Thursday, March 06, 2008

Cinta Jilid V

Kisahku ini merupakan salah satu cinta terbesar dalam hidupku. Perasaan kasihku tumbuh ketika aku duduk di bangku kuliah. Saat tahun 1987an dalam suatu forum pertemuan mahasiswa dan pelajar daerahku, aku diperkenalkan pada seorang gadis yang sebut saja namanya Puspa. Kesanku pertama kali terhadap Puspa adalah gadis itu cerdas dan lincah. Kesan lincah ini muncul karena dia enerjik, murah senyum didukung pula dengan body mungil berkulit hitam manieeeeeeeeeeezzz. Dia bilang, sudah kenal aku karena aku merupakan kakak kelasnya di SMP. Dia juga merupakan putri dari seorang guru SDku. Aku sendiri tidak terlalu ingat sama Puspa sewaktu SMP karena mungkin penampilan dia biasa-biasa saja saat SMP itu… :-)

Sejak kenal dia, ketika aku pulang dari Jogja ke desa untuk berakhir pekan aku biasa main ke rumahnya dan ibunya sangat baik kepadaku karena aku bekas murid SD-nya. Sering aku langsung nyelonong ke dapur dan minta makan bila lapar tiba. Saya juga biasa bercengkerama ngobrol di dapur mereka sambil menemani ibunya masak.

Awal mulanya perasaanku kepadanya biasa saja. Dia sudah punya pacar, yang juga merupakan seorang teman kuliahnya. Saya juga kenal dengan pacarnya itu. Tapi mungkin ini yang dinamakan sindrom “Witing Tresno Jalaran soko Kulino” (Adanya cinta karena terbiasa berjumpa). Saat itu kami aktif di organisasi pelajar dan sama-sama kuliah di UGM sehingga sering ketemu. Tak terasa di hatiku tumbuh perasaan menyayanginya. Tapi perasaan itu kupendam jua karena aku tahu dia sudah punya kekasih. Apalagi setelah aku tahu bahwa seorang keponakanku juga naksir Puspa. Maka tidak elok kalau seorang Om bersaing dengan keponakan he..he… jadilah aku mengalah……(Lama kemudian baru kudengar selentingan bahwa keponakanku ditolak cintanya oleh Puspa…)

Selang lama kemudian kudengar dia putus dengan pacarnya. Namun kemudian dapat pengganti. Sekitar tahun 1990-an, dia lulus dan akan ditempatkan menjadi guru di Sumatera Selatan. Saat itu aku dan keponakanku menghantar dia ke terminal bis di Yogya. Dia pergi diantar pacarnya…Saat itu aku tidak bisa mengingkari isi hatiku bahwa aku merasa sangat kehilangan dia yang akan pergi jauh dan kami akan jarang bertemu….. Aku selalu terkenang kepergiannya saat itu ketika kudengar lagu "Love will lead you back" yang sedang trend saat itu. Walaupun kamu pergi, suatu saat cinta kan membimbingmu untuk kembali............

Tahun 1991 aku lulus kuliah dan akhirnya dapat pekerjaaan di Jakarta kemudian ditempatkan di Bumiayu Kab. Brebes. Sejak saat itu aku dan Puspa sering surat-suratan. Dia sering cerita suka duka jadi guru di daerah yang terpencil. Kami akhirnya sering saling memotivasi untuk bekerja sebaik-baiknya. Tapi saat itu aku masih takut mengungkapkan isi hatiku yang sesungguhnya kepadanya. Surat-suratnyapun hanya berisi cerita pekerjaaan atau kehidupan keseharian dia. Ketika libur sekolah panjang, dia biasanya pulang dari Sumatra Selatan ke desa di Magelang dan saat itulah aku meluangkan waktu pulang ke rumahku di Magelang untuk bisa ketemu ngobrol ngalor ngidul dengannya.

