Just Joke...
1. Tidur dengan wanita cantik = bangga 1/2 mati
2. Tidur dengan wanita PSK = mahal 1/2 mati
3. Tidur dengan wanita jelek = stress 1/2 mati
4. Tidur dengan wanita Hyper = cape 1/2 mati
5. Tidur dengan sahabat = nyesal 1/2 mati
6. Tidur dengan pacar = nafsu 1/2 mati
7. Tidur dengan istri orang = nafsu gak mati2
8. Tidur dengan istri tentara = sudah pasti MATI
postingan dari kawan di milis
Belajar dan berbagi kisah kasih kehidupan yang penuh kehangatan dan kebersahajaan
Friday, August 20, 2010
Monday, August 09, 2010
Mandala
Mandala
Pearl S. Buck
PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta 2007
476 halaman
Tanya: apa sebabnya aku tak pernah menemukan kedamaian?
Orang bijak menjawab: Karena Nafsu
Tanya: Tapi aku Cuma bernafsu mendapatkan kedamaian...
Jawab: Hilangkan nafsu itu
Tanya: Kaua begitu, apa yang bisa mendatangkan rasa damai pada pikiran manusia?
Jawab: Cinta
Tanya: Cinta kepada siapa?
Jawab: Bisakah kausuruh lampu itu hanya menerangi sisi sebelah sini saja dan tidak menerangi sebelah sana? Buat siapa api menyala kalau bukan buat semuanya.
Tanya: apakah kedamaian terletak dalam nyala?
Jawab: Apakah kedamaian mematikan api? Tidak.... kedamaian menanti di pusat api yang menyala...
Itu sepenggal kutipan dari dialog sang Maharaja Jagat dengan Brooke seorang wanita Amerika yang dicintainya dalam novel “Mandala” karya Pearl S. Buck.
Novel Mandala yang bersetting India jaman paska kemerdekaan mengisahkan pergulatan anak manusia dalam mengatasi perubahan jaman. Dari sistem monarki dan sistem kasta ke pemerintahan yang lebih demokratis, perubahan orientasi kaum bangsawan dari penguasa menjadi pengusaha, perubahan budaya dari paternalistik menjadi egaliter, perubahan dari model perjodohan ala Siti Nurbaya menjadi pernikahan yang lebih terbuka dan lain-lain. Pertemuan budaya Timur dan Barat, juga menumbuhkan intrik percintaan antar bangsa dan antar budaya. Dalam perubahan jaman tersebut kehidupan cinta juga mengalami ujian........
Novel yang cukup menarik dari novelis yang secara intens mencoba merekatkan budaya barat dengan budaya timur yang penuh dengan filsafat dari Bhagavat Gita maupun kitab Upanishad... Salah satu kelemahan novel ini adalah akhir yang dipaksakan happy ending secara terburu-buru tanpa melalui proses refleksi dan penyadaran yang intens... Meski demikian untaian kata-kata yang sangat indah, alur mengalir jernih dan penuh nasihat spiritual penuh pembelajaran kehidupan menjadikan novel ini sangat layak dibaca oleh para pencari cinta....
Pearl S. Buck
PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta 2007
476 halaman
Tanya: apa sebabnya aku tak pernah menemukan kedamaian?
Orang bijak menjawab: Karena Nafsu
Tanya: Tapi aku Cuma bernafsu mendapatkan kedamaian...
Jawab: Hilangkan nafsu itu
Tanya: Kaua begitu, apa yang bisa mendatangkan rasa damai pada pikiran manusia?
Jawab: Cinta
Tanya: Cinta kepada siapa?
Jawab: Bisakah kausuruh lampu itu hanya menerangi sisi sebelah sini saja dan tidak menerangi sebelah sana? Buat siapa api menyala kalau bukan buat semuanya.
Tanya: apakah kedamaian terletak dalam nyala?
