Belajar dan berbagi kisah kasih kehidupan yang penuh kehangatan dan kebersahajaan
Monday, December 21, 2015
GURU SMA-ku
Monday, December 07, 2015
MEMBANGUN CITA-CITA KETIKA MASA SMA
Saturday, December 05, 2015
MODA TRANSPORTASI JAMAN SMA
Ibu separuh baya ketika SMA,
SANDIWARA RADIO
Wednesday, December 02, 2015
Teman SMA (3)
Thursday, November 26, 2015
Kenakalan ketika SMA
Teman SMA (2)
Wednesday, November 25, 2015
Teman SMA (1)
Friday, June 19, 2009
KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survey internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama
Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan
Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di Perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.
Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.
(ditulis oleh Andri Aji Saputro dengan menyarikan dari Top of the Class - Fergus Bordewich)
Monday, August 06, 2007
Pak Susetiawan, peletak pondasi berpikir sistematik
Bu Waryati, guru bahasa Inggris idolaku…
Friday, August 03, 2007
Ibu Guru SMP-ku...
Wednesday, August 01, 2007
Guru Kampungku, ndeso tapi pejuang sejati ...
- Setiap hari Jumat, anak-anak disuruh berolah raga. untuk pemanasan para murid diajak berjalan ke sebuah sungai dan pulangnya membawa sebongkah batu sesuai kekuatannya masing-masing. Lama-lama batu tersebut terkumpul banyak dan bisa digunakan untuk bikin pondasi sekolah.
- Untuk membuat pondasi atau perbaikan sekolah, biasanya guru musyawarah dengan orang tua murid. Biasanya banyak orang tua murid yang mampunya nyumbang tenaga atau kayu, bambu dll bahan bangunan sekolah. Sumbangan tenaga dan material bangunan tadi diterima dengan senang hati oleh sekolah dan dikelola dengan baik sehingga pembangunan sekolah tidak membebani orang tua murid terlalu berat.
- Setiap hari Selasa dan Jumat, sebelum senam pagi murid-murid diwajibkan membawa sebatang kayu pakar jenis apapun. Anak-anak sangat mudah mencari sepotong kayu bakar di jalan atau di kenun. Kayu bakar ini dikumpulkan dan setelah banyak diikat dan dijual. Uang hasil penjualan kayu bakar siswa ini dibelikan kapur tohor untuk mengecat dinding gedek sekolah. Tenaga yang mengecat dinding sekolah ini diambil dari siswa kelas 5 atau 6, sehingga sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya tukang cat.
- Saat perayaan sekolah seperti lebaran, siswa hanya disuruh membawa kue dari rumahnya masing-masing dan saling ditukarkan dengan temannya. Dengan cara ini suasana sekolah tetap seperti pesta yang meriah tapi tidak perlu keluar biaya.
- Untuk membuat lapangan lompat jauh atau loncat tinggi, murid-murid biasanya disuruh mengumpulkan pasir dikali dan diangkut ke halaman sekolah oleh para siswa. Dengan gotong royong semacam ini sekolah bisa mempunyai lapangan lompat jauh dengan biaya yang murah.
Guru SD-ku tersayang
Pak Sutamto atau Pak Tamto yang ganteng, berkulit kuning, berpakaian rapi dengan rambut berombak. Beliau kalau ke sekolah naik sepeda atau naik motor Honda CB 100. Beliau penyabar dan penyayang murid. Beliau mengajar aku di kelas 1. Aku ingat nilai pertamaku ketika SD adalah nilai ”B” yang kuperoleh ketika aku berhasil menulis beberapa huruf dengan benar.
Pak Sumar yang berperawakan tegap, kulit hitam seperti layaknya guru yang nyambi bertani, berkumis, rambut keriting. Beliau mengajar aku kelas 6 dan beliau sangat pandai memotivasi murid untuk belajar dengan menceritakan pengetahuan-pengetahuan umum yang diambil dari berbagai sumber. Beliau secara umum sangat terbuka, walau sesekali marah kalau ada murid yang malas belajar. Beliau kalau ke sekolah naik sepeda jengki berwarna hijau tua yang terawat baik dengan spion yang terawat bersih.
