Monday, October 15, 2012

Filsafat untuk Pemula (2)


4. Filsafat religius abad pertengahan
Periode ini ditandai dengan runtuhnya kekaisaran Romawi dan perebutan kekuasaan antar kerajaan/kaisar. Pada masa ini Kepausan (Gereja) mulai menancapkan pengaruh yang kuat  dalam tata kenegaraan. Meski demikian kekuasaan yang begitu besar telah mengakibatkan Paus menjadi otoriter dan menjadi hamba kekuasaan itu sendiri.
Pada era ini, di belahan dunia yang lain juga terjadi perkembangan yang menakjubkan seperti  di Cina. Dinasti Tang (618-907)telah mengembangkan teknologi pertanian yang maju. Di dunia Arab,  agama Islam mengalami pertumbuhan pesat dan mengadopsi berbagai teknologi dari Cina, Yunani, India dan lain-lain. Menginjak tahun 1100, bangsa Arab memimpin dunia dalam pengetahuan di bidang kedokteran dan astronomi.
Johannes Scotus Eriugena (800-877), merupakan  intelektual Irlandia, neo Platonis. Tokoh ini dianggap bidah oleh gereja karena: (1) percaya pada kehendak bebas, (2) filsafat sama entingnya dengan agama, akal budi lebih penting daripada perwahyuan, (3) Allah dan semesta adalah identik, (4) manusia pernah tidak berdosa dan hukuman tidaklah abadi
Di dunia arab, Aristoteles meriupakan filosof rujukan.  Kindi, merupakan orang Arab yang menulis buku filsafat dalam bahasa Arab tentang Teologi Aristoteles.
Avicenna (980-1036) merupakan filosof yang banyak menghasilkan karya tulisan di bidang psikologi dan kedokteran.  Beliau tinggal di Teheran. Salah satu ide yang diangkat dari aristoteles adalah “pikiran menghasilkan sifat umum forma-forma(generalisasi empirik?)”
Averroes (1126) tinggal di Cordova. Beliau  berpendapat bahwa: (1) keberadaan allah dapat dibuktikan dengan pikiran, (2) menentang kebakaan jiwa.
Maimonides (1135) yang berpendapat bahwa pencarian kebenaran dari dirinya sendiri merupakan sesuatu yang bersifat relijius.
Skolatisisme merupakan sebuah gerakan aliran filsafat abad XI yang menampilkan perkembangan  kekuatan gereja dalam study dan kebudayaan dan minat baru dalam filsafat kuno khususnya Aristoteles. Skolatisisme berkembang di pertapaan dan juga pendidikan. Aliran ini berusaha melawan kekayaan dan keduniawian. Ada tiga ajaran penting dalam hal ini yakni: larangan menyalah gunakan kekuasaan (simoni), larangan mempunyai gundik (konkubin) dan mukjizat Misa Kudus. Seacara umum skolatisisme bercirikan: (1) penerimaan akan ortodoksi katolik, (2) penerimaan akan Aristoteles sebagai pemikir lebih besar dari Plato,  (3) pengakuan bahwa Aristoteles dan Plato tidak sepakat mengenai pengertian akan yang universal, (4) memberikan perhatian pada dialektika dan penalaran silogistik, (5) Penerimaan akan pembedaan antara teologi kodrati dan teologi wahyu, (6) Kecenderungan untuk memperdebatkan segala sesuatu secara panjang lebar.
Abelardus (1079) merupakan filsuf yang mendorong dialektika sebagai salah satu cara menuju kebenaran dan cara mengasah pikiran.
Berenger dari Tours yang seperti Yohannes Scotus mengatakan bahwa akal budi lebih penting dari perwahyuan.
Petrus Damianus, meyatakan Allah berkuasa atas segalanya dan bahkan bisa merubah masa lalu.
Anselmus (1093-1109), yang terkenal dengan argumen ontologis bagi eksistensi Allah.
Thomas Aquinas (1225-1274) merupakan salah satu peletak dasar filsafat yang disetujui Gereja. Aquinas membagi teologi kodrati yang bersumber pada kegiatan akal budi dan pengalaman inderawi dan teologi  wahyu yang bersumber pada iman, rahmat Ilahi dan kitab suci. Keduanya mempunyai kesamaan untuk memperoleh pemahaman mengenai Allah. Aquinas menyatakan Allah itu ada karena: (1) bukti dari perubahan, perubahan terjadi karena ada yang menggerakkan, (2) Bukti Penyebaban, dalam dunia ini ada penyebab pertama yang tidak disebabkan, (3) Bukti dari Kontingensi, ada suatu pengada Mutlak mengatasi Kontingensi, (4) Bukti dari Tingkat Kesempurnaan, dalam alam terdapat kesempurnaan2 yang menunjukkan dibalik itu ada Pengada Sempurna, (5) Bukti dari Harmoni,  harmoni di alam muncul bukan karena kebetulan  tapi ada suatu intelegensi yang mengaturnya.
Roger Bacon (1214-1294), merupakan seorang filosof yang menekankan  pentingnya sains dan metode  percobaan. Dia  menyarankan orang lain untuk belajar sekalipun dari orang asing.  Ada 4 sebab kebodohan menurutnya yakni; (1) mengandalkan otoritas yang tidak tepat, (2) pengaruh tidak pas dari adat, (3) pendapat dari masa yang tidak terpelajar, (4) pamer kebijaksanaan untuk menutupi kebodohan.
William dari Occam (1290-1349) yang mengembangkan pemikiran untuk mengurangi kekuasaan gereja dan lebih membangun demokrasi. William juga mendorong bahwa pernyataan yang sederhana lebih baik dari hipotesis2 yang tanpa batas.
John Wycliffe (1320-1384), merupakan salah seorang yang mengkritik pejabat gereja yang korup dan terbelenggu keduniawian. Harta dan kekuasaan harusnya menjadi hak bagi oarang2 yang berhati lurus. Dia  berpendapat bahwa Raja adalah wakil allah sehingga Gereja harus tunduk pada raja.