Jawab: Apakah kedamaian mematikan api? Tidak.... kedamaian menanti di pusat api yang menyala...
Itu sepenggal kutipan dari dialog sang Maharaja Jagat dengan Brooke seorang wanita Amerika yang dicintainya dalam novel “Mandala” karya Pearl S. Buck.
Novel Mandala yang bersetting India jaman paska kemerdekaan mengisahkan pergulatan anak manusia dalam mengatasi perubahan jaman. Dari sistem monarki dan sistem kasta ke pemerintahan yang lebih demokratis, perubahan orientasi kaum bangsawan dari penguasa menjadi pengusaha, perubahan budaya dari paternalistik menjadi egaliter, perubahan dari model perjodohan ala Siti Nurbaya menjadi pernikahan yang lebih terbuka dan lain-lain. Pertemuan budaya Timur dan Barat, juga menumbuhkan intrik percintaan antar bangsa dan antar budaya. Dalam perubahan jaman tersebut kehidupan cinta juga mengalami ujian........
Novel yang cukup menarik dari novelis yang secara intens mencoba merekatkan budaya barat dengan budaya timur yang penuh dengan filsafat dari Bhagavat Gita maupun kitab Upanishad... Salah satu kelemahan novel ini adalah akhir yang dipaksakan happy ending secara terburu-buru tanpa melalui proses refleksi dan penyadaran yang intens... Meski demikian untaian kata-kata yang sangat indah, alur mengalir jernih dan penuh nasihat spiritual penuh pembelajaran kehidupan menjadikan novel ini sangat layak dibaca oleh para pencari cinta....
Sunday, July 18, 2010
Himpunan Materi Pelatihan Perencanaan Pembangunan Partisipatif bagi Fasilitator Desa
Himpunan Materi Pelatihan Perencanaan Pembangunan Partisipatif bagi Fasilitator Desa
Balai Pemberdayaan Masyarakat Desa,
Yogyakarta 2007
87 halaman
Buku ini membahas materi Pelatihan Perencanaan Pembangunan Partisipatif Masyarakat Desa (P3MD) yang sejak pertengahan 90-an dijadikan metode resmi dalam perencanaan pembangunan di tingkat desa. P3MD sendiri seingatku merupakan integrasi dan penyatuan konsep dari beberapa metode perencanaan partisipatif seperti Participatory Rural Appraisal (PRA), Participatory Learning Action (PLA), Action Research, Rapid Rural Appraisal dll.
Terkait dengan buku ini ada beberapa kritik, yakni:
1. P3MD menjadi simplifikasi yang berlebihan terhadap PRA, PLA dll. Simplifikasi itu terjadi terhadap prinsip-prinsip filosofis hingga teknis kajian. Spirit awal perencanaan partisipatif sebagai bentuk perlawanan terhadap top down approach kurang banyak dikupas. Demikian pula teknis kajian hanya ditekankan pada teknik pemetaan, bagan hubungan kelembagaan dan kalender musim. padahal sebebarnya masih ada belasan bahkan puluhan teknik kajian lain yang bisa dikembangkan di lapangan sesuai dengan data yang dibutuhkan.
2. Training di buku ini hanya cenderung menekankan aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan). Sedangkan sisi afektif (sikap) tidak banyak dikupas. Padahal sebagai pendamping masyarakat, utamanya mereka dituntut mampu bersikap adaptif dan berempati dengan masyarakat. Saya kuatir dari pelatihan ini nanti akan lahir "robot-robot" yang trampil dalam aplikasi P3MD namun tidak punya empatthy dan keberpihakan terhadap masyarakatnya.
