Wednesday, March 12, 2025

Romo Casutt,SJ dalam senyap bangun Pendidikan Vokasi Indonesia

 


Romo Casutt,SJ dalam senyap bangun Pendidikan Vokasi Indonesia

Penulis: A Bobby Pr.

Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2018

ISBN 978-602-412-352-9

314 halaman

 

Romo Casutt SJ merupakan seorang Pastor ordo Serikat Jesus (SJ) kelahiran Swiss 24 Januari 1926. Sejak kecil dia mempunyai ketertarikan untuk menjadi misionaris. Untuk mewujudkan cita-citanya, selama tahun 1945-1955  beliau menempuh Pendidikan di  Seminari dan Pendidikan Teologi di berbagai kota di Eropa.

Sejak tahun 1957, Beliau menjalankan tugas misionaris di Indonesia dengan menjadi guru di Seminari Mertoyudan – Magelang (1957-1965). Beliau kemudian menjadi Asisten Direktur dan Direktur Asrama Realino  Yogyakarta (1965-1971). Selama di asrama Realino beliau membangun semangat toleransi dengan menerima berbagai mahasiswa non Katholik menjadi penghuni asrama.Pada kurun waktu 1971-2001 beliau diangkat menjadi Direktur Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Kemudian pada periode 2003-2004 menjadi Direktur ATMI CIkarang. Pergulatan beliau di bidang pendidikan didasari panggilan hidupnya tidak hanya untuk berdoa saja, tetapi juga berkarya untuk sesama khususnya membantu mereka yang miskin dan terpinggirkan.

ATMI Surakarta dibangun tahun 1964 untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil guna mendukung industrialisasi saat itu. Sewaktu Romo Casutt menjabat Direktur ATMI Surakarta, pada mulanya ATMI sering dipandang sebelah mata oleh Masyarakat  karena hanya menghasilkan diploma dan tidak menghasilkan sarjana. Namun perlahan-lahan ATMI Surakarta berkembang menjadi akademi yang bergengsi karena alumninya berkualitas dan terserap di dunia tenaga kerja bahkan jadi rebutan banyak perusahaan industri.  

Beberapa kunci keberhasilan ATMI menghasilkan alumni berkualitas antara lain dipengaruhi adanya konsep Pendidikan vokasi yang mengadopsi dan mengadaptasi konsep Pendidikan Vokasi dari Swiss yang sudah mapan, seperti:

  1. Calon siswa yang direkrut mempunyai kualitas yang baik
  2. Guru dan instruktur berkualitas yang didukung dengan pengembangan kapasitas SDM yang memadai.
  3. Kelas yang intensif 25-40 orang
  4. Kurikulum dengan porsi 30 % teori dan 70% praktik
  5. Kurikulum yang dinamis dan disesuaikan dengan kebutuhan industry (konsep link and match dengan dunia usaha dunia industry)
  6. Adanya konsep teaching factory (belajar di pabrik/praktek usaha) sehingga siswa dituntut untuk belajar secara serius agar produk prakteknya laku di pasaran.
  7. Teknologi dan peralatan praktek (misal mesin-mesin) yang up to date bahkan lebih modern daripada milik Perusahaan Industri

 

Kepada para siswa, Romo Casutt dan tenaga Pendidik di ATMI menanamkan pentingnya Competence (keahlian/ketrampilan), Conscience (kesadaran adanya tanggung jawab moral) dan Compassion (kepedulian terhadap sesama). Romo Casutt dkk secara tegas membangun sikap mental para siswa agar:

  • Disiplin
  • Tanggungjawab
  • Kerja keras
  • Inovatif
  • Jujur

Pihak ATMI memberikan sanksi tegas untuk siswa atau karyawan yang tidak jujur, tidak mau bekerja keras, tifak bertanggung jawab  atau tidak displin. Penanaman sikap mental secara intensif ini berhasil membentuk karakter unggul bagi para siswa dan alumninya. Para alumni tidak hanya mempunyai ketrampilan atau kompetensi teknis, tapi mereka juga dibekali dengan sikap mental yang professional dan tangguh.

Keuangan ATMI selain dari iuran siswa juga memperoleh dukungan dari berbagai Lembaga penyumbang seperti berbagai Lembaga donatur dari Eropa. Romo Casutt mempunyai peran strategis dalam mencari sumber pendanaan dari donatur, karena iuran dari siswa terkadang tidak mencukupi karena sebagian siswa juga berasal dari kalangan miskin.  

