannya sebesar cincin. Saya sendiri tidak tahu persis cara membuatnya, tetapi kayaknya agak beda dengan slondhokan. Dulu di kampungku ada penjual keliling yang menjual ”bir pothil”, yakni bir tradisional (saya tidak tahu bahan bakunya) ditambah snack-nya pothil. Aku ingat slogan penjualnya yang menempuh perjalanan dengan jalan kaki sambil memikul bir jualannya:
Di masa kecilku, singkong ini bisa dibuat menjadi berbagai jenis makanan kecil atau snack ala ndeso. Beberapa jenis snack dari singkong yang kuingat adalah:
(1) Singkong rebus, ini cara pengolahan singkong yang paling sederhana yakni singkung dikupas, dicuci, dipotong-potong lalu direbus atau dikukus dengan ditambah garam.
(2) Balok, yaitu singkong goreng. Cara membuatnya adalah singkung dikupas, dicuci, dipotong-potong laludirendam dalam bumbu (ulegan garam plus bawang) selama beberapa menit, kemudian digoreng masak.
(3) Thiwul, yang dibuat dari tatal gaplek (tatal dibuat dengan cara singkong dikupas, dijemur selama beberapa hari sampai kering). Cara membuat thiwul adalah tatal yang kering ditumbuk dan diayak kemudian dikukus sampai masak hingga menjadi butiran-butiran halus. Kalau sudah masak kemudian dimasukkan ke adonan gula merah (yang sudah dicairkan dan dipanasi sebelumnya) dan diaduk hingga rata.Setelah rata, thiwul tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(4) Gathot, variasi lain dari thiwul adalah gathot yang juga dibuat dari tatal gaplek. Gathot dibuat dengan cara tatal gaplek di rencan selama beberapa hari agar empuk. Setelah itu gaplek dipotong-potong kecil (ketebalan sekitar kurang dari 1 cm), kemudian dikukus hingga masak. Kalau sudah masak kemudian dimasukkan ke adonan gula merah (yang sudah dicairkan dan dipanasi sebelumnya) dan diaduk hingga rata. Setelah rata gathot tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(5) Lemet yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diparut halus. Setelahnya singkung dicampur butiran gula merah yang sudah dihaluskan, dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dikukus sampai masak.
(6) Riwit yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diserut dengan parut rawit (hasil parutannya seperti kelapa serut untuk es campur). Setelah itu hasil serutan di aduk dengan butiran gula merah yang sudah dihaluskan dan kemudian dikukus. Setelah masak, riwit tadi siap dihidangkan dengan ditambah parutan kelapa (yang sebaiknya juga sudah dikukus).
(7) Sesek yaitu snack yang dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci dan diiris agak tebal (sekitar 0,5 cm). Setelah itu irisan tadi dikukus sampai masak dan dihidangkan dengan tambahan parutan kelapa yang sudah dikukus sebelumnya.
(8) Tape singkong (ini kalau di Jawa Barat disebut peuyeum). Tape ini dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci, dipotong-potong kemudian dikukus sampai masak. Singkong yang masak kemudian diangin-anginkan kemudian diberi campuran ragi tape. Setelah itu singkong tersebut dimasukkan ke bakul yang sudah diberi alas dedaunan atau plastik yang rapat dan ditutup rapat untuk diperam selama beberapa hari.
(9) Gelanggem yaitu tape singkong yang digoreng dengan memakai adonan tepung.
