Seorang Pria
yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
Penulis dr. Andreas
Kurniawan, Sp.KJ
Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2025
ISBN
978-603-06-7467-4
191 halaman
Buku ini
merupakan refleksi pribadi seorang psikiater yang mengalami kehilangan besar:
wafatnya anak tercinta. Sebagai seorang profesional yang
memahami teori psikologi tentang duka, Andreas justru menyadari bahwa teori
tidak selalu mampu menjelaskan rasa kehilangan ketika itu dialami sendiri. Ia
kemudian menjalani perjalanan panjang untuk memahami makna duka, penerimaan,
dan cara bertahan hidup setelah kehilangan.
Judul “mencuci piring” menjadi metafora utama
dalam buku ini. Menurut penulis, duka mirip seperti tumpukan piring kotor:
tidak ada yang ingin mengerjakannya, tetapi pada akhirnya seseorang harus
menghadapinya. Proses mencuci piring melambangkan langkah-langkah kecil dan
sederhana untuk tetap hidup—melakukan rutinitas harian, bernapas, menangis,
berbicara, dan perlahan menerima kenyataan.
Filosofi mencuci
piring tersebut mencakup:
1. Buang
sisa makanan ke tempat sampah, Bila kita sedang berduka, akan
ada sisa perasaan, kenangan dan harapan. Sadari semua bahwa hal itu sudah tidak
ada di piringmu lagi. Oleh karenanya kita perlu
meletakkan ke tempat yang seharusnya. Kit tidak perlu membuangnya karena
itu akan sangat sulit dilakukan.
2. Bilas
piring menggunakan air bersih yang mengalir
Air adalah kiasan dari pikiran
kita. Untuk membasuh duka, kita perlu
mengalirkan pikiran kita. Mungkin kita bisa mengalirkan pikiran bersih dengan silaturahmi
dengan orang lain, bisa healing menikmati alam yang indah dan lain-lain. Jangan
sampai kita membiarkan air menggenang atau pikiran mandeg (down) karena itu
akan menyebabkan iritasi yang membuat luka duka kita semakin parah.
3. Rendam
alat makan di dalam air, tambahkan sabun bila ada noda yang lengket
Terkadang dalam piring ada
noda yang sudah dihilangkan. Demikian pula dengan duka, terkadang ada hal-hal
yang membuat duka tidak segera sembuh dan hilang dari pikiran kita. Untuk itu
kita perlu menambahkan sabun untuk membantu ”noda bandel” tersebut hilang.
Sabun penghilang duka antara lain bisa berupa doa, penghiburan dari teman,
penerimaaan, rasa syukur dan hal lain yang
membuat hati kita terasa hangat
4. Cuci
piring dan alat makan dengan spons, mulai dari yang paling sedikit nodanya
Untuk menghilangkan duka,
disarankan bisa dimulai dengan hal yang paling mudah. Memang dalam hal ini
istilah ”mudah” sangat subyektif. Ada hal yang mudah menurut saya, tapi itu
sangat sulit bagi orang lain dan sebaliknya. Keberhasilan menyelesaikan mencuci
piring yang paling sedikit noda, akan membangkitkan motivasi bahwa kita bisa
mengatasi rintangan yang ada. Sebagai contoh kecil, piring yang sedikit nodanya
adalah kita menyingkirkan barang-barang kecil yang membuat kita mudah terkenang
pada orang yang kita cintai yang telah pergi.
Kita bisa menyingkirkan batrang2 yang tidak terlalu penting terlebih dulu, baru
secara bertahap menyingkirkan barang yang lain
5. Keringkan
peralatan makan yang sudah selesai dicuci
Pada saat berduka, dianjurkan
untuk membiarkan duka mengering sehingga kita nanti bisa menggunakan pikiran
kita kembali untuk aktivitas sehari-hari.Istirahat untuk menenangkan pikiran
dan menyembuhkan duka, menjadi salah satu hal yang dianjurkan. Tidak ada waktu
yang pasti berapa lama luka akan mengering karena hal itu sangat personal.
Jangan biarkan peralatan yang basah dipakai kembali, jangan biarkan pikiran
yang berduka dan belum siap kerja, dipaksanakn untuk menjalankan tugas kesehariannya
6.Rutin
membersihkan spons dan area pencucian
Kita harus memperhatikan spons agar dalam
keadaan baik selalu siap dipakai. Duka adalah proses yang Panjang, sehingga
kita harus mengatur agar fisik dan mental
kita bersih dan siap digunakan untuk menyembuhkan atau menghilangkan duka yang
terkadang muncul. Kita bisa melakukan healing, bersilaturahmi, berwisata, makan
enak, melakukan hobby, meditasi dll untuk merawat kesehatan fisik dan jiwa
kita.
Buku ini
menekankan bahwa:
- tidak ada cara
“benar” untuk berduka,
- setiap orang
memiliki waktu pemulihan yang berbeda,
- kesedihan bukan
sesuatu yang harus disembunyikan,
- dan duka adalah
bagian dari cinta itu sendiri.
Andreas juga
mengkritik budaya yang sering memaksa orang untuk cepat “move on” atau tampak
kuat. Ia menunjukkan bahwa menangis, marah, merasa kosong, bahkan diam,
merupakan respons manusiawi terhadap kehilangan.
Secara
keseluruhan, buku ini mengajarkan bahwa duka bukan sesuatu yang harus dilawan
atau dipercepat selesai. Duka perlu dijalani perlahan,
dirawat, dan diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan menghadapi
duka secara jujur, seseorang dapat menemukan makna baru dan perlahan kembali
menjalani hidup.
Yang membuat buku ini menarik adalah gaya
penulisannya yang ringan, hangat, dan kadang diselingi humor gelap. Meski membahas tema berat, buku ini terasa
akrab dan tidak menggurui. Penulis menggunakan berbagai analogi
sederhana—seperti mencuci piring atau menyusun puzzle—untuk membantu pembaca
memahami proses penerimaan diri setelah kehilangan. Dengan gaya penulisan yang
hangat, tidak mengherankan buku ini menjadi mega best seller yang sudah 13 kali
naik cetak sejak edisi pertama Desember 2023.
Catatan:
Buku ini saya ringkas dengan bantuan AI dan saya tambahkan poin penting khususnya tetang filosofi mencuci piring.
No comments:
Post a Comment