Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Monday, December 21, 2015

GURU SMA-ku

Berbicara tentang guru SMA, terdapat beberapa ciri-ciri yang melekat erat dengan penampilan beliau secara keseharian.  Beberapapenampilan guru yang kuingat adalah:

Pak Hadi Sutomo yang mengajar Geografi, seingatku penampilannya selalu necis, pakaiannya sangat rapi, rambut klimis. Dengan penampilan seperti itu, mungkin banyak siswi yang sebetulnya mengidolakan atau bahkan menaksirnya hehehe....

Pak Soewardi yang mengajar matematika, menurut mas Priyono penampilannya terskesan cuek dengan celana baggy yang kedodoran, baju tidak dimasukkan, suka merokok dan suka ngeramal togel....

Bu Narti guru matematika, ini terkesan galak dan killer. Tapi saya meyakini bahwa banyak kawan merindukan cara mengajarnya yang tegas....ibarat benci tapi rindu.....

Pak Suwarjo guru Bahasa Indonesia, dengan kumis gatotkaca-nya beliau jarang tersenyum lebar dan kalaupun tersenyum terkesan ditahan-tahan.

Bu Wisnu yang guru Kimia dan Bu Siti Suparsih yang guru BP, ini mempunyai konotasi cantic mempesona. Kayaknya mas Priyono nge-fans sama ibu-ibu ini.

Bu waryati yang guru Bahasa Inggris, beliau berpenampilan anggun dan feminine. Pelajaran yang semula diajarkan ke siswa adalah tentang “gerund” sehingga sering disebut “Bu Gerund”. Mas Nurkholis, mas Hanto dan saya, adalah siswa yang mengidolakan cara mengajar beliau.


Hayo...masih ingatkah ciri-ciri guru yang lain?????

Monday, December 07, 2015

MEMBANGUN CITA-CITA KETIKA MASA SMA

Ketika SMP aku menyukai hampir semua mata pelajaran, kecuali mata pelajaran kesenian (seni lukis, seni suara, dan seni-seni lainnya termasuk seni kriya/prakarya ). Meskipun saya saat ini merupakan penikmat seni namun aku paling merasa sulit kalua disuruh membuat karya seni tadi atau menyanyi. Pelajaran matematika, fisika, biologi, Bahasa Inggris merupakan pelajaran favoritku saat itu. Kesukaanku terhadap mata pelajaran itu muncul karena aku menyukai dengan gaya mengajar para guru yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Ketika masuk SMA, aku agak kesulitan adaptasi dengan gaya mengajar para guruku. Sehingga prestasi awal di SMA tidak terlalu menonjol atau biasa-biasa saja. Mata pelajaran matematika, fisika dan kimia agak susah aku kunyah dan aku telan sat itu. Tibalah ketika saat penjurusan, karena mata pelajaran eksaktaku jeblok,maka aku terlempar masuk ke jurusan IPS. Jujur kuakui saat itu, aku agak “down” karena walaupun belum punya cita-cita pasti tapi aku melihat dijurusan IPA kita punya lebih banyak pilihan untuk masuk ke perguruan tinggi. Rasa down ini berlanjut di kelas 1 semester 2, dimana aku sulit berkonsentrasidengan pelajaranku.

Akhirnya waktu jua yang menyembuhkan rasa frustasiku. Perlahan-lahan aku bisa mencerna pelajaran-pelajaran kelas IPS termasuk mata pelajaran inti berupa Tata Buku (akuntansi) dan Hitung dagang yang sedikit banyak memakai persamaan matematika sederhana didalamnya. Semangat belajarku yang tumbuh kembali berkorelasi positif dengan prestasiku yang mulai meningkat. Prestasi belajarku yang meningkat tersebut, berkorelasi negative (berkebalikan) dengan hubunganku soal teman perempuan. Aku saat itu masih “clingus”, pemalu dan tidak kenal atau jarang bertegur sapa dengan teman sekolah perempuan baik klas IPS apalagi klas IPA.

Ketika di SMA ini saya sering berbincang-bincang dengan kawan sebangku Thomas Yudarmoko (Koko). Koko ini merupakan putra Kepala Sekolah  SMP Kanisius Muntilan. Di usia muda, cara pikirnya sudah sangat berbau filsafat dan jauh melebihi pemikiran kawan-kawan sebayanya. Dalam perbincangan dengannya, saya yang sudah melihat berbagai realitas social seperti kemiskinan di sekeliling kita menyatakan bahwa saya kepengin masuk menjadi tenaga sukarela (social worker) di Depnakertrans. Depnakertrans  saat itu memiliki program rekrutmen Tenaga Kerja Sukarela (TKS) yang ditempatkan di berbagai pelosok pedalaman. Pilihan lain adalah saya pengen masuk dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Saya menyadari bahwa menjadi social worker tidak akan membuat kita kaya, tetapi saya ingin saya bisa memberikan darma bakti terbaik untuk mereka yang membutuhkan.

Pilihan hidup saya tersebut membuat saya memilih melanjutkan di jurusan Ilmu Sosiatri (Kesejahteraan Sosial) di FISIPOL UGM. Perjalanan kuliah di FISIPOL berjalan normal walaupun sempat tersendat karena “kisah kasih yang tak sampai”. Setelah saya lulus bekerja di sebuah LSM besar di Jakarta, dan ketika berjalan-jalan di Pecinan Muntilan saya secara kebetulan bertemu Koko. Kami mengobrol sejenak dan ketika saya cerita bahwa saya bekerja diLSM, dia mengingatkan bahwa cita-cita saya ketika SMA  terkabul karena berhasil masuk di dunia LSM. Pengembaraan saya di dunia LSM berlangsung selama 8 tahun dan selanjutnya pindah ke Lembaga Kerjasama Teknis Pemerintah Jerman. Perjalanan di proyek-proyek internasional ini berjalan terus sampai sekarang, dan sehari-hari banyak berinteraksi dengan kawan-kawan LSM, sehingga dunia LSM yang kuimpikan sejak jaman SMA tidak pernah aku tinggalkan....


Koko, dimana kamu?????