Untuk menjamin sustainabilitas keuangan Lembaga ATMI, Romo Casutt kemudian mengembangkan praktek usaha Dimana para siswa diarahkan untuk praktek dan menghasilkan produk yang bisa dijual di pasaran seperti Filling cabinet, tempat tidur rumah sakit dan lain-lain. Romo Casutt terjun sendiri membangun jejaring pasar dengan toko-toko. Pada mulanya produk ATMI kurang laku karena dianggap mahal. Tapi lama-kelamaan produk ATMI semakin diterima di pasar karena harga mahal tapi kualitasnya tidak kalah dengan produk impor dari Eropa.

Kualitas alumni yang tinggi, membuat alumni ATMI sering jadi rebutan bahkan sebelum mereka lulus. Romo Casutt kemudian mengatur agar terdapat distribusi yang adil kepada para Perusahaan dengan memperhatikan perlakuan Perusahaan kepada para karyawannya. Saat ini banyak alumni ATMI Surakarta yang kemudian duduk di jabatan strategis berbagai Perusahaan. Hal ini tidak terlepas dari profesionalitas dari sisi kompetensi dan sikap mental yang telah mereka peroleh selama kuliah di ATMI.

Keberhasilan ATMI Surakarta ini kemudian menumbuhkan gagasan untuk mengembangan ATMI di daerah industry di Cikarang. ATMI Cikarang ini terbangun dengan dukungan sumbangan dari para pengusaha maupun donator dari Eropa (untuk pengadaan mesinnya). Diharapkan pendirian ATMI Cikarang ini akan bisa mendukung penyediaan tenaga terampil guna memenuhi kebutuhan industri di masa depan.

Kepiawaian Romo Casutt dalam pengembangan Pendidikan vokasi, membuat beliau direkrut menjadi salah seorang penasehat di Kementerian Pendidikan untuk membenahi sekolah vokasi. Beliau terus melakukan advokasi untuk mendukung keberlanjutan dan pembenahan sekolah vokasi khsusnya Sekolah Teknik Menengah (STM).

Romo Cassut yang berperan besar dalam membangun dan membesarkan ATMI Surakarta dan ATMI Cikarang meninggal dunia tahun 2012 dan dimakamkan di Ungaran-Semarang. Inisatif yang dibangun Romo Cassut di ATMI Surakarta dan Cikarang sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat berharga untuk pembenahan sekolah vokasi di Indonesia, tapi sayangnya nampaknya pemerintah dan banyak sekolah vokasi nampaknya kurang tertarik dan lebih banyak mengejar aspek kuantitas yang ujung-ujungnya malah menciptakan pengangguran terbuka atau setengah terbuka….

Thursday, January 09, 2025

Panggilan Rasul (Kumpulan Cerpen)

 


Panggilan Rasul (Kumpulan Cerpen)

Penulis Hamsad Rangkuti

Penerbit Diva Press

Yogyakarta 2017

ISBN  978-602-407-041-0

172 halaman

 

Buku Kumpulan Cerpen karya Hamsad Rangkuti ini berisi 14 cerpen dengan tema budaya Islam.

Cerpen Salam Lebaran berisi cerita Suherman yang menguji kesetiaan Sri, kekasihnya. Di saat bulan puasa, Suherman mudik ke kotanya Sri dan menyamar menjadi seorang pria yang menjelek-jelekkan nama Suherman. Namun Sri tidak bergeming, dan berakhir happy ending dimana saat lebaran, Suherman diperkenalkan dan diterima oleh keluarga besar Sri.

Cerpen Ayahku seorang guru mengaji, berkisah tentang pak Achmad seorang pembuat kasur yang merangkap menjadi guru mengaji yang dibayar seikhlasnya. Pak Achmad mengalami dilemma karena pesanan kasur semakin berkurang dan anak-anak mulai jarang mengaji. Pak Sanusi, seorang guru mengaji yang lain, kemudian banting stir menjadi pembaca doa di kuburan. Dia diupah oleh Keluarga yang sedang ziarah kubur untuk membacakan doa yang ditujukan untuk almarhum yang sudah meninggal. Pak Sanusi bisa mengumpulkan uang yang memadai dari menjual jasa membaca doa tersebut. Bahkan tidak jarangg pak Sanusi memperoleh tips dari kegiatan tersebut. Pak Achmad semula mengikuti jejak pak Sanusi, namun Pak Achmad menekuni kembali menjadi guru ngaji dari rumah ke rumah karena menyadari mengajar mengaji untuk orang yang masih hidup akan lebih bermakna daripada hanya berdoa untuk orang yang sudah meninggal.

Cerpen Lailatul Qadar, bercerita tentang suasana bulan puasa indah dimana orang sering berbuka dan sahur bersama. Di bulan puasa ini orang juga rajin beribadah untuk mendapatkan berkah Lailatul Qadar agar ibadah yang dilakukannya setara nilainya dengan ibadah selama seribu bulan. Dalam cerpen ini dikisahkan bahwa seorang seniman, terkadang tidak bisa berpegang pada idealisme semata. Ada kalanya tekanan ekonomi, membuat seorang seniman berkompromi dengan situasi.

