Monday, May 09, 2016

KELUARGA GERILJA ; kisah keluarga manusia dalam tiga hari tiga malam

Oleh: Pramoedija Ananta Toer
Penerbit Pembangunan - Djakarta, 1955
239 halaman

Buku ini berkisah tentang sebuah kehidupan keluarga sederhana di Jakarta yang terombang-ambing oleh revolusi kemerdekaan dengan setting tahun 1949 pada saat aksi polisionil pemerintah colonial Belanda.

Alkisah tinggallah Amilah seorang janda tua dengan anak-anaknya Saaman (Aman), Salamah (Amah), Fatimah (Imah), Salami (Mimi) dan Hasan. Amilah menikah dengan Paidjans seorang kopral tentara Hindia Belanda. Dia selama ini hidup di tangsi, namun perilakunya gemar berselingkuh sehingga dia sering dijuluki Bunga Tangsi Selendang Mayang. Amilah sangat menyayangi Aman yang berusia 24  tahun karena dia merupakan anak dari Benny mantan kekasih sejatinya. Aman sendiri orangnya sangat penyabar, pintar mendidik adik2nya, sangat menghormati dan berbakti pada ibudanya. Amah berusia 19 tahun, berpenampilan cantic dengan hidung mancung. Sejatinya Amah merupakan anak hasil perselingkuhannya dengan Letnan Gedergeder seorang tentara Belanda. Fatimah, merupakan anak perempuan berusia 16 tahun yang cakap dan cerdas. Sedangkan Mimi, merupakan anak perempuan yang agak kurang cerdas. Hasan, anak terkecilnya merupakan anak yang cerdas dan sigap dalam banyak hal. Selain mereka terdapat pula Mimin dan Maman yang sebenarnya anak Amilah pula. Maman yang berambut keriting dan berkulit gelap merupakan anak hasil perselingkuhan Amilah dengan tentara dari Ambon.

Ketika aksi polisionil Hindia Belanda, Kopral Paijan yang semula keluar dari ketentaraan di jaman Jepang, mendaftar kembali menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL). Sikap Paidjan yang tidak nasionalis, sombong dan suka mabuk-mabukan mendapat perlawanan dari anak-anaknya yang sudah menjadi pemuda nasionalis. Aman, Tjanimin (Mimin) dan Kartiman (Maman) kemudian membunuh Paidjan di sebuah sungai. Untuk membuang jejak dari tentara KNIL, Mimin dan Maman kemudian ikut bergerilya dengan Divisi Siliwangi dan ikut menumpas pemberontakan komunis di Madiun. Kondisi Amilah yang menjanda dan tidak bisa menerima perubahan di lingkungan hidupnya, membuat Amilah depresi.

Aman sebagai kepala keluarga kemudian bekerja sebagai tukang becak untuk menafkahi keluarganya. Sampai suatu saat  Aman ditangkap oleh Polisi Militer karena Aman diketahui menjadi pimpinan gerilyawan yang sudah membunuh puluhan orang antek Belanda. Selama Aman anak kesayangannya ditahan, kondisi depresi Amilah makin menjadi. Apalagi tidak ada lagi anaknya yang mencari nafkah. Untunglah Darsono tunangan Amah memberikan sebagian gajinya yang kecil untuk menyokong kehidupan keluarga Amilah. Mimin dan Maman yang menjadi gerilyawan, akhirnya terbunuh dalam sebuah peperangan di kantong gerilya.

Di penjara, Aman dijatuhi hukuman mati. Aman tidak takut menghadapi hukuman itu karena dia meyakini apa yang dia  lakukan adalah benar. Kesabaran dan kesetiaan Aman kepada negara, telah membangkitkan kesadaran bagi teman-teman  di penjara. Bahkan Direktur Penjara tempatnya ditahan pun secara ksatria mengakui dan menghormati keteguhan hati Aman. Direktur tersebut menawarkan grasi kepada Aman, namun Aman menolaknya dan hanya meminta pena dan kertas untuk menuangkan pesan-pesan terakhir buat keluarganya. Sebagai bentuk penghormatan kepada Aman, Direktur itu mengantar surat Aman ke keluarganya. Saat itu dia hanya menjumpai Darsono, Imah, Mimi dan Hasan.  Direktur itu jug menawarkan uang untuk membantu biaya pemakaman Aman kelak, namun hal itu ditolak oleh Imah. Tawaran dari Direktur untuk bantuan biaya sekolah bagi Imah dan adik-adiknya juga ditolak mentah-mentah oleh Imah yang tidak sudi menerima uang dari penjajah.