Saturday, December 05, 2015

MODA TRANSPORTASI JAMAN SMA

Ketika SMA, sepeda motor masih merupakan barang mewah sehingga tidak terlalu banyak yang mengendarai motor untuk bersekolah. Ada beberapa kawan yang biasa bermotor seperti mas Prahanto yang naik Vespa putih atau Honda GL warna hitam, Mas Hanung memakai Vespa Hijau, mas Wahyu pakai Yamaha bebek merah, Gilig pakai Kawasaki hitam, Hery IPS pakai Yamaha jantan Merah, Fajar Piyungan pakai Vespa warna metalik dan kalua naik Vespa pantatnya dimiringkan mirip Valentino Rossi (mungkin Rossi njiplak abis gaya Fajar dalam naik motor nih....). Sebagai layanan untuk mencegah siswa naik motor secara illegal, terkadang dilakukan ujian mendapatkan SIM C di sekolah bekerjasama dengan kantor polisi magelang.

Sebagian teman bersekolah dengan naik sepeda onthel seperti Bambang IPS dari daerah Dukun  yang naik sepeda jengki warna hijau. Bambang yang keriting ini kalau main sepakbola bagus menjadi pemain sayap karena dribblenya bagus. Perawakannya yang mungil membuatnya seperti Dede Sulaiman, pemain sayap legendaris Indonesia di saat itu. Adapula Imam Abidin yang naik sepeda. Imam abidin dulu pinter untuk cuci cetak foto. Adapula Darto Siswoyo yang juga rutin bersepeda. Darto ini facenya agak mirip orang India dengan kulit sedikit gelap.

Untuk yang dari daerah Borobudur, biasanya sebagian kawan-kawan naik bus Ramayana. Bus Ramayana saat itu masih belum mewah seperti Bus Ramayana yang antar propinsi saat ini. Untuk yang dari Blabak dan Muntilan biasanya naik angkot. Adapula sebagian kawan dari Muntilan yang suka menikmati perjalannya memakau andhong sambil menikmati semilirnya angin yang menerpa.


Kalau untuk yang daerahku Sawangan, anak sekolah biasanya naik angkudes yang berupa mobil Colt yang agak besar.Mobil ini agak besar karena banyak penumpang dari Sawangan yang bekerja sebagai pedagang dan petani,  dan mereka pergi ke Muntilan  untuk menjual hasil bumi. Mobil Colt ini pintunya ada di bagian belakang dan penumpang bisa “nggandhul” di gantungan belakang bila kursi di dalam sudah penuh terisi. Memang cukup beresiko nggandul di belakang karena bisa terjatuh bila terlalu banyak orang yang bergelantungan dan berebut pegangan. Tapi itulah potret transportasi murah di saat itu.....

Ibu separuh baya ketika SMA,

Ketika SMA, aku sering berjumpa dengan ibu tua separuh baya itu, walaupun kami hanya sekedar menganggukkan kepala tanpa banyak kata-kata. Ibu itu berpenampilan sangat bersahaja dengan rambut lurus tipis mulai memutih, suara lirih dan perawakan kurus yang seolah-olah menunjukkan beliau sudah agak renta dan fisik kesehatannya  sudah menjelang senja.....
.

Mungkin diantara kita ketika SMA  jarang ada yang berkomunikasi intensif dengannya, karena beliau banyak menangani urusan administrasi di belakang meja. Seingatku beliau dulu tinggal di kampong di daerah sekitar Prumpung (dekat jembatan Pabelan). Aku hanya ingat panggilan namanya adalah Bu Siti.... adakah kau ingat tentang beliau, kawan-kawan?

SANDIWARA RADIO

Sandiwara yang disiarkan melalui stasiun radio, sangat marak pada tahun 1980-an saat saya bersekolah di SMA. Meskipun kalau ditelusur lebih jauh , sandiwara radio tersebut sudah banyak ditayangkan sejak tahun 1970-an atau bahkan jauh sebelumnyaketika radio transistor masih menjadi barang mewah saat itu. Dari sisi jenis materi sandiwara, pada periode tahun 1970-an, sandiwara radio lebih banyak menayangkan topik kehidupan sehari-hari dengan bumbu aroma percintaan. Sedangkan sandiwara radio tahun 1980-an banyak dibumbui dengan cerita action yang dikemas dalam kisah kerajaan tertentu seperti cerita Tutur tinular-nya Brahma Kumbara, Arya Kamandanu, Bende Mataram-nya Sangaji dan Senopati Pamungkas-nya UpasaraWulung. Selain itu ada cerita yang berbumbu mistis seperti Mak Lampir. Sandiwara tersebut sangat ngetop saat itu dan banyak stasiun radio yang menayangkannya. Sehingga untuk sebuah episode dari cerita yang sama, dalam sehari kita bisa mendengarkan 4 atau lima kali dalam sehari karena stasiun-stasiun radio berlomba menayangkannya pada hari yang sama cuma jamnya yang berbeda. Beberapa sandiwara  radio tersebut kemudian diangkat ke film layar lebar, namun nampaknya tidak terlalu sukses karena adegan yang muncul di film tidak “seheboh” adegan yang diimajinasikan oleh pendengar sandiwara radio itu....

Kala jaman SMA, sebuah teater sandiwara radio di magelang berhasil membuat sandiwara berbahasa daerah (Jawa)  yang cukup ngetop rating-nya di wilayah magelang dan sekitarnya. Sandiwara yang berbumbu sedikit horror mistis, tersebut berjudul “TRINIL”. Secara garis besar cerita sandiwara Trinil bercerita tentang seorang Bagus Rahmad yang jatuh cinta kepada seorang janda yang mempunyai anak perempuan bernama Trinil. Ketika Trinil beranjak remaja yang jelita, Bagus Rahmad terpesona olehnya dan gayung cintanya bersambut karena Trinil mempunyai perasaan yang sama. Mereka menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi, dan bahkan kemudian bersekongkol melakukan pembunuhan terhadap ibunya. Sepeninggal ibunya timbul keanehan-keanehan karena ternyata arwah ibunya bergentayangan untuk membalas dendam kepada Bagus Rahmad dan Trinil.....

Menurutku, sandiwara radio tersebut cukup bagus karena para pemainnya terkesan sangat menjiwai perannya masing-masing. Di kampungku yang di pelosok desa yang sepi dan bertabur gelap karena belum terjangkau listrik saat itu, sandiwara radio itu ditayangkan menjelang senja/magrib sehingga aransemen musiknya yang menyayat hati diselingi lolongan serigala menimbulkan kesan mistis tersendiri.......