3. Secara de jure, P3MD selama ini jadi metode resmi. Namun secara de facto, hasil perencanaan masyarakat banyak terpinggirkan dan kalah dengan usulan dari instansi pemerintah (SKPD)ataupun kalah dari usulan yang bersifat politis dari Bupati dan DPRD. Di banyak daerah, usulan masyarakat yang diadopsi oleh Pemda terkadang kurang dari 10 %/tahun. Makanya banyak masyarakat yang frustasi dan menolak P3MD. Perlu ada suatu terobosan agar ada jaminan bahwa usulan masyarakat ini akan diadopsi oleh pemerintah daerah. Oleh karenanya SKB Bappenas-Depdagri ttg Juklak Musrenbang perlu diperbaiki content-nya.
Balai Pemberdayaan Masyarakat Desa,
Yogyakarta 2007
87 halaman
Buku ini membahas materi Pelatihan Perencanaan Pembangunan Partisipatif Masyarakat Desa (P3MD) yang sejak pertengahan 90-an dijadikan metode resmi dalam perencanaan pembangunan di tingkat desa. P3MD sendiri seingatku merupakan integrasi dan penyatuan konsep dari beberapa metode perencanaan partisipatif seperti Participatory Rural Appraisal (PRA), Participatory Learning Action (PLA), Action Research, Rapid Rural Appraisal dll.
Terkait dengan buku ini ada beberapa kritik, yakni:
1. P3MD menjadi simplifikasi yang berlebihan terhadap PRA, PLA dll. Simplifikasi itu terjadi terhadap prinsip-prinsip filosofis hingga teknis kajian. Spirit awal perencanaan partisipatif sebagai bentuk perlawanan terhadap top down approach kurang banyak dikupas. Demikian pula teknis kajian hanya ditekankan pada teknik pemetaan, bagan hubungan kelembagaan dan kalender musim. padahal sebebarnya masih ada belasan bahkan puluhan teknik kajian lain yang bisa dikembangkan di lapangan sesuai dengan data yang dibutuhkan.
2. Training di buku ini hanya cenderung menekankan aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan). Sedangkan sisi afektif (sikap) tidak banyak dikupas. Padahal sebagai pendamping masyarakat, utamanya mereka dituntut mampu bersikap adaptif dan berempati dengan masyarakat. Saya kuatir dari pelatihan ini nanti akan lahir "robot-robot" yang trampil dalam aplikasi P3MD namun tidak punya empatthy dan keberpihakan terhadap masyarakatnya.
3. Secara de jure, P3MD selama ini jadi metode resmi. Namun secara de facto, hasil perencanaan masyarakat banyak terpinggirkan dan kalah dengan usulan dari instansi pemerintah (SKPD)ataupun kalah dari usulan yang bersifat politis dari Bupati dan DPRD. Di banyak daerah, usulan masyarakat yang diadopsi oleh Pemda terkadang kurang dari 10 %/tahun. Makanya banyak masyarakat yang frustasi dan menolak P3MD. Perlu ada suatu terobosan agar ada jaminan bahwa usulan masyarakat ini akan diadopsi oleh pemerintah daerah. Oleh karenanya SKB Bappenas-Depdagri ttg Juklak Musrenbang perlu diperbaiki content-nya.
Sunday, May 30, 2010
KORUPSI KEMANUSIAAN
KORUPSI KEMANUSIAAN; Menafsirkan Korupsi dalam Masyarakat
Al. Andang L. Binawan (editor)
Penerbit Buku Kompas, Jakarta Mei 2006
ISBN 979-709-253-4
234 hal
Buku bertopik Korupsi ini merupakan kumpulan 12 tulisan, utamanya dari kalangan civitas academica STF Driyarkara – Jakarta dan dipersembahkan sebagai kado ulang tahun Romo Franz Magnis Suseno yang ke 70.