(10) Gethuk, dibuat dengan cara singkong dikupas, dicuci, dipotong-potong kemudian dikukus sampai masak. Setalah masak, singkong itu ditumbuk halus dan jadilah gethuk. Ada banyak varian dari gethuk ini misal (a) gethuk kasar yang ketika menumbuk tidak perlu sampai halus. Gethuk kasar ini biasanya dicampur dengan butiran gula merah ketika menumbuknya agar terasa manis. Tapi bisa pula dimakan dengan ditaburi gula pasir (b) gethuk halus yang ditumbuk halus. Gethuk halus ini bisa ditambah gula merah ataupun dibuat gurih. (c) gethuk cothot, yaitu gethuk putih yang dikepal dan didalamnya diisi gula merah atau gula pasir lalu digoreng. Ketika digigit, terkadang gula yang ada didalamnya muncrat karena gula mencair ketika digoreng, karena itulah gethuk ini dinamakan gethuk ”cothot” atau muncrat. (d) gethuk lindri yaitu gethuk putih yang diberi bumbu pewangi dll dan digiling menjadi seperti gumpalan bergaris seperti bakmi. Varian lain yang terkenal dari Magelang adalah Gethuk Trio yang terdiri tiga warna dan rasa yakni putih, coklat dan merah jambu.
(11) Krepekan atau opak, biasanya dibuat dari gethuk putih yang digilas tipis pake botol kemudian dicetak bulat-bulat (bisa pake gelas). Setelah itu dijemur sampai kering kemudian digoreng.
(12) Slondhokan biasanya dibuat dari gethuk putih yang dibuat seperti gelang kemudian dijemur kering dan digoreng. Saat ini orang sudah bisa berkreasi sehingga ada yang rasa manis, pedas, gurih dll. Slondokan ini dulu biasanya dijual dengan diikat pake tali dari bambu. Seikat misalnya berisi 10 butir slondhokan.
(13) Pothil yaitu seperti slondokan hanya saja ukurannya sebesar cincin. Saya sendiri tidak tahu persis cara membuatnya, tetapi kayaknya agak beda dengan slondhokan. Dulu di kampungku ada penjual keliling yang menjual ”bir pothil”, yakni bir tradisional (saya tidak tahu bahan bakunya) ditambah snack-nya pothil. Aku ingat slogan penjualnya yang menempuh perjalanan dengan jalan kaki sambil memikul bir jualannya:
Bir pothil, temulawak...
Munggah Tampir, kesele njamak (mendaki bukit Tampir, capeknya luar biasa)
(14) Kluyur yaitu varian lain dari opak. Cara membuatnya adalah singkong diparut halus, dicampur bumbu garam dan bawang plus daun bawang. Setelah itu ditempel tipis di tutup ompreng atau kuali kemudian dikukus. Setelah masak kemudian diiris kecil dengan pelan-pelan kemudian dijemur. Apabila sudah kering, kluyur ini kemudian digoreng dan siap dihidangkan.
(15) Cemplon, yaitu singkong yang diparut halus kemudian dikepal menjadi bulatan (diameternya sekitar 2,5 cm) dan diisi gula merah kemudian digoreng.
Sebenarnya mungkin masih banyak snack varian lain dari bahan singkong seperti keripik singkong. Jaman dulu singkong dimasak dengan bumbu yang masih minim paling hanya pake garam bawang biar rasa asin atau gula biar rasa manis. Tapi dengan demikian makanan itu menjadi lebih sehat atau hygienis karena belum banyak bahan beracun (seperti pewarna berbahaya) tercampur didalamnya. Aroma wangi paling hanya berasa dari panili atau frambos. Dulu snack dari singkong sering dibuat oleh warga ndeso karena snack ini sangat bermanfaat untuk menambah tenaga mereka yang sebagian besar bekerja menggunakan tenaga fisik sebagai petani. Anak-anak biasanya juga memanfaatkan snack tersebut karena jaman tahun 1970an awal, belum banyak snack produk pabrik yang dijual di warung-warung di kampungku. Sayangnya saat ini singkong sudah mulai tergusur. Kebijakan swasembada beras yang disertai ”setengah pemaksaan” untuk menanam padi serta pengalihan budaya makan singkong ke beras telah membuat diversifikasi makanan pokok menjadi mandek. Sebagian orang sekarang merasa rendah diri bila makanan pokoknya singkong, cilakanya bangsa kita tidak mampu menjaga keswasembadaan berasnya. Perubahan budaya makan dari singkong ke beras, mungkin telah menjadi salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi timbulnya ketergantungan kita terhadap bangsa lain berupa impor beras...Itulah blunder dari kebijakan swasembada pangan....