Sayang sekali sandiwara radio semacam itu sekarang tergilas oleh kehadiran TV swasta... jadi berbahagialah kita yang tumbuh ditahun 1970-1980 an karena mempunyai banyak kenangan indah yang sekarang sulit ditemukan kembali........ 

Wednesday, December 02, 2015

Teman SMA (3)

SIAPAKAH DIA?

Seingatku, dia pernah satu kelas denganku ketika kelas 1dan kelas 2 IPS. Dia terkadang bersekolah dengan mengendarai Yamaha Bebek warna merah (kalau gak salah loh). Dia berperawakan sedang,  rambut sedikit ikal, berwatak ceria dan berkulit sawo matang. Kawanku ini cukup berotot, mungkin karena factor keturunan dimana ayahnya seorang tentara (seingatku), atau juga mungkin karena dia suka berolahraga. Dia aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler pencak silat yang salah satu pelatihnya adalah Mas Agung dari Sedayu. Saya tidak tahu mengapa dia rajin ikut berlatih silat. Mungkin dia tertantang ingin punya body yang kekar. Tapi bisa juga kemungkinan karena dia ingin jadi jawara. Tapi kemungkinan lain adalah dia suka ikut silat karena banyak siswi cantic yang ikut ekstrakurikuler pencak silat  misalnya Mbak Aning yang saat itu dia taksir habis-habisan...hahaha..

Kawanku ini sangat ramah dan akrab kepada siapapun, termasuk kepada kawan-kawan kelas IPA. Terlebih lagi ke kawan-kawan cantic, dia sangat ramah dan matanya berbinar-binar penuh cahaya ketika ngobrol dengan mereka. Seingatku dulu Mbak Aning (utamanya saat kelas 1) dan Mbak Estiari, merupakan dua gadia jelita yang telah mempesonanya dan membuat dia kesengsem serta kasmaran. Cuma saya gak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi dengan mereka, karena yang kutahu hanya apa yang tersurat dan bukan tersirat. Hanya kawanku itu, Mbak Aning atau Mbak Esti dan Tuhan-lah yang tahu dengan semua itu....mungkin juga kawanku itu bertepuk sebelah tangan, maklum saat itu masih cinta monyet dan bukan cinta  gorilla. Tapi yang jelas setahuku kawanku ini tidak pernah terlihat patah hati, dan ini berbeda sekali dengan Hanto yang kelihatan sekali tampangnya shock ketika putus cinta ..hehehhee....

Semenjak lulus SMA aku tidak bertemu dengannya. Tapi alhamdulillah tahun 2011, kami bersua kembali untuk merajut tali silaturahmi. Ada beberapa hal yang membuatku terkesima yakni kami berdua bersaing dalam hal kebotakan (walau botakku lebih luas), dan dia sering memposting status2 yang sangat bijak di FB-nya walaupun ketika kumpul kembali di grup WA SMA Blabak, kejahilannya dan ketengilannya kumat kembali....siapa kah dia?

Catatan:

Cerita di atas dimaksud untuk sekedar menghibur dan tidak ada tendensi untuk memfitnah atau black campaign. Kalaupun ada kesamaan nama (missal mbak aning atau Mbak esti) dan tempat, itu hanya sebuah kebetulan belaka...hehehe  

Thursday, November 26, 2015

Kenakalan ketika SMA

Kebiasaan sekolah jaman dulu, siswi perempuan duduk di barisan depan dan siswa laki-laki di bagian belakang. Saya tidak tahu latar belakang munculnya kebiasaan itu. Mungkin tata letak posisi duduk seperti  itu didasari pertimbangan fisik siswa lebih besar sehingga ketika siswi duduk di depan tidak akan menghalangi pandangan sisw yang duduk di belakangnya. Jaman SMA masih jarang ada siswa yang duduk semeja dengan siswi, mungkin itu didasari pertimbangan untuk menghindarkan adanya kontak fisik senggol-senggolan yang berakibat setrum-setruman yang mengganggu proses pembelajaran karena siswa siswi SMA adalah masih dalam masa awal pubertas ....

Saat di kelas 1 B, ruanganku di sebelah selatan kelas 1 A. Ruangan itu di pojokan sekolah, dan satu komplek bangunan dengan  rumah dinas Kepala Sekolah yang saat itu dijabat oleh Pak Parnadi. Di ruangan klas 1B dan 1 A, para siswa/siswi  duduk menghadap ke selatan ke arah papan tulis. Papan tulisnya berwarna hitam (blackboard) dan guru menulis diatasnya memakai kapur tulis. Ruangan kelas 1A dan 1 B dipisahkan oleh dinding tembok dan ada pintu penghubung di sisi barat. Supaya tidak saling mengganggu ketika pembelajaran berlangsung, pintu penghubung tersebut selalu di kunci.

Karena siswa-siswi kelas 1A menghadap ke selatan, maka siswa kelas 1B khususnya yang duduk di belakang sering kali melakukan tindakan iseng untuk mengintip siswi-siswi kelas 1A yang berada di belakang ruang kelasnya. Siswa klas 1 B suka mengintip siswi klas 1A yang duduk di bagian depan, dimana saat itu siswi bersekolah memakai rok.

Pernah suatu kali saat istirahat muncul keisengan siswa-siswa kelas1 B untuk ngintip kela s1A.Timbul kegaduhan karena banyak siswa rebutan ingin dapat posisi mengintip yang paling nyaman. Kegaduhan tersebut terdengar ke kelas 1 A, dan siswi-siswi klas 1 A yang duduk di deretan depan baru sadar kalua mereka selama ini jadi sasaran kelakuan iseng siswa kelas 1B..dari kasus itu seingatku lobang kunci pintu penghubungnya lalu ditutup sehingga tidak terjadi lagi kasus iseng mengintip tadi....


Hayo mantan siswa kelas 1B....siapa yang dulu ikutan mengintip? Atau mantan siswi kelas 1A, siapa yang dulu pernah merasa diintip? hehehehe 

Teman SMA (2)

Aku seorang laki-laki dan ketika SMA badanku tipe pendekar alias pendek dan kekar, Rambut agak keriting berombak berpembawaan ceria, suara agak nge-bass. Ayahku dulu seorang sopir bis. Aku sering bermain-main nyobain nyetir bis itu, ternyata sangat berat untuk megang setir karena jaman itu belum musim mobil dengan power steering.