Cerpen Santan Durian, berkisah tentang tradisi bertukar makanan untuk berbuka. Selain kolak, santan durian merupakan salah satu makanan favorit berbuka puasa. Namun bagi si tokoh, santan durian menimbulkan trauma tersendiri karena menimbulkan konflik keluarga. Sebagian dahan pohon durian pak Manaf Sebagian menjorok ke pekarangan ayah si tokoh. Pak Manaf menuduh ayah si tokoh mengambil durian yang jatuh di pekarangannya. Konflik itu sampai puncaknya ketika pak Manaf membuang kiriman santan durian kiriman dari Keluarga si Tokoh. Trauma itu senantiasa muncul ketika si tokoh mencium aroma bau santan durian.

Cerpen Malam Takbir, berisikan cerita tentang seorang pria tua yang sedang  beristirahat di sebuah warung untuk menunggu saat berbuka puasa di saat hari puasa terakhir. Setelah menunaikan ibadah shalat maghrib, pria tersebut menikmati makan di warung. Tiba-tiba sebuah shuttlecock yang sedang dimainkan dua anak perempuan di halaman warung jatuh ke piring nasinya. Laki-laki tersebut dengan santai memberikan shuttlecock kepada anak perempuan tersebut. Anak Perempuan tersebut merasa bersalah, minta maaf dan pulang ke rumahnya. Tak lama kemudian anak Perempuan tersebut datang Kembali ke warung bersama ibunya untuk meminta maaf dan memberikan sejumlah uang pengganti kepada pak tua tersebut, karena mereka kuatir pak tua akan sakit setelah memakan nasi yang tercemar kotoran shuttlecock. Pak tua tersebut pada mulanya menolak pemberian tersebut. Namun hatinya luluh ketika disadarkan uang itu merupakan rejeki yang dikirimkan Allah untuk dirinya dan keluarganya.

Cerpen Panggilan Rasul, berkisah tentang sebuah keluarga kaya punya anak tiga laki-laki di sebuah kampung. Sebagai muslim yang taat mereka mengikuti tradisi untuk menyunatkan anak laki-lakinya. Namun malang, sunat untuk anak sulung dan  anak kedua yang dilakukan di dukun sunat berakhir tragis karena keduanya mengalami pendarahan yang luar biasa. Bahkan muncul rumor bahwa anak-anak tersebut meninggal karena guna-guna. Oleh karena itu keluarga tersebut harap-harap cemas ketika akan menyunatkan anak ketiga. Mereka kemudian mencari dokter sunat yang berpengalaman. Alhamdulillah proses sunat untuk anak ketiga berjalan lancar  dan berakhir bahagia.

Cerpen 4 buku 40 hari, berisi kisah seorang pensiunan pegawai negeri yang telah beranak cucu. Ketika istri pertama meninggal, pak tua kemudian melakukan acara ritual doa termasuk doa setelah 40 hari meninggalnya istri pak tua tersebut. Pak tua tersebut kemudian menikah lagi, namun tak berapa lama istri barunya meninggal duluan. Hal tersebut berulang saat dia menikah dengan istri ketiga dan keempat. Sehingga  pak tua tersebut mempunya 4 buah buku doa yang diterbitkan untuk menghormati istri-istrinya. Setelah ditelusur, pak tua menikah ternyata bukan untuk pemenuhan kebutuhan biologis semata, namun beliau menikah lagi agar bisa menyantuni janda atau perempuan yang dinikahinya melalui uang pensiunnya.

Cerpen Pedagang Kacang dari Berenun, merupakan kisah pertemuan si tokoh dengan seorang penjual kacang rebus yang biasa mangkal di malam hari di sebuah Taman di kota Sigli. Kacang yang lezat dan special karena dibuat dari kacang tanah pilihan berbiji 3 atau 4. Pak tua penjual kacang rebus tadi merupakan warga  yang berasal dari Berenun, sebuah daerah asal Daud Beureuh, tokoh karismatik Aceh. Ketika keesokan harinya sedang di hotel, si tokoh dikejutkan oleh seseorang yang mengantarkan kamera mahal miliknya yang semalam tertinggal di tempat pedagang kacang rebus. Di balik kesederhanaannya, pak tua penjual kacang rebus ternyata memiliki watak jujur yang saat ini semakin susah ditemukan.

Cerpen Antena, berisi kisah tentang seorang pak tua yang membeli antenna di bulan puasa, supaya dia bisa menikmati siaran langsung shalat tarawih yang dilaksanakan di Majidil Haram. Pak tua tersebut merupakan seorang marbot/penjaga masjid yang tekun dan penuh keikhlasan menjalankan tugasnya. Suatu saat dia mendapat rejeki berhaji, atas sponsor seorang donatur. Selama berhaji di tanah suci, dia mengalami berbagai peristiwa spiritual yang membuat hatinya merenung dan semakin dekat dengan Khaliq-nya.

