Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas (CPRC)
Yogyakarta, 2006
ISBN; 979-3087-30-7
516 halaman
Buku ini memuat beberapa artikel pemikiran Prof.Dr.Ir.
Sajogyo yang merupakan “begawan sosiologi pedesaan” dan sekaligus “ pemikir isu
kemiskinan”.
Nama Sajogyo, saya kenal ketika duduk di bangku kuliah dan
membaca tentang tolok ukur garis kemiskinan setara 320 kg beras/orang/tahun
untuk penduduk perdesaan dan 480 kg beras/orang/tahun untuk penduduk perkotaan. Walaupun angka tersebut baru mencerminkan “angka
kecukupan pangan”, namun tolok ukur tersebut setidaknya cukup membantu
memberikan arah bagi upaya-upaya pemberantasan kemiskinan pada awal era Orde
Baru. Prof. Sajogyo, banyak melakukan penelitian tentang
perdesaan, pertanian, transmigrasi dan gizi. Ada beberapa benang merah dari
pemikiran beliau al:
- Pemikiran yang holistik namun detail. Sebagai contoh ketika berbicara kesejahteraan petani, beliau tidak hanya melihat dari dimensi sektoral namun juga keterkaitan antar sektor misalnya infrastruktur, keuangan mikro, pasar, kultur dll. Selain itu berbicara petani, beliau membuat stratifikasi petani yang berlahan luas, berlahan sempit dan buruh (tuna kisma). Stratifikasi semacam ini juga digunakan ketika mengukur kecukupan gizi masyarakat. Adanya stratifikasi ini akan mempertajam analisis kelompok sasaran untuk program intervensi .
- Keberpihakan yang tinggi terhadap kaum miskin. Adanya stratifikasi dalam analisis beliau juga menunjukkan adanya keberpihakan terhadap kaum miskin. Tidak adanya stratifikasi akan cenderung menimbulkan bias dalam pemilihan kelompok sasaran. Seperti introduksi teknologi Revolusi Hijau ternyata lebih menguntungkan petani berlahan luas walau buruh tani juga mengalami peningkatan pendapatan namun tidak signifikan. Dengan pemahaman terhadap kaum miskin, beliau banyak memberikan solusi2 pragmatis yang sesuai dengan kondisi kelompok miskin tersebut, misal ide tentang pengembangan tanaman kacang2an untuk memenuhi kebutuhan protein, ide land reform melalui pembentukan Badan Usaha Buruh tani, Penciptaan usaha di luar sektor pertanian, industrialisasi pedesaan dll..
- Kesejahteraan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan Good Governance dan Good Village Governance. Isu partisipasi, transparansi, pelayanan publik, akuntabilitas dll menjadi pilar penting untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
- Masyarakat betapapun miskinnya, tetap mempunyai sumberdaya yang bisa dikembangkan. Pembangunan akan berhasil dengan baik bila didukung oleh keswadayaan masyarakat dan bukan menciptakan ketergantungan bagi mereka.
Membaca karya Prof. Sajogyo, saya
sangat kagum dengan analisis beliau yang detail dan komprehensif. Hasil
penelitian beliau banyak yang didorong untuk bahan advokasi perubahan kebijakan
dan sekaligus juga pengembangan keilmuan di bidang Sosiologi Perdesaan. Beliau seorang peneliti hebat, yang menjadikan penelitian sebagai alat untuk
berkontribusi dalam pembangunan. Kearifan beliau juga nampak dari keterlibatan
beliau dalam Forum diskusi tentang Participatory Rural Appraisal (PRA). Beliau
yang sangat senior, dengan rendah hati berdiskusi dengan pegiat2 PRA yang rata-rata masih muda. Dari kepribadian, integritas dan intelektualitas
beliau, profesor Sajogyo merupakan sosok guru yang benar-benar bisa diguGU dan
ditiRU...Semoga di dunia akademik Indonesia akan muncul Sajogyo-Sajogyo baru
yang mampu menyelaraskan darma pendidikan ilmiah, darma penelitian ilmiah dan
darma pengabdian masyarakat secara kongkrit.....
No comments:
Post a Comment