Aku dikaruniai Tuhan dengan bakat melukis (bukan meluk dan kiss loh...). Bakat melukisku membuat lukisanku jauh melebihi lukisan kawan yang lain terutama Edy. Edy melukis bendera  yang berkibar dengan begitu kaku tanpa liukan sehingga secara guyonan Agus Setiawan mengomentari:” Ed, benderamu itu dari blek/seng ya?” hahaha... Mungkin karena bakat melukiskuitu, pak guru kesenian yang mengajar seni lukis memberi perhatian khusus buatku. Beliau suka berlama-lama di dekatku, yang membuat aku sedikit jengah dan risih....

Aku menyukai pelajaran Bahasa Inggris dan suka materi conversation (percakapan). Aku suka menggunakan kata “then” (kemudian) untuk menyambung kalimat satu dengan kalimat lain ketika aku conversation dalam Bahasa Inggris... bla bla la....then...bla..bla.....then ......bla..bla..bla...

Aku pernah dimarahi guru ekonomi yang tinggi besar, berkulit agak gelap dan perutnya buncit. Kalau gak salah namanya Pak Praptomo. Aku lupa asal muasalnya, tapi yang jelas dia sempat marah besar dan aku diusir ke luar kelas...untung aku gak diajar lagi dengan beliau karena aku kemudian masuk kelas IPA.


Siapakah aku?????

Wednesday, November 25, 2015

Teman SMA (1)

Dia agak tinggi, ramping (tidak atletis karena ceking), berambut berombak agak kemerahan, serta berpembawaan ceria. Kalau sekolah sering mengendarai Vespa cat putih atau Honda GL warna hitam. Dia adalah satu diantara sedikit kawan yang bersekolah mengenakan sepatu yang branded. Sepatunya merk Nike warna putih keabu-abuan. Dia suka olah raga sepakbola, dribble bolanya boleh juga walaupun belum seelok Ronaldo CR7.  Dia juga olehraga volley karena postur jangkungnya.
Tuhan mempertemukan kami menjadi karib di SMA. Sejak kelas 2 dan 3, kami selalu satu kelas dan tempat duduknya berdekatan. Sambil guyonan,kami suka belajar bersama berbahasa Inggris dengan menggunakan kata-kata yang agak “nakal”.  Kelas kami letaknya dekat gerbang ke lapangan olah raga di belakang sekolah, sehingga banyak siswa-siswi kelas lain yang lewat di samping kelas kami untuk berolahraga dengan celana pendek (saat itu istilahnya celana “short”). Pada saat itu kejahilan kami muncul dengan diam-diam melakukan  “penjurian” siswi yang bentuk betis kakinya paling indah hahaha...

Sewaktu kelas 3 SMA, dia mulai pacaran dengan adik kelasnya. Dia sangat mencintai kekasih  dengan segenap jiwa raga dan balung sumsumnya. Mungkin itu cinta pertamanya, sehingga dia begitu “total” dalam menumpahkan perasaan cintanya.... Dia sering bercerita tentang hatinya yang berbunga-bunga ketika habis membocengkan kekasihnya.  Seingatku Jurang Jero yang saat itu ngetop sebagai tempat pacaran menjadi salah satu destinasi pacaran yang disukainya ...:)

Dia belajar mencinta, tapi Tuhan pula yang menentukan takdirnya. Suatu saat dengan wajah penuh muram durja, dia bercerita bahwa kisa cintanya kandas di tengah jalan. Sebgaia pria  sejati, dia berusaha menahan tangis, walau aku tahu cintanya  yang kandas telah membuat remuk redam perasaannya. Apalagi orang yang dicintai masih sering dijumpai dan berlalu lalang di depan mata. Aku lupa tentang sebab musababnya, tapi kuingat persis dia begitu “shock” dengan tragedy cintanya. Untunglah, perlahan-lahan dia bangkit dan bisa menata hidupnya kembali, walau kuyakin cintanya itu tidak akan pernah terlupa...unforgetable.....karena cintanya begitu mbalung sumsum dan mengendap lekat di relung kalbunya....

Takdir membawaku kembali bersamanya. Kami kuliah di kampus yang sama di FISIPOL UGM. Dia di jurusan Sosiologi, aku di jurusan Ilmu Sosiatri (Ilmu Kesejahteraan Sosial). Persahabatan kami makin marak karena teman SMA yang lain yakni mas Heni Asmara juga masuk satu  kelas denganku, dan kemudian disusul Mohtar di jurusan Administrasi Negara (walaupun kemudian tidak tuntas). Ketika pulang dari Jogja ke Muntilan bareng, kami biasa mampir di warung pojok Pak Dul di njero pasar Muntilan untuk menikmati soto babat yang maknyuss dan cetar membahana....

Menjelang aku lulus tahun 1990, aku jarang bertemu dengannya. Kesibukanku riset dan menulis skripsi membuatku jarang ke kampus dan bersua. Aku sempat kuatir dia drop di tengah jalan. Sampai aku lulus dan kerja, aku tak mendengar kabar beritanya. Aku cari alamat dia, aku hunting namanya lewat internet tapi tiada kutemukan. Dia menghilang bagai di telan bumi.


Tapi Tuhan Maha Mendengar dan mendengarkan doa hambanya, di tahun 2011 aku mendapatkan informasi keberadaannya yang ada di kota kecil di sumatera. Pada akhir tahun 2011 kami bisa bertemu setelah 20 tahun lebih tak jumpa. Tidak ada yang heboh dengan pertemuan itu, kecuali kami sama-sama menyadari sudah botak walaupun botakku lebih kinclong darinya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan teman lama yang kelakuannya tidak banyak berbeda dari dulu...Aku bersyukur bisa bersilaturahmi kembali dengannya, semoga persahabatan kami abadi.... Siapakah “Dia”?

Friday, June 19, 2009

KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.


Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survey internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.


Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu


Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.


Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di Perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.


Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.


Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan.
Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.


Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.


Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.


Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.