Cerpen Malam Seribu Bulan, cerpen ini bercerita tentang Ibnu Thalib seorang perantau dan penjual obat keliling di ibukota. Di kampung halamannya yang budaya relijiusnya tinggi, setiap orang berbondong-bondong beribadah di bulan puasa untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Guru agama di kampung menafsirkan seseorang yang mendapatkan berkah malam Lailatul Qadar, akan membuat alam sekitarnya tunduk ke dia. Pohon kelapa akan merunduk kepadanya, agar dia bisa memetic kelapa muda dengan mudah. Karena Ibnu tinggal di Jakarta dan pohon kelapa jarang ditemukan, maka dia menggantikan pohon kelapa dengan Tugu Monas. Ibnu menjelang akhir bulan puasa rajin tirakat di Tugu Monas, dengan harapan Monas akan menunduk padanya dan merelakan emasnya.

Cerpen Karjan dan kambingnya, beerkisah tentang Karjan seorang gelandangan yang tinggal di gubug pinggiran rel kereta. Dia terkadang memburuh sebagai pemelihara rel dari rumput yang mengganggu. Di bulan puasa, Karjan memperoleh hadiah seekor kambing dari Parman, rekannya sesama gelandang yang sudah berhasil secara ekonomi. Kambing tersebut dihadiahkan supaya Karjan bira merayakan lebaran dan berpesta kambing guling dengan teman-teman di gubugnya. Ketika Karjan membawa kambing tersebut dan melewati pos keamanan, petugas keamanan menyita kambing tersebut dan Karjan ditahan dengan tuduhan mencuri kambing tersebut. Petuigas keamanan beranggapan bahwa Karjan adalah gelandangan miskin sehingga tidak mungkin membeli atau mempunyai seekor kambing. Sebuah cara berpikir yang menyederhanakan persoalan secara berlebihan.

Cerpen si Lugu dan si Malin Kundang, bercerita tentang seorang petani tua yang ingin mengunjungi anaknya di sebuah komplek mewah di kota besar. Pak tua tersebut membawa berbagai hasil kebun dan ayam sebagai oleh-oleh untuk anaknya. Tapi rencana kunjungan tertahan oleh Satpam dan polisi yang tidak percaya bila pak tua tersebut punya anak di komplek mewah tadi. Satpam tidak membolehkan paktua masuk ke komplek tersebut bahkan ayam yang dibawanya dibunuhnya pula. Pak tua menyumpah-nyumpah dan mengancam si polisi akan jadi patung seperti si Malin Kundang. Untunglah pak tua tersebut kemudian bertemu dengan anaknya yang sedang menuju gerbang perumahan setelah pergi dari luar. Pak tua diajak ke rumah anaknya dan diajak keliling-keliling kota. Saat keliling kota, pak tua terkaget-kaget melihat patung polisi di persimpangan jalan. Dia mengira polisi yang disumpahinya telah menjadi patung seperti hikayat Malin Kundang.

Cerpen Hujan dan Gema Takbir, cerpen ini berkisah tentang sebuah keluarga di ibukota yang mempunyai pembantu bernama Iyem. Setiap lebaran Iyem pulang kampung. Menjelang lebaran tahun lalu, Iyem minta ijin mudik berlebaran di kampung namun tidak diijinkan oleh majikannya tersebut. Iyem menjadi sangat sedih karena tidak bisa pulang, dan kekasihnya meninggalkan dirinya karena terpikat pada wanita lain yang bareng mudik saat itu. Lebaran tahun ini Iyem minta ijin untuk mudik. Majikannya dengan penuh pengertian mengijinkan Iyem mudik karena tidak ingin merusak kebahagiaan Iyem yang ingin berlebaran di kampung. Majikannya juga mengijinkan Iyem mudik karena ingin menebus dosa kesalahan tidak mengijinkan Iyem mudik tahun lalu. Setelah mudik ke kota Kembali, Iyem bercerita dengan bahagia bahwa ketika mudik, di tengah terpaan hujan dan gema takbir, seorang pria menyatakan cintanya pada Iyem. Pria tersebut merupakan seorang sopir keluarga yang tinggalnya berdekatan dengan majikan Iyem. Akhirnya majikan sopir tersebut mewakili Sopir melamar Iyem yang diwakili oleh keluarga majikannya. Sebuah akhir bahagia dan sangat Indah.

