Monday, August 06, 2007

Impotensi (pelajaran 1)

Suatu siang sehabis sekolah, anakku yang semata wayang bernama Dudi dijemput oleh Mama-nya (yang notabene istriku) dari sekolah dengan naik sepeda motor Honda yang agak reyot dan tua (10 tahun). Tatkala melewati perempatan Air Hitam, dimana terpasang sebuah spanduk iklan rokok, terjadi perbincangan antara Dudi dengan Mamanya.
Dudi: Ma, apakah artinya impotensi?
Mamanya agak terkejut dengan pertanyaan itu karena tidak pernah menduga pertanyaan itu muncul dari Dudi. Akhirnya mamanya sadar bahwa Dudi tanya tentang impotensi karena baca iklan layanan rokok yang mengatakan bahwa "merokok bisa mengakibatkan impotensi dst..."
Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, mama Dudi menjawab: "Impotensi adalah suatu penyakit yang menyebabkan orang laki-laki tidak bisa punya anak".
Dudi: "kalo begitu papa itu impotensi ya? karena aku minta adik kok nggak dikasih-kasih?"
Mama-nya Dudi tercengang mendengar tanggapan Dudi yang tak dinyana itu. Mamanya hanya ternganga dan geli mendengar jawaban Dudi.
Akhirnya Dudi melanjutkan kata-katanya bahwa: "Kalo gitu ma, nanti kalau aku sudah punya anak 2, aku mau impotensi aja ah biar tidak punya anak...."
Mama: ??????????
Pelajaran moral yang kupetik dari kasus nyata dialog Dudi dan mamanya, adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang sesuatu hal seperti sex education adalah tidak mudah dan perlu berhati-hati (disiapkan dengan baik), sehingga tidak menimbulkan salah pengertian dari si anak.

Pak Susetiawan, peletak pondasi berpikir sistematik

Sewaktu aku kuliah di Jurusan Ilmu Sosiatri – FISIPOL UGM, saat mata pelajaran Perencanaan Sosial aku diajar oleh Pak Susetiawan. Seingatku beliau berperawakan sedang, dengan rambut lurus yang disisir belah tengah, berkacamata, dan disela gigi terdapat noda kecoklatan karena sisa nikotin rokok. Penampilan beliau bersahaja, namun ketika mengajar dia sangat kusuka karena sistematis dan jelas. Beliaulah yang mengajari tentang bagaimana membaca buku secara utuh yang lebih menekankan pada pemahaman kerangka pikir (framework) sebuha tulisan, dan bukannya pemahaman bab per bab. Beliau juga yang memberikan pemahaman yang cukup sistematis tentang cara melakukan sebuah penelitian mulai menyusun proposal, riset lapangan, analisis sampai penulisan yang baik. Yang lebih utama lagi beliau juga menekankan etika seorang peneliti yang harus jujur, berintegritas dan memperhatikan orisinalitas. Sayang beliau, tidak sempat mengajarku cukup lama karena beliau saat itu harus menempuh studi di Jerman. Meski demikian bagiku beliau sangat berjasa dalam meletakkan dasar pemikiran dan etika menjadi intelektual bagiku.

Bu Waryati, guru bahasa Inggris idolaku…

Tahun 1982-1985, ketika SMA aku bersekolah di SMA Negeri Blabak yang berlokasi di Kelurahan Ngadiretno dekat Muntilan – Kab. Magelang. Ada salah satu guru yang menjadi idolaku, karena cara mengajarnya yang sangat kusuka. Bu Waryati namanya. Beliau berperawakan sedang, berkulit kuning, keibuan dengan rambut lurus yang selalu digelung rapi. Beliau tidak galak, lembut, sabar namun sangat berwibawa. Bagiku penampilan beliau bak Dewi Yull yang cantik, lembut, dewasa dan tidak mudah emosi. Murid-murid sangat hormat kepadanya termasuk anak yang paling bandel sekalipun. Beliau mengajar bahasa Inggris. Dengan cara mengajar yang demikian lembut dan jelas, aku makin menyukai pelajaran bahasa Inggris yang memang sejak SMP sudah sangat kusukai. Pada sekitar tahun 1993 ketika aku sudah bekerja kubaca di sebuah Koran ternyata beliau menjadi guru teladan di level propinsi Jawa Tengah. Suatu penghargaan yang sangat pantas untuk seorang guru yang berdedikasi dan telah mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Friday, August 03, 2007