Dari surat menyurat itu, perasaan kasih di hatiku mekar kembali. Sampai suatu saat di tahun 1993-an dia menginformasikan mau pulang untuk liburan panjang sekolah. Aku saat itu mengumpulkan segenap keberanianku, dan bertekad bahwa saat dia pulang aku harus berani mengungkapkan perasaan kasihku padanya. Apapun yang akan terjadi, aku kan siap untuk menghadapi walaupun hal yang paling pahit sekalipun.

Ketika aku tahu Puspa sudah pulang ke Magelang, pada suatu hari Sabtu aku juga menyusul pulang ke Magelang dengan tekat mau “nembak” dia. Aku sudah siap dengan resiko paling pahit sekalipun, yang penting Puspa tahu bahwa aku sangat menyayanginya. Saat pulang kampong, sebelum sampai di rumah aku mampir ke Muntilan ke rumah seorang sahabat baikku teman SMA, sebut saja namanya Galuh. Kami berkawan karib karena kami di SMA biasa datang paling pagi dan kami ngobrol akrab di setiap pagi itu. Ketika lulus SMA dia kuliah di IKIP Negeri Jogya dan lokasi kosnya dekat lokasi kos kawan kuliahku di UGM. Selain itu dia kos dengan tetanggaku satu kampong, akhirnya aku sering main ke kos-kosannya. Saat aku kerja di Bumiayu, dia bekerja sebagai guru di Lampung. Dia termasuk kawan yang paling sering kirim surat padaku saat itu. Setidaknya sebulan sekali suratnya datang. Aku sangat suka membaca suratnya karena tulisannya indah, isinya penuh dengan pemikiran yang arif dan kalimatnya indah dan puitis. Membaca surat dia bak membaca karya pujangga besar Khahlil Gibran. Galuh sendiri berpenampilan kuning, semampai, lembut, alim dan feminin banget. Di rumah Galuh, aku bertemu Galuh dan ngobrol berbagai hal. Sampai suatu saat dia berkata:” Ed, aku bulan depan mau menikah dengan seorang kerabatku. Aku mau bertanya padamu bolehkan?”. Kujawab; “Boleh, kok serius amat sih?”. Galuh berkata:” Aku tahu hal ini tidak akan merubah apapun karena rencana nikahku sudah matang. Tapi maukah kau jujur padaku, bagaimanakah sesungguhnya perasaanmu padaku selama ini?”. Mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak pernah kuduga itu, tercekat kerongkonganku. Setelah beberapa lama baru kujawab: “Aku sebenarnya selama ini menaruh hati padamu. Suatu saat aku pernah mengirim surat yang secara tersirat mengungkapkan isi hatiku padamu, namun kayaknya kamu nggak merespon perasaanku itu maka kucoba untuk menumpas perasaanku itu. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita dengan perasaan cintaku itu”. Dia jawab: “Ah yang bener Ed? Surat yang mana itu? Aku jujur bahwa akupun menyimpan perasaanku padamu. Aku sering merindukan kehadiran surat-suratmu walau aku tahu aku sering belum menjawab surat-surat yang kau kirim sebelumnya. Suratmu selalu kunantikan, Ed..”. Aku menjawab: “Bener…aku kirimkan surat itu sudah lama. Tapi omong-omong, kamu sudah mau menikah, aku berharap walau sudah menikah kita masih bisa melanjutkan tali persahabatan kita”. Galuh menjawab; “Tentu Ed, persahabatan kita perlu kita pelihara selamanya”. Setelah ngobrol tentang perasaan kami itu, kami kemudian ngobrol tentang rencana nikahnya, rencana masa depan dll. Setelah menjelang sore aku pamitan untuk pulang ke kampungku.. (Sudah lama aku tidak bertemu dengan Galuh yang konon sekarang menjadi guru di daerah Sukabumi. Surat-suratku maupun kartu lebarankupun tiada berbalas. Semoga Allah senantiasa melindunginya…)