Cerpen Reuni, cerita ini merupakan kelanjutan cerpan  Malam Takbir, Cerpen ini berisikan cerita tentang si tokoh yang sedang berkunjung ke warung dan bertemu Kembali dengan pak tua yang tahun lalu sempat ditemui ketika berbuka puasa. Mereka kemudian diundang berbuka bersama oleh keluarga anak perempuan yang dulu shuttlecock-nya jatuh ke piring nasi pak tua. Sebuah reuni yang Indah. Namun ternyata semua itu hanya halusinasi karena warung itu beserta musholanya ternyata sudah roboh.

 

Saya menikmati membaca cerpen Hamsad Rangkuti. Cerita dengan alur dan bahasa sederhana, namun penuh dengan pesan moral didalamnya.

 

 

 

Monday, December 16, 2024

Kiat Menjadi Diktator

 


Kiat Menjadi Diktator

Penulis Mikal Hem

Penerbit CV Marjin Kiri

Tangerang, 2023

ISBN 978-602-0788-46-3

191 halaman

 

Buku ini diterjemahkan oleh Irwan Syahrir dari buku  berbahasa Norwegia berjudul Kanskje jeg kan bli dictator en handbok karya Mikal Hem, yang terbit tahun 2012. Buku ini berisi resep merebut kekuasaan, mempertahankannya dan mengakhiri jabatan sebagai diktator. Secara  satire komedi, buku ini menyindir kelakuan para diktator dari berbagai belahan dunia seperti Afrika, Asia, Amerika Latin, Eropa Timur, dan Eropa Barat ketika memegang tampuk kekuasaan.

Para diktator memperoleh kekuasaan melalui beberapa cara. Di negara-negara yang situasi politik tidak stabil seperti sebagian negara Afrika, perebutan kekuasaan melalui kudeta merupakan hal yang sering terjadi. Antara tahun 1952 sd 2000, telah terjadi 85 kudeta di 33 negara Afrika. Biasanya kudeta ini terjadi di negara yang miskin atau pertumbuhan ekonomi rendah, negara yang bersangkutan tidak punya ketergantungan politik terhadap negara lain, dan kekuasaannya terpusat (sentralistik). Beberapa kunci sukses sebuah kudeta antara lain: adanya dukungan kekuatan militer, adanya dukungan luar negeri, petakan orang-orang penting pemegang kekuasaan yang harus diamankan atau dinetralisir, kuasai media massa sebagai corong kekuasaan.

Cara kedua untuk memperoleh kekuasaan adalah melalui perang gerilya seperti terhadap penjajah seperti yang dilakukan Mao Zedong di Cina atau Paul Kagame di Rwanda yang melawan genocida. Cara ini membutuhkan kesabaran dan seringkali pengorbanan yang besar. Cara ini akan berhasil bila mampu membangun visi yang jelas terkait tujuan perjuangan atau kesadaran akan musuh bersama yang dihadapi, simpati dari masyarakat luas, dukungan internasional, kecakapan dan militansi pasukan militer sehingga sanggup berjuang bertahun-tahun.

Cara ketiga untuk menjadi diktator adalah dengan melalui pemilu yang manipulatif. Biasanya hal ini dilakukan ketika sang diktator sudah memegang tampuk kekuasaan, sehingga untuk memperoleh legitimasi, dia menyelenggarakan pemilu walaupun penuh manipulasi ataupun intimidasi.

Cara keempat untuk menjadi diktator adalah dengan sistem dinasti Dimana tampuk kekuasaan diwariskan kepada anak keturunan atau kerabat yang bertalian darah. Hal ini seperti terjadi di Korea Utara, beberapa negara Arab, Brunai, beberapa negara Afrika maupun beberapa negara Asia Tengah pecahan negara Uni Soviet.

Cara-cara meraih tampuk kekuasaan tersebut tidak ada yang paling baik karena semua terkait dengan situasi  local dan factor pendukungnya. Tapi ada yang perlu diingat bahwa “mendapatkan kekuasaan itu mudah, namun mempertahankan tetap di puncak itu jauh lebih sulit.”

Ketika sudah memegang tampuk kekuasaan, seorang diktator harus mengembangkan strategi untuk mempertahankan kekuasaannya. Beberapa strategi yang dilakukan oleh para diktator tersebut antara lain:

·        Mengendalikan, membatasi gerak dan kalau perlu menghilangkan oposisi.

·        Menyelenggaraan pemilu agar memperoleh legitimasi bahwa pemerintahannya demokratis. Meskipun pemilu dilakukan secara manipulative dan intimidatif.

·        Indoktrinasi tentang keberpihakannya kepada rakyat dan indoktrinasi ini dimulai sejak anak-anak di bangku sekolah.

·        Membangun ajaran propaganda bahwa kita adalah ras terunggul seperti yang terjadi di Korea Utara sehingga seorang diktator dibutuhkan untuk menjaga keunggulan ras tersebut.