Ibu Guru SMP-ku...

Di tahun 1979-1982, aku bersekolah di SMP Negeri Sawangan. Untuk ngirit uang, setiap pagi aku jalan kaki sejauh hampir 2 km menuju sekolahku. Kalau pulang sekolah di siang hari, aku naik angkutan desa yang berupa kendaraan colt untuk menghindarkan dari terik matahari. Meski aku nanti masih harus jalan kaki sekitar 700 meter karena rumahku agak jauh dari jalan besar yang dilalui angkutan desa. Saat SMP, naik colt semacam itu anak sekolah paling hanya bayar 15-25 rupiah saja. Uang sakuku sendiri perhari paling 50 rupiah dengan rincian 25 rupiah untuk naik angkot dan 25 rupiah sisanya untuk beli jajan sebiji tempe goreng dan sebiji arem-arem (lontong yang didalamnya ada bumbunya).
DI SMP, aku mempunyai beberapa guru favorit yang kebetulan perempuan. Guru perempuan yang sangat kusukai dan kuhormati adalah Ibu Siti Maodah (seingatku nama beliau seperti itu).Beliau sudah berkeluarga saat itu. Beliau berperawakan sedang, rambut keriting, suara keras menggelegar, tegas dan agak keras terhadap anak yang malas belajar. Beliau mengajar biologi, dan banyak murid yang menyukai cara beliau mengajar. Aku sendiri sangat suka terhadap pelajaran biologi yang beliau ajarkan. Sayang beliau kemudian pindah mengajar ketika aku menginjak kelas 2 SMP, dan sejak itu saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi....
Guru lain yang kuidolakan adalah ibu Siti Muzayanah. Beliau tinggi, semampai, berkulit kuning, cantik, lembut, sabar dan sangat anggun dengan rambut panjang yang digelung. Beliau sudah berkeluarga pada saat mengajarku. Beliau mengajar sejarah dan aku sangat suka dengan pelajaran ini karena khayalku bisa menjelajah ke zaman purba, masa lalu maupun lintas negara. Aku sangat suka memandang wajah dan mata beliau yang teduh, terkadang beliau jadi salah tingkah dan tersipu-sipu ketika aku dengan penuh kagum terpesona memandangi setiap gerak-gerik beliau itu..he..he... he... Beliau ini salah satu guru yang kan selalu kuingat. Saat ini saya kadang-kadang ketemu beliau di jalan karena beliau masih mengajar di SMPku dulu dan beliau masih ingat aku....
Guru lain yang ada dalam kenanganku adalah Ibu Dianawati atau dipanggil Ibu Diana. Beliau mengajar seni musik. Beliau ini berperawakan sedang dengan paras mungil, rambut agak berombak, berkacamata, dan cantik bangeeeet. Beliau ini primadona guru di sekolahku (setidaknya menurut versiku), apalagi saat itu beliau masih gadis. Banyak murid cowok yang sedang tumbuh akil balig membayangkan alangkah bahagianya bila mempunyai kekasih secantik ibu Diana ini he..he....he...
Itulah beberapa guru SMPku yang ada dalam kenanganku, tentu tanpa mengurangi jasa-jasa bapak dan ibu guru SMPku yang lain yang sudah membimbingku selama ku menuntut ilmu. Karakter dan fisik dari tiga orang guru itu begitu membekas sehingga aku mudah ingat pada beliau bertiga. Doaku untuk guru-guruku slalu...

