Sunday, May 17, 2026

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

 

 


 

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Penulis dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Jakarta, 2025

ISBN 978-603-06-7467-4

191 halaman

Buku ini merupakan refleksi pribadi seorang psikiater yang mengalami kehilangan besar: wafatnya anak tercinta. Sebagai seorang profesional yang memahami teori psikologi tentang duka, Andreas justru menyadari bahwa teori tidak selalu mampu menjelaskan rasa kehilangan ketika itu dialami sendiri. Ia kemudian menjalani perjalanan panjang untuk memahami makna duka, penerimaan, dan cara bertahan hidup setelah kehilangan.

Judul “mencuci piring” menjadi metafora utama dalam buku ini. Menurut penulis, duka mirip seperti tumpukan piring kotor: tidak ada yang ingin mengerjakannya, tetapi pada akhirnya seseorang harus menghadapinya. Proses mencuci piring melambangkan langkah-langkah kecil dan sederhana untuk tetap hidup—melakukan rutinitas harian, bernapas, menangis, berbicara, dan perlahan menerima kenyataan.

Filosofi mencuci piring tersebut mencakup:

1. Buang sisa makanan ke tempat sampah, 
Bila kita sedang berduka, akan ada sisa perasaan, kenangan dan harapan. Sadari semua bahwa hal itu sudah tidak ada di piringmu lagi. Oleh karenanya kita perlu  meletakkan ke tempat yang seharusnya. Kit tidak perlu membuangnya karena itu akan sangat sulit dilakukan.

2. Bilas piring menggunakan air bersih yang mengalir
Air adalah kiasan dari pikiran kita. Untuk membasuh duka,  kita perlu mengalirkan pikiran kita. Mungkin kita bisa mengalirkan pikiran bersih dengan silaturahmi dengan orang lain, bisa healing menikmati alam yang indah dan lain-lain. Jangan sampai kita membiarkan air menggenang atau pikiran mandeg (down) karena itu akan menyebabkan iritasi yang membuat luka duka kita semakin parah.

3. Rendam alat makan di dalam air, tambahkan sabun bila ada noda yang lengket
Terkadang dalam piring ada noda yang sudah dihilangkan. Demikian pula dengan duka, terkadang ada hal-hal yang membuat duka tidak segera sembuh dan hilang dari pikiran kita. Untuk itu kita perlu menambahkan sabun untuk membantu ”noda bandel” tersebut hilang. Sabun penghilang duka antara lain bisa berupa doa, penghiburan dari teman, penerimaaan, rasa syukur dan hal lain  yang membuat hati kita terasa hangat

4. Cuci piring dan alat makan dengan spons, mulai dari yang paling sedikit nodanya
Untuk menghilangkan duka, disarankan bisa dimulai dengan hal yang paling mudah. Memang dalam hal ini istilah ”mudah” sangat subyektif. Ada hal yang mudah menurut saya, tapi itu sangat sulit bagi orang lain dan sebaliknya. Keberhasilan menyelesaikan mencuci piring yang paling sedikit noda, akan membangkitkan motivasi bahwa kita bisa mengatasi rintangan yang ada. Sebagai contoh kecil, piring yang sedikit nodanya adalah kita menyingkirkan barang-barang kecil yang membuat kita mudah terkenang pada orang  yang kita cintai yang telah pergi. Kita bisa menyingkirkan batrang2 yang tidak terlalu penting terlebih dulu, baru secara bertahap menyingkirkan barang yang lain

5. Keringkan peralatan makan yang sudah selesai dicuci
Pada saat berduka, dianjurkan untuk membiarkan duka mengering sehingga kita nanti bisa menggunakan pikiran kita kembali untuk aktivitas sehari-hari.Istirahat untuk menenangkan pikiran dan menyembuhkan duka, menjadi salah satu hal yang dianjurkan. Tidak ada waktu yang pasti berapa lama luka akan mengering karena hal itu sangat personal. Jangan biarkan peralatan yang basah dipakai kembali, jangan biarkan pikiran yang berduka dan belum siap kerja, dipaksanakn untuk menjalankan tugas kesehariannya

6.Rutin membersihkan spons dan area pencucian
Kita harus memperhatikan spons agar dalam keadaan baik selalu siap dipakai. Duka adalah proses yang Panjang, sehingga kita harus mengatur agar fisik dan  mental kita bersih dan siap digunakan untuk menyembuhkan atau menghilangkan duka yang terkadang muncul. Kita bisa melakukan healing, bersilaturahmi, berwisata, makan enak, melakukan hobby, meditasi dll untuk merawat kesehatan fisik dan jiwa kita. 

Buku ini menekankan bahwa:

  • tidak ada cara “benar” untuk berduka,
  • setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda,
  • kesedihan bukan sesuatu yang harus disembunyikan,
  • dan duka adalah bagian dari cinta itu sendiri.

Andreas juga mengkritik budaya yang sering memaksa orang untuk cepat “move on” atau tampak kuat. Ia menunjukkan bahwa menangis, marah, merasa kosong, bahkan diam, merupakan respons manusiawi terhadap kehilangan.

Secara keseluruhan, buku ini mengajarkan bahwa duka bukan sesuatu yang harus dilawan atau dipercepat selesai. Duka perlu dijalani perlahan, dirawat, dan diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan menghadapi duka secara jujur, seseorang dapat menemukan makna baru dan perlahan kembali menjalani hidup.

 Yang membuat buku ini menarik adalah gaya penulisannya yang ringan, hangat, dan kadang diselingi humor gelap. Meski membahas tema berat, buku ini terasa akrab dan tidak menggurui. Penulis menggunakan berbagai analogi sederhana—seperti mencuci piring atau menyusun puzzle—untuk membantu pembaca memahami proses penerimaan diri setelah kehilangan. Dengan gaya penulisan yang hangat, tidak mengherankan buku ini menjadi mega best seller yang sudah 13 kali naik cetak sejak edisi pertama Desember 2023.

 

Catatan:

Buku ini saya ringkas dengan bantuan AI dan saya tambahkan poin penting khususnya tetang filosofi mencuci piring.

No comments: