Romo
Casutt,SJ dalam senyap bangun Pendidikan Vokasi Indonesia
Penulis: A Bobby Pr.
Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2018
ISBN 978-602-412-352-9
314 halaman
Romo Casutt SJ merupakan seorang Pastor ordo Serikat Jesus
(SJ) kelahiran Swiss 24 Januari 1926. Sejak kecil dia mempunyai ketertarikan
untuk menjadi misionaris. Untuk mewujudkan cita-citanya, selama tahun 1945-1955
beliau menempuh Pendidikan di Seminari dan Pendidikan Teologi di berbagai
kota di Eropa.
Sejak tahun 1957, Beliau menjalankan tugas misionaris di
Indonesia dengan menjadi guru di Seminari Mertoyudan – Magelang (1957-1965).
Beliau kemudian menjadi Asisten Direktur dan Direktur Asrama Realino Yogyakarta (1965-1971). Selama di asrama
Realino beliau membangun semangat toleransi dengan menerima berbagai mahasiswa
non Katholik menjadi penghuni asrama.Pada kurun waktu 1971-2001 beliau diangkat
menjadi Direktur Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Kemudian pada
periode 2003-2004 menjadi Direktur ATMI CIkarang. Pergulatan beliau di bidang pendidikan
didasari panggilan hidupnya tidak hanya untuk berdoa saja, tetapi juga berkarya
untuk sesama khususnya membantu mereka yang miskin dan terpinggirkan.
ATMI Surakarta dibangun tahun 1964 untuk memenuhi kebutuhan
tenaga terampil guna mendukung industrialisasi saat itu. Sewaktu Romo Casutt menjabat
Direktur ATMI Surakarta, pada mulanya ATMI sering dipandang sebelah mata oleh Masyarakat
karena hanya menghasilkan diploma dan tidak
menghasilkan sarjana. Namun perlahan-lahan ATMI Surakarta berkembang menjadi
akademi yang bergengsi karena alumninya berkualitas dan terserap di dunia
tenaga kerja bahkan jadi rebutan banyak perusahaan industri.
Beberapa kunci keberhasilan ATMI menghasilkan alumni berkualitas antara lain dipengaruhi adanya konsep Pendidikan vokasi yang mengadopsi dan mengadaptasi konsep Pendidikan Vokasi dari Swiss yang sudah mapan, seperti:
- Calon siswa yang direkrut mempunyai kualitas yang baik
- Guru dan instruktur berkualitas yang didukung dengan pengembangan kapasitas SDM yang memadai.
- Kelas yang intensif 25-40 orang
- Kurikulum dengan porsi 30 % teori dan 70% praktik
- Kurikulum yang dinamis dan disesuaikan dengan kebutuhan industry (konsep link and match dengan dunia usaha dunia industry)
- Adanya konsep teaching factory (belajar di pabrik/praktek usaha) sehingga siswa dituntut untuk belajar secara serius agar produk prakteknya laku di pasaran.
- Teknologi dan peralatan praktek (misal mesin-mesin) yang up to date bahkan lebih modern daripada milik Perusahaan Industri
Kepada para siswa, Romo Casutt dan tenaga Pendidik di ATMI menanamkan pentingnya Competence (keahlian/ketrampilan), Conscience (kesadaran adanya tanggung jawab moral) dan Compassion (kepedulian terhadap sesama). Romo Casutt dkk secara tegas membangun sikap mental para siswa agar:
- Disiplin
- Tanggungjawab
- Kerja keras
- Inovatif
- Jujur
Pihak ATMI memberikan sanksi tegas untuk siswa atau karyawan
yang tidak jujur, tidak mau bekerja keras, tifak bertanggung jawab atau tidak displin. Penanaman sikap mental secara
intensif ini berhasil membentuk karakter unggul bagi para siswa dan alumninya.
Para alumni tidak hanya mempunyai ketrampilan atau kompetensi teknis, tapi
mereka juga dibekali dengan sikap mental yang professional dan tangguh.
Keuangan ATMI selain dari iuran siswa juga memperoleh
dukungan dari berbagai Lembaga penyumbang seperti berbagai Lembaga donatur dari
Eropa. Romo Casutt mempunyai peran strategis dalam mencari sumber pendanaan
dari donatur, karena iuran dari siswa terkadang tidak mencukupi karena sebagian
siswa juga berasal dari kalangan miskin.
Untuk menjamin sustainabilitas keuangan Lembaga ATMI, Romo
Casutt kemudian mengembangkan praktek usaha Dimana para siswa diarahkan untuk
praktek dan menghasilkan produk yang bisa dijual di pasaran seperti Filling
cabinet, tempat tidur rumah sakit dan lain-lain. Romo Casutt terjun sendiri
membangun jejaring pasar dengan toko-toko. Pada mulanya produk ATMI kurang laku
karena dianggap mahal. Tapi lama-kelamaan produk ATMI semakin diterima di pasar
karena harga mahal tapi kualitasnya tidak kalah dengan produk impor dari Eropa.
Kualitas alumni yang tinggi, membuat alumni ATMI sering jadi
rebutan bahkan sebelum mereka lulus. Romo Casutt kemudian mengatur agar
terdapat distribusi yang adil kepada para Perusahaan dengan memperhatikan
perlakuan Perusahaan kepada para karyawannya. Saat ini banyak alumni ATMI
Surakarta yang kemudian duduk di jabatan strategis berbagai Perusahaan. Hal ini
tidak terlepas dari profesionalitas dari sisi kompetensi dan sikap mental yang
telah mereka peroleh selama kuliah di ATMI.
Keberhasilan ATMI Surakarta ini kemudian menumbuhkan gagasan
untuk mengembangan ATMI di daerah industry di Cikarang. ATMI Cikarang ini
terbangun dengan dukungan sumbangan dari para pengusaha maupun donator dari
Eropa (untuk pengadaan mesinnya). Diharapkan pendirian ATMI Cikarang ini akan
bisa mendukung penyediaan tenaga terampil guna memenuhi kebutuhan industri di
masa depan.
Kepiawaian Romo Casutt dalam pengembangan Pendidikan vokasi,
membuat beliau direkrut menjadi salah seorang penasehat di Kementerian
Pendidikan untuk membenahi sekolah vokasi. Beliau terus melakukan advokasi
untuk mendukung keberlanjutan dan pembenahan sekolah vokasi khsusnya Sekolah
Teknik Menengah (STM).
Romo Cassut yang berperan besar dalam membangun dan
membesarkan ATMI Surakarta dan ATMI Cikarang meninggal dunia tahun 2012 dan
dimakamkan di Ungaran-Semarang. Inisatif yang dibangun Romo Cassut di ATMI
Surakarta dan Cikarang sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat
berharga untuk pembenahan sekolah vokasi di Indonesia, tapi sayangnya nampaknya pemerintah dan banyak sekolah vokasi nampaknya kurang tertarik dan lebih banyak
mengejar aspek kuantitas yang ujung-ujungnya malah menciptakan pengangguran
terbuka atau setengah terbuka….