Sunday, March 07, 2010

Tanya Jawab Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)

Tanya Jawab Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)
Departemen Kehutanan
Departemen Kehutanan – GTZ Forclime
Jakarta, November 2007
16 halaman

Buku ini berisi tentang penjelasan singkat mengenai konsep Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang sedang dikembangkan oleh Departemen Kehutanan (Dephut). Dalam konsep KPH, wilayah hutan berdasarkan ekosistem Daerah Aliran Sungai dibagi dalam satuan-satuan KPH. KPH ini nanti akan ditangani oleh suatu organisasi KPH yang tugasnya akan fokus pada penanganan kegiatan teknis kehutanan di lapangan. Dengan demikian KPH nantinya tidak akan overlapping dengan tugas Dinas Kehutanan yang akan lebih fokus pada penanganan pelayanan administrasi pengurusan (perijinan) dan supporting bagi KPH dalam menjalankan tugasnya.

Karena sifatnya booklet, buku ini tidak mengupas banyak hal didalamnya. Seperti konsep KPH yangdiadopsi oleh Dephut ini apakah berasal dari konsep KPH yang dikembangkan oleh Perum Perhutani di Jawa? Ataukah konsep ini berasal dari konsep KPH yang pernah dikembangkan oleh Proyek KPHP (kerjasama dengan ODA England di Kalteng/Kalbar tahun 1995an)?

Walaupun konsep KPH ini dilandasi semangat untuk memperbaiki pengelolaan hutan di Indonesia di masa depan, namun penerapannya kayaknya tidak akan mudah. Selain persoalan SDM yang profesional yang terbatas jumlahnya, persoalan pembentukan organisasi KPH di daerah juga membutuhkan bimbingan yang serius agar organisasi tadi mampu menjalankan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) secara konsisten. Persoalan lain adalah sbeerapa jauh konsep ini akan diterima oleh Pemerintah daerah (khususnya kabupaten/Kota)? Pembentukan KPH yang lebih difokuskan di tingkat propinsi, apakah tidak akan memunculkan resistensi dari Pemkab/Pemkot yang merasa terusik kewenangannya?

Thursday, March 04, 2010

PROGRAM KEHUTANAN NASIONAL (PKN)

Program Kehutanan Nasional (PKN)
Departemen Kehutanan – GTZ SMCP
Jakarta, 2006
14 halaman.

PKN merupakan sebuah pendekatan antar sektor yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengelola hutan secara lestari di tingkat nasional, daerah maupun unit manajemen. Tujuan PKN ini adalah: (1) menerapkan pendekatan antar sektor untuk mengatasi konflik antar pemangku kepentingan, (2) membangun kesadaran dan komitmen untuk pengelolaan hutan lestari, (3) meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan dari para pemangku kepentingan, (4) mendorong kemitraan di tingkat lokal, nasional dan internasional, (5) menggerakan dan mengorganisasikan program dari berbagai pemangku kepentingan, (6) merencanakan dan melaksanakan berbagai program kehutanan sebagai bentuk kontribusi dalam inisiatif pembangunan nasional dan global.

Prinsip dalam PKN ini antara lain: (1) Kedaulatan Negara, (2) Kelestarian Sumberdaya Hutan, (3) Partisipasi dan Kemitraan, (4) Pendekatan holistik dan antar sektor, (5) Proses yang berkesinambungan dan iteratif/adaptif, (6) Peningkatan kapasitas (7) reformasi kebijakan dan kelembagaan (8) Konsisten dengan perencanaan pembangunan nasional dan inisiatif global (9) penyadaran (10). Penggalangan Komitmen Nasional (11) Komitmen Internasional sebagai acuan.

Kegiatan dalam PKN: (1) Pernyataan nasional mengenai hutan (2) Telaah sektor (3) Reformasi kebijakan dan peraturan (4) Penyusunan Strategi (5) Penyusunan Rencana Aksi (6) Program Investasi (7) Program Pengembangan Kapasitas (8) Sistem Monev (9) Mekanisme koordinasi dan partisipasi.

Secara pribadi, saya terkadang ragu dengan program atau terobosan baru seperti PKN ini. Karena selama ini sudah terlalu banyak contoh gembar-gembor program yang ternyata tidak ditindak lanjuti dengan serius pada tataran implementasinya...just NATO...No Action Talking Only...

Wednesday, March 03, 2010

BIMALA

Bimala
Karya: Rabindranath Tagore
Penerbit Jejak, Yogyakarta 2008
284 halaman

Novel ini ditulis oleh Tagire yang merupakan pemenang Nobel Sastra tahun 1913. Tagore bersama Gandhi juga merupakan sepasang sosok guru bangsa yang sangat berpengaruh di India.

Novel Bimala ini mengambil setting dunia ningrat India di sekitar tahun 1908 ketika gerakan swadhesi (cinta produk dalam negeri) mulai digulirkan di India. Seperti kisah perjuangan lainnya, dalam gerakan swadhesi ini juga terdapat aliran revolusioner yang ingin mendorong proses perubahan secara fundamental dalam tempo yang singkat. Gerakan ini terkadang menjadi gerakan yang “machiavelian” atau menghalalkan segala cara untuk mewujudkan perubahan itu. Karena tidak punya landasan moral yang kokoh, gerakan ini juga mudah ditunggangi oleh kepentingan para pimpinan yang mengatasnamakan rakyat.

