Adab di atas Ilmu; Tuntunan belajar mengajar yang barakah
Penulis Imam
Nawawi
Penerbit Diva
Press, Yogyakarta 2021
ISBN
978-623-293-165-7
200 halaman
Buku ini
merupakan terjemahan buku Adabul ’alim wal muta’allim karya Imam Nawawi.
Imam Nawawi bernama asli Yahya bin Syaraf, berasal dari keluarga pedagang dan
dilahirkan di sebuah desa Nawa (dekat Damaskus-Syria) pada tahun 631 Hijriyah
atau sekitar 1233/1234 Masehi. Beliau rajin beribadah harian seperti puasa,
shalat malam, dzikir dan baca Quran. Selain itu beliau rajin melakukan
aktivitas keilmuan. Beliau banyak berguru ke ulama kenamaan berkenaan dengan
ilmu Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh dan Bahasa. Beliau meninggal pada tahun
676 Hijriyah (sekitar 1277/1278 Masehi)
dalam usia 45 tahun. Beliau meninggalkan banyak karya di bidang Fiqh,
Hadits, Ilmu Hadits dan lain-lain. Keaktifannya dalam menulis dan syiar
Islam membuat beliau diberi gelar ”muhyidin” atau yang menghidupkan
agama.
Dalam buku ini Imam Nawawi mengupas arti penting ilmu agama untuk kehidupan manusia. Beliau mengutip berbagai hadits yang mengungkapkan pentingnya ilmu, seperti hadits yang diriwayatkan Anas Ra bahwa: ”Satu orang yang berilmu jauh lebih utama kedudukannya di sisi Allah swt, daripada seribu orang ahli ibadah”. Oleh karenanya beliau mendorong orang untuk rajin menghadiri majelis ilmu dan memuliakan para ulama.
Pengelompokan
ilmu
1.
Ilmu Syar’i:
1.1.
Wajib
(Fardhu)
1.1.1. Fardhu Ain adalah ilmu yang wajib dipelajari setiap umat Islam. Ilmu kategori ini terkait dengan ilmu tentang sifat-sifat allah, ilmu tentang kewajiban tertentu seperti shalat, berwudhu, ilmu tentang halal dan haram dst.
1.1.2. Fardhu Kifayah adalah ilmu pendukung yang tidak setiap umat Islam harus menekuninya seperti ilmu ushul fiqh, ilmu bahasa dll.
1.2.
Sunnah
2.
Ilmu Ghairu
Syar’i
2.1.
Haram
dipelajari seperti ilmu sihir.
2.2.
Makruh
seperti syair dan musik (catatan: ada banyak debat tentang ini).
2.3.
Mubah
yakni ilmu yang tidak memberikan kemanfaatan untuk umat manusia.
Etika Seorang
Guru
Seorang guru menurut Imam Nawawi harus mempunyai etika personal yang mencakup:
1. Menuntut ilmu dan mengajar hanya untuk mencari ridho allah semata.
2. Berperilaku baik seperti tawadhu’ (rendah hati)
3. Menjauhi sifat tercela seperti sombong, riya (suka pamer).
4. Rajin melakukan amalan seperti doa, dzikir
5. Selalu merasa diawasi oleh allah sehingga dia hanya berorientasi untuk mencari ridho Allah semata.
6. Menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat dan tidak semena-mena menggunakan ilmunya.
7. Menghindari yang makruh apalagi haram
8. Mengingatkan orang lain untuk senantiasa berbuat kebaikan.
Adapun perilaku
yang harus diperhatikan seorang guru ketika sedang belajar adalah:
1. Rendah hati sehingga mau terus belajar dan membaca,
2. Fokus ketika belajar
3. Melakukan kajian/penelitian dan menuliskan pengetahuan dan kepakarannya dalam sebuah buku.
4. Waspada dan ekstra hati-hati dalam menulis supaya akurasi tinggi. Hindarkan menulis yang bukan bidang keahliannya.
5. Tidak tergesa-gesa mempublikasikan hasil karyanya (chek and re-check)
6. Guru harus bisa menjelaskan terminologi ilmiah yang digunakannya secara jelas.
7. Guru harus mampu menyajikan hal-hal baru yang belum banyak dikaji sebelumnya.
Etika Guru dalam
mengajar mencakup:
