Monday, August 21, 2023

PEKERJAAN SOSIAL DI INDONESIA

 


PEKERJAAN SOSIAL DI INDONESIA

Sejarah dan Dinamika Perkembangan

Penulis: Edi Suharto dkk

Penerbit Samudra Biru

Yogyakarta 2011

246 halaman

ISBN 978-602-96516-2-1

 

Buku ini merupakan kumpuan artikel yang sebagian besar ditulis oleh para akademisi dan alumni dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Buku membahas Sejarah Pekerjaan Sosial sebagai sebuah kegiatan kemanusiaan karitatif untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat yang mengalami masalah sosial.

Di Eropa Barat pada awal revolusi Industri (1760-1830), pekerjaan kemanusiaan merupakan urusan pribadi dan kegiatan antar pribadi. Namun revolusi Industri tersebut menimbulkan berbagai masalah sosial seperti urbanisasi, Krisi ekonomi, kemiskinan, pengangguran dan lain-lain. Menghadapi hal tersebut pekerja sosial yang bekerja secara individu tidak mampu mengatasinya.  Gereja kemudian terpanggil untuk mengorganisir pekerja kemanusiaan dan kegiatan pelayanan kemanusiaan. Hal tersebut memicu tumbuhnya organisasi karitas  seperti Charity Organization Society (COS) tahun 1869 di London dan kemudian diikuti di berbagai kota lainnya. Organisasi-organisasi  karitas ini kemudian merekrut sukarelawan untuk pekerjaan kemanusiaan.  Dari sinilah kemudian muncuk istilah pekerja sosial menggantikan istilah pekerja kemanusiaan. 

Dalam perkembangannya, di awal abad 20, para pekerja sosial yang semula didasari semangat volunterisme kemudian memperoleh bayaran. Supaya bisa mendapatkan bayaran, pada tahun 1904 para pekerja sosial harus menempuh Pendidikan magang atau pelatihan pekerja sosial. Program pelatihan dirasa tidak cukup membekali calon pekerja sosial, sehingga berkembang Pendidikan pekerjaan sosial secara formal seperti Sekolah Pekerjaan Sosial di New York.

Paradigma Pekerjaan Sosial sendiri semula bersifat “blaming the victims” dimana masalah sosial muncul karena individu korban mempunyai “masalah” sehingga tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya. Sehingga untuk treatmentnya, individu korban harus diberi therapy agar bisa menjalankan fungsi sosialnya. Analogi sederhananya, orang miskin itu disebabkan individu tersebut malas. Sehingga untuk mengatasi kemiskinannya, dia harus ditreatment supaya rajin bekerja.

Paradigma blaming the victims tersebut kemudian mengalami pergeseran dengan adanya paradigma Person in Environment (PiE). Konsep ini menekankan bahwa seorang individu itu terkait dengan banyak system seperti keluarga, system agama, system Pendidikan, Sistem Politik, Sistem Pekerjaan, Sistem Pelayanan Sosial dll. Sehingga sebuah masalah sosial muncul bisa jadi disebabkan ada kesalahan atau ketidak berfungsian sebuah system. Oleh karenanya untuk treatmentnya, perlu dilakukan perbaikan di level system atau kebijakan. Ilustrasinya kemiskinan di kalangan petani terjadi bukan karena petani malas, tetapi karena ongkos produksi yang mahal sedang harga jual beras rendah. Untuk perbaikannya diperlukan intervensi di level system untuk penyediaan subsidi saprotan atau penetapan harga beras yang kompetitif.

Di level negara, terdapat dua kutub cara negara mensikapi pekerjaan sosial. Negara-negara Konservatif  seperti Inggris di jaman Margaret Thatcher dan USA di jaman Ronald Reagan merupakan tipikal negara yang berusaha sesedikit mungkin campur tangan dalam urusan pekerjaan sosial bagi warganya.  Masyarakat sejahtera atau tidak itu urusan warga masyarakat itu sendiri. Negara konservatif ini cenderung memakai paradigma blaming the victims dalam menyikapi masalah sosial di negaranya. Sisi lain adalah negara liberal yang menjunjung tinggi isu kesetaraan dan hak asasi manusia.  Masalah sosial muncul karena ada system yang salah atau tidak berfungsi. Kebijakan sosial merupakan sebuah bentuk kewajiban pelayanan negara kepada rakyatnya.