Ibu Sumiati atau Bu Sum panggilannya, beliau tinggi dan gemuk perawakannya, berkacamata, rambut lurus yang digelung lipat. Seperti Pak Sumar beliau juga banyak mendorong siswa untuk rajin membaca dan belajar pengetahuan umum. Aku diajar beliau di kelas 4 dan aku sangat senang dengan cara beliau mengajar sehingga aku mengimbangi saran beliau dengan membaca apapun yang kutemukan. Ketika sedang berjalan dimanapun dan aku menemukan sesobek kertas koran, maka kertas itu kubaca dulu baru kubuang. Beliau sesekali mengadakan cerdas cermat dan pemenangnya dikasih hadiah permen atau kue. Aku sering mendapatkan permen ini karena jawabanku sering benar.
Pak Jaslan, beliau guru kelas 3 seingatku. Beliau ramah, perawakan agak kecil, rambut keriting dan agak botak. Beliau sangat sayang padaku dan sering menyuruhku membelikan rokok di warung dan nanti aku diberi upah he..he...beliau ke sekolah naik sepeda kumbang DKW atau terkadang Honda CB 100.
Bu Is, dulu sewaktu mulai mengajar di sekolahku beliau masih gadis. Cantik, semampai, rambut lurus digelung dan harum sehingga murid-murid laki-laki suka sekali menyambut kedatanban beliau di pagi hari dan berebutan bersalaman dengan beliau karena tangannya harum bau bedak. Setelah bersalaman biasanya murid-murid saling pamer, memamerkan keharuman tangannya masing-masing yang terkena bedak Ibu Lis...he..he... Beliau penyabar terhadap siswa. Beliau akhirnya cinlok (cinta lokasi) dan menikah dengan Pak Jaslan.
Bu Inul lengkapnya Ibu Zainul Inayah yang mengajarku di kelas 5. Beliau tipikal guru kampung, sabar, ulet dan penampilan sederhana. Beliau berperawakan kecil dan rambut lurus digelung. Hal yang masih kuingat adalah beliau selalu menyentuhkan telunjukknya di ujung lidah ketika akan membuka halaman buku...
Bu Siti Rahayu, beliau adalah guru kelas 1-2, beliau berperawakan tinggi, berkacamata, penampilan sederhana dan sangat sabar terhadap murid. Beliau tipikal guru yang mengayomi murid. Ketika murid tidak masuk sekolah, beliau buru-buru menengok karena kuatir muridnya sedang sakit...luar biasa pengabdian dan perhatian beliau terhadap siswa....
Pak Daryanto, beliau ngganteng, rapih, perawakan sedang. Beliau Kepala Sekolah. Beliau pintar memotivasi siswa untuk berani tampil ke depan dan berani mengutarakan pendapat.
Pak Ashari, berperawakan ceking, tinggi, rambut lurus dan bersepeda ke sekolah. Beliau guru agama. Murid-murid senang diajar karena beliau pintar bercerita khususnya bercerita tentang tarikh atau sejarah Islam.
Itu beberapa guru SDku yang kuingat pernah mengajarku... Saya sangat hormat pada beliau karena sumbangsihnya yang luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Walau gaji guru kecil, tapi beliau-beliau tersebut tidak mata duitan dan bekerja penuh pengabdian. Suatu hal yang semakin langka di negeri ini. Semoga amal beliau-beliau tersebut akan menjadi mata air yang senantiasa mengalirkan sungai pahala sepanjang masa. Amin....
Tuesday, July 03, 2007
Dientup tawon; Disengat lebah
Terkadang ada satu dua ekor tawon yang terperangkap di jendela kaca di rumahku. Dia pengin keluar tapi terkendala kaca. Di saat aku kecil, bapakku bilang bahwa di-entup (sengat) tawon itu agak sakit. Saat itu aku penasaran, kayak apa sih sakitnya kena sengat tawon? Maka ketika ada tawon terperangkap sengaja kupegang kepalanya dengan tangan kiriku dan jari telunjuk kananku kusodorkan ke bagian sekor yang ada sengatnya. Aduhh.... ternyata lumayan sakit dan ngilu kena sengat itu...
Pengalaman kena sengat tawon yang kedua adalah ketika membuka laci buffet di rumahku. Aku tidak melihat di dekat laci itu ada tawon endas (tawon kepala) yang agak besar (panjang 2 cm). Tahu-tahu tanganku pedih dan bengkak kena sengatan tawon endas itu...