1. Niat seorang guru ketika mengajar adalah mencari ridha Allah semata.
2. Seorang guru tidak menghalangi siapapun untuk belajar, walaupun niat orang tadi belum benar.
3. Guru mendidik murid secara bertahap dan disesuaikan dengan umur dan kemampuannya.
4. Seorang guru hendaknya cinta dengan ilmu yang akan diajarkannya.
5. Seorang guru hendaknya peduli kepada siswanya seprti dia peduli pada dirinya sendiri dan anak-anaknya sendiri.
6. Seorang guru hendaknya memberikan kepada muridnya hal yang dia cinta dan tidak memaksakan hal yang tidak ia suka.
7. Seorang guru harus ramah ketika mengajar dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
8. Seorang guru tidak boleh mnyembunyikan ilmu yang dia kuasai ketika murid membutuhkannya dan mereka mampu menerimanya.
9. Seorang guru tidak diperkenankan mengajarkan sesuatu yang muridnya belum siap menerimanya atau terlalu berat.
10. Seorang guru tidak boleh sombong terhadap guru lainnya.
11. Guru harus serius dan bersemangat ketika mengajar.
12. Guru harus mengabsen murid-muridnya dan mencari tahu ketika ada yang membolos.
13. Guru bersungguh-sungguh dalam memberikan penjelasan dan dengan bahasa yang mudah dipahami.
14. Guru harus mampu menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan hukum yang dibutuhkan murid-muridnya misal Qur’an, hadits, ijma’, qiyas dan lain-lain.
15. Guru bisa menjelaskan qiyas dan tingkatannya serta tata cara menggali dalil hukum.
16. Guru bisa menjelaskan batasan-batasan hukum dalam perintah dan larangan.
17. Guru sebaiknya mengajari muridnya dengan mengenalkan tokoh-tokoh ulama yang bisa dijadikan referensi kepakarannya.
18. Guru mengajari muridnya secara step by step
19. Guru harus bis amemotivasi muridnya untuk giat belajar.
20. Sebelum berpindah ke topik bahasan baru, hendaknya Guru menanyakan ke murid terkait pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajarinya.
21. Ketika mengajar guru harus bisa membuat alur pembelajaran yang sesuai agar memudahkan pemahaman oleh siswa.
22. Guru harus bertingkah dan berbusana yang sopan, sederhana dan tidak berlebihan.
23. Gerak-gerik dan cara pandang guru harus sopan dan seperlunya.
24. Guru harus bisa berdiri pada posisi yang pas dan bisa dijangkau melalui pandangan semua murid.
25. Guru memulai pelajaran dengan doa dan sholawat
26. Guru harus bisa menjelaskan arti penting pelajaran yang dia sampaikan.
27. Guru ketika mengajar harus bisa mengantisipasi dan menghindari hal-hal yang bisa mengganggu proses belajar mengajar.
28. Guru harus mampu mengelola waktu dan membaca tingkat kejenuhan siswa.
29. Guru hendaknya mengajar di ruangan yang mampu menampung siswa secara memadai.
30. Guru hendaknya bisa mengontrol suasana dalam kelas.
31. Guru mampu menghindarkan adanya olok-olok atau cemooh antar siswa dalam kelas.
32. Guru juga harus jujur dalam menjawab pertanyaan. Bila dia belum tahu jawaban sebuah pertanyaan, dia harus jujur menjawab bahwa dia belum tahu.
Etika Murid
Etika Murid dalam belajar:
1. Murid harus menyucikan hatinya dari perkara yang dapat mencederai kesungguhan hatinya untuk belajar
2. Murid menyingkirkan segala hal yang bisa mengganggu konsentrasi belajar
3. Murid rendah hati terhadap ilmu yang dipelajari dan terhadap guru yang mengajarinya.
4. Suatu ilmu tidak akan benar-benar diraih kecuali siswa telah cakap akal sehatnya, tampak perilaku relijiusnya, terbukti pengetahuannya, senantiasa belajar dan bisa jadi suri teladan.
