Tuesday, July 15, 2008

Aussie 6: Cincin Opal untuk istriku

Ketika di Australia dan jalan-jalan ke mall Queen Victoria Building, di situ banyak dipajang perhiasan yang menggunakan batu permata khas Australia yang biasa dinamakan batu "Opal". Batu opal ini merupakan batu yang warnanya seperti hologram. Sehingga kalo dilihat dari sudut pandang yang berbeda, akan menghasilkan kilau warna yang berbeda pula. Batu ini kalo di Indonesia hampir sama dengan batu akik "Kalimaya". Hanya saja batu opal, warnanya lebih cerah dan tajam. Seingatku warna yang mendominasi biasanya hijau atau biru yang berkilauan.
Melihat perhiasan itu, aku naksir berat. Terbayang senyum istriku seandainya aku bisa memberikan oleh-oleh perhiasan cincin opal itu. Sayangnya bayangan itu tinggal bayangan saja, karena harga cincin yang sederhanapun berada di atas 1000 dollar australia (6,5 juta rupiah). Sedangkan saat itu uang sakuku cekak alias minim banget (itupun sudah ngutang sama bossku he..he..he..). Semoga suatu saat aku bisa membelikan cincin opal yang indah itu untuk membahagiakan hati istriku....

Thursday, July 03, 2008

Sudah sakit masih diledek...

Si Dudi, anakku yang 12 tahun itu suka meledek mamanya. Seperti kemarin pada saat kepala istriku terantuk kran air di kamar mandi. Ledekannya:

Mama ini payah...
Kalau bersih-bersih rumah
kaki kesandhung kaki tempat tidur...

Kalau lagi masak,
air panas disiramkan ke kaki...

Kalau lagi nyuci baju,
kepala dibenturkan pada kran air...


Mendengar ledekan anakku, istriku cuma bisa meringis menahan sakit plus geli karena secara statistik apa yang diomongkan anakku itu benar adanya, yakni:

kejadian kaki bengkak karena nendang kaki tempat tidur memang sudah 3 kali terjadi
kejadian kaki kesiram air panas saat masak sudah 1 kali
kejadian kepala kejedhuk (kebentur) kran sudah terjadi 4-5 kali....

Ternyata seorang anak seringkali memperhatikan kejadian dan perilaku orangtua dan sekelilingnya ya.....

Wednesday, July 02, 2008

Aussie 5: Tukang Parkir dan Piknik Luar Negeri

Sewaktu saya menginap di hotel Crown Plaza Sydney, aku nggak bisa merokok dalam kamar karena saya diberi kamar yang berada di lantai yang "non smoking floor". Jadi kalo kepengin merokok harus turun di lobby di depan hotel.

Di lobby tersebut terdapat meja tugas tempat petugas velvet parking atau petugas hotel yang bertugas mengangkat kopor atau barang-barang bawaan para tamu. Saya sempat bincang-bincang dengan salah seorang petugas velvet parking. Dia cerita bahwa saat cuti tahunan tahun 2002 dia jalan-jalan ke Pulau Nias dan keliling beberapa daerah Sumatera. Dia saat itu juga sedang menabung karena di tahun 2003 dia merencanakan mau liburan ke Bali. Dia dan banyak orang Australi senang piknik ke Indonesia karena biaya penerbangan murah dan biaya hidupnya juga tidak mahal.

Mendengar ceritanya itu, aku hanya bisa tersenyum pahit: " Wah di Australia ini, seorang tukang parkir bisa piknik ke luar negeri. Sedang di negaraku, jangankan untuk piknik luar negeri, untuk makan secara layakpun masih banyak yang belum bisa memenuhi". Sampai kapankah bangsaku akan menanti saat gemah ripah loh jinawi?

Aussie 4: Nasi goreng dan souvenir

Selama di Australia, saya merasa tidak terlalu asing. Itu mungkin disebabkan di Australia banyak terdapat orang dari Asia seperti Cina dan India.

Di saat senggang konperensi, saya dan Bu Sulasih seringkali jalan-jalan ke taman dekat geung opera sydney yang bentuknya kayak "Keong Mas" di Ancol atau jalan ke mall untuk cari oleh-oleh. Australia sendiri kebanjiran banyak barang souvenir produksi Cina atau India. Untungnya bagi kita adalah, harga souvenir di Australia menjadi murah banget. Sebagai contoh gantungan kunci hanya sekitar 1 dollar Australia (RP. 6500), sedangkan di Jerman mencapai 3 Euro (35 ribuan rupiah). Dengan harga murah tersebut selama di Australia, kami bisa beli oleh-oleh untuk keluarga dan kawan-kawan walaupun yang dibeli gantungan kunci yang bergambarkan Jembatan Sydney tapi made in china he..he...

