Tuesday, December 10, 2024

Majalah Forest Digest edisi 22, April-Juni 2022



Majalah Forest Digest edisi 22, April-Juni 2022 mengangkat isu Perdagangan Karbon. Dalam rangka berkontribusi untuk mitigasi perubahan iklim global, Indonesia  mempunyai target penurunan emisi 29-49% hingga 2030. Salah satu strategi yang dikembangkan untuk mencapai target tersebut adalah mendorong perusahaan industry untuk secara sukarela menurunkan emisi melalui penggunaan teknologi yang rendah karbon.  

Strategi yang lain adalah mengenakan perdagangan karbon seperti “cap and trade” dimana perusahaan produsen emisi yang melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah, wajib membeli hak mengemisi perusahaan mitra yang lebih rendah emisinya pada periode tertentu. Skema lain untuk perdagangan karbon adalah “carbon off set” dimana Perusahaan tidak wajib  menurunkan emisi namun mereka bisa membeli “hak” atau sertifikat dari pihak lain yang telah melakukan kegiatan menurunkan jumlah CO2 di atmosfer. Dengan membeli sertifikat tersebut, seseorang atau kelompok dapat mendanai proyek untuk melawan perubahan iklim. Sertifikat tersebut dapat "mengimbangi" emisi CO2 pembeli dengan jumlah pengurangan CO2 yang sama di tempat lain.

Strategi ketiga adalah pengenaan pajak  karbon kepada perusahaan produsen emisi. Pajak ini dibayarkan ke negara dengan  tarif Rp. 30.000 per ton (US$ 2 per ton). Disinsentif pengenaan pajak ini diharapkan bisa mendorong Perusahaan untuk mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Dari berbagai kebijakan tersebut, muncul kekuatiran bahwa harga karbon dan pajak karbon yang rendah (hanya Rp. 30.000), akan membuat produsen emisi lebih suka menghapus dosa dengan membeli karbon atau membayar pajak karbon daripada mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Pada terbitan kali ini, Forest Digest juga mengupas tentang pengelolaan sampah yang menjadi persoalan serius di kota besar khususnya Jakarta. Di tahun 2021, Jakarta memproduksi sampah 7.233 ton per hari dan 53% diantaranya berupa sisa makanan. Pengolahan sampah untuk listrik  hanya mampu menampung sampah 100 ton per hari (data tahun 2021/2022). Suatu jumlah yang sangat timpang. Oleh karenanya pengelolaan  sampah perlu ditangani dari hulu-hilir melalui penerapan slogan reduce, reuse, dan recycle serta pelibatan masyarakat melalui bank sampah dan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga

Sunday, December 01, 2024

eLearning: Panduan Dunia Digital dan Internet

 


eLearning: Panduan Dunia Digital dan Internet

Penulis: Robin Mason dan Frank Renie

Penerbit Baca!, Yogyakarta 2010

ISBN 979-2462-29-5

206 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan dari buku eLearning  yang diterbitkan Taylor-Fracis, London-New York, 2009. Buku ini diterbitkan ketika elearning masih belum sepesat sekarang. Di Indonesia sendiri, elearning dalam bentuk “sistem pembelajaran jarak jauh” sudah diinisiasi antara lain oleh Universitas Terbuka (UT) sejak tahun 1984-an, namun perkembanganya meluas secara massif ketika dunia mengalami pandemi COVID 19. Meski buku ini diterbitkan lebih dari satu decade lalu, namun menurut saya,  isinya terutama terkait dengan aspek pedagogi atau metode pembelajaran masih relevan sampai sekarang. Apalagi tulisan-tulisan  terkait dengan aspek pedagogi elearning versi pengalaman Indonesia masih relative terbatas.

Dalam buku ini, dikupas bahwa pembelajaran elearning seringkali mengalami drop out yang tinggi. Oleh karena itu terdapat beberapa poin penting  agar pembelajaran eLearning bisa berjalan sukses yakni:

1.     Para peserta belajar harus mempunyai motivasi tinggi dengan dukungan perangkat komunikasi (hardware dan software) yang memadai.