5. Renaissance
Pada awal renaissance (1440-1540), pengaruh gereja dalam kenegaraan mulai berkurang dan mulai tumbuh  negara kota dengan kaum kelas bisnis, kaya, terpelajar  dan sekuler. Pada periode ini skolatisisme mulai memudar pula dan orang cenderung melihat filsafat ke sumbernya yakni pemikir Yunani. Pada periode ini tumbuh kapitalisme ekonomi, seni dan sastra klasik serta pendekatan ilmiah dalam pendekatan kepada alam.
Machiavelli (1469-1527), yang banyak menyoroti tentang bagaimana memperoleh, mempertahankan dan menggunakan kekuasaan. Dalam buku “Sang Pangeran” dia mengatakan bahwa setiap orang bebas menggunakan setiap cara untuk mencapai tujuannya sepanjang itu efektif (menghalalkan segala cara). Sedangkan dalam buku “Pidato”  mengatakan bahwa negara dengan konstitusi demokratik merupakan hal terbaik.  Tujuan penting bagi sebuah bangsa adalah kemerdekaan, keamanan dan konstitusi yang tertata rapi.
Erasmus (1466-1536) yang mengkritik kehidupan glamour, kebodohan  dan kurangnya perasaan Kristiani  para pejabat gereja.
Thomas More (1478-1535) mengembangkan konsep pemikiran tentang  kehidupan bernegara dengan  asas persamaa pria-wanita, kebebasan beragama, demokrasi representatif dan tanpa harta pribadi. Ide tersebut merupakan salah satu cikal bakal ide kelahiran komunisme.

6. Reformasi dan Kontra Reformasi
Marthin Luther (1483-1546), berpendapat bahwa otoritas Kitab Suci harus lebih unggul dari tradisi gereja (seperti misa, api pencucian dll). Takdir manusia yang mengerikan hanya dapat diselamatkan dengan iman dan bukan akal. Martin Luther juga menekankan perlunya ketaatan terhadap pemimpin.
John Calvin (1509-1564), yang mendorong pembentukan negara kota protestan.
Zwingli (1484-1531),  yang menolak transubstansiasi. Dalam misa, roti dan anggur tetaplah roti dan anggur biasa.
Gereja kemudian mereformasi diri dan melawan protestanisme dan mendirikan ordo-ordo khususnya para Jesuit. Salah satu tokoh kotra reformasi adalah Ignatius Loyola (1491-1556).