Dalam buku ini pemahaman korupsi tidak hanya dimaksudkan sebagai korupsi berbentuk uang atau harta material namun korupsi dipahami sebagai sebuah proses “pembusukan” termasuk proses pembusukan dalam berbahasa maupun dalam berpikir. Beberapa penulis dalam buku ini mengkritisi kehidupan yang dicengkeram oleh kapitalisme menimbulkan dampak negatif berupa; (1) berkembangnya individualisme (2) berkembangnya budaya hidup instant dan konsumtif (3) orientasi ke arah material/uang (4) teknologi yang konsumtif dan rakus (5) lunturnya kontrol sosial (6) alienasi (7) hilangnya spiritualisme masyarakat. Dari sisi kultur lokal di Indonesia, budaya “rikuh pekewuh” mpak negatif dengan munculnya budaya permisif terhadap perilaku korupsi. Demikian pola penggunaan bahasa yang cenderung “lunak” atau diperhalus disadari atau tidak menimbulkan dampak seolah-olah korupsi sebagai sesuatu penyimpangan yang bisa diterima, misalnya korupsi diganti penyimpangan prosedur atau penyalahgunaan wewenang dan lain-lain. Dengan kondisi melemahnya nilai dalam masyarakat, kehidupan yang konsumtif dan kontrol sosial sangat longgar maka tidak mengherankan bila korupsi merajalela, baik korupsi yang terkait dengan materi maupun korupsi dengan manipulasi informasi dst.
Dalam buku ini beberapa penulis juga memberikan solusi salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kehidupan kepada manusia seperti ide eksistensialisme Kierkegaard, flsafat Lao Tze dari Cina, Hermeneutika Mc Lean dll. Solusi yang ditawarkan dalam hal ini lebih banyak terkait dengan penanaman nilai-nilai itu sendiri karena memang hal inilah yang menjadi titik konsentrasi dari para penulis yang berbackground filsafat. Seperti kata istilah” Korupsi itu muncul dari pikiran, maka agar untuk mencegah korupsi, pola pikir itu sendiri yang harus lebih dulu dibenahi”
Secara umum buku ini cukup menarik, walaupun dalam buku ini -- untuk orang awam --seringkali ditemukan istilah atau bahasa filsafat yang memerlukan sedikit waktu untuk mengunyah dan memahaminya.
Al. Andang L. Binawan (editor)
Penerbit Buku Kompas, Jakarta Mei 2006
ISBN 979-709-253-4
234 hal
Buku bertopik Korupsi ini merupakan kumpulan 12 tulisan, utamanya dari kalangan civitas academica STF Driyarkara – Jakarta dan dipersembahkan sebagai kado ulang tahun Romo Franz Magnis Suseno yang ke 70.
Dalam buku ini pemahaman korupsi tidak hanya dimaksudkan sebagai korupsi berbentuk uang atau harta material namun korupsi dipahami sebagai sebuah proses “pembusukan” termasuk proses pembusukan dalam berbahasa maupun dalam berpikir. Beberapa penulis dalam buku ini mengkritisi kehidupan yang dicengkeram oleh kapitalisme menimbulkan dampak negatif berupa; (1) berkembangnya individualisme (2) berkembangnya budaya hidup instant dan konsumtif (3) orientasi ke arah material/uang (4) teknologi yang konsumtif dan rakus (5) lunturnya kontrol sosial (6) alienasi (7) hilangnya spiritualisme masyarakat. Dari sisi kultur lokal di Indonesia, budaya “rikuh pekewuh” mpak negatif dengan munculnya budaya permisif terhadap perilaku korupsi. Demikian pola penggunaan bahasa yang cenderung “lunak” atau diperhalus disadari atau tidak menimbulkan dampak seolah-olah korupsi sebagai sesuatu penyimpangan yang bisa diterima, misalnya korupsi diganti penyimpangan prosedur atau penyalahgunaan wewenang dan lain-lain. Dengan kondisi melemahnya nilai dalam masyarakat, kehidupan yang konsumtif dan kontrol sosial sangat longgar maka tidak mengherankan bila korupsi merajalela, baik korupsi yang terkait dengan materi maupun korupsi dengan manipulasi informasi dst.