(ditulis oleh Andri Aji Saputro
dengan menyarikan dari Top of the Class - Fergus Bordewich)

Monday, August 06, 2007

Pak Susetiawan, peletak pondasi berpikir sistematik

Sewaktu aku kuliah di Jurusan Ilmu Sosiatri – FISIPOL UGM, saat mata pelajaran Perencanaan Sosial aku diajar oleh Pak Susetiawan. Seingatku beliau berperawakan sedang, dengan rambut lurus yang disisir belah tengah, berkacamata, dan disela gigi terdapat noda kecoklatan karena sisa nikotin rokok. Penampilan beliau bersahaja, namun ketika mengajar dia sangat kusuka karena sistematis dan jelas. Beliaulah yang mengajari tentang bagaimana membaca buku secara utuh yang lebih menekankan pada pemahaman kerangka pikir (framework) sebuha tulisan, dan bukannya pemahaman bab per bab. Beliau juga yang memberikan pemahaman yang cukup sistematis tentang cara melakukan sebuah penelitian mulai menyusun proposal, riset lapangan, analisis sampai penulisan yang baik. Yang lebih utama lagi beliau juga menekankan etika seorang peneliti yang harus jujur, berintegritas dan memperhatikan orisinalitas. Sayang beliau, tidak sempat mengajarku cukup lama karena beliau saat itu harus menempuh studi di Jerman. Meski demikian bagiku beliau sangat berjasa dalam meletakkan dasar pemikiran dan etika menjadi intelektual bagiku.

Bu Waryati, guru bahasa Inggris idolaku…

Tahun 1982-1985, ketika SMA aku bersekolah di SMA Negeri Blabak yang berlokasi di Kelurahan Ngadiretno dekat Muntilan – Kab. Magelang. Ada salah satu guru yang menjadi idolaku, karena cara mengajarnya yang sangat kusuka. Bu Waryati namanya. Beliau berperawakan sedang, berkulit kuning, keibuan dengan rambut lurus yang selalu digelung rapi. Beliau tidak galak, lembut, sabar namun sangat berwibawa. Bagiku penampilan beliau bak Dewi Yull yang cantik, lembut, dewasa dan tidak mudah emosi. Murid-murid sangat hormat kepadanya termasuk anak yang paling bandel sekalipun. Beliau mengajar bahasa Inggris. Dengan cara mengajar yang demikian lembut dan jelas, aku makin menyukai pelajaran bahasa Inggris yang memang sejak SMP sudah sangat kusukai. Pada sekitar tahun 1993 ketika aku sudah bekerja kubaca di sebuah Koran ternyata beliau menjadi guru teladan di level propinsi Jawa Tengah. Suatu penghargaan yang sangat pantas untuk seorang guru yang berdedikasi dan telah mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Friday, August 03, 2007

Ibu Guru SMP-ku...

Di tahun 1979-1982, aku bersekolah di SMP Negeri Sawangan. Untuk ngirit uang, setiap pagi aku jalan kaki sejauh hampir 2 km menuju sekolahku. Kalau pulang sekolah di siang hari, aku naik angkutan desa yang berupa kendaraan colt untuk menghindarkan dari terik matahari. Meski aku nanti masih harus jalan kaki sekitar 700 meter karena rumahku agak jauh dari jalan besar yang dilalui angkutan desa. Saat SMP, naik colt semacam itu anak sekolah paling hanya bayar 15-25 rupiah saja. Uang sakuku sendiri perhari paling 50 rupiah dengan rincian 25 rupiah untuk naik angkot dan 25 rupiah sisanya untuk beli jajan sebiji tempe goreng dan sebiji arem-arem (lontong yang didalamnya ada bumbunya).
DI SMP, aku mempunyai beberapa guru favorit yang kebetulan perempuan. Guru perempuan yang sangat kusukai dan kuhormati adalah Ibu Siti Maodah (seingatku nama beliau seperti itu).Beliau sudah berkeluarga saat itu. Beliau berperawakan sedang, rambut keriting, suara keras menggelegar, tegas dan agak keras terhadap anak yang malas belajar. Beliau mengajar biologi, dan banyak murid yang menyukai cara beliau mengajar. Aku sendiri sangat suka terhadap pelajaran biologi yang beliau ajarkan. Sayang beliau kemudian pindah mengajar ketika aku menginjak kelas 2 SMP, dan sejak itu saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi....
Guru lain yang kuidolakan adalah ibu Siti Muzayanah. Beliau tinggi, semampai, berkulit kuning, cantik, lembut, sabar dan sangat anggun dengan rambut panjang yang digelung. Beliau sudah berkeluarga pada saat mengajarku. Beliau mengajar sejarah dan aku sangat suka dengan pelajaran ini karena khayalku bisa menjelajah ke zaman purba, masa lalu maupun lintas negara. Aku sangat suka memandang wajah dan mata beliau yang teduh, terkadang beliau jadi salah tingkah dan tersipu-sipu ketika aku dengan penuh kagum terpesona memandangi setiap gerak-gerik beliau itu..he..he... he... Beliau ini salah satu guru yang kan selalu kuingat. Saat ini saya kadang-kadang ketemu beliau di jalan karena beliau masih mengajar di SMPku dulu dan beliau masih ingat aku....
Guru lain yang ada dalam kenanganku adalah Ibu Dianawati atau dipanggil Ibu Diana. Beliau mengajar seni musik. Beliau ini berperawakan sedang dengan paras mungil, rambut agak berombak, berkacamata, dan cantik bangeeeet. Beliau ini primadona guru di sekolahku (setidaknya menurut versiku), apalagi saat itu beliau masih gadis. Banyak murid cowok yang sedang tumbuh akil balig membayangkan alangkah bahagianya bila mempunyai kekasih secantik ibu Diana ini he..he....he...
Itulah beberapa guru SMPku yang ada dalam kenanganku, tentu tanpa mengurangi jasa-jasa bapak dan ibu guru SMPku yang lain yang sudah membimbingku selama ku menuntut ilmu. Karakter dan fisik dari tiga orang guru itu begitu membekas sehingga aku mudah ingat pada beliau bertiga. Doaku untuk guru-guruku slalu...

Wednesday, August 01, 2007

Guru Kampungku, ndeso tapi pejuang sejati ...