2.     Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan para peserta (pendekatan student based learning atau problem based learning atau contextual based learning). Materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta akan meningkatkan motivasi belajar mereka.

3.     Penggunaan teknologi elearning asynchronous dimana peserta berinteraksi dengan pelatih/pengajar menggunakan media yang tidak harus berkomunikasi secara langsung (misal melalui CD ROM, you tube, bahan ajar di internet) akan lebih efektif bila disertai dengan pembelajaran secara synchronous dimana peserta berinteraksi dengan pengajar secara langsung misalnya melalui online discussion, live streaming, maupun pertemuan tatap muka langsung (sistem blended atau campuran  antara online dan offline).

4.     Materi pembelajaran secara digital perlu disusun agar interaktif dan merangsang minat belajar peserta, singkat dan padat --proporsional dalam arti tidak terlalu banyak konten namun mampu mencakup kompetensi yang ingin diajarkan--,  mudah diakses/didownload dengan device yang dimiliki peserta, dan user friendly. Materi pembelajaran ini disusun dengan memperhatikan aspek quality insurance dan continues improvement.

5.     Peran pelatih/dosen/tutor lebih bersifat sebagai fasilitator. Pelatih membimbing peserta untuk menemukan sumber pembelajaran baru misal dengan mengajar secara interaktif, memberikan referensi pendukung, memfasilitasi proses diskusi, memberikan konseling kalau peserta mengalami kesulitan belajar, memberikan cara pandang baru dll. Semakin interaktif dan intens seorang pengajar/pelatih akan berkorelasi dengan semakin kuatnya  motivasi belajar para peserta.

6.     Peran peserta belajar, selain belajar secara mandiri maupun belajar dari para pengajar, adalah belajar dari peserta lain (peer to peer). Dari berbagai penelitian, peer to peer review dalam bentuk belajar bersama, pembuatan tugas bersama, memberikan feedback dan penilaian untuk peserta lain telah meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Dalam buku ini juga dibahas beberapa istilah kunci dalam elearning, baik yang terkait dengan istilah metode pembelajaran maupun istilah hardware dan software yang disertai pula dengan beberapa web link bila pembaca ingin mendapatkan informasi yang lebih dalam. (walaupun ketika saya coba, beberapa web link sudah out of date).

Di akhir buku ini, penulis juga menyertakan resume dari sepuluh bacaan tentang elearning yang mereka rekomendasikan. Resume ini sangat menarik bagi saya, karena mencari informasi-informasi tentang dinamika elearning di dalam negeri nampaknya masih sangat sedikit.

Secara umum buku ini menarik dibaca untuk pegiat pendidikan khususnya elearning. Hasil penerjemahan   juga baik sehingga kalimatnya mudah dipahami. Salah satu kritik saya terhadap buku ini adalah struktur penulisan buku ini lebih menekankan pada istuilah-istilah elearning. Sedangkan artikel pengantar yang mengupas tentang pembelajaran elearning-nya agak kurang terstruktur.

Thursday, November 28, 2024

Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

 



Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

Penulis; Hamsad Rangkuti

Penerbit Senja, Yogyakarta 2016

ISBN 978 602 391 174 5

224 halaman

 

Buku ini merupakan kumpulan 15 cerita pendek  yang ditulis oleh Hamsad Rangkuti. Cerpen tersebut pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Harian Kompas, Majalah Kartini dan Majalah Horizon periode 1979-1999.

Hamsad Rangkuti merupakan seorang penulis cerpen yang mumpuni. Dalam banyak cerpennya dia banyak bercerita tentang kaum miskin dengan cara yang satire (ironi, sindiran) dan muram. Demikian pula dalam buku ini, cerita tentang kaum miskin mendominasi karya-karyanya. Kaum miskin seringkali digambarkan sebagai kaum yang lugu dan sering jadi korban sistem yang ada. Namun terkadang kaum miskin juga sering melakukan tindakan yang tidak terduga karena tekanan kemiskinan yang dideritanya.