FILSAFAT; untuk Pemula (1)


Oleh:  Richard Osborne
Penerbit Kanisius
Yogyakarta 2001 (Cetakan ke 5)
ISBN 979-672-711-0
180 halaman

Buku ini memuat sejarah perjalanan filsafat dalam kehidupan manusia. Filsafat dalam bahasa Yunani berarti “Cinta akan kebijaksanaan”.  Meski demikian pengertian filsafat sendiri masih simpang siur dan berbedabeda antara satu pakar dengan pakar lainnya.

1. Filsafat Yunani
Sejarah Filsafat dimulai di Yunani pada abad ke 6 sebelum Masehi.  Beberapa tokoh Filsafat Yunani antara lain:
Thales (585 SM),  yang mulai mendalami pengetahuan tentang dunia dan bintang dan mulai melepaskan diri dari mitos (dewa dan magis)
Anaximander (546 SM),  yang berpendapat bahwa manusia berasal dari ikan  dan dulunya ada suatu substansi  tunggal pertama dan suatu hukum alam yang berlaku di dunia, untuk mempertahankan keseimbangan antara unsur2 yang berbeda.
Pythagoras, yang mendalami filsafat matematik, geometri, mengembangkan harmoni kosmis dimana sebuah senar yang dibagi dua akan menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi, serta cara pikir deduktif. Meski seorang ilmuwan, Pythagoras juga merupakan seorang mistikus yang hidup dengan pantangan2.
Heraclitus (500 SM), yang meletakkan api sebagai salah satu unsur penting kehidupan manusia. Heraclitus juga percaya keadilan kosmis yang menjaga keseimbangan di dunia.
Empedocles, yang berpendapat bahwa: tanaman mempunyai seks, bumi seperti bola, bahwa perubahan terjadi karena cinta dan pertentangan, dan perputaran historis berjalan melalui kehidupan.
Leucippus dan Democritus, yang juga disebut para atomis, yang mengajukan teori bahwa dunia ini terdiri partikel2 kecil (atom) yang jumlahnya tidak terhitung dan tidak dapat dibagi-bagi.
Protagoras dan Thrasymachus, yang memulai berpikir tentang perilaku manusia. Aliran Sophis ini lebih cenderung mencari keuntungan bagi diri sendiri, makanya aliran ini banyak mengajarkan tentang  berdebat, berpidato untuk menarik massa.
Sokrates (470-399 SM), yang menaruh perhatian kuat terhadap etika (moralitas), dan upaya  menemukan yang adil, benar dan baik. Socrates sangat menekankan perlunya pengetahuan sebagai keutamaan. Socrates mengajarkan dialektika dengan tanya jawab secara logis. Socrates dituduh merusak kaum muda Athena dan dihukum minum racun.
Plato (428-354 SM), yang mendirikan akademi yang mempelajari aritmetika, geometri, astronomi dan harmoni suara. Metode yang dikembangkan adalah penelitian  di bawah pengawasan serta proses pengajaran yang penuh kerjasama dan dialektika antara guru – murid. Pengetahuan merupakan hasil interaksi  antara pengamat dan yang diamati di bawah bimbingan jiwa atau budi. Plato mengembangkan teori hipotesis dan deduksi. Plato dalam Republic menuliskan negara kota ideal-nya.
Aristoteles (384 SM), yang mengembangkan metode empiris dalam mempelajari alam.  Dia merupakan guru Alexander Agung. Aristoteles mendirikan Lyceum yang merupakan pusat penelitian sistematik. Sewaktu mengajar aristoteles sering sambil berjalan dan berbicara (peripatetics). Aristoteles merupakan orang pertama yang mencoba mengklasifikasikan pengetahuan.  Aristoteles dalam hal ini kemudian mengembangkan Logika (Silogisme), Metafisika, Etika, Politik, Biologi dan Poetika.
Alexandria (332 SM) merupakan  kekaisaran yang cukup maju dengan museum dan perpustakaan. Pada masa ini terdapat Ptolomeus yang membuat peta pertama yang akurat, Eratosthenes yang menghitung keliling bumi dengan kemungkinan salah  4%,  Sosigenes yang membuat kalender ketat pertama, Hero yang menemukan mesin uap. Pada masa ini juga berkembang aliran Skeptisisme yang bersikap sinis , membangun keragu-raguan dan bermain paradoks.