Ketika banyak orangtua menjerit karena biaya sekolah yang semakin mahal saat ini, seolah-olah membenarkan bahwa sekolah itu hanya HAK untuk si kaya. Sedangkan si miskin, harus minggir karena tidak punya daya dan harta guna menyokong pendidikannya.
Aku teringat masa kecilku di kampung. Sekolahku sederhana dengan diding dari anyaman gedek bambu, lantai tanah tiada berpondasi, tiada langit-langit, tiada berjendela. Sekolahku yang sederhana ini juga merupakan cerminan masyarakat di sekelilingku yang sebagian besar masih miskin.
Menghadapi kemiskinan seperti itu, tidak membuat semangat guru-guruku untuk memajukan pendidikan di kampungku menjadi surut. Mereka berkreasi membangun sekolah tanpa terlalu membebani orang tua murid yang memang miskin. Ada beberapa contoh yang dilakukan guru untuk menggalang dana pembangunan dan perawatan sekolah, misalnya:
  • Setiap hari Jumat, anak-anak disuruh berolah raga. untuk pemanasan para murid diajak berjalan ke sebuah sungai dan pulangnya membawa sebongkah batu sesuai kekuatannya masing-masing. Lama-lama batu tersebut terkumpul banyak dan bisa digunakan untuk bikin pondasi sekolah.
  • Untuk membuat pondasi atau perbaikan sekolah, biasanya guru musyawarah dengan orang tua murid. Biasanya banyak orang tua murid yang mampunya nyumbang tenaga atau kayu, bambu dll bahan bangunan sekolah. Sumbangan tenaga dan material bangunan tadi diterima dengan senang hati oleh sekolah dan dikelola dengan baik sehingga pembangunan sekolah tidak membebani orang tua murid terlalu berat.
  • Setiap hari Selasa dan Jumat, sebelum senam pagi murid-murid diwajibkan membawa sebatang kayu pakar jenis apapun. Anak-anak sangat mudah mencari sepotong kayu bakar di jalan atau di kenun. Kayu bakar ini dikumpulkan dan setelah banyak diikat dan dijual. Uang hasil penjualan kayu bakar siswa ini dibelikan kapur tohor untuk mengecat dinding gedek sekolah. Tenaga yang mengecat dinding sekolah ini diambil dari siswa kelas 5 atau 6, sehingga sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya tukang cat.
  • Saat perayaan sekolah seperti lebaran, siswa hanya disuruh membawa kue dari rumahnya masing-masing dan saling ditukarkan dengan temannya. Dengan cara ini suasana sekolah tetap seperti pesta yang meriah tapi tidak perlu keluar biaya.
  • Untuk membuat lapangan lompat jauh atau loncat tinggi, murid-murid biasanya disuruh mengumpulkan pasir dikali dan diangkut ke halaman sekolah oleh para siswa. Dengan gotong royong semacam ini sekolah bisa mempunyai lapangan lompat jauh dengan biaya yang murah.
Itulah beberapa contoh kreatifitas guruku dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat sekitarku yang miskin. Tidak ada korupsi karena memang tidak ada yang bisa dikorupsi. Tapi yang lebih utama, jiwa pengabdian para guru, pemahaman dan empathy guru terhadap kondisi orangtua siswa begitu dalam. Guru tidak mau membebani orangtua murid dengan setumpuk biaya, bahkan kalau biaya itu bisa dipermudah/dihilangkan, beliau-beliau guru pasti akan membebaskannya. Luar biasa pengabdianku wahai guruku...engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa yang sejati... semoga pengabdianmu menjadi bekal yang mencukupi untuk menempuh kehidupanmu yang abadi...

Guru SD-ku tersayang

Di SD Sawangan III yang ada di tengah tegalan (ladang) kampungku, ada beberapa guru yang kurasa berkesan di hatiku dan berjasa dalam membekali dan menghantarku kekehidupanku kini. Beliau-beliau itu antara lain:

Pak Sutamto atau Pak Tamto yang ganteng, berkulit kuning, berpakaian rapi dengan rambut berombak. Beliau kalau ke sekolah naik sepeda atau naik motor Honda CB 100. Beliau penyabar dan penyayang murid. Beliau mengajar aku di kelas 1. Aku ingat nilai pertamaku ketika SD adalah nilai ”B” yang kuperoleh ketika aku berhasil menulis beberapa huruf dengan benar.

Pak Sumar yang berperawakan tegap, kulit hitam seperti layaknya guru yang nyambi bertani, berkumis, rambut keriting. Beliau mengajar aku kelas 6 dan beliau sangat pandai memotivasi murid untuk belajar dengan menceritakan pengetahuan-pengetahuan umum yang diambil dari berbagai sumber. Beliau secara umum sangat terbuka, walau sesekali marah kalau ada murid yang malas belajar. Beliau kalau ke sekolah naik sepeda jengki berwarna hijau tua yang terawat baik dengan spion yang terawat bersih.

Ibu Sumiati atau Bu Sum panggilannya, beliau tinggi dan gemuk perawakannya, berkacamata, rambut lurus yang digelung lipat. Seperti Pak Sumar beliau juga banyak mendorong siswa untuk rajin membaca dan belajar pengetahuan umum. Aku diajar beliau di kelas 4 dan aku sangat senang dengan cara beliau mengajar sehingga aku mengimbangi saran beliau dengan membaca apapun yang kutemukan. Ketika sedang berjalan dimanapun dan aku menemukan sesobek kertas koran, maka kertas itu kubaca dulu baru kubuang. Beliau sesekali mengadakan cerdas cermat dan pemenangnya dikasih hadiah permen atau kue. Aku sering mendapatkan permen ini karena jawabanku sering benar.

Pak Jaslan, beliau guru kelas 3 seingatku. Beliau ramah, perawakan agak kecil, rambut keriting dan agak botak. Beliau sangat sayang padaku dan sering menyuruhku membelikan rokok di warung dan nanti aku diberi upah he..he...beliau ke sekolah naik sepeda kumbang DKW atau terkadang Honda CB 100.

Bu Is, dulu sewaktu mulai mengajar di sekolahku beliau masih gadis. Cantik, semampai, rambut lurus digelung dan harum sehingga murid-murid laki-laki suka sekali menyambut kedatanban beliau di pagi hari dan berebutan bersalaman dengan beliau karena tangannya harum bau bedak. Setelah bersalaman biasanya murid-murid saling pamer, memamerkan keharuman tangannya masing-masing yang terkena bedak Ibu Lis...he..he... Beliau penyabar terhadap siswa. Beliau akhirnya cinlok (cinta lokasi) dan menikah dengan Pak Jaslan.