Cerpen Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah yang menjadi judul buku ini, berkisah tentang seorang remaja 16 tahun yang rela menjual keperawanannya demi mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit. Sebuah pengorbanan yang sangat besar di tengah ketidakberdayaan… tapi ketika dia mengorbankan diri seperti itu, masih ada pihak-pihak yang mencoba mengais untung dari si gadis lugu. Si Gadis nekat menjual kesuciannya, karena sadar plus putus asa bahwa dunia sekarang adalah dunia penjual dan pembeli. Kita terkadang tidak bisa berpegang pada hal suci dan sacral dalam dunia yang materialis ini…

Dalam buku ini terdapat dua cerpen tentang kehidupan politik yang relevan dengan saat in dimana Indonesia sedang hajatan Pilkada. Satu cerpen bercerita tentang seorang gelandangan yang sukses berkarir jadi politisi bermodal penampilan dan teriakan. Cerpen politik yang lain bercerita bahwa para politisi dimanapun selalu mementingkan jumlah suara dari pendukungnya, dan bukan mengutamakan aspirasi dari pendukungnya. Suatu ironi yang kongkrit di saat ini, di saat dunia politik kita dikuasai oleh orang-orang rakus, tidak bermoral dan tidak punya cukup kompetensi.

Wednesday, November 13, 2024

Sagu Papua untuk Dunia

 


Sagu Papua untuk Dunia

Penulis Ahmad Arif

Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta 2019

ISBN  978-602-481-199-0

208 halaman

Buku ini ditulis oleh Ahmad Arif seorang jurnalis harian Kompas yang melakukan penelusuran terhadap tanaman sagu sebagai potensi sumber karbohidrat di masa depan.

Sagu merupakan tanaman yang bisa tumbuh di lahan gambut dan rawa-rawa. Selain di Indonesia, sagu ini juga ditemukan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Papua Nugini. Di Indonesia sendiri tanaman sagu banyak dijumpai di Tanah Papua dan Maluku seperti yang dituliskan oleh Alfred Wallace. Meski demikian dari berbagai tulisan dalam ekspedisi Marco Polo, sagu juga pernah jadi makanan bagi masyarakat di Sumatra.  Sedangkan di Jawa terdapat lukisan pohon sagu di relief candi dan terdapat nama-nama makanan yang berbahan baku sagu. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya sagu juga pernah tersebar ke Jawa dan Sumatra walau mungkin saat ini populasi pohon sagu di daerah Jawa dan Sumatra tinggal sedikit.

Di saat terjadi peralihan makanan pokok ke beras di berbagai daerah termasuk Papua, kebutuhan beras nasional melambung sangat tinggi dan tidak mampu dipenuhi dari produksi beras domestik sehingga kebijakan impor beras menjadi kejadian yang selalu berulang hampir setiap tahun. Selain beras, Indonesia juga mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap impor gandum. Semakin maraknya budaya makan roti, mie instan dan sejenisnya Selama 30 tahun terakhir impor gandum meningkat 500% atau lima kali lipat. Di tahun 2017/2018 impor gandum Indonesia mencapai 12,5 juta ton. Adanya ketergantungan terhadap beras dan gandum sebagai sumber karbohidrat ini, berkorelasi dengan munculnya penyakit seperti diabetes karena beras mempunyai kandungan glikemik tinggi dan mudah dicerna menjadi glukosa dalam darah.Dari sisi sosial, ketergantungan terhadap beras yang didatangkan dari luar daerah berpotensi menimbulkan kerawanan pangan ketika supply beras dari luar terganggu. Selain itu masyarakat yang dulu bisa menghasilkan pangan sagu secara swasembada, sekarang sering haruis menukarkannya ke beras supaya anak-anaknya mau makan.

Di balik kesalahan kebijakan yang mendorong beras-isasi (termasuk bantuan Raskin/Beras untuk Keluarga miskin), Indonesia sebenarnya menyimpan potensi sumber karbohidrat   yang sangat besar dalam bentuk sagu. Diperkirakan terdapat 5,5 juta hektar lahan sagu di Indonesia dan 5,2 juta hektar berada di tanah Papua. Namun pemanfaatan sagu di Papua  masih kurang dari 1% dan hanya untuk pemenuhan kebutuhan local.