2. Filsafat Jaman Kejayaan Roma
Secara umum orang Romawi tidak banyak memberikan pemikiran untuk Filsafat. Orang Yunani lebih suka berpikir sedang orang Roma lebih suka berperang. Tokoh-tokoh filsafat Romawi antara lain:
Chrysippus (207 SM), yang memberikan uraian sistematik tentang Stoisisme dan berminta mempelajari logika dan bahasa.
Zeno (261 SM) merupakan pendiri Stoisisme yang mengajarkan logika, fisika dan etika. Bagi kaum Stoa, nilai tertinggi adalah hidup dengan penuh kebijaksanaan, keadilan, kebersahajaan dan keberanian. Dunia dipandang sebagai keutuhan organik dimana hukum2 alam menjadi penentu.
Epicurus (270 SM), Epicuranisme merupakan sebuah filsafat yang mencoba mencapai keseimbangan dan kedamaian batin  dengan membuang ketakutan. Fungsi filsafat adalah membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan takhayul.
Lucretius (99-55 SM), penganut Stoisisme dan memperkenalkan hukum kekekalan materi “Tidak ada suatu pun dapat diciptakan dari ketiadaan”.
Seneca (4 SM-65 M), merupakan penyebar cita-cita Stoa dan anti perbudakan, walaupun pada sesungguhnya Seneca juga menjadi seorang penjilat dan hipokrit.
Epictetus (60-100 M), merupakan seorang tokoh yang tidak menyetujui pembagian formal logika, fisika dan etika dalam Stoisisme.
Marcus Aurelius (120-180 M), merupakan kaisar Romawi yang tidak mudah puas, selalu memikul beban pikiran, susah tidur dan pantang kenikmatan. Namun sesungguhnya tidak banyak pemikiran untuk kemajuan politik dan filsafat.

3. Kristianitas Awal
Philo dari Alexandria (25 SM-50M), yang  mengembangkan filsafat sebagai penyiapan budi untuk hal-hal yang lebih tinggi (Allah).  Ia merupakan seorang Platonis yang mengembalikan segala hal yang Universal kepada Allah.
Origenes (184-254 M), yang menyatakan bahwa Kitab Suci tidak hanya mempunyai arti harfiah, karena kitab suci merupakan simbol-simbol. Oleh karenanya inderawi diperlukan untuk menafsirkannya.
Platinus (204-270 M), yang mengupas tentang Tritunggal  yang Kudus (Allah-Roh-Jiwa)
Neo Platonisme merupakan suatu aliran yang mencoba menggabungkan  ide Aristoteles, Stoa, Phytagoras, ide mistik, ide Platonik mengenai segala sesuatu dimana badan dianggap jelek dan rohani dianggap baik.
Dalam perkembangannya Gereja mencoba menyatukan iman dalam teori dan praksis melalui Konsili Nicea (325 M). Dalam pertemuan tersebut disepakati adanya konsep Tritunggal, meski kaum Arian menyangkalnya.  Terdapat empat Bapa/Pujangga Gereja yakni Ambrosius, Hieronimus, Agustinus dan Gregorius.
Ambrosius, merupakan salah seorang pejabat yang meletakkan gereja di atas negara.
Hieronimus, merupakan seorang yang suka pergi bertapa dan mengabdi kepada Paus. Beliau menerjemahkan Kitab Suci dengan karya mashurnya Vulgata Hieronimus.
Agustinus (357-430), merupakan Uskup Carthago. Agustinus sewaktu nakal banyak berbuat dosa, dan menyesalinya setelah dewasa serta mengabdikan hidup untuk selibat. Agustinus merupakan seorang yang mengembangkan konsep dosa asal. Konsep lain yang terkenal adalah indivisu bisa berdosa, tapi Gejera sebagai lembaga Allah, tidak dapat berdosa. Agustinus mengagumi ajaran Stoa dan dia akhirnya pada kesimpulan bahwa manusia terlalu lemah untuk menemukan kebenaran hanya dengan menggunakan akal. Dia juga mempunyai dilema pemikiran ketika Kitab Suci mengatakan Allah menciptakan dunia dari Ketiadaan, sedangkan ajaran Yunani mengatakan bahwa sesuatu tercipta karena adanya Keberadaan. Bagi Agustinus, allah adalah abadi. Waktu yang benar2 ada adalah sekarang karena masa lampau adalah ingatan sekarang, sedang masa depan adalah harapan sekarang. Agustinus  membuat  tulisan tentang Kota Allah yang merupakan landasan teologis tentang masyarakat yang hidupnya berlandaskan pada ajaran gereja.
Boethius (480-524), merupakan seorang pengembang filsafat yang menyatakan bahwa dia tidak menemukan hiburan dalam iman Kristen, dan filsafat baginya lebih mampu membimbingnya ke kebahagiaan sejati. Boethius mencoba menggunakan rasionalitasnya yang tidak memihak  sehingga dia bisa menemukan simpul2 dimana ide Aristoteles dan Plato dapat dipersatukan.