Salamah yang menjadi tunangan Darsono, demi membebaskan Aman bersedia diajak oleh sersan Kasdam untuk menengok Aman di penjara. Namun Sersan Kasdam  yang hidung belang, tidak membawa Amah ke penjara dimana Aman ditahan. Amah malah dibawa ke Bogor untuk dinodai ketika Aman sedang dijatuhi hukuman mati.

Tekanan hidup yang berat, membuat Amilah makin depresi. Dia membakar rumahnya sendiri dan menjalar menjadi kebakaran besar di kampungnya. Amilah akhirnya menemukan penjara tempat Aman ditahan. Namun dia hanya menemukan jazad Aman yang ternyata sudah dieksekusi hukuman mati. Rasa sedih yang begitu mendalam ditinggal anak kesayangannya membuat Amilah tidak mampu menahan diri dan menghembuskan nafas di pusara anak yang baru dikuburkannya.

Akhir cerita, Amah kembali dari Bogor dan Darsono pun tetap menerimanya walau dia sudah tidak perawan lagi.  Darsono sadar bahwa apa yang dilakukan Amah adalah demi kebebasan Aman kakak kesayanganya. Mereka kemudian bersama-sama adik-adiknya kemudian melakukan ziarah kubur ke makam Amilah dan Aman untuk mendoakan kebahagiaan bagi mereka yang telah meninggalkannya.

Seperti buku Pram yang lain, buku ini sarat dengan nilai-nilai nasionalisme. Penderitaan hidup yang pahit, tidak melunturkan semangat nasionalisme bahkan menjadi bahan bakar untuk tumbuh menyalanya api nasionalisme itu sendiri. Alur cerita buku ini sebenarnya sederhana. Namun di tangan Pram sang pujangga, cerita ini menjadi indah dan menarik untuk dibaca.  





Wednesday, April 13, 2016

Beberapa catatan dari diskusi untuk menggali input guna revisi UU No. 5 tahun 1990

Input untuk revisi UU No. 5 tahun 1990, (1) Masyarakat tradisional di Indonesia memiliki banyak kearifan local dan inisiatif di bidang konservasi, hal ini perlu masuk dalam landasan sosio antropologis, (2) Konservasi tidak harus menjadi dominasi negara (state), karena masyarakat (community) bahkan korporasi (corporate) bisa berkontribusi dalam kegiatan konservasi, (3) Pendekatan konservasi harus local specific, dan harus dihindarkan adanya pendekatan “penyeragaman” dalam konservasi karena kondisi social budaya, geografis, potensi sumberdaya alam yang berbeda-beda, (4) Pendekatan konservasi membutuhkan pendekatan lintas sector dan lintas actor/level pemerintahan, (5) Pengmbangan konservasi hendaknya dilakukan dengan mengoptimalkan struktur dan pranata social yang masih eksis di masyarakat, (6) Perlu penguatan lembaga Pengelola konservasi di tingkat tapak, (7) Dperlukan pengembangan skema-skema pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi, (8) Perlu dikembangkan reslusi konflik tenurial di kawasan konservasi melalui pendekatan win-win solution, (9) Perlu perngembangan insentif ekonomi dan non ekonomi bagi para pelaku konservasi termasuk dalam hal ini deregulasi perijinan, keringanan pungutan/pajak dll.

Sunday, March 27, 2016

PERAWAN REMAJA DALAM CENGKERAMAN MILITER; catatan pulau buru

PERAWAN REMAJA DALAM CENGKERAMAN MILITER; catatan pulau buru
Oleh: Pramoedya Ananta Toer
Kepustakaan Popular Gramedia
Jakarta, 2011
ISBN 978-979-91-0363-5
248 halaman

Buku ini merupakan sebuah cerita sejarah tentang tipu muslihat Jepang  pada saat melakukan penjajahan di Indonesia tahun 1943-1945, yang mengumpulkan gadis-gadis remaja di Jawa dengan janji mau dikirim sekolah ke Jepang. Padahal kenyataannya mereka dikirim ke beberapa daerah untuk dijadikan pelampiasan nafsu birahi tentara Jepang yang bertugas di garis depan.