Di Indonesia, pekerjaan sosial tidak mempunya akar sejarah yang mendalam karena jaman Kerajaan, penjajahan Belanda dan Jepang tidak banyak mewariskan program kesejahteraan sosial. Adanya modal sosial yang cukup kuat di masyarakat seperti jiwa gotong royong dan dermawan/bersedekah, membuat pekerjaan sosial cukup ditangani oleh masyarakat itu sendiri.  Pengembangan pekerjaan sosial kemudian semakin berkembang dengan adanya organisasi Muhammadiyah yang mengembangkan berbagai kegiatan pelayanan sosial. Di masa kemerdekaan, persoalan kemiskinan dan masalah sosial menjadi isu krusial, namun negara tidak banyak bisa berbuat karena keterbatasan sumberdaya.

Dalam perkembangannya Pemerintah Indonesia dengan didukung PBB melalui Departemen Sosial mengembangkan Lembaga Sosial Desa (LSD) di tingkat desa untuk memberikan bimbingan sosial kepada Masyarakat. LSD ini berkembang hingga tahun 1970an  yang kemudian berubah menjadi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Untuk Pendidikan Pekerjaan Sosial pada awal tahun 1960an Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendirikan Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS). Sedangkan Dinas Sosial kemudian menyelenggarakan Kursus Dinas Sosial A (KDSA) yang berubah menjadi Kursus Keahian Sosial Tinggi (KKST). KKST ini yang menjadi cikal bakal Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS). Pembentukan STKS ini diikuti oleh beberapa universitas yang mengembangkan Jurusan Kesejahteraan Sosial.

Perjalanan program Kesejahteraan Sosial di mas Orde Baru dan Orde Reformasi mengalami pasang surut dan sejumlah tantangan seperti:

1.    Kelembagaan Departemen Sosial (Pusat) dan Dinas Sosial (di daerah) yang tidak sinergis serta tidak dianggap strategis sehingga tidak memperoleh alokasi anggaran, SDM berkualitas dan dukungan politik memadai.

2.    Paradigma Pekerja Sosial di Indonesia masih sering berkutat pada blaming the victims. Padahal dalam konteks Indonesia, masalah sosial sering muncul karena adanya system dan kebijakan yang tidak adil. Kemiskinan di Indonesia sering merupakan kemiskinan structural yang disebabkan oleh adanya struktur yang menindas kalangan bawah.

3.    Paradigma yang digunakan ooleh lembaga Pendidikan dan lembaga Diklat Pekerja Sosial masih seringkali berorientasi pada blaming the victims, sehingga materi Pelajaran yang dipelajari di bangku kuliah dan pelatihan sering tidak compatible dengan realitas lapangan.

4.    Paradigma, metodologi dan aksi Pekerjaan Sosial  yang digunakan di Indonesia seringkali meng-copy paste pendekatan Barat yang konteks system budaya dan system sosialnya berbeda. Hal ini mengakibatkan pendekatan yang ditempuh sering tidak efektif. Kontekstualisasi pekerjaan sosial menjadi kebutuhan di masa depan.

5.    Profesi Pekerja Sosial Profesional belum diakui dan dipahami secara utuh di masyarakat. Pekerja Sosial masih banyak dianggap sebagai relawan kemanusiaan yang bekerja dengan mengutamakan komitmen saja. Padahal profesi Pekerja Sosial Profesional menuntut komitmen, pengetahuan dan ketrampilan.

 

Secara umum artikel yang dimuat di buku ini , disampaikan dengan Bahasa yang mudah dipahami. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis, saya merasa di buku ini terdapat beberapa artikel yang terasa mengulang-ulang. Meski demikian saya sangat menghargai penerbitan buku ini yang menjadi salah satu starting point untuk mendiskusikan pemikiran-pemikira terkait Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial

Buku ini saya baca setelah membaca buku Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSDK) terbitan FISIPOL UGM. Terlihat pertautan yang sangat erat, karena keduanya bergerak di bidang Kesejahteraan. Hanya saja Departemen  PSDK yang dulu juga menekuni Pekerjaan Sosial sebagai salah satu isu, sejak 2010 mereposisi untuk lebih banyak menggunakan pendekatan “system”. Sedangkan Pekerjaan Sosial saat ini masih banyak yang menggunakan paradigma blaming in victim, walau tidak sedikit yang mengusulkan agar Pekerjaan Sosial menggeser paradigma ke pendekatan system (Person in Environment). Bagi saya, sebenarnya antara PSDK dan Pekerjaan Sosial ini bisa saling mengisi, karena ada masalah sosial  seperti penanganan ODGJ klinis yang pemecahannya ada di level individu.