Sunday, September 30, 2012

RAMADHAN DI MUSIM GUGUR


Oleh: Elie Mulyadi
PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2009
ISBN 978-979-22-4897-5
250 halaman

Buku ini merupakan kumpulan tulisan(seperti kumpulan cerpen) yang berkisah tentang berbagai peristiwa di bulan Ramadhan serta Lebaran Idul Fitri.  Secara tematik, kisah yang terdapat dalam buku ini antara lain:
• Kisah lebaran di luar negeri (3 tulisan)
• Kisah lebaran tanpa pembantu (1 tulisan)
• Kisah lebaran dan kemiskinan (2 tulisan)
• Kisah perjalanan mudik lebaran (7 tulisan)
• Kisah belanja menjelang lebaran (2 tulisan)
• Kisah cinta di saat lebaran (5 tulisan)
• Kisah silaturahmi di bulan Lebaran (8 tulisan)
• Kisah THR dan lebaran (1 tulisan)

Berbagai tema di atas dikemas dalam berbagai alur. Ada cerita lucu, gembira, mengharukan...namun ada pula kisah yang getir dan pahit.... Lebaran yang  merupakan ritual budaya tahunan mempunyai banyak dimensi yang menyentuh kalbu bagi orang yang mau merenungkannya..... Pesan moral tentang cinta kasih dalam keluarga dan silaturahmi antar sesama menjadi benang merah yang merajut tulisan-tulisan di buku ini.....

Secara umum tulisan di buku ini cukup runtut dan dikemas dalam bahasa yang ringan sehingga mudah dicerna. Meski terkesan ringan, saya menyukai buku ini karena beberapa pesan moral masih cukup kental dirasakan dalam tulisan-tulisan didalamnya.

Sunday, September 09, 2012

LAPORAN TAHUNAN 2011 ICW


Oleh: Indonesia Corruption Watch (ICW)
Jakarta, 2012
34 halaman

Buku ini merupakan laporan tahunan ICWtahun 2011. ICW sebagai salah satu aktor penting dalam gerakan anti korupsi di Indonesia mempunyai beberapa Divisi yang meliputi:

• Divisi Kampanye Publik dan Penggalangan Dana yang antara lain telah melakukan berbagai upaya penggalangan dana dari suporter, pendidikan korupsi di sekolah dan kampus, kampanye anti korupsi melalui berbagai lomba,
• Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran yang antara lain telah mendorong perubahan kebijakan di bidang industri ekstraktif untuk lebih transparan dan akuntabel,
• Divisi Korupsi Politik yang fokus pada reformasi pendanaan Partai Politik termasuk pemantauan Pilkada (aspek pendanaan), pembahasan anggaran di DPR dll,
• Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan yang fokus pada pengawasan terhadap kinerja aparat penegak hukum khususnya terkait kasus korupsi dan mengawal proses regulasi strategis seperti RUU KPK dan RUU Tipikor.
• Divisi Investigasi dan Publikasi yang fokus pada investigasi kasus korupsi, investigasi calon pimpinan KPK dan advokasi keterbukaan informasi publik guna mendukung upaya pemberantasan korupsi.
• Divisi Monitoring Pelayanan Publik yang fokus pada pengembangan mekanisme pelayanan publik (misalnya dana BOS) yang efektif, efisien, transparan, akuntabel dan bebas korupsi.

Dari sisi anggaran, ICW sudah mulai mendapatkan dukungan dana publik lebih dari setengah milyar rupiah. Selain itu ICW juga memperoleh dukungan dari donor  lebih dari 6,2 milyar rupiah. Untuk menjaga akuntabilitasnya, sebuah kantor akuntan publik telah melakukan audit terhadap keuangan ICW.