Setelah hari Sabtu mengunjungi Galuh, di hari Minggu aku bersia menemui Puspa. Jam 10 pagi aku bersiap diri menjumpai pujaan hati. Dengan penuh percaya diri kumasuki halaman rumahnya. Ketika sudah sampai di pintu rumah yang terbuka, hatiku tercekat karena melihat Puspa duduk di sofa sudut di ruang dalam membelakangi pintu. Dan disamping Puspa duduk seorang pria muda yang melingkarkan tangan di sandaran kursi di belakang bahu Puspa. Kelu lidahku kering tenggorokanku seketika… Rencana “nembak” yang sudah kusiapkan, hancur berantakan karena aku tidak siap melihat keadaan itu. Setelah beberapa lama aku mengetuk pintu, dan Puspa membukanya. Dia ikut tercekat dan beberapa detik kami sama-sama nggak bisa ngomong karena shock. Akhirnya kutemukan akal dan kubilang: “Ah kayaknya kamu masih belum mandi ya…kok masih pake daster?. Aku pergi sebentar ke tempat saudaraku dulu aja ya… biar kamu ada waktu rapih-rapih dulu…”. Aku saat itu terus ke rumah seorang saudaraku untuk silaturahmi dan menenangkan perasanku yang shock dan galau. Saat jam 1 siang, setelah perasaanku tenang, aku pergi ke rumah Puspa kembali. Saat aku tiba Puspa sudah berdandan dan kemudian memperkenalkan pria muda yang bersamanya. Setelah beberapa saat bapaknya Puspa ikut ngobrol bersama kami dan setelah 10 menit Puspa beserta pria itu masuk ke ruang dalam. Bapaknya Puspa kemudian berkata dengan wajah serius: “Mas Edy, adikmu Puspa ini pulang liburan. Dia pulang dengan temannya tadi dan minta untuk dinikahkan disini selama liburan ini”. Seandainya ada petir di siang bolong, itu tidak akan membuatku terkejut dibanding perkataan Bapaknya Puspa saat itu… Untunglah aku cepat menguasai diri, dan aku dengan serius mendengarkan kata Bapak Puspa; “Karena Mas Edy kenal baik dengan teman-teman Puspa, kuharap Mas Edy mau membantu kami dalam acara hajatan ini. Kami harap Mas Edy mau jadi panitia untuk menyambut tamu-tamu nanti.” Untuk sesaat, kuakui aku sempat sedih dan kecewa mendengar Puspa mau menikah dengan orang lain. Tapi Alhamdulillah Allah menuntunku…Setelah beberapa saat, aku merasa terang benderang hidupku….Aku merasa bahwa mungkin Puspa bukan jodohku, oleh karenanya aku harus bisa membuatnya bahagia di hari pernikahannya…. Tanpa pikir panjang aku setujui permintaan ayahnya dan kami segera diskusikan rencana nikahnya itu…

Menjelang pernikahan Puspa, selama sebulan setiap sabtu-Minggu aku pulang balik Bumiayu-Magelang untuk memantau persiapan acara pernikahan Puspa. Kepulangankupun kulakukan dengan rasa gembira karena aku merasa dengan cara itulah aku bisa membahagiakannya. Saat sehari menjelang pernikahannya, aku pulang dan langsung ikut nimbrung bantu persiapan pernikahan dengan kawan-kawan organisasi pelajar dimana aku dan Puspa bergabung. Dimalam hari, kami bantu bikin dekorasi sampai pagi di rumah Puspa. Menurutku ada yang aneh saat itu, karena kulihat Puspa tatap matanya agak aneh dan seolah ikut sedih dengan nasibku dan sikapnya mencoba menghiburku. Kuakui bahwa sejatinya aku sendiri merasa kehilangan dia, namun perasaanku sendiri juga bahagia melihat Puspa mau menikah dan kulihat calon suaminya adalah orang yang cukup bertanggungjawab. Di hari pernikahan dia, aku dan kawan-kawan datang walaupun dengan setengah ngantuk karena sebelumnya begadang sampai pagi bantu bikin dekorasi. Alhamdulillah prosesi pernikahanya lancar…. Di sore hari ketika acara prosesi pernikahan selesai, aku pulang ke rumah...Di situlah kurasakan kesepian dan kehilangan yang sangat dalam dimana aku sadar bahwa mulai detik itu aku tak kan bisa berharap dan bermimpi bisa menyunting Puspa yang amat sangat kucinta... Puspaku sudah disunting orang, mimpi indahku ikut terbang melayang.......