Munggah Tampir, kesele njamak (mendaki bukit Tampir, capeknya luar biasa)
(14) Kluyur yaitu varian lain dari opak. Cara membuatnya adalah singkong diparut halus, dicampur bumbu garam dan bawang plus daun bawang. Setelah itu ditempel tipis di tutup ompreng atau kuali kemudian dikukus. Setelah masak kemudian diiris kecil dengan pelan-pelan kemudian dijemur. Apabila sudah kering, kluyur ini kemudian digoreng dan siap dihidangkan.
(15) Cemplon, yaitu singkong yang diparut halus kemudian dikepal menjadi bulatan (diameternya sekitar 2,5 cm) dan diisi gula merah kemudian digoreng.
Sebenarnya mungkin masih banyak snack varian lain dari bahan singkong seperti keripik singkong. Jaman dulu singkong dimasak dengan bumbu yang masih minim paling hanya pake garam bawang biar rasa asin atau gula biar rasa manis. Tapi dengan demikian makanan itu menjadi lebih sehat atau hygienis karena belum banyak bahan beracun (seperti pewarna berbahaya) tercampur didalamnya. Aroma wangi paling hanya berasa dari panili atau frambos. Dulu snack dari singkong sering dibuat oleh warga ndeso karena snack ini sangat bermanfaat untuk menambah tenaga mereka yang sebagian besar bekerja menggunakan tenaga fisik sebagai petani. Anak-anak biasanya juga memanfaatkan snack tersebut karena jaman tahun 1970an awal, belum banyak snack produk pabrik yang dijual di warung-warung di kampungku. Sayangnya saat ini singkong sudah mulai tergusur. Kebijakan swasembada beras yang disertai ”setengah pemaksaan” untuk menanam padi serta pengalihan budaya makan singkong ke beras telah membuat diversifikasi makanan pokok menjadi mandek. Sebagian orang sekarang merasa rendah diri bila makanan pokoknya singkong, cilakanya bangsa kita tidak mampu menjaga keswasembadaan berasnya. Perubahan budaya makan dari singkong ke beras, mungkin telah menjadi salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi timbulnya ketergantungan kita terhadap bangsa lain berupa impor beras...Itulah blunder dari kebijakan swasembada pangan....
Mie kopyok; mie ala ndeso
Sejak kecil aku sangat menyukai bakmi bakso. Tapi karena aku tinggal di pelosok kampung, bakmi bakso merupakan makanan mewah bagiku karena tidak ada yang jualan bakmi di kampungku. Paling-paling ketika ada orang punya hajatan dan ”nanggap” hiburan malam seperti kethoprak, di situ ada orang jualan mie bakso dari kampung lain. Acara makan mie bakso yang lain adalah ketika diajak ibu ke pasar Muntilan yang jauhnya sekitar 17 km dari rumahku. Di pasar biasanya ibuku membelikanku bakso. Rasanya bakso saat itu benar-benar lezat, walaupun jualannya didalam pasar dan hanya bernaungkan tenda serta lingkungannya agak jorok. Makan mie bakso plus segelas es campur (pakai cincau) rasanya benar-benar ueennaaaaak tenan...
Untuk mengatasi kesukaanku makan mie bakso, Mbak Tatik (kakakku nomor dua) mengajariku membuat menu mie kopyok dengan bahan yang mudah kudapat di warung di kampungku. Caranya sederhana yakni bakmi kuning basah dicuci pake air hangat kemudian ditiriskan. Kemudian aku membuat sambel bawang dengan bahan cabe, bawang putih, garam dan bumbu masak. Setelah sambel bawang tersedia, sambel tadi ditaruh di mangkok kemudian bakmi kuning dimasukkan ke mangkok dan diberi air hangat secukupnya. Nah jadilah sudah menu mie kopyok sebagai pengganti menu mie bakso di kala darurat...