Seorang diktator hendaknya bisa meresap ke segenap tatanan masyarakat  sehingga muncul kultus individu. Pembuatan patung dan pemasangan gambar  sang diktator di banyak tempat, membuat gelar diri yang gagah, menciptakan sebuah filsafat negara, menulis buku, menggunakan media untuk memuat berita tentang sang diktator, gunakan nama sang diktator untuk jalan atau fasilitas publik, membangun narasi tentang kehebatan atau kesaktian sang diktator, menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi dan menciptakan hukum yang aneh untuk menunjukkan dialah yang berkuasa—itu merupakan cara-cara untuk membangun alam bawah sadar masyarakat akan kehadiran sang diktator.

Sebagian besar diktator mempunyai kecenderungan untuk menumpuk harta secara illegal. Bahkan di negara-negara miskin, diktator akan tetap berusaha mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Biasanya mereka akan menggunakan keluarga dan kroni untuk  mengumpulkan harta ini. Mereka mengumpulkan komisi-komisi dari investor atau proyek-proyek yang akan dilaksanakan di negara tersebut. Demikian pula regulasi usaha dibuat njelimet agar investor akan kesulitan menempuh jalur formal dan lebih suka membayar melalui “jalur belakang”. Pemerintah yang korup semacam ini biasanya sangat tertutup dan tidak mau transparan terhadap kontrak-kontrak dengan para investor. Pemerintah tidak transparan dengan duit yang masuk ke negara dan berapa yang masuk ke kantong diktator dan kroninya. Hal yang ironis adalah negara yang konon demokratis seperti USA seringkali menutup mata terhadap kelakuan para diktator karena pertimbangan bisnis investor US di negara diktator tersebut. “Kleptokrasi” (pemerintahan yang mencuri duit rakyatnya sendiri) merupakan bentuk korupsi paling langsung dan terang-terangan. Cara seperti ini bisa dijalankan bila masyarakat sipil lemah, mayoritas masyarakat berpendidikan rendah dan buta huruf, organisasi kemasyarakatan dan media dikerdilkan,  dan instansi pemerintah dilemahkan supaya tidak berani menantang diktator dan kroninya.

Untuk menjaga keamanan harta yang dikumpulkannya, banyak diktator yang menyimpan dalam bentuk property, barang seni, barang mewah maupun ditabung di bank-bank di negara yang memperbolehkan anonimitas pemiliknya seperti Swiss.

Kebanyakan diktator mempunyai gaya hidup yang sangat boros yang jauh dari tingkat kehidupan masyarakatnya. Belanja di kota metropolitan dunia, baju rancangan desainer terkemuka, pesta mewah, koleksi mobil mewah, kapal pesiar, istana megah dan main perempuan merupakan bagian gaya hidup mereka. Mereka juga membangun mahakarya arsitektural  nan mahal seperti Menara, gereja, villa dan tata kota  yang luar biasa  walaupun seringkali jarang dimanfaatkan  secara optimal.

Sebagian diktator juga memiliki bakat menulis sastrawi yang baik seperti Moamar Gaddafi yang menerbitkan novel tentang daerah perdesaan yang damai dan lingkungan keluarga yang tumbuh kembang dengan sehat. Dia juga menerbitkan Kitab Hijau  yang mencoba mengkombinasikan pandangan Islam, tradisi kesukuan Libya, sosialisme dan nasionalisme pan Arabia. Beberapa diktator yang juga menjadi penulis adalah Niyazov dan Berdimukhamedov (Turkmenistan), Saddam Hussein (Irak), Kim Il Sung dan Kim Jong Il (Korea Utara), Mao Zedong (China) dan Papa Doc Duvalier (Haiti).

Kenikmatan hidup menjadi diktator, dirasakan tidak hanya oleh sang diktator, tetapi juga dirasakan oleh keluarga dan kroni-kroninya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Keluarga dan kroni posisinya lebih enak dari sang diktator karena mereka tidak menjadi sasaran langsung bila ada kudeta. Kroni setia di lingkungan pemerintahan maupun keluarga perlu dipelihara agar dia bisa menjadi tameng pembela bagi sang diktator. Selain manfaat finansial, mereka juga memperoleh manfaat non finansial seperti jabatan politik, jabatan bisnis, kekebalan hukum, gelar akademik, status sosial dll. Dengan fasilitas yang dimilikinya, tidak jarang keluarga atau kroni sang diktator akhirnya terjerumus dalam seks, narkoba dan kekerasan.