Bu Inul lengkapnya Ibu Zainul Inayah yang mengajarku di kelas 5. Beliau tipikal guru kampung, sabar, ulet dan penampilan sederhana. Beliau berperawakan kecil dan rambut lurus digelung. Hal yang masih kuingat adalah beliau selalu menyentuhkan telunjukknya di ujung lidah ketika akan membuka halaman buku...

Bu Siti Rahayu, beliau adalah guru kelas 1-2, beliau berperawakan tinggi, berkacamata, penampilan sederhana dan sangat sabar terhadap murid. Beliau tipikal guru yang mengayomi murid. Ketika murid tidak masuk sekolah, beliau buru-buru menengok karena kuatir muridnya sedang sakit...luar biasa pengabdian dan perhatian beliau terhadap siswa....

Pak Daryanto, beliau ngganteng, rapih, perawakan sedang. Beliau Kepala Sekolah. Beliau pintar memotivasi siswa untuk berani tampil ke depan dan berani mengutarakan pendapat.

Pak Ashari, berperawakan ceking, tinggi, rambut lurus dan bersepeda ke sekolah. Beliau guru agama. Murid-murid senang diajar karena beliau pintar bercerita khususnya bercerita tentang tarikh atau sejarah Islam.

Itu beberapa guru SDku yang kuingat pernah mengajarku... Saya sangat hormat pada beliau karena sumbangsihnya yang luar biasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Walau gaji guru kecil, tapi beliau-beliau tersebut tidak mata duitan dan bekerja penuh pengabdian. Suatu hal yang semakin langka di negeri ini. Semoga amal beliau-beliau tersebut akan menjadi mata air yang senantiasa mengalirkan sungai pahala sepanjang masa. Amin....

Tuesday, July 03, 2007

Dientup tawon; Disengat lebah

Sewaktu aku kecil, diatap rumahku terdapat rumah tawon madu (tawon dowan). Tawon madu ini bentuknya agak kecil (panjang kurang dari 1 cm). Bapakku sering mengambil rumah tawon itu guna diambil madunya. Seringkali juga terdapat banyak anak tawon didalamnya, yang kemudian diambil dan dimasak sebagai ”bothok” (rempelas) oleh ibuku. Rasa bothok tawon ini biasanya manis dan harum.

Terkadang ada satu dua ekor tawon yang terperangkap di jendela kaca di rumahku. Dia pengin keluar tapi terkendala kaca. Di saat aku kecil, bapakku bilang bahwa di-entup (sengat) tawon itu agak sakit. Saat itu aku penasaran, kayak apa sih sakitnya kena sengat tawon? Maka ketika ada tawon terperangkap sengaja kupegang kepalanya dengan tangan kiriku dan jari telunjuk kananku kusodorkan ke bagian sekor yang ada sengatnya. Aduhh.... ternyata lumayan sakit dan ngilu kena sengat itu...

Pengalaman kena sengat tawon yang kedua adalah ketika membuka laci buffet di rumahku. Aku tidak melihat di dekat laci itu ada tawon endas (tawon kepala) yang agak besar (panjang 2 cm). Tahu-tahu tanganku pedih dan bengkak kena sengatan tawon endas itu...

Pengalaman ketiga kena sengat adalah karena sifat jahilku. Ketika masih SD, sekolah kami dekat jalan kampung yang pada hari pasaran Pahing penuh lalu lalang orang pergi ke pasar. Nah di sebuah pohon yang menjulur di atas jalan kampung itu terdapat sarang tawon endas. Kami, anak-anak nakal di SD, timbul sifat jahil untuk melempari rumah tawon itu sehingga si tawon akan ngamuk dan mengejar orang-orang yang lalu lalang di bawahnya. Ketika kami melempari, rumah tawon memang rusak tapi cilakanya si tawon malah mengejar kami dan menyengat kepalaku... Yah kualat namanya he..he..he...

(Saat ini tawon atau lebah madu sudah mulai banyak dibudidayakan. Di Parungpajang di Diklat Perlebahan milik Perhutani, orang selain diajari budidaya lebah madu juga diajari tentang penggunaan sengat tawon untuk akupuntur (tusuk jarum) guna pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Anda tertarik untuk mencobanya?)

Golek tunggeng (mencari kalajengking)

SD-ku terletak di tengah kebun atau tegalan di pinggir kampung. Di situ terdapat tebing-tebing yang menjadi sarang berbagai serangga. Di saat ngaso (istirahat), aku dan teman-temanku suka mencari tunggeng (kalajengking). Caranya adalah dengan memakai lidi batang kelapa yang ujungnya dibuat ”kolo” atau kayak ”laso” untuk menjerat si kalajengking. Biasanya ketika lidi tadi dimasukkan ke lobang sarang kalajengking mereka akan bereaksi dengan mengusir lidi menggunakan capitnya. Nah, disitulah capit kalajengking nanti akan masuk lobang kolo dan kemudian tinggal ditarik keluar.

Kalajengking yang sudah diperoleh biasanya hanya untuk mainan saja atau tekadang diadu dengan kepiting karena mereka sama-sama punya capit. Postur kalajengking itu sebenarnya indah, dengan badan, capit dan ekor sengat yang gagah apalagi ditambah warna hitam kebiruan yang mengkilat. Hanya saja bermain kalajengking harus hati-hati karena sengatnya cukup berbisa dan konon sangat menyakitkan. Di beberapa daerah, kalajengking ini sering dibuat ramuan untuk obat penyakit kulit....

Wednesday, June 27, 2007

SDN SAWANGAN III; sekolah gedek bambu kebanggaanku

Sewaktu usiaku kurang dari 5 tahun, aku mulai dimasukkan ke Sekolah Dasar. Saat itu di daerahku belum ada Taman Kanak-kanak (TK) apalagi playgroup. Aku disekolahkan karena SD itu numpang di pendopo rumah pakdeku yang mantan Kepala Desa (Lurah) dan letaknya di depan rumahku. SD itu yakni SD Negeri Sawangan III masih relatif baru dibentuk, jadi belum punya bangunan sendiri. Ruang pendopo rumah pakdeku disekat pake papan menjadi tiga buah kelas. Kelas 1,2,3 masuk pagi dan kelas 4,5,6, kayaknya masuk siang. Aku ingat ketika saat istirahat sekolah, aku berlari pulang untuk makan atau minum karena sekolahnya hanya berjarak 20 meter dari rumah dan saat itu jarang jajan karena memang tidak ada tukang jualan jajanan di situ. Terkadang sekolah menjadi hiruk pikuk ketika ada orang peminta-minta atau orang yang agak gila datang untuk minta makan di rumah pakdeku. Saat itu kemiskinan masih merajalela sehingga rumah pakdeku yang mantan pejabat desa sering jadi tujuan mereka untuk minta makan.