Untuk menambah semangat juang para tentaranya, tentara Jepang di Indonesia mengumpulkan remaja wanita terpelajar untuk dijanjikan dikirim ke jepang guna bersekolah dan ketika Indonesia merdeka para wanita tersebut akan dipulangkan ke Indonesia dan akan menempati pos pekerjaan penting seperti perawat, tenaga kesehatan dll. Janji Jepang ini dilakukan secara mulut ke mulut atau gethok tular melalui para pejabat pribumi (mungkin ini untuk menghindarkan tuntutan kejahatan perang di belakang hari). Dengan cara “gethok tular” ini, remaja wanita yang direkrut rata2 cukup berpendidikan dan berpenampilan cantic karena berasal dari keluarga amtenar atau ningrat/priyayi. sebagian remaja tertarik program ini  karena ingin memberikan pengabdian terbaik untuk Indonesia negara baru yang akan di lahirkan. Namun dijumpai pula ada remaja dan orangtuanya yang tidak setuju namun tidak kuasa menolak ancaman tentara pendudukan Jepang

Dari penelusuran sejarah, diketahui bahwa para remaja wanita tersebut dibawa ke Jakarta dan kemudian dikirimkan ke berbagai wilayah Indonesia dan juga negara tetangga lainnya seperti di Singapura atau Malaysia yang menjadi garis depan bagi tentara jepang melawan tentara Sekutu dalam Perang Dunia ke 2. Pramoedya Ananta Toer yang sempat dibuang ke Pulau Buru oleh pemerintah Orde baru menemukan fakta menarik  bahwa beberapa remaja wanita yang dijadikan pelampiasan nafsu tentara Jepang ketika Perang Dunia ke 2, juga terdampar di Pulau Buru. Ketika Jepang kalah perang, para remaja wanita tersebut dibiarkan begitu saja dan sebagian kawin dengan penduduk asli Pulau Buru. Oleh suku yang mengambilnya mereka biasanya diajak tinggal di daerah pelosok pedalaman, diminta untuk meninggalkan identitasnya dan dilarang berkomunikasi dengan orang luar. Hal ini membuat mereka semakin sulit  untuk kembali merajut tali silaturahmi dengan keluarga yang ditinggalkannya di tanah Jawa. Para tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru tahun 70-an berhasil menjumpai beberapa wanita tersebut. Mereka biasanya takut berkomunikasi karena ancaman suami atau sukunya. Merekapun sebagian tidak mau pulang ke jawa karena mereka tidak kuat menanggung malu akibat perlakuan biadab tentara Jepang di waktu lalu....

Buku ini secara umum enak dan mudah dicerna. Kita diajak menyelami sejarah mimpi Indah remaja putri yang ingin membangun negeri, tetapi kemudian malah dijadikan tumbal nafsu berahi tentara Jepang dan kemudian terdampar di negeri antah berantah yang tidak mereka kenal sebelumnya. Aksesibilitas yang susah, budaya dan system nilai yang berbeda, kondisi alam yang terkadang ganas, menuntut mereka melakukan segala daya upaya untuk bertahan hidup.  Tragedi kemanusiaan yang sering disebut dengan “Jugun Ianfu”,  ini merupakan salah satu bentuk kebiadaban tentara Jepang selain bentuk kebiadaban lain seperti “romusha” (kerja paksa). Semoga kejahatan kemanusiaan seperti itu tidak terulang kembali di masa depan.


Sunday, March 20, 2016

Cinta


AYAH

Oleh Andrea Hirata
Penerbit Bentang Pusataka,
Yogyakarta 2015
ISBN 978-602-291-102-9
412 halaman,

Buku ini mengisahkan perjalanan kasih tak sampai, seorang anak kampong Belitong di kala remaja duduk di bangku SMA. Sabari sebagai  tokoh sentral novel ini merupakan anak guru Bahasa Indonesia, yang hidupnya sangat bersahaja, tidak rupawan dan berpenampilan kampungan. Namun dia mempunyai kelebihan dengan sikapnya yang lugu, penuh jiwa setia kawan kepada teman-temannya, hormat kepada orangtua,pintar berpuisi dan pintar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh ayahnya, Sabari ditempa dalam hal puisi, sehigga tdaklah mengherankan kalau dia mempunyai kepekaan luar biasa  untuk menangkap fenomena guna dipuisikan.