Setelah dia menikah, kami jarang berhubungan lewat surat. Sesekali saya menelpon dia dan keluarganya. Keika ia liburan panjang sekolah dan pulang ke Magelang, biasanya kusempatkan pulang ke rumah untuk bertemu dengan dia dan keluarganya. termasuk aku menelpon dia untuk memberi tahu bahwa aku mau menikah tahun 1995. Urusan rumah tangganya kayaknya bahagia dan dia kemudian punya anak dua orang.

Suatu ketika di tahun 1997, saya melakukan peneltian di Bengkulu selama sebulan. Di sana aku mencoba menelpon Puspa yang ada di Sumatera Selatan. Setelah basa basi sejenak di telepon dia bertanya; “Rencana berapa lama Mas Anto ada di Bengkulu?”. (Anto adalah nama panggilanku sehari-hari di rumah). Kujawab; “kurang lebih sebulan”. Puspa kemudian berkata;”Untung aku nggak jadi istri Mas Anto, kalau aku jadi istri mas aku akan merana karena sering ditinggal-tinggal dinas luar”. Duug….hatiku berdebar mendengar jawabannya itu. Kuberanikan diri bertanya padanya; “Lho kok kamu ngomong gitu sih…Kok kamu tahu kalo aku menaruh hati padamu?”. Puspa menjawab:” Aku tahu kok kalo Mas Anto menaruh hati padaku. Memang Mas nggak pernah ngomong perasaan mas, tapi dari sikap Mas aku tahu bahwa Mas menyayangiku. Sesungguhnya aku juga menyimpan perasaan yang sama Mas. Aku tunggu-tunggu ungkapan Mas, tapi Mas nggak pernah ngomong. Sebagai perempuan kan tidak elok kalau aku yang memulai Mas. Karen Mas nggak pernah ngomong, maka aku putuskan ketika ada pria yang menyatakan kasihnya padaku maka kuterima uluran kasihnya mas…Mas aku jujur mengatakan hal ini. Terus terang walau aku sudah menikah, aku tetap merasa kehilangan ketika mendengar kabar bahwa Mas akan menikah”. Aku jawab: “ah mosok sih perasaanmu kepadaku seperti itu”. Puspa berkata:” Bener mas..yang kuungkap ini jujur. Kalau Mas nggak percaya, mas bisa tanya sama mbak Atik”. (Atik ini merupakan teman akrab SMPku, yang kebetulan juga bertugas jadi guru di Sumatera Selatan dan mengajar di satu sekolah bareng dengan Puspa. Karena berasal dari satu kampong, maka Puspa biasa curhat ke Atik). Dari obrolan di telepon itu kami berikrar bahwa kita akan tetap menjalin hubungan silaturahmi kami sampai kapanpun sebagai seorang sahabat dan saudara.

Mendengar kata-kata Puspa, terkadang aku sedikit menyesali kekurang pede-anku di waktu lalu yang berakibat cinta kami tidak bertaut walaupun sesungguhnya kami saling menyayangi. Di sisi lain, aku juga tidak terlalu sedih karena akhirnya kami saling tahu bahwa ternyata kami saling menyayangi. Akupun sangat bersyukur karena suaminya sangat bertanggungjawab dan Puspa kelihatan bahagia dengan keluarganya…. Memang benar kata pepatah bahwa cinta tidak mesti bersatu. Mungkinkah ini perasaan cinta suci? Aku tidak tahu jawabnya…Tapi aku merasa bahwa cintaku terhadap Puspa merupakan salah satu cintaku yang paling indah dan melegenda dalam hidupku, walaupun kami tidak pernah bersatu…..