Semoga melalui Pekerjaan Sosial, pemerintah ke depannya punya visi dan langkah yang lebih kongkrit untuk mewujudkan Tujuan Negara Indonesia: (1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) Memajukan kesejahteraan umum, (3) Mencerdaskan kehidupan bangsa,(4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semoga semua bukan retorika belaka…..

Thursday, August 17, 2023

PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

 


PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Jejak Pemikiran, Pendekatan dan Isu Kotemporer

Editor; Susetiawan, Bahruddin dan Milda L. Pinem

Penerbit: Gadah Mada University Press

Yogyakarta 2022

524 halaman

ISBN 978-623-359-107-2

 

Buku ini berisi sekitar 20 artikel riset dari para dosen dan akademisi di Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), FISIPOL Universitas Gadjah Mada. Departemen PSdK ini dulunya bernama Jurusan Ilmu Sosiatri (1957-2010). Saya sendiri kuliah di jurusan Ilmu Sosiatri pada tahun 1985-1991. Jurusan Ilmu Sosiatri lahir tahun 1957 sebagai sebuah upaya berkontribusi UGM secara langsung untuk mengatasi isu sosial seperti kemiskinan, kebodohan, dan berbagai kondisi patologi sosial lainnya. Dengan demikian jurusan Ilmu Sosiatri tidak hanya merupakan ilmu sosial yang menjelaskan berbagai fenomena penyakit sosial, namun juga ilmu terapan yang mampu memberikan solusi pemecahan masalah terhadap permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat. Alumni Sosiatri akan memiliki kompetensi sebagai social diagnostician dan social therapist dalam Pembangunan Masyarakat baik jasmani, rohani dan sosial.

Di kalangan masyarakat awam seringkali istilah “Ilmu Sosiatri” seringkali sulit untuk dipahami. Terkadang orang menginterpretasikan sebagai Jurusan Ilmu Pathologi Sosial. Adapula yang menerjemahkan sebagai Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial dan lain-lain. Interpretasi tersebut tidak semuanya benar, walau sebagian juga tidak salah. Akhirnya apada tahun 2010 dilakukan penataan dan redefinisi terhadap jurusan Ilmu Sosiatri menjadi Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK). Hasil redefinisi tersebut mengarahkan bahwa Profil alumni PSdK nanti mempunyai kompetensi sebagai (1) Analis Kebijakan sosial , Pemberdayaan masyarakat dan Tanggungjawab Sosial Perusahaan/CSR, (2) Peneliti sosial, (3) Pendamping Masyarakat/Community Development Officer (CDO) dan (4) Penggerak usaha bisnis sosial .

Bagian Pertama buku ini terdiri 2 artikel membahas tentang cara menalar dan etika didalam proses produksi pengetahuan yang berkaitan dengan Pembangunan sosial.  Nalar Induktif, deduktif dan abduktif merupakan varian penalaran yang dipakai dalam penelitian Pembangunan sosial. Selain pemalaran tersebut, aspek kemanfaatan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia merupakan salah satu pilar utama dalam pengembangan studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan.

Bagian Kedua buku ini terdiri 7 artikel yang terkait aspek kerangka studi dan refleksi teoritis yang berkontribusi bagi pengembangan studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Artikel tersebut antara lain: (1) Penguatan Riset Pembangunan Sosial di Indonesia, (2) Path Creation, kerangka alternatif dalam studi Institusi Kesejahteraan, (3) Pengembangan kelembagaan Desa di era Pemberdayaan, (4) Teorisasi Pemberdayaan Perempuan, (5) Adaptasi Pemberdayaan Masyarakat menuju Endemi, (6) Review Literatur Sistematik; Memahami negara Kesejahteraan Digital, (7) Review Literatur Sistematik; Kesejahteraan Pekerja Digital di Indonesia.

Bab Ketiga terdiri 3 artikel riset yang berisi tentang kontribusi sektor swasta dalam Pembangunan sosial.  Artikel tersebut antara lain: (1) Peran Perusahaan dalam Pembangunan Sosial, Dinamika dan implementasi CSR di Indonesia, (2) Prospek Penggunaan Social Return on Investment (SROI) untuk analisis Pembangunan soaial, (3) Tata Kelola Komoditas berkelanjutan; Pemetaan berbagai pendekatan untuk produktivitas Kelapa Sawit Berkelanjutan.