Dalam buku ini beberapa penulis juga memberikan solusi salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kehidupan kepada manusia seperti ide eksistensialisme Kierkegaard, flsafat Lao Tze dari Cina, Hermeneutika Mc Lean dll. Solusi yang ditawarkan dalam hal ini lebih banyak terkait dengan penanaman nilai-nilai itu sendiri karena memang hal inilah yang menjadi titik konsentrasi dari para penulis yang berbackground filsafat. Seperti kata istilah” Korupsi itu muncul dari pikiran, maka agar untuk mencegah korupsi, pola pikir itu sendiri yang harus lebih dulu dibenahi”
Secara umum buku ini cukup menarik, walaupun dalam buku ini -- untuk orang awam --seringkali ditemukan istilah atau bahasa filsafat yang memerlukan sedikit waktu untuk mengunyah dan memahaminya.
Saturday, May 22, 2010
Primbon Almanak 1900-2005
Primbon Almanak 1900-2005
Putri Wong Kam Fu
November 2005,
481 halaman
Buku Primbon ini menjabarkan empat ilmu perbintangan yang telah dikenal manusia secara berabad-abad yakni ilmu perbintangan Astrologi, Tarikh Tionghoa, Tarikh Hijriyah dan Ilmu perbintangan Jawa. Dengan mendasarkan pada ilmu perbintangan tersebut, buku ini membahas beberapa karakter dasar manusia seperti watak perilaku, kondisi ekonomi secara umum, kondisi kesehatan, jodoh dll.
Karena sifatnya menggabungkan beberapa ilmu perbintangan, maka pembahasan yang ada didalamnya relatif umum. 350 halaman dalam buku ini lebih berupa tabel tanggal masehi yang dan konversinya ke tarikh Tionghoa, tarikh Hijriyah dan Tarikh Jawa. Untuk yang mau menggunakan buku ini sebagai ilmu untuk menentukan “hari baik” untuk pernikahan, pindah rumah dll, masih memerlukan referensi dasar dari buku lain.
Terkait ramalan watak dalam buku ini, saya pribadi menyikapinya tidak dengan 100 persen setuju. Ramalan karakter yang bersifat positif, saya gunakan untuk memotivasi diri dan kita kembangkan terus. Sedangkan ramalan yang bersifat negatif seperti sifat buruk yang diramalkan pada diri kita perlu kita temukenali untuk kita eliminir sebisa mungkin.
Putri Wong Kam Fu
November 2005,
481 halaman
Buku Primbon ini menjabarkan empat ilmu perbintangan yang telah dikenal manusia secara berabad-abad yakni ilmu perbintangan Astrologi, Tarikh Tionghoa, Tarikh Hijriyah dan Ilmu perbintangan Jawa. Dengan mendasarkan pada ilmu perbintangan tersebut, buku ini membahas beberapa karakter dasar manusia seperti watak perilaku, kondisi ekonomi secara umum, kondisi kesehatan, jodoh dll.
Karena sifatnya menggabungkan beberapa ilmu perbintangan, maka pembahasan yang ada didalamnya relatif umum. 350 halaman dalam buku ini lebih berupa tabel tanggal masehi yang dan konversinya ke tarikh Tionghoa, tarikh Hijriyah dan Tarikh Jawa. Untuk yang mau menggunakan buku ini sebagai ilmu untuk menentukan “hari baik” untuk pernikahan, pindah rumah dll, masih memerlukan referensi dasar dari buku lain.
Terkait ramalan watak dalam buku ini, saya pribadi menyikapinya tidak dengan 100 persen setuju. Ramalan karakter yang bersifat positif, saya gunakan untuk memotivasi diri dan kita kembangkan terus. Sedangkan ramalan yang bersifat negatif seperti sifat buruk yang diramalkan pada diri kita perlu kita temukenali untuk kita eliminir sebisa mungkin.
Subscribe to:
Posts (Atom)