Alhamdulillah kehidupan Puspa cukup bahagia hingga saat ini dan semoga sampai nanti di akhir hayat. Kamipun masih bersilaturahmi untuk menjaga ikatan persahabatan dan kekeluargaan walaupun tidak intens karena kesibukan masing-masing. Soemoga Allah senantiasa melindungi Puspa-ku dan keluarganya…. Love will lead tou back, someday I just know that, love will lead you back to my arm...

Tuesday, January 29, 2008

Cinta Jilid IV

Cintaku jilid IV bersemi ketika aku sudah lulus kuliah dan aku diterima bekerja di Yayasan Bina Swadaya tahun 1991. Saat itu sebagai karyawan baru, aku harus mengikuti on the job training selama 2 bulan di Diklat Bina Swadaya di Cimanggis, Jln. Raya Bogor Km. 30. Terdapat sekitar 8 karyawan baru yang ikut on the job training dan 2 diantaranya perempuan.

Salah seorang perempuan sebut saja Dahlia, telah mempesona hatiku. Gadis itu alim, berjilbab, cerdas, cantik, berkulit kuning, berkacamata, lincah, dewasa cara berpikirnya dan photogenic. Yang juga tak terlupakan adalah dia pintar memainkan gitar. Aku selalu terkenang saat jari lentiknya memainkan gitar sambil mendendangkan lagunya Rod Steward yang bertitel “I don’t want to talk about it” . Pokoknya mak nyuss membuat angan melayang terbayang wajah ayu nan jelita itu….

Meski kutahu dia sudah bertunangan, aku tidak bisa menipu diriku sendiri bahwa aku terpesona padanya….Lama-kelamaan, diapun merasa bahwa aku menaruh hati padanya… Kawan-kawanpun membaca gelagatku, dan mereka malah memberi angin padaku untuk mendekati Dahlia yang penuh pesona itu….

Sampai suatu ketika saat kami habis on the job training di lapangan (aku dapat lokasi di Klaten dan Dahlia di Bogor), kami harus menyusun laporan praktek lapang. Kelompokku (area Jateng) cepat menyelesaikan laporan karena laporan sudah kami cicil sejak di lapangan. Sedangkan kelompok Dalia (area Jabar), belum selesai menyusun laporan karena data-data kurang lengkap. Aku kemudian mendatangi Wisma B atau wisma perempuan tempat Dahlia dan seorang teman perempuan menginap, untuk membantu menyusun laporan itu. Di Wisma tersebut aku dan Dahlia menyusun laporan didalam kamar Dahlia dengan menggunakan mesin ketik manual (computer masih jadi barang mewah saat itu). Adapun teman perempuan Dahlia, menyusun laporan di kamar lain di wisma B itu…Untuk menghindarkan fitnah dan prasangka, aku dan Dahlia membuka pintu lebar-lebar kamarnya dan kami duduk bersebarangan…