Di sisi lain, dalam gerakan swadeshi terdapat kalangan pro perubahan evolusioner. Gerakan ini memakai cara-cara anti kekerasan dan mendudukan etika universal ataupun etika agama (settingnya: Hindu) sebagai pilar gerakan. Bahwa perubahan harus dimaksudkan untuk menuju pada kebenaran dan bukan menciptakan penindasan baru.... Ending dari cerita ini gerakan moral-lah yang akhirnya memenangkan pertarungan itu...

Novel yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ini mempunyai alur yang enak dinikmati, gaya bahasanya padat dan penuh mutiara filsafat yang bisa dijadikan sumber pembelajaran dalam kehidupan ini....

Tuesday, March 02, 2010

Berapa Kali Pria Pikirkan Seks dalam Sehari?

By Petti Lubis
2 Maret 2010

VIVAnews - Berdasarkan penelitian terbaru dari badan survei www.Onepoll.com, menghasilkan fakta mengejutkan. Ternyata, kebanyakan pria memikirkan seks 13 kali sehari (total 4745 kali selama setahun). Jadi, bisa dibilang pria memikirkan seks hampir 5000 kali selama setahun.

Bahkan, hasil survei yang melibatkan 3000 responden ini menyatakan, hal pertama kali yang muncul di benak pria ketika bangun tidur adalah seks. Maka itu, jika suami memandang Anda penuh gairah di pagi hari, Anda sudah bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Juru bicara dari salah satu badan online ini menyatakan: "Sebenarnya, bukan hal langka lagi, pria dianggap sering memikirkan tentang seks. Tapi, fakta ini terbilang cukup megejutkan."

Tampaknya, kesimpulan dari hasil survei mengungkapkan, bagian terbesar dari otak pria adalah dorongan seks. Entah itu, pria dalam kondisi buruk atau sedang mengalami stres.

Sebagai perbandingan, wanita memikirkan seks hanya 5 kali sehari (total 1825 kali selama setahun).

Namun, dalam hal aktivitas bercinta, pria rata-rata melakukannya 2 kali seminggu atau 104 kali selama setahun. Dan, hampir tiga perempat responden mengaku tidak masalah dengan frekuensi ini. Selain itu, hasil survei juga mengungkap, 43 persen pria mengaku lebih sering punya inisiatif untuk mengajak bercinta.

Peneliti pun menyimpulkan, satu dari tiga pria merasa makan malam romantis dan pijat sensual bisa meningkatkan gairah bercinta. Sedangkan bagi wanita, memasang musik romantis dan memasakkan makanan favorit pasangan bisa sebagai sinyal ajakan bercinta.

Menguak Tipe Pria yang Tak Pernah Selingkuh

Tipe Pria yang Tak Pernah Selingkuh
By: Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti
Selasa, 2 Maret 2010


VIVAnews - Berdasarkan sebuah penelitian, pria yang tergolong cerdas cenderung tidak akan mengkhianati pasangan mereka. Ini merupakan hasil sebuah analisis baru yang menunjukkan tren sosial.

Peneliti di sebuah universitas di Inggris menemukan, pria dengan IQ lebih tinggi akan lebih setia pada pasangannya dan selalu menjunjung tinggi nilai monogami dibandingkan pria lain yang IQ-nya tergolong rendah.

Namun, dari hasil penelitian ini, hubungan antara moralitas seksual konvensional dan intelektualitas tidak tercermin pada wanita. Para peneliti tidak menemukan bukti bahwa wanita yang IQ-nya lebih tinggi memiliki sikap sama seperti pria cerdas dengan IQ tinggi.

Pola-pola kesetiaan justru hanya ditemukan dalam diri pria yang diteliti oleh Dr. Satoshi Kanazawa dari London School of Economics pada jurnal yang dipublikasikan di 'Psikologi Sosial Quarterly' edisi Maret. Sebagai bagian dari studi, Dr. Kanazawa menganalisis dua survei utama AS yang dipastikan sikap sosial dan IQ dari ribuan remaja dan orang dewasa.

Dia menyimpulkan: "Sebagai analisis empiris menunjukkan, pria yang lebih cerdas cenderung lebih monogami dan selalu menjunjung nilai eksklusivitas seksual dibandingkan dengan pria kurang cerdas alias ber-IQ rendah."

Dr. Kanazawa juga mengklaim, korelasi antara kecerdasan dan monogami pada pria memiliki asal-usul dalam perkembangan evolusioner. Menurutnya, eksklusivitas seksual adalah sebuah "evolusi novel" kualitas yang bermanfaat bagi orang-orang di zaman purba, yang diprogram untuk mengetahui tingkat kesetiaan seseorang.

Dunia modern tidak lagi menganugerahkan keuntungan evolusioner untuk orang-orang yang memiliki beberapa mitra seksual, tetapi hanya orang-orang cerdas yang mampu melepaskan beban psikologis spesies mereka dan mengadopsi cara-cara baru berperilaku.

Berdasrkan studi ini "evolusi novel" merupakan kualitas yang lebih umum di kalangan orang-orang dari kecerdasan yang lebih tinggi.

Termasuk golongan manakah anda?