Ketka memasuki SMA, Sabari terpesona pada Marlena teman SMP yang menyontek lembar jawabannya ketika sedang ujian SMP. Marlena yang anak pengusaha batako, tidak melirik sedikitpun kepada Sabari yang miskin dan tidak rupawan. Hal itu tidaklah menyurutkan cinta Sabari ke Marlena. Ketulusan cinta Sabari kepada Marlena telah memacunya untuk berjuang dan berprestasi di sekolah, kegiatan ekstra kurikuler dan di lingkungannya.  Walaupun Marlena tetap tidak meliriknya.

Ketika lulus SMA, Sabari sempat merantau ke kota. Namun rasa rindunya kepada Marlena telah memanggilnya pulang. Sabari yang lugu dan kampungan  kemudian kemudian melamar kerja di perusahaan batako milik Markoni (ayah Marlena), supaya dia bisa berdekatan dengan Marlena. Dia diterima bekerja di perusahaan itu dan dia bekerja keras untuk meraih prestasi demi Marlena yang dicintainya. Tapi apa daya Marlena yang anak kota dan keluarga berada, tidak sedikitpun meliriknya, bahkan makin membencinya.

Suatu ketika Marlena yang terbiasa dengan pergaulan bebas, kedapatan telah berbadan dua tanpa ketahuan siapa ayah bayi yang dikandungnya. Demi cintanya, Sabari mengorbankan diri untuk menikahi Marlena. Ketika bayi itu lahir, Sabari sangat menyayangi bayi yang dinamainya Zorro. Dibawanya Marlena dan Zorro ke rumah yang dibangunnya dengan tetesan keringatnya.

Marlena yang terbiasa dengan kehidupan bebas, tidak tahan hidup dengan Sabari yang hidup bersahaja. Marlena melarikan diri  untuk mencari jati diri. Sabari tetap tabah dan berusaha membesarkan Zorro seorang diri.  Zorro yang dianggap sebagai tinggalan dari Marlena, berusaha dirawat dengan sebaik-baiknya. Diajarinya Zorro dengan dongeng dan puisi. Sabari rela meninggalkan pekerjaan di perusahaan batako dan  membuka usaha warung agar dia bisa mencari nafkah tanpa harus terpisah dari Zorro

Zorro tumbuh menjadi anak yang tampan dan berbudi pekerti mulia seperti Sabari. Cobaan menerpa Sabari, karena Zorro hilang diculik oleh Marlena. Kehilangan Zorro merupakan pukulan berat bagi Sabari hingga mendekati gila. Ununglah ada Tamat dan Ukun, teman kecil Sabari yang selalu mendapinginya. Dicarinya Zorro ke berbagai pelosok Sumatra. Setelah melalui perjalanan panjang. Ukun dan tamat berhasil menghadirkan Zorro ke hadapan Sabari.....

Membaca cerita ini, kita akan tersenyum dan tertawa membayangkan keluguan penampilan dan keluguan berpikir anak kampong seperti Sabari, Tamat dan Ukun. Di sisi lain kita juga akan terharu melihat cinta kasih Sabari sebagai ayah pada Zorro (anak tiri) yang begitu tulus dan sebaliknya, cinta kasih Sabari yang begitu mulia kepada Marlena, serta cinta, kesetiakawanan dan pengorbanan untuk sahabat (perjuangan Ukun dan Tamat mencari Zorro). Cerita yang mengalir kocak  dan kadang juga disertai tetesan air mata sangat enak untuk dinikmati. Andrea Hirata, dalam cerita ini juga “menggugat” budaya berbahasa Indonesia yang perlu ditumbuhkan kembali, budaya pemberian nilai di sekolah dan juga menghidupkan budaya “sahabat pena” yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk menambah silaturahmi. Top Markotop!!!