Dalam kesunyian malam itu yang diiring oleh nyanyian jengkerik, sambil menulis laporan Dahlia membuka kata: “Ed, aku merasa selama ini sikapmu padaku kok agak lain sih… Aku merasa kamu memberikan perhatian khusus padaku. Apakah perasaanku ini yang salah? Ataukah apa sesungguhnya yang terjadi?” Melihat dia memulai membuka hatinya, ibarat elang di angkasa menyambar mangsa, aku segera menyambar pertanyaan yang kunanti-nanti itu. Keberanianku bergejolak dan membludak laksana air bah membobol benteng rasa minder dan sifat pemaluku. Kujawab; “Dahlia, aku tahu bahwa kamu sudah bertunangan. Namun aku tak bisa mengingkari nuraniku bahwa aku menyayangimu. Aku tahu, aku pasti ditolak…tapi aku tak peduli karena yang penting aku telah jujur pada nuraniku dan aku telah berusaha berbuat sesuatu untuk orang yang kusayangi walaupun hal yang kulakukan hanya memberikan seberkas perhatian padamu. Aku memimpikan aku bisa menyuntingmu, tapi aku sadar kau telah berdua dan aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu bersama kekasihmu itu.”. Dahlia termangu mendengar jawabanku itu dan dia bilang: “Terima kasih Ed atas perhatian dan uluran kasihmu. Tapi itulah realita yang kita hadapi, aku sudah berdua…mungkin kalau aku belum berdua, keadaan akan lain jadinya…Meski demikian kita harus kembali ke realita hidup, kuharap kita akan terus senantiasa menjalin persahabatan dan persaudaraan ini”. Cintaku bertepuk sebelah tangan, namun aku lega karena aku telah berani mengungkapkan isi hati dan berani jujur terhadap diri sendiri….. Aku bahagia dan ikhlas menerima penolakan itu karena penolakan itu sudah kuprediksi sebelumnya dan aku meyakini bahwa cinta tak mesti bersatu….

Di malam yang semakin sunyi dan larut itu teman perempuan Dahlia pergi ke kamar kecil kemudian balik ke kamarnya. Tiba-tiba dengan tergopoh-gopoh dia datang ke ruangan kami dan bertanya: “Ed, tadi ada kawan yang masuk ke kamarku kah?”. Kujawab: “Kayaknya nggak ada tuh... Kenapa?”. Kawan tadi berkata: “Perasaanku tadi aku belum mengetik huruf “R”, tapi sewaktu aku kembali dari kamar mandi kok ada ketikan huruf “R” di kertasku. Jangan-jangan ada hantu di wisma ini”. Memang selama ini sering ada rumor cerita horror tentang hantu di wisma itu. Dahlia dan teman perempuan itu menjadi takut dan memohon padaku: “Ed, kamu malam ini tidur menemani kami di ruangan ini ya..”. Aku tiada kuasa menolak permintaan mereka yang ketakutan itu. (walau sesungguhnya aku juga sangat gembira karena bisa tidur sekamar berdua dengan pujaan hati he..he..he…). Di dalam kamar itu kebetulan ada dua ranjang, akhirnya Dahlia dan teman perempuannya tidur di satu ranjang dan aku tidur di ranjang lain yang bersebelahan. Paginya aku buru-buru bangun jam 04.30, dan sambil mengendap-endap aku balik ke kamarku karena takut digerebek Satpam penjaga Wisma he..he…he…

Setelah on the job training selesai, Dahlia ditempatkan di Bogor dan aku di Bumiayu – Brebes. Aku sempat mengantarnya ke terminal Cililitan. Tatkala berpisah kulihat matanya sendu…. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengannya namun silaturahmi dan persahabatan kami tetap terjalin erat walau hanya melalui surat menyurat saja. Akhirnya setelah sekitar satu tahun, dia mengundurkan diri dari Bina Swadaya karena mau menikah dan ikut suami. Sayangnya aku tidak bisa memenuhi undangan untuk hadir dalam pernikahannya karena kesibukan kerja di lapangan saat itu….

Kudengar saat ini dia sudah berputera dan bekerja di Riau. Dahlia yang kucinta telah pergi, namun dia meninggalkan sejuta rasa bahagia di dada. Ya Tuhanku limpahkanlah kebahagiaan dan lindungan untuk Dahliaku tercinta….Tunjukkanlah kepadanya jalan hidup yang gemilang nan terang benderang….Percikkanlah surgamu untuk di setiap nafas kehidupan Dahliaku ….Now and forever….I can’t stop loving you…..