Tatkala kelas 2, sekolahku dipindah ke bangunan sekolah yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan dukungan pemerintah. Sekolahku masih di kampungku hanya saja jaraknya sekitar 100 meter dari rumah. Di lingkungan sekolah ini sudah mulai ada tukang jualan jajan seperti permen, bubur nasi ala ndeso, kue tradisional dll.

Bangunan sekolahku berupa bangunan sederhana dengan lantai tanah dan dinding gedek bambu yang dianyam. Sekolah itu ada 6 kelas dengan satu ruang guru yang agak sempit. Jangan tanya soal WC, karena tidak tersedia, sehingga murid laki dan perempuan biasa pipis (buang air kecil) di kebun kelapa di belakang sekolah yang memang masih luas. Tidak jarang anak-anak laki-laki suka ngintip anak perempuan yang sedang pipis..he...he..

Fasilitas sekolah yang tersedia adalah halaman sekolah sekitar 10 x 50 meter yang digunakan untuk upacara hari senin oleh para murid. Dulu upacara dilakukan setiap hari senin pagi dipimpin oleh Kepala Sekolah atau Guru yang ditunjuk. Sejak kelas 4, aku sudah sering ditunjuk jadi komandan upacara. Upacara diikuti seluruh murid dan pada umumnya berlangsung khidmad, walaupun tanpa pengeras suara dan hanya sekedar tiang bambu yang menjadi tiang bendera. Guru-guruku begitu pandai untuk menanamkan rasa cinta dan hormat kepada tanah air, walau belakangan ini baru kutahu bahwa gaji guru saat itu sebenarnya masih sangat minim... Hal inilah yang membuatku menjadi semakin hormat pada guru-guruku.....

Halaman sekolah itu juga yang dipakai sebagai lapangan olah raga. Setiap Selasa dan Kamis diadakan SPI alias Senam Pagi Indonesia. Karena saat itu sekolahku yang miskin dan guru-guruku belum punya tape recorder, maka senam pagi dilakukan oleh guru dengan cara memberi aba-aba hitungan satu...dua...tiga....empat secara berirama dibantu dengan menggunakan ketukan dari sebuah kayu penghapus papan tulis yang dipukulkan secara berirama pada pintu sekolah yang terbuat dari papan jati. Saat itu saya juga sering diserahi untuk memberikan aba-aba ini pada siswa yang lain.

Di halaman itu pula anak-anak juga bermain kasti atau sepakbola atau kejar-kejaran. Terdapat pula ada bak pasir sederhana untuk olahraga lompat jauh atau loncat tinggi, yang biasanya disiapkan ketika anak kelas 6 mau ujian sekolah.

Fasilitas dalam kelas hanya papan tulis hitam (blackboard) dimana guru menulis di papan tulis pake kapur tulis. Terkadang ketika tulisan itu dihapus, debunya berhamburan dan wajah pak guru atau bu guru jadi belepotan kapur. Fasilitas yang agak lumayan adalah bangku dan meja murid yang bagus karena terbuat dari kayu jati yang memang sudah tua dan berkualitas tinggi. Bangku yang memakai sandaran dan meja biasanya dirangkai menjadi satu dan terbuat dari kayu jati yang tebal sehingga berat untuk digeser-geser oleh murid-murid yang masih anak-anak. Satu meja biasanya untuk tempat duduk 2 orang siswa, kecuali kalo siswanya banyak satu meja bisa dipakai untuk 3 orang. Permukaan meja siswa dibuat miring menghadap siswa sehingga siswa ketika nulis tidak perlu menunduk terus dan siswa bisa duduk dengan posisi tegap... (saat ini baru kupikir bahwa konsep meja itu sebenarnya sangat sesuai dengan sisi kesehatan karena menghindarkan anak duduk dalam posisi yang salah yang bisa mengakibatkan sakit punggung).. Sayang sekali karena meja itu bahannya berkualitas tinggi, ketika beberapa tahun setelah aku lulus SD, bangku-bangku dan meja itu tidak ketahuan kemana rimbanya... Yang pasti, kalau dijual sebagai perabot bekas pasti harganya lumayan karena kualitas kayunya bagus sekali....

Sekolahku saat itu tidak mempunyai jendela, tapi terdapat ventilasi dari bilah bambu yang letaknya memanjang diseputar dinding sekolah. Ventilasi ini tingginya sekitar 1 meter, dengan demikian udara mengalir segar dan cahaya bisa masuk ke ruang kelas. Sekolahku juga tidak punya langit-langit sehingga air hujan sering tempias ke dalam kelas. Karena letaknya di tengah kebun kelapa, tidak ada WC, dan ruangan banyak terbuka maka nyamuk sering menyerang. Apalagi saat itu kami bersekolah hanya ”nyeker” telanjang kaki tidak pakai sepatu. Biasanya kaki kami bentol-bentol digigit nyamuk atau kakinya jadi ”mbesisik” bersisik karena kulit kering dan banyak digaruk-garuk. Untuk mengatasi kulit mbesisik tadi, di kampung belum ada hand body lotion dan sejenisnya, sehingga kami biasa pakai embun pagi yang nempel di dedaunan atau terkadang pakai minyak kelapa yang dioleskan sedikit ke betis kaki. Seringkali anak kampung tidak peduli minyak kelapa ini masih bersih atau minyak kelapa bekas goreng ikan asin...yang penting kaki jadi kelihatan mulus....Cilakanya, kalau ngolesin minyaknya terlalu banyak, kaki menjadi mengkilat kayak ikan goreng yang baru diangkat dari wajan he...he....

Yah begitulah SDku tempatku menuntut ilmu.... sangat sederhana, tapi disitulah banyak kenangan yang bagiku sangat berharga dan membuatku bangga karena di balik bangunan yang sederhana, terdapat para guru yang penuh dedikasi menjalankan amanah sebagai pahlawan tanpa tanda jasa...