5. Murid belajar dengan guru yang menuntunnya dan tidak sekedar membaca buku.
6. Murid harus menatap gurunya dengan tatapan kemuliaan (hormat dan sopan).
7. Murid harus mencari keridhoan gurunya dan tidak menyebarkan aib gurunya.
8. Murid tidak boleh sesuka hati masuk ruang guru/majelis ilmu tanpa seijin guru.
9. Ktika masuk majelis ilmu, murid hendaknya dengan kesadaran penuh untuk menghormatinya.
10. Murid masuk ruang majelis ilmu dengan mengucapkan salam untuk siapa saja yang hadir.
11. Murid tidak sembarangan melintasi kerumunan orang yang hadir untuk cari tempat duduk.
12. Murid tidak meminta orang lain pindah tempat duduk kecuali tempat duduk yang lebih dekat dengan guru.
13. Murid tidak diperkenankan tiba-tiba langsung duduk di antara kerumunan orang yang telah hadir.
14. Murid harus beradab kepada siapa saja yang telah hadir.
15. Murid tidak diperkenankan meninggikan suara atau teriak dalam majelis ilmu.
16. Murid harus fokus dan tidak melakukan gerakan yang tidak perlu.
17. Ketika ada murid bertanya, murid yang lain tidak boleh menjawabnya kecuali seijin guru.
18. Murid bertanya dengan bahasa sopan dan perlahan.
19. Murid menjawab pertanyaan guru dengan jujur termasuk ketika ditanya soal paham atau belum paham.
20. Murid tidak boleh malu untuk mengakui bila dia belum paham.
21. Murid harus paham materi secara mendalam agar pendapatnya tidak mudah goyah.
22. Bila guru sedang menjelaskan, murid harus mendengarkan meski dia sudah tahu isi penjelasan itu.
23. Murid harus menjaga mood belajar sehingga senantiasa rajin belajar dan tidak malas-malasan.
24. Murid harus menerima dan sabar dengan ketegasan sikap dan tindakan guru.
25. Murid harus punya cita-cita tinggi dan tidak menunda-nunda waktu belajar.
26. Murid harus sabar menunggu bila guru belum datang dan menyiapkan diri untuk belajar.
27. Murid memaksimalkan waktu luang untuk belajar.
28. Murid harus rajin mengulangi pelajaran yang telah diberikan agar semakin mendalam pemahamannya.
29. Murid harus berdoa dan membaca puji-pujian sebelum belajar dimulai.
30. Murid tidak pindah ke bab lain, sebelum día memahami dengan baik bab yang telah dipelajari sebelumnya.
31. Murid harus menemani (belajar bersama) dengan siapa saja yang hadir dalam majelis ilmu.
32. Murid senantiasa meminta bimbingan guru agar tidak salah jalan.
33. Murid arus mencatat, menelaah dan menekuni ilmu baru dari gurunya.
34. Murid tidak egois dan mau berbagi ilmu dengan yang lain.
35. Murid tidak boleh menghina, sombong dan mendengki siapapun.
Etika bersama
guru dan murid:
1. Guru dan murid tidak melupakan tugas dan kewajiban masing-masing. Murid janganlah menanyakan hal-hal sulit yang membingungkan.
2. Guru dan murid memiliki bahan belajar (buku) sendiri agar proses berjalan belajar lancar.
3. Orang yang meminjam buku harus mengembalikan pada empunya dan disertai ucapan terima kasih.
Fatwa
· Jaman dulu ketika teknologi komunikasi
belum berkembang, umat seringkali kebingungan untuk memutuskan sebuah perkara.
Mereka biasanya mendatangi ulama yang berilmu untuk meminta fatwa atau
pertimbangan.
· Meminta fatwa merupakan upaya mengurai
hukum terhadap fenomena yang terjadi di muka bumi secara kontekstual.
· Memberikan fatwa merupakan fardu kifayah
namun bisa menjadi fardhu ain bila tidak ada orang lain yang mampu.
· Orang yang boleh mengeluarkan fatwa antara
lain mempunyai kriteria sebagai berikut: menguasai ilmu terkait dengan hal yang
dimintakan fatwanya, menguasai métode untuk merangkai fatwa, alim dan shaleh, Dipercaya
oleh masyarakat, obyektif dan jujur
Buku ini
diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Meski buku ini banyak dikaitkan
dalam proses belajar mengajar ilmu agama, namun banyak pointers etika guru dan
murid yang dituliskan di sini bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran ilmu-ilmu
duniawi. Semoga berkah melimpah untuk Imam Nawawi yang sudah bersedekah ilmu
dan juga kepada siapapun yang terlibat dalam proses berbagi ilmu ini.

No comments:
Post a Comment