Wednesday, August 01, 2007

Guru Kampungku, ndeso tapi pejuang sejati ...

Ketika banyak orangtua menjerit karena biaya sekolah yang semakin mahal saat ini, seolah-olah membenarkan bahwa sekolah itu hanya HAK untuk si kaya. Sedangkan si miskin, harus minggir karena tidak punya daya dan harta guna menyokong pendidikannya.
Aku teringat masa kecilku di kampung. Sekolahku sederhana dengan diding dari anyaman gedek bambu, lantai tanah tiada berpondasi, tiada langit-langit, tiada berjendela. Sekolahku yang sederhana ini juga merupakan cerminan masyarakat di sekelilingku yang sebagian besar masih miskin.
Menghadapi kemiskinan seperti itu, tidak membuat semangat guru-guruku untuk memajukan pendidikan di kampungku menjadi surut. Mereka berkreasi membangun sekolah tanpa terlalu membebani orang tua murid yang memang miskin. Ada beberapa contoh yang dilakukan guru untuk menggalang dana pembangunan dan perawatan sekolah, misalnya:
  • Setiap hari Jumat, anak-anak disuruh berolah raga. untuk pemanasan para murid diajak berjalan ke sebuah sungai dan pulangnya membawa sebongkah batu sesuai kekuatannya masing-masing. Lama-lama batu tersebut terkumpul banyak dan bisa digunakan untuk bikin pondasi sekolah.
  • Untuk membuat pondasi atau perbaikan sekolah, biasanya guru musyawarah dengan orang tua murid. Biasanya banyak orang tua murid yang mampunya nyumbang tenaga atau kayu, bambu dll bahan bangunan sekolah. Sumbangan tenaga dan material bangunan tadi diterima dengan senang hati oleh sekolah dan dikelola dengan baik sehingga pembangunan sekolah tidak membebani orang tua murid terlalu berat.
  • Setiap hari Selasa dan Jumat, sebelum senam pagi murid-murid diwajibkan membawa sebatang kayu pakar jenis apapun. Anak-anak sangat mudah mencari sepotong kayu bakar di jalan atau di kenun. Kayu bakar ini dikumpulkan dan setelah banyak diikat dan dijual. Uang hasil penjualan kayu bakar siswa ini dibelikan kapur tohor untuk mengecat dinding gedek sekolah. Tenaga yang mengecat dinding sekolah ini diambil dari siswa kelas 5 atau 6, sehingga sekolah tidak perlu mengeluarkan biaya tukang cat.
  • Saat perayaan sekolah seperti lebaran, siswa hanya disuruh membawa kue dari rumahnya masing-masing dan saling ditukarkan dengan temannya. Dengan cara ini suasana sekolah tetap seperti pesta yang meriah tapi tidak perlu keluar biaya.
  • Untuk membuat lapangan lompat jauh atau loncat tinggi, murid-murid biasanya disuruh mengumpulkan pasir dikali dan diangkut ke halaman sekolah oleh para siswa. Dengan gotong royong semacam ini sekolah bisa mempunyai lapangan lompat jauh dengan biaya yang murah.
Itulah beberapa contoh kreatifitas guruku dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat sekitarku yang miskin. Tidak ada korupsi karena memang tidak ada yang bisa dikorupsi. Tapi yang lebih utama, jiwa pengabdian para guru, pemahaman dan empathy guru terhadap kondisi orangtua siswa begitu dalam. Guru tidak mau membebani orangtua murid dengan setumpuk biaya, bahkan kalau biaya itu bisa dipermudah/dihilangkan, beliau-beliau guru pasti akan membebaskannya. Luar biasa pengabdianku wahai guruku...engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa yang sejati... semoga pengabdianmu menjadi bekal yang mencukupi untuk menempuh kehidupanmu yang abadi...