Para diktator biasanya menduduki jabatan lebih lama daripada pemimpin negara yang demokratis.  Selama menjabat dia bisa meraup kekayaan, dipuja seperti Tuhan dan mabuk kekuasaan. Namun harus disadari bahwa akhir politiknya bisa datang tiba-tiba.  Bila seorang diktator berhasil mempertahankan kekuasaan tanpa menjadi korban kudeta atau pembunuhan, sang diktator bisa terus berkuasa  sampai mati, atau bisa menyerahkan kekuasaan kepada orang lain. Namun menyerahkan kekuasaan kepada orang lain sering beresiko orang yang diberi kekuasaan akan berkhianat dan menusuk dari belakang.

Akhir hidup para mantan diktator juga beragam. Untuk menghindari balas dendam, banyak mantan diktator yang lebih suka hidup di pengasingan di negara yang mau menerimanya seperti Perancis.  Ada pula beberapa mantan diktator yang mendekam di penjara negaranya seperti Manuel Noriega (Panama) dan Charles Taylor (Liberia). Sedangkan sejumlah mantan diktator meninggal saat bertugas seperti Macias Nguema (Guinea Khatulistiwa), Moammar Gaddafi (Libya), Ceucescu (Rumania), Rafael Trujillo (Republik Dominika), Somoza (Nikaragua). Di berbagai negara, mantan diktator malah diawetkan (dan eberapa diantaranya dipajang), seperti Lenin (Soviet), Mao Zedong (China), Ferdinand Marcos (Filipina), Kim Il Sung (Korea Utara), Georgi Dimitrov (Bulgaria), Klement Gottwalt (Cekoslovakia).

Ada bahaya-bahaya ketika menjabat sebagai diktator. Namun di sisi lain ada banyak hal yang akan dia dapatkan bila semua berjalan lancar. Tahta/Kuasa, Harta dan Wanita akan ada dalam genggamanmu… “Absolute power corrupts absolutely” – Lord Acton 1887.

 

Refleksi:

Melihat pengalaman berbagai negara dictatorial, ada kecenderungan sang dictator menggunakan kroni dan keluarganya untuk meraup harta. Tapi mengapakah di Indonesia pemeriksaan kasus korupsi hanya ditujukan pada penyelenggara negara dan tidak kepada anggota keluarganya? Ah alangkah mulianya hati para pembuat aturan hukum dan penegak hukum yang berprasangka positif terhadap keluarga penyelenggara negara. apakah mungkin mereka berpendapat bahwa orang Indonesia adalah orang yang sangat jujur dan amanah, sehingga TIDAK MUNGKIN para penyelenggara negara  melakukan tindak korupsi dengan menggunakan kroni dan keluarganya???

Tuesday, December 10, 2024

Majalah Forest Digest edisi 22, April-Juni 2022



Majalah Forest Digest edisi 22, April-Juni 2022 mengangkat isu Perdagangan Karbon. Dalam rangka berkontribusi untuk mitigasi perubahan iklim global, Indonesia  mempunyai target penurunan emisi 29-49% hingga 2030. Salah satu strategi yang dikembangkan untuk mencapai target tersebut adalah mendorong perusahaan industry untuk secara sukarela menurunkan emisi melalui penggunaan teknologi yang rendah karbon.  

Strategi yang lain adalah mengenakan perdagangan karbon seperti “cap and trade” dimana perusahaan produsen emisi yang melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah, wajib membeli hak mengemisi perusahaan mitra yang lebih rendah emisinya pada periode tertentu. Skema lain untuk perdagangan karbon adalah “carbon off set” dimana Perusahaan tidak wajib  menurunkan emisi namun mereka bisa membeli “hak” atau sertifikat dari pihak lain yang telah melakukan kegiatan menurunkan jumlah CO2 di atmosfer. Dengan membeli sertifikat tersebut, seseorang atau kelompok dapat mendanai proyek untuk melawan perubahan iklim. Sertifikat tersebut dapat "mengimbangi" emisi CO2 pembeli dengan jumlah pengurangan CO2 yang sama di tempat lain.

Strategi ketiga adalah pengenaan pajak  karbon kepada perusahaan produsen emisi. Pajak ini dibayarkan ke negara dengan  tarif Rp. 30.000 per ton (US$ 2 per ton). Disinsentif pengenaan pajak ini diharapkan bisa mendorong Perusahaan untuk mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Dari berbagai kebijakan tersebut, muncul kekuatiran bahwa harga karbon dan pajak karbon yang rendah (hanya Rp. 30.000), akan membuat produsen emisi lebih suka menghapus dosa dengan membeli karbon atau membayar pajak karbon daripada mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Pada terbitan kali ini, Forest Digest juga mengupas tentang pengelolaan sampah yang menjadi persoalan serius di kota besar khususnya Jakarta. Di tahun 2021, Jakarta memproduksi sampah 7.233 ton per hari dan 53% diantaranya berupa sisa makanan. Pengolahan sampah untuk listrik  hanya mampu menampung sampah 100 ton per hari (data tahun 2021/2022). Suatu jumlah yang sangat timpang. Oleh karenanya pengelolaan  sampah perlu ditangani dari hulu-hilir melalui penerapan slogan reduce, reuse, dan recycle serta pelibatan masyarakat melalui bank sampah dan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga

Sunday, December 01, 2024

eLearning: Panduan Dunia Digital dan Internet

 


eLearning: Panduan Dunia Digital dan Internet

Penulis: Robin Mason dan Frank Renie

Penerbit Baca!, Yogyakarta 2010

ISBN 979-2462-29-5

206 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan dari buku eLearning  yang diterbitkan Taylor-Fracis, London-New York, 2009. Buku ini diterbitkan ketika elearning masih belum sepesat sekarang. Di Indonesia sendiri, elearning dalam bentuk “sistem pembelajaran jarak jauh” sudah diinisiasi antara lain oleh Universitas Terbuka (UT) sejak tahun 1984-an, namun perkembanganya meluas secara massif ketika dunia mengalami pandemi COVID 19. Meski buku ini diterbitkan lebih dari satu decade lalu, namun menurut saya,  isinya terutama terkait dengan aspek pedagogi atau metode pembelajaran masih relevan sampai sekarang. Apalagi tulisan-tulisan  terkait dengan aspek pedagogi elearning versi pengalaman Indonesia masih relative terbatas.

Dalam buku ini, dikupas bahwa pembelajaran elearning seringkali mengalami drop out yang tinggi. Oleh karena itu terdapat beberapa poin penting  agar pembelajaran eLearning bisa berjalan sukses yakni:

1.     Para peserta belajar harus mempunyai motivasi tinggi dengan dukungan perangkat komunikasi (hardware dan software) yang memadai.

2.     Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan para peserta (pendekatan student based learning atau problem based learning atau contextual based learning). Materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta akan meningkatkan motivasi belajar mereka.

3.     Penggunaan teknologi elearning asynchronous dimana peserta berinteraksi dengan pelatih/pengajar menggunakan media yang tidak harus berkomunikasi secara langsung (misal melalui CD ROM, you tube, bahan ajar di internet) akan lebih efektif bila disertai dengan pembelajaran secara synchronous dimana peserta berinteraksi dengan pengajar secara langsung misalnya melalui online discussion, live streaming, maupun pertemuan tatap muka langsung (sistem blended atau campuran  antara online dan offline).

4.     Materi pembelajaran secara digital perlu disusun agar interaktif dan merangsang minat belajar peserta, singkat dan padat --proporsional dalam arti tidak terlalu banyak konten namun mampu mencakup kompetensi yang ingin diajarkan--,  mudah diakses/didownload dengan device yang dimiliki peserta, dan user friendly. Materi pembelajaran ini disusun dengan memperhatikan aspek quality insurance dan continues improvement.

5.     Peran pelatih/dosen/tutor lebih bersifat sebagai fasilitator. Pelatih membimbing peserta untuk menemukan sumber pembelajaran baru misal dengan mengajar secara interaktif, memberikan referensi pendukung, memfasilitasi proses diskusi, memberikan konseling kalau peserta mengalami kesulitan belajar, memberikan cara pandang baru dll. Semakin interaktif dan intens seorang pengajar/pelatih akan berkorelasi dengan semakin kuatnya  motivasi belajar para peserta.

6.     Peran peserta belajar, selain belajar secara mandiri maupun belajar dari para pengajar, adalah belajar dari peserta lain (peer to peer). Dari berbagai penelitian, peer to peer review dalam bentuk belajar bersama, pembuatan tugas bersama, memberikan feedback dan penilaian untuk peserta lain telah meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Dalam buku ini juga dibahas beberapa istilah kunci dalam elearning, baik yang terkait dengan istilah metode pembelajaran maupun istilah hardware dan software yang disertai pula dengan beberapa web link bila pembaca ingin mendapatkan informasi yang lebih dalam. (walaupun ketika saya coba, beberapa web link sudah out of date).

Di akhir buku ini, penulis juga menyertakan resume dari sepuluh bacaan tentang elearning yang mereka rekomendasikan. Resume ini sangat menarik bagi saya, karena mencari informasi-informasi tentang dinamika elearning di dalam negeri nampaknya masih sangat sedikit.

Secara umum buku ini menarik dibaca untuk pegiat pendidikan khususnya elearning. Hasil penerjemahan   juga baik sehingga kalimatnya mudah dipahami. Salah satu kritik saya terhadap buku ini adalah struktur penulisan buku ini lebih menekankan pada istuilah-istilah elearning. Sedangkan artikel pengantar yang mengupas tentang pembelajaran elearning-nya agak kurang terstruktur.