Terkadang, kalau pas ibuku menyembelih ayam untuk kenduri, mie kopyok tersebut bisa ditambah cuilan daging, kuah santan ayam, bawang goreng, kecap dan kaldu penyedap rasa seperti Royco..... yah begitulah menu bakmi ndeso jamanku dulu....
Untuk mengatasi kesukaanku makan mie bakso, Mbak Tatik (kakakku nomor dua) mengajariku membuat menu mie kopyok dengan bahan yang mudah kudapat di warung di kampungku. Caranya sederhana yakni bakmi kuning basah dicuci pake air hangat kemudian ditiriskan. Kemudian aku membuat sambel bawang dengan bahan cabe, bawang putih, garam dan bumbu masak. Setelah sambel bawang tersedia, sambel tadi ditaruh di mangkok kemudian bakmi kuning dimasukkan ke mangkok dan diberi air hangat secukupnya. Nah jadilah sudah menu mie kopyok sebagai pengganti menu mie bakso di kala darurat...
Terkadang, kalau pas ibuku menyembelih ayam untuk kenduri, mie kopyok tersebut bisa ditambah cuilan daging, kuah santan ayam, bawang goreng, kecap dan kaldu penyedap rasa seperti Royco..... yah begitulah menu bakmi ndeso jamanku dulu....
Sambel Bawang; bau tapi bergizi..
Ketika aku kecil (mulai klas 4 SD), aku sangat suka sambel bawang. Sambel bawang ini kubuat hampir setiap hari. Tidak peduli ibuku masak sayur gurih ataupun pedas, sambel bawang senantiasa kuperlukan.
Biasanya sambal bawang kuracik sendiri dengan bahan baku berupa; cabe rawit hijau atau merah yang masih segar, garam, bawang putih dan sedikit bumbu masak. Setelah di-uleg, sambel bawang tersebut kutambah sedikit minyak goreng yang telah dipanaskan. Akan lebih lezat bila minyak goreng yang dipakai adalah minyak goreng bekas (jerantah) khususnya bekan menggoreng ikan asin.
Memang ada sedikit masalah dengan bau mulut dan bau badan ketika suka mengonsumsi sambel bawang, tetapi konon bawang itu sendiri mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Setiap ibuku beli bawang putih, aku selalu sembunyikan beberapa butir untuk cadangan. Sehingga ketika bawang simpanan ibuku habis, aku masih punya beberapa butir untuk kubuat sambel bawang. Untuk ketersediaan cabe biasanya tidak terlalu menjadi masalah karena ibuku sering menanam cabe di sawah sendiri....
Hobby makan sambel ini kayaknya nurun sama anakku. Sejak kelas 5 SD anakku sangat suka sambel cabe dan tomat. Dia tidak peduli peluh berleleran, dia asyik terus makan sampai-sampai yang lain tidak kebagian sambel itu......
Biasanya sambal bawang kuracik sendiri dengan bahan baku berupa; cabe rawit hijau atau merah yang masih segar, garam, bawang putih dan sedikit bumbu masak. Setelah di-uleg, sambel bawang tersebut kutambah sedikit minyak goreng yang telah dipanaskan. Akan lebih lezat bila minyak goreng yang dipakai adalah minyak goreng bekas (jerantah) khususnya bekan menggoreng ikan asin.
Memang ada sedikit masalah dengan bau mulut dan bau badan ketika suka mengonsumsi sambel bawang, tetapi konon bawang itu sendiri mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Setiap ibuku beli bawang putih, aku selalu sembunyikan beberapa butir untuk cadangan. Sehingga ketika bawang simpanan ibuku habis, aku masih punya beberapa butir untuk kubuat sambel bawang. Untuk ketersediaan cabe biasanya tidak terlalu menjadi masalah karena ibuku sering menanam cabe di sawah sendiri....
Hobby makan sambel ini kayaknya nurun sama anakku. Sejak kelas 5 SD anakku sangat suka sambel cabe dan tomat. Dia tidak peduli peluh berleleran, dia asyik terus makan sampai-sampai yang lain tidak kebagian sambel itu......