Pengalaman ketiga kena sengat adalah karena sifat jahilku. Ketika masih SD, sekolah kami dekat jalan kampung yang pada hari pasaran Pahing penuh lalu lalang orang pergi ke pasar. Nah di sebuah pohon yang menjulur di atas jalan kampung itu terdapat sarang tawon endas. Kami, anak-anak nakal di SD, timbul sifat jahil untuk melempari rumah tawon itu sehingga si tawon akan ngamuk dan mengejar orang-orang yang lalu lalang di bawahnya. Ketika kami melempari, rumah tawon memang rusak tapi cilakanya si tawon malah mengejar kami dan menyengat kepalaku... Yah kualat namanya he..he..he...
(Saat ini tawon atau lebah madu sudah mulai banyak dibudidayakan. Di Parungpajang di Diklat Perlebahan milik Perhutani, orang selain diajari budidaya lebah madu juga diajari tentang penggunaan sengat tawon untuk akupuntur (tusuk jarum) guna pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Anda tertarik untuk mencobanya?)
Golek tunggeng (mencari kalajengking)
Kalajengking yang sudah diperoleh biasanya hanya untuk mainan saja atau tekadang diadu dengan kepiting karena mereka sama-sama punya capit. Postur kalajengking itu sebenarnya indah, dengan badan, capit dan ekor sengat yang gagah apalagi ditambah warna hitam kebiruan yang mengkilat. Hanya saja bermain kalajengking harus hati-hati karena sengatnya cukup berbisa dan konon sangat menyakitkan. Di beberapa daerah, kalajengking ini sering dibuat ramuan untuk obat penyakit kulit....
Wednesday, June 27, 2007
SDN SAWANGAN III; sekolah gedek bambu kebanggaanku
Sewaktu usiaku kurang dari 5 tahun, aku mulai dimasukkan ke Sekolah Dasar. Saat itu di daerahku belum ada Taman Kanak-kanak (TK) apalagi playgroup. Aku disekolahkan karena SD itu numpang di pendopo rumah pakdeku yang mantan Kepala Desa (Lurah) dan letaknya di depan rumahku. SD itu yakni SD Negeri Sawangan III masih relatif baru dibentuk, jadi belum punya bangunan sendiri. Ruang pendopo rumah pakdeku disekat pake papan menjadi tiga buah kelas. Kelas 1,2,3 masuk pagi dan kelas 4,5,6, kayaknya masuk siang. Aku ingat ketika saat istirahat sekolah, aku berlari pulang untuk makan atau minum karena sekolahnya hanya berjarak 20 meter dari rumah dan saat itu jarang jajan karena memang tidak ada tukang jualan jajanan di situ. Terkadang sekolah menjadi hiruk pikuk ketika ada orang peminta-minta atau orang yang agak gila datang untuk minta makan di rumah pakdeku. Saat itu kemiskinan masih merajalela sehingga rumah pakdeku yang mantan pejabat desa sering jadi tujuan mereka untuk minta makan.Tatkala kelas 2, sekolahku dipindah ke bangunan sekolah yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan pemerintah. Sekolahku masih di kampungku hanya saja jaraknya sekitar 100 meter dari rumah. Di lingkungan sekolah ini sudah mulai ada tukang jualan jajan seperti permen, bubur nasi ala ndeso, kue tradisional dll.
Bangunan sekolahku berupa bangunan sederhana dengan lantai tanah dan dinding gedek bambu yang dianyam. Sekolah itu ada 6 kelas dengan satu ruang guru yang agak sempit. Jangan tanya soal WC, karena tidak tersedia, sehingga murid laki dan perempuan biasa pipis (buang air kecil) di kebun kelapa di belakang sekolah yang memang masih luas. Tidak jarang anak-anak laki-laki suka ngintip anak perempuan yang sedang pipis..he...he..
Fasilitas sekolah yang tersedia adalah halaman sekolah sekitar 10 x 50 meter yang digunakan untuk upacara hari senin oleh para murid. Dulu upacara dilakukan setiap hari senin pagi dipimpin oleh Kepala Sekolah atau Guru yang ditunjuk. Sejak kelas 4, aku sudah sering ditunjuk jadi komandan upacara. Upacara diikuti seluruh murid dan pada umumnya berlangsung khidmad, walaupun tanpa pengeras suara dan hanya sekedar tiang bambu yang menjadi tiang bendera. Guru-guruku begitu pandai untuk menanamkan rasa cinta dan hormat kepada tanah air, walau belakangan ini baru kutahu bahwa gaji guru saat itu sebenarnya masih sangat minim... Hal inilah yang membuatku menjadi semakin hormat pada guru-guruku.....