Di level internasional, sagu dengan kandungan gizinya yang bagus (seperti glikemik rendah, bebas gluten dan memperlancar pencernaan) sebenarnya mempunyai potensi pasar yang cukup tinggi namun Indonesia belum bisa memanfaatkan dengan optimal. Pada tahun 2016 Indonesia bisa mengekspor pati sagu 7.700 ton per tahun. Hal ini sangat kontras dengan Malaysia yang bisa mengekspor 47.000 ton pertahun. Padahal luas lahan sagu di Malaysia hanya kurang dari 1% lahan sagu milik Indonesia.



Di saat dunia dilanda isu perubahan iklim, tanaman sagu sendiri sebenarnya punya beberapa kelebihan untuk dibudidayakan secara lebih intensif, yakni: (1) mampu beradaptasi dengan iklim dan musim, (2) bisa dipanen saat musim kemarau maupun musim hujan, (3) tahan penyakit, tidak memerlukan pupuk kimia dan pestisida kimia, (4) sistem perakaran mampu menangkap logam berat dan polutan, (5) dapat tumbuh di rawa payau, (6) dapat menahan abrasi Pantai, (7) produktivitas tinggi Dimana satu pohon sagu diperkirakan bisa menghasilkan 200-400 kg pati basah, (8) bisa menyerap karbon, (9) bisa dibudidayakan tanpa harus monokulturisasi (10) bisa menjadi sumber income bagi masyarakat

Melihat benefit sosial ekonomi dan ekologi dari pengembangan sagu, maka pada sekitar 2014 muncul bebetrapa inisiatif pengembangan industry sagu seperti di Kabupaten Meranti – Riau. Di Tanah Papua terdapat tiga Perusahaan yang menjajaki pengembangan sagu  yakni National Sago Prima (NSP) di Jayapura, Perhutani (konsesi 20.000 hektar) dan PT ANJAP (konsesi 40.000 hektar) di Sorong Selatan. Dari 3 perusahaan tersebut hanya PT ANJAP yang beroperasi dengan produksi tahun 2018 sekitar 1.894 ton.

Meskipun prospek industry sagu cukup tinggi namun bisnis sagu tidak selamanya mulus. Dari perkiraan 7 tahun balik modal, investasi PT ANJAP sebesar 77 juta US$ hingga tahun ke-8 masih merugi. Beberapa tantangan dalam pengembangan industry sagu ini antara lain: (1) minimnya infrastruktur pengangkutan batang sagu, (2) terbatasnya supply energi, (3) kondisi sagu alam yang membutuhkan modifikasi mesin, (4) konflik tenurial dengan Masyarakat adat sehingga perlu biaya tambahan.

Sdr Ahmad Arif sebagai penulis menyebutkan bahwa pengelolaan industry sagu alam oleh PT ANJAP memang masih menyisakan banyak kritik seperti perlindungan hak Masyarakat adat, dampak pergeseran budaya masyarakat yang semakin tergantung produk luar, dampak perubahan pola konsumsi masyarakat local dan gizi buruk. Meski demikian PT ANJAP telah berhasil menciptakan lapangan kerja untuk Sebagian Masyarakat, dan berhasil memanfaatkan tanaman sagu secara lebih produktif. Sehingga inisiatif industry sagu seperti PT ANJAP bisa dikembangkan dan terus disempurnakan sebagai alternatif untuk peningkatan kesejahteraan Masyarakat di Tanah Papua.