Friday, June 29, 2007
Sumber gizi alternatif di masa kecilku...

Masa kecil di kampung yang jauh dari gemerlap kota, membuat orang ndeso harus kreatif mencari sumber gizi. Beberapa sumber gizi alternatif yang kudapat dimasa kecil antara lain:
(1) Cicak, yang kutangkap kemudian kumasukkan didalam bara di tungku kayu(luweng) yang ada di dapur (pawon). Sebelum kering, cicak kuangkat dan kukeluarkan jerohannya dan kubuang kepalanya. Seingatku cicak ini gurih rasanya dan dipercaya untuk obat kudis. (Seingatku aku jarang kudisan ketikamasih suka makan cicak bakar).
(2) Gangsir yaitu serangga kayak jangkrik tapi ukurannya lebih besar. Gangsir ini biasanya ada di lahan kering (kebun atau halaman). Gangsir ini biasanya didapat ayahku ketika mencangkul di kebun. Selain itu anak-anak juga suka menggenangi lobang dalam tanah yang menjadi rumah gangsir dengan air sehingga gangsir itu keluar dari lobang dan mudah menangkapnya.Gangsir ini setelah dibersihkan isi perut dan bulunya, enaknya digoreng. Cara masak yang lain adalah gangsir di-uleg kemudian dipepes kering dengan parutan kelapa.
(3) Gendon yakni ulat penggerek berwarna putih, penuh lemak dan ada didalam batang pohon yang agak empuk misalnya sengon. Karena bentuknya yang putih berlemak dan menggelikan, aku kurang suka terhadap gendon ini. Cara memasaknya adalah dengan digoreng.
(4) Laron, yakni serangga yang biasanya terbang dan tinggal dekat dengan rumah rayap. Laron ini biasanya muncul di malam hari dan cara masaknya dengan digoreng.
(5) Kampret atau kelelawar yang ditangkap dengan senapan angin atau dengan mencari di dalam daun pisang yang masih kuncup. Kelelawar ini sesudah di-beset atau dibuang kulitnya kemudian dicuci dan digoreng. Di beberapa tempat seperti Cilacap dan Banyumas, kampret ini dipercaya sebagai obat penyakit asma.
(6) Bulus atau kura-kura yang kalau pas beruntung bisa kita dapatkan di kali atau sawah. Cara masaknya dengan dibumbu mangut atau kuah santan.
(7) Marmot semacam kelinci kecil. Marmot ini mudah dipelihara karena makan dedaunan dan cepat berkembangbiak. Cara masaknya dengan digoreng atau dibumbu lainnya.
Itulah sumber gizi alternatif masa kecilku...mungkin bagi anda itu menjijikkan, tapi aku tetap mensyukurinya karena masih banyak saudara kita yang hingga saat ini belum bisa makan kenyang bahkan mati kelaparan...
Menu makan di kala prihatin

Ketika kecil aku tinggal di daerah pegunungan di kaki gunung Merbabu. Saat itu (tahun 1970 an) daging, telor bahkan indomie masih menjadi makanan mewah bagi masyarakat. Di sisi lain ikan sudah mulai susah di dapat. Makanya ketika bulan puasa, ikan asin pindang yang sebesar ibu jari sudah merupakan makanan mewah bagiku. Aku sendiri sangat suka ikan asin. Kalo bapakku pulang kenduri, selain daging ayam, ikan asin murahan (istilahnya gereh pethek atau keper) yang digoreng pake tepung merupakan makanan yang paling kucari.
Bahkan demi ikan asin, aku rela untuk kumpulin tali sandal jepit, ember/baskom plastik atau barang bekas lainnya untuk ditukar ke pemulung dengan segenggam ikan asin. Ikan asin yang kuperoleh kadang kugoreng, terkadang kalau ibuku tidak punya minyak goreng, ikan asin tersebut kubakar didalam bara lalu kugunakan untuk lauk makan.... Walaupun mungkin tidak hygienis, alhamdulillah aku tidak pernah sakit perut gara-gara makan ikan asin....