Cinta Jilid III

Kisah cintaku ini terjadi ketika aku sudah duduk di bangku kuliah tahun ke 4 (sekitar 1988-1989). Aku jatuh hati kepada seorang gadis yang masih termasuk family jauh keluargaku. Gadis yang sebut saja bernama Teratai ini berpenampilan sederhana, berperawakan ramping cenderung kurus, berkulit hitam manis dan beralis lebat.

Saat itu dengan mengumpulkan segenap keberanianku, aku mencoba untuk mengutarakan isi hatiku padanya. Berjuta harapan dan impian indah terhampar dalam anganku untuk menyunting gadis pujaan hatiku….

Namun harapan indah itu luluh lantak pecah berkeping-keping tatkala tahu bahwa keluarga gadis itu menolak kehadiranku karena keluargaku yang sederhana berbeda derajat dengan keluarga gadis Teratai yang lebih berada. Saat itulah aku baru merasakan pedihnya sebuah “cinta kasih yang tak sampai”. Siang malam selalu terbayang wajah pujaan hati. Dia selalu hadir dalam setiap jagaku maupun dalam tidurku….Kehancuran hatiku merupakan hal yang sulit untuk dilupakan dan disembuhkan. Hati bagai disayat-sayat sembilu bila terbayang raut wajah Teratai yang sendu itu…

Kuliahku sempat terbengkelai selama satu semester karena gundah gulananya hatiku. Setiap malam, aku begadang bermain kartu dengan teman-temanku, sedangkan di siang hari tidur bermalasan seharian. Semua itu kulakukan hanya untuk bisa melupakan kepedihan hatiku. Untunglah dalam kegundahanku hadir teman karibku SMP yang bernama Wiwi Waryanti. Mbak Wiwi-lah yang banyak memberikan support moral dan berhasil membangkitkan semangat hidupku…Bagiku Mbak Wiwi merupakan sahabat sejati yang berjasa besar dalam kehidupanku. Beliau yang mengembalikanku ke arah kehidupan yang benar dan mengajakku untuk bersikap rasional dan tidak cengeng. Aku berhutang sangat besar atas dukungan beliau ketika aku sedang dilanda keterpurukan….

Kepedihan hatiku ini membuatku trauma selama beberapa lama bahkan terkadang masih terkenang sampai sekarang. Tatkala kudengar lagu Boulevard, Knife atau Nothings gonna change my love for you, aku terkenang kepedihan hatiku saat itu karena peristiwa itu terjadi ketika lagu-lagu sentimentil itu masih sedang ngetop.

Sejak peristiwa itu terjadi (sekitar 20 tahun lalu), aku tidak pernah bertemu muka secara langsung dengan Teratai. Sekitar 2-3 kali aku melihat dia namun hanya dari kejauhan. Hubunganku dengan keluarganyapun menjadi renggang, apalagi aku sudah 15 tahun hidup di rantau. Memang benar kata pepatah bahwa mengakhiri cinta dengan persahabatan itu ternyata tidak mudah….

Saat ini Teratai konon sudah punya anak dua. Semoga Teratai menemukan cinta dan bahagia dalam keluarganya….. Tak lupa teriring doa untuk sahabat sejatiku Mbak Wiwi yang telah banyak memberikan sentuhan kasih warna cerah dalam kehidupanku…. You are my real best friend…….You make my world so colourful............

Monday, January 28, 2008

Cinta Jilid II

Ketika aku di kelas 3 SMA, aku merasa tertarik pada seorang kawan sekelasku yang sebut saja namanya “Melati”. Gadis itu berperawakan imut alias mungil, berkulit hitam manis, centil, lincah, cerdas dan alim. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda menambah kelincahannya … Walaupun wajahnya sedikit dihiasi jerawat kecil, namun jerawat itu malah semakin mempermanis tampilan wajahnya….:-)

Karena aku pemalu, kepada Melati aku juga tidak berani ngomong langsung tentang perasaanku, namun aku menunjukkan perasaan kasihku padanya secara tidak langsung melalui tingkahku. Diapun kayaknya memberikan sinyal positif padaku. Suatu hari Melati mengunjungi rumahku yang di pelosok desa...tak terbayangkan alangkah bahagianya hatiku saat itu.....… Meski demikian kami tidak pernah berbicara tentang perasaan kami masing-masing secara terbuka.