Bagi saya pribadi selaku pembaca, selain isu perlindungan masyarakat adat dari sisi tenurial dan budaya, isu lain yang perlu dipecahkan adalah strategi untuk menjaga kelestarian ekologis dan ekonomi dari ekstraksi  industry  sagu ini. Berapa potensi tegakan sagu yang ada? Berapa kecepatan tumbuhnya? Berapa jatah tebangan maksimum supaya tidak over eksploitasi? Kasus penggunaan teknologi pembalakan kayu dari alat konvensional menjadi mesin alat berat di era HPH tahun 1970-1990-an yang mengakibatkan deforestasi dan degradasi hutan secara masif, hendaknya menjadi yang pembelajaran agar pemanfaatan sagu perlu berhati-hati agar tidak menimbulkan kehancuran hutan sagu yang pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan dan budaya masyarakat asli Papua.

Secara garis besar, beberapa temuan kritis yang ditulis di buku ini senada dengan tulisan tentang kasus Perusahaan sagu PT ANJ yang dimuat dalam  Jurnal Wacana edisi tahun 2020.

Sunday, October 27, 2024

Lelucon Para Koruptor; Kumpulan cerpen

 

Lelucon Para Koruptor; Kumpulan cerpen

Penulis Agus Noor

Penerbit Diva Press

Yogyakarta, 2017

ISBN 978-602-391-472-2

272 halaman

 

Buku ini merupakan Kumpulan cerpen Agus Noor, seorang cerpenis ulung alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Agus Noor yang bergelimang dengan berbagai pernghargaan atas karyanya, oleh Korie Layun Rampan dimasukkan dalam kelompok sastrawan angkatan 2000.

Dalam buku setebal 272 halaman ini, terdapat 12 cerpen. Agus Noor secara humor satire  (sindiran dengan cara menertawakan) terhadap fenomena korupsi yang semakin merebak di negeri tercinta. Saking banyaknya koruptor di negeri ini maka koruptor ini menjadi asset negara yang harus dikelola dengan baik dan bijak. Karena kalau semua koruptor dihukum maka akan banyak pejabat, politisi, birokrat dll yang akan masuk penjara. Lalu siapa yang akan mengurusi negeri ini? So, korupsi ndak apa-apa asal tidak berlebihan. Berhentilah korupsi sebelum kenyang…Wkwkwkw

Meski demikian Agus Noor juga murka  ketika melihat kelakuan koruptor yang makin rakus, buas dan tak punya etika. Semua di-embat tanpa  bas abasi melalui permainan kasar. Namun mereka bergegas sembunyi dan memasang kedok diri ketika korupsinya terendus. Jadilah koruptor yang berintegritas dan ksatria, jangan cengeng dan sibuk pencitraan diri, teriaknya… sebuah teriakan yang senada dengan teriakan Rocky Gerung dalam sebuah channel youtube-nya.

Kehidupan yang korup biasanya dekat dengan kehidupan politisi. Dalam cerpen ini juga disinggung cerita dengan nama samaran para koruptor. Meski disamarkan, kita akan mudah menebak nama asli para politisi yang dipaksa “bersekolah kembali” karena kasus korupsi. Istilah apel malang dan apel Washington, membuat kita teringat kisah mantan artis yang jadi politisi kemudian tersandung kasus korupsi. Dalam cerpen ini juga ditampilkan cerita yang mengulik kehidupan politisi yang munafik, licik dan egois. Ibarat kisah “Bila pemimpin itu politikus, ia akan menyelesaikan masalah dengan cara membuat masalah baru, agar masalah lama tertutupi”.

Selain korupsi dan kehidupan politisi, beberapa cerpen berkisah tentang kehidupan kaum miskin. Oleh sistem dan struktur ysng ada, mereka dipaksa dhidup dalam kemelaratan dan penderitaan. Mereka tidak cukup punya tenaga untuk melawan sehingga mereka hanya bisa berkompromi dengan situasi yang ada. Ajaran spiritual yang pasrah, dan nerimo menjadi salah satu jalan pelarian kompromi tersebut.

Secara umum cerpen2 ini relative ringan dan mudah dinikmati. Meski terkadang kita kemudian seperti didorong untuk berefleksi dengan diri kita dan lingkungan kita. Asda berbagai pesan moral yang bisa dipetik dari cerpen-cerpen yang satiris humoris ini.