Halaman sekolah itu juga yang dipakai sebagai lapangan olah raga. Setiap Selasa dan Kamis diadakan SPI alias Senam Pagi Indonesia. Karena saat itu sekolahku yang miskin dan guru-guruku belum punya tape recorder, maka senam pagi dilakukan oleh guru dengan cara memberi aba-aba hitungan satu...dua...tiga....empat secara berirama dibantu dengan menggunakan ketukan dari sebuah kayu penghapus papan tulis yang dipukulkan secara berirama pada pintu sekolah yang terbuat dari papan jati. Saat itu saya juga sering diserahi untuk memberikan aba-aba ini pada siswa yang lain.
Di halaman itu pula anak-anak juga bermain kasti atau sepakbola atau kejar-kejaran. Terdapat pula ada bak pasir sederhana untuk olahraga lompat jauh atau loncat tinggi, yang biasanya disiapkan ketika anak kelas 6 mau ujian sekolah.
Fasilitas dalam kelas hanya papan tulis hitam (blackboard) dimana guru menulis di papan tulis pake kapur tulis. Terkadang ketika tulisan itu dihapus, debunya berhamburan dan wajah pak guru atau bu guru jadi belepotan kapur. Fasilitas yang agak lumayan adalah bangku dan meja murid yang bagus karena terbuat dari kayu jati yang memang sudah tua dan berkualitas tinggi. Bangku yang memakai sandaran dan meja biasanya dirangkai menjadi satu dan terbuat dari kayu jati yang tebal sehingga berat untuk digeser-geser oleh murid-murid yang masih anak-anak. Satu meja biasanya untuk tempat duduk 2 orang siswa, kecuali kalo siswanya banyak satu meja bisa dipakai untuk 3 orang. Permukaan meja siswa dibuat miring menghadap siswa sehingga siswa ketika nulis tidak perlu menunduk terus dan siswa bisa duduk dengan posisi tegap... (saat ini baru kupikir bahwa konsep meja itu sebenarnya sangat sesuai dengan sisi kesehatan karena menghindarkan anak duduk dalam posisi yang salah yang bisa mengakibatkan sakit punggung).. Sayang sekali karena meja itu bahannya berkualitas tinggi, ketika beberapa tahun setelah aku lulus SD, bangku-bangku dan meja itu tidak ketahuan kemana rimbanya... Yang pasti, kalau dijual sebagai perabot bekas pasti harganya lumayan karena kualitas kayunya bagus sekali....
Sekolahku saat itu tidak mempunyai jendela, tapi terdapat ventilasi dari bilah bambu yang letaknya memanjang diseputar dinding sekolah. Ventilasi ini tingginya sekitar 1 meter, dengan demikian udara mengalir segar dan cahaya bisa masuk ke ruang kelas. Sekolahku juga tidak punya langit-langit sehingga air hujan sering tempias ke dalam kelas. Karena letaknya di tengah kebun kelapa, tidak ada WC, dan ruangan banyak terbuka maka nyamuk sering menyerang. Apalagi saat itu kami bersekolah hanya ”nyeker” telanjang kaki tidak pakai sepatu. Biasanya kaki kami bentol-bentol digigit nyamuk atau kakinya jadi ”mbesisik” bersisik karena kulit kering dan banyak digaruk-garuk. Untuk mengatasi kulit mbesisik tadi, di kampung belum ada hand body lotion dan sejenisnya, sehingga kami biasa pakai embun pagi yang nempel di dedaunan atau terkadang pakai minyak kelapa yang dioleskan sedikit ke betis kaki. Seringkali anak kampung tidak peduli minyak kelapa ini masih bersih atau minyak kelapa bekas goreng ikan asin...yang penting kaki jadi kelihatan mulus....Cilakanya, kalau ngolesin minyaknya terlalu banyak, kaki menjadi mengkilat kayak ikan goreng yang baru diangkat dari wajan he...he....
Yah begitulah SDku tempatku menuntut ilmu.... sangat sederhana, tapi disitulah banyak kenangan yang bagiku sangat berharga dan membuatku bangga karena di balik bangunan yang sederhana, terdapat para guru yang penuh dedikasi menjalankan amanah sebagai pahlawan tanpa tanda jasa...