Setelah lulus SMA, saya bertiga dengan kawan karibku bernama Prahanto dan Melati sama-sama mendaftar UMPTN di UGM di Jogja. Alhamdulillah kami bertiga lolos seleksi. Saya dan Prahanto diterima di FISIPOL UGM dan Melati di Fak. Hukum UGM. Kebetulan kampus kami juga berdekatan…

Namun karena kesibukan kuliah setelah beberapa lama aku tidak bertemu dengannya. Tahu-tahu kudengar kabar Melati sudah berhenti dari Fak Hukum dan pindah ke IKIP Karangmalang (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta). Dari beberapa rekan yang kuhubungi kemudian kudengar kabar pula bahwa dia hanya bertahan sebentar di IKIP Karangmalang karena dia mau menikah…

Sajak tahun 1985 sampai saat ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan Melati. Kawan-kawan yang kuhubungipun kehilangan jejak dia yang bagai lenyap ditelan bumi. Kuakui bahwa sesungguhnya aku sangat mencintainya....Ah Melati….semoga dengan harummu kau bisa menemukan kebahagiaan abadi … Cintaku padamu walau tidak sempat bersemi, namun kan selalu kukenang sebagai bagian perjalanan indah hidup ini…..

Cinta Jilid I

Aku mulai tertarik kepada lawan jenis (perempuan) ketika aku duduk di bangku sekolah SMP. Saat itu ada kawan sekolah sebut saja namanya “Bogenville” yang telah memikat hatiku. Gadis itu langsing, tinggi semampai, berkulit kuning, rambut lurus dipotong pendek, cuek dan suka pakai rok span sehingga dimataku, tampilan dia sangat sporty… Cilakanya, meski aku tertarik padanya namun aku tidak berani mengungkap isi hati karena saat itu aku sangat pemalu… Sikap dia yang cuek membuat aku tambah minder kepadanya…

Waktu terus bergulir hingga kami lulus SMP. Saat itu dia melanjutkan sekolah SPG di Ambarawa (dekat Semarang) dan aku sekolah di SMA di Muntilan. Untunglah seorang tetanggaku satu sekolah dengannya di Ambarawa. Tetanggaku itulah yang kemudian jadi “tukang pos” surat kami. Dari surat menyurat yang mengalir sebulan sekali, saat aku kelas 2 SMA dia mengirim sepucuk surat yang pada intinya mengatakan:” Edy, hubungan persahabatan kita sudah berjalan beberapa tahun. Maukah kau meningkatkan hubungan kita ke arah yang lebih serius?”

Menerima surat itu, aku jadi bingung. Aku bingung karena kami berbeda agama dan aku juga merasa saat itu aku masih belum cukup dewasa. Setelah menimbang beberapa lama, kubalas surat itu dengan bahasa halus dan kusampaikan bahwa: “Bogenville, kita adalah generasi mudah harapan nusa dan bangsa. Perjalanan masa depan kita masih jauh. Kupikir belum saatnya kita merajut tali kasih di antara kita”.

Selang beberapa hari dia membalas suratku dan aku merasa dia agak shock atas penolakanku itu namun dia memahami alasanku untuk belum mau berhubungan kasih dengannya. Sejak saat itu, sampai saat ini saya tidak pernah bertemu lagi dengannya walaupun saya sebenarnya sangat ingin untuk menjalin dan memelihara tali persahabatan dengannya. Terkadang aku menyesali penolakanku itu karena aku kuatir penolakan yang sudah kuusahakan sehalus mungkin itu masih membuat perasaannya terluka dan sulit disembuhkan….Semoga saat ini Bogenville telah menemukan kebahagiaan cintanya yang sejati….