Persoalan korupsi dalam sistem birokrasi pemerintah, yudikatif, militer, swasta dan publik yang sudah sedemikian menggurita merupakan kanker ganas yang akan dapat menyengsarakan masyarakat. Oleh karenanya saya sangat berharap ICW terus mengembangkan jaringan dengan masyarakat sipil di daerah sebagai strategi untuk membendung dan memberantas korupsi di negara ini. Semoga Allah selalu memberkati..

MARRIED TO A BEDOUIN


Oleh: Marguerite van Geldermasen
PT. Ufuk Publishing House
Jakarta, 2011
ISBN: 978-602-9159-50-9
381 halaman

Buku ini diangkat dari kisah nyata Marguerite van Geldermasen yang rela meninggalkan kemewahan hidup dan menikah dengan seorang suku tradisional Badui di kota tua Petra - Yordania. Keluarga Marguerite sendiri merupakan keturunan Belanda yang cukup kaya dan menjadi migran di Selandia Baru. Kisah ini dimulai tahun 1978 ketika Marguerite beserta temannya menjadi wisatawan backpackers di Petra. Dalam petualangan wisatanya di Petra tersebut, Marguerite berkenalan dan jatuh cinta dengan Muhammad Abdallah yang merupakan seorang pemandu wisata setempat serta penjual barang antik. Seperti masyarakat Badui tradisional, Muhammad Abdalah yang bujangan tinggal di  sebuah goa. Mereka kemudian menikah dan tinggal di goa tersebut. Rasa cintanya yang begitu mendalam kepada Muhammad ditambah penerimaan yang penuh kekeluargaan dari keluarga besar Muhammad serta para tetangganya membuat Marguerite menjadi betah. Keluarga besar Muhammad sangat menyayanginya dan dia diberi nama baru Fatimah. Fatimah belajar beradaptasi dengan belajar memasak, membuat teh ala masyarakat Badui, bermain kartu dan bersilaturahmi. Fatimah kemudian membeli mesin jahit untuk membuat pakai bagi dirinya anaknya dan juga sanak saudara suaminya. Fatimah yang pernah mengikuti kursus perawat sewaktu di New Zealand juga mendaftar sebagai petugas kesehatan pemerintah yang melayani suku Badui di daerahnya. Fatimah juga semakin rajin menjalankan ibadah agama Islam yang dianutnya. Hal itu membuat Fatimah semakin dekat dan diterima oleh masyarakatnya.

Fatimah dan Muhammad akhirnya dikaruniai seorang anak perempuan bernama Salwa. Setelah Salwa berusia beberapa tahun, Fatimah dan Muhammad pernah mengunjungi keluarganya di New Zealand. Muhammad sempat bekerja disana bersama Fatimah, namun karena lingkungan yang dirasa kurang sesuai, mereka merasa tidak betah dan kembali ke Petra-Yordania. Sekembalinya dari New Zealand mereka kemudian memperoleh bayi lagi yang dinamai Raami dan kemudian disusul oleh Maruan. Mereka sempat diundang dalam audiensi dengan Ratu Elizabeth yang berkunjung ke Yordania. Marguerite/Fatimah yang warga negara New Zealand (yang merupakan anggota negara Persemakmuran yang dipimpin Ratu Inggris) dan menikah dengan Muhammad yang suku Badui, diundang dalam audiensi sebagai simbol hubungan kekerabatan negara Persemakmuran dengan Yordania.

Usaha toko Fatimah dan Muhammad terus berkembang. Mereka mendirikan toko dan membeli mobil transportasi. Meski demikian terdapat keresahan di masyarakat suku Badui, karena mereka akan direlokasi dari goa-goa tempat mereka tinggal dan dipindah ke kompleks perumahan yang kecil-kecil. Mereka kuatir relokasi itu akan mencerabut mereka dari akar budaya mereka. Namun hal itu tidak bisa ditolak. Pada tahun 2002, Muhammad meninggal karena diabetes.  Rasa kehilangan atas meninggalnya Muhammad serta  adanya relokasi ke lokasi Baru membuat Fatimah merasa tidak nyaman. Akhirnya dia beserta anak-anaknya pindah ke Sydney-Australia untuk menghabiskan hari tua di sana.

Secara umum cerita buku ini sangat mengalir dan lebih banyak bertutur tentang pengalaman hidup beradaptasi di lingkungan baru tanpa menonjolkan unsur kecengengan. Ketika cinta sudah terpateri, harta dan kenyamanan duniawipun rela untuk ditinggalkan demi sang pujaan hati......