Saat ke Australia tahun 2003, gaung perang Irak masih agak rame, dan amerika dengan agresi-nya banyak dibenci orang. Sentimen anti amerikapun kujumpai saat beli souvenir sama seorang pedagang keturunan India. Dia nggak mau kubayar dengan dollar amerika, dan dia lebih suka dibayar pake Euro atau dollar Australia. "Saya nggak suka Amerika dan dollar amerika" katanya. Pantesan harga dollar amerika di Australia agak rendah...

Di mall dekat pelabuhan Sydney, saya menemukan counter yang dikelola orang Melayu Malaysia. Kami negosiasi dengan bahasa Melayu. Mungkin karena merasa satu rumpun ras, saya diberi diskon yang lumayan besar. Tapi dia bilang: " Ini saya diskon besar ya, tapi jangan omong-omong sama orang lain karena kalo boss saya yang pemilik toko ini tahu, saya bisa dimarahi."

Selama di Australia, saya juga sempat menikmati nasi goreng bikinan restoran cina. Nasi goreng ini mudah didapat dan sudah dikemas dalam plastik packing. Kalau bosan nasi goreng, saya dan bu sulasih makan indomi rebus atau pizza. Yah ternyata lumayan juga rasanya....dingin-dingin makan indomie rebus....wah nikmat nian....

Aussie 3: Boss yang baik hati....

Konperensi kebakaran yang penuh dengan presentasi para pakar maupun praktisi lapangan berlangsung selama 3 hari dan setiap harinya mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore.

Di suatu sore setelah acara presentasi, saya dan Bu Sulasih diajak Pak Helmut Dotzauer dan istrinya (ibu Doris) untuk jalan-jalan ke Mall Queen Victoria. Bangunan mall itu sangat indah dengan arsitektur klasik penuh ukiran, lantainya berupa mosaik porselin dengan ornamen indah dan jendelanya dibuat dengan kaca warna-warni yang sangat mempesona. Di mall itu Pak Helmut mentraktir kami minum kopi dan menikmati kue black forest. "Kami yang mengundang anda untuk jalan ke mall ini, maka kami yang mentraktir jajanan ini", kata Pak Helmut ketika aku mau membayar minuman dan makanan itu.

Dari mall kami berempat kemudian jalan-jalan ke Taman Botani yang agak dekat dengan mall itu sehingga bisa kami tempuh dengan jalan kaki. Di Taman itu Ibu Sulasih berbisik dengan penuh haru kepada saya; "Mas Edy, Pak Helmut itu bule tapi baik hati bener ya. Dia seorang boss tapi rendah hati dan mau mentraktir bawahan seperti kita. Kalau di Indonesia, mana ada boss mentraktir bawahan. Yang ada malah bawahan menyediakan upeti dan mentraktir boss".

Saya sendiri sangat setuju dengan pendapat ibu Sulasih. Pak Helmut memang seorang boss yang rendah hati, ramah, suka guyon, pintar diplomasi dengan pejabat namun tetap tegas dan beliau sangat perhatian dengan anak buah. Banyak karyawan yang diberi bea siswa untuk menempuh jenjang S1, S2 atau ikut training level nasional dan internasional. Beliau juga nggak segan-segan menaikkan gaji karyawan untuk karyawan berprestasi. Selama periode Pak Helmut, aku nggak pernah minta kenaikan gaji, karena tanpa kuminta beliaupun sudah menaikkan gajiku. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada staf nasional seperti saya, dik Lenny, Mbak Yana dll untuk berkreasi dalam menjalankan tugas. Beliau hanya memberikan arah kebijakan program, dan implementasinya dipercayakan ke kami. Meski demikian beliau akan mudah turun tangan bila kami memerlukan dukungan misalnya saat lobby-lobby dengan para pejabat. Kami yang staf nasional GTZ merasa sangat berkembang dengan gaya kepemimpinan beliau.

Tahun 2004 proyek kami selesai dengan prestasi yang cukup bagus. Pak Helmutpun harus meninggalkan Indonesia untuk sebuah jabatan baru di Honduras (Amerika Tengah). Aku berpikir, tidak mudah cari pimpinan yang sebaik beliau. Perilaku kepemimpinan beliau menjadi inspirasi sumber pembelajaran bagiku. Selamat jalan Pak Helmut dan Bu Doris, you are my inspiration.....