Saat ini karena ekonomi masyarakat mungkin sudah membaik, barter sandal jepit dengan ikan asin ini sudah mulai jarang kutemukan. Barter dengan pemulung yang nampaknya ada adalah barang rongsokan ditukar dengan mainan anak-anak. Tapi soal kesukaanku pada ikan asin ini terus berlangsung sampai sekarang. Walaupun di Kalimantan Timur aku menikmati berbagai jenis ikan sungai yang lezat, namun kerinduanku sama gereh atau keper ini tidak pernah pudar. Sayangnya, istriku tercinta yang kuminta untuk mencari gereh di pasar tradisional Samarinda tidak pernah ketemu jua walau dia sudah mengobok-obok seisi pasar (sampai badannya bau ikan asin..:-)). Mungkin karena di Samarinda ikan yang bagus mudah didapat sehingga ikan murahan seperti gereh tidak laku sehingga tidak ada yang jual....
Bahkan demi ikan asin, aku rela untuk kumpulin tali sandal jepit, ember/baskom plastik atau barang bekas lainnya untuk ditukar ke pemulung dengan segenggam ikan asin. Ikan asin yang kuperoleh kadang kugoreng, terkadang kalau ibuku tidak punya minyak goreng, ikan asin tersebut kubakar didalam bara lalu kugunakan untuk lauk makan.... Walaupun mungkin tidak hygienis, alhamdulillah aku tidak pernah sakit perut gara-gara makan ikan asin....
Saat ini karena ekonomi masyarakat mungkin sudah membaik, barter sandal jepit dengan ikan asin ini sudah mulai jarang kutemukan. Barter dengan pemulung yang nampaknya ada adalah barang rongsokan ditukar dengan mainan anak-anak. Tapi soal kesukaanku pada ikan asin ini terus berlangsung sampai sekarang. Walaupun di Kalimantan Timur aku menikmati berbagai jenis ikan sungai yang lezat, namun kerinduanku sama gereh atau keper ini tidak pernah pudar. Sayangnya, istriku tercinta yang kuminta untuk mencari gereh di pasar tradisional Samarinda tidak pernah ketemu jua walau dia sudah mengobok-obok seisi pasar (sampai badannya bau ikan asin..:-)). Mungkin karena di Samarinda ikan yang bagus mudah didapat sehingga ikan murahan seperti gereh tidak laku sehingga tidak ada yang jual....
Thursday, June 28, 2007
Merpati sebagai sumber protein hewani
Mungkin anda sudah pernah merasakan merpati goreng? Yah lumayan gurih kan?
Selain digoreng, ketika kecil saya juga suka makan telur merpati rebus. Telur merpati ketika direbus, putih telurnya tetap berwarna agak bening dan kenyal seperti daging buah rambutan. Hal ini berbeda dengan telur ayam atau bebek yang putih telurnya berwarna putih ketika direbus. Mungkin ini dipengaruhi oleh jenis kandungan dan komposisi zat yang ada di telur-telur tersebut. Meski demikian telur merpati rasanya tetap enak dan gurih.
Masakan lain yang kusuka adalah ”gethik” atau merpati cincang. Untuk membuat gethik ini diperlukan anak merpati (piyik) yang baru mulai tumbuh bulu dan mulai berani keluar dari kadang (pagupon) atau istilahnya ”mapag lawang”. Piyik ini disembelih dan bulu halusnya dibuang atau dibakar, kemudian dibuang ususnya dan dibersihkan. Piyik yang sudah dibersihkan ini kemudian dicincang beserta tulang-tulangnya. Karena masih muda, tulang piyik ini mudah dilumatkan. Setelah halus kemudian dimasak pakai merica dan bumbu lainnya.... Hm sedap, ketika gethik tersebut dimakan dengan nasi putih yang masih panas (kemebul).......kata orang, gethik ini bisa buat jamu tambah stamina...
Subscribe to:
Posts (Atom)