Bab Keempat terdiri 3 artikel yang terkait dengan praktik pemberdayaan Masyarakat yang mencakup: (1) Praktik Community Based Conservation oleh Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pelestarian Lingkungan, (2) Kewirausahaan Sosial dalam Pemberdayaan Masyarakat: Alternatif model Pengembangan Masyarakat, (3) Kewiralembagaan, meninjau ulang kelembagaan untuk Pembangunan sosial.

Bab Kelima terdiri 3 artikel yang terkait dengan issu krusial kekinian terkait Pembangunan sosial seperti: (1) Rezim perumahan  daalam konteks Pembangunan sosial di Indonesia, (2) Rezim Kesejahteraan dan disabilitas; merajut inklusivitas pada Jaminan Kesehatan Khusus bagi Difabel, (3)  Implementasi Kota Ramah Lansia.

Membaca berbagai artikel riset di buku ini memang mengasyikkan karena biasanya ada pembatasan scope, kejelasan metodologi riset yang digunakan, definisi cukup jelas, kerangka teori, analisis dan kesimpulan akhir. Walau isi buku ini merupakan riset oleh akademisi, namun alur penulisan artikel runtut  dan bahasa yang digunakan cenderung mudah dipahami.

 Pembangunan Sosial memiliki dimensi yang sangat luas. Isu Pembangunan sosial termasuk Pemberdayaan Masyarakat merupakan isu yang sudah muncul sejak beberapa decade lalu. Meski demikian dalam buku ini, saya banyak belajar tentang teori, pendekatan baru, cakupan sektor baru untuk Pembangunan Sosial. Dinamika perubahan sosial yang sangat cepat juga potensial menimbulkan  masalah-masalah sosial baru.  Dan itu perlu diantisipasi dan disitulah ilmu perlu direproduksi, agar kampus tiidak menjadi Menara Gading tapi  menjadi mercusuar yang mampu menerangi kegelapan di sekitarnya. Seperti kata salah seorang penulis bahwa Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan harus memiliki kemanfaatan dalam kehidupan dengan berlandaskan moralitas seperti keberpihakan kepda kaum marginal.

 

Wednesday, July 12, 2023


 

Doa dan Shalawat Menjelang Pernikahan  Yayan dan Zasa

123 halaman

 

Buku ini berisi untaian doa, shalawat dan nasehat perkawinan untuk keponakanku Yayan dan Zasa yang menikah 5 Juli 2023. Dalam buku ini terdapat nasehat perkawinan tentang ciri-ciri Keluarga Sakinah, yakni:

A.    Hubungan Internal keluarga:

  1. Menikah demi keluarga
  2. Memiliki semangat kebersamaan dan keikhlasan dalam keluarga
  3. Menjaga kebersihan aqidah, jauh dari syirik.
  4. Memelihara ibadah
  5. Hubungan anak dan orangtua akrab
  6. Anak-anak berakhlak mulia dan shaleh/shalehah
  7. Hubungan sesama anak penuh kasih sayang
  8. Memperlakukan pelayan dengan baik dan manusiawi
  9. Bekerja giat sejak pagi hari
  10. Memakan rejeki yang halal
  11. Membelanjakan uang dengan baik
  12. Tidak berhutang atau membayar hutangnya dengan penuh amanah
  13. Tidak memaksa diri dalam kehidupan dunia
  14. Suasana rumah Islami
  15. Semarak dengan amal shaleh
  16. Menjaga kebersihan dan kesehatan

 

B.    Hubungan ke Luar:

  1. Gemar berbuat amar ma’ruf nahi munkar
  2. Terbuka terhadap kehadiran  tamu
  3. Rajin menyantuni anak yatim
  4. Berhubungan baik dengan kerabat
  5. Menjalin hubungan baik dengan tetangga
  6. Memiliki teman-teman baik yang berakhlak mulia
  7. Rajin membantu pihak yang lemah dan membutuhkan
  8. Memiliki lingkungan tinggal yang baik

Saturday, July 08, 2023

Parijs van Java; darah, keringat dan airmata


 

Parijs van Java; darah, keringat dan airmata

Pengarang: Remy Silado

Kepustakaan Populer Gramedia,  Jakarta 2003

597 halaman,  ISBN 979-9023-89-0

Novel ini ditulis dengan setting Bandung di awal tahun 1920an. Alkisah, novel ini bercerita tentang seorang gadis cantik bernama Gertruida van Veen atau biasa dipanggil Gerry yang pintar bermain piano.  Gerry lahir di New York, namun menjelang remaja keluarganya pindah kembali ke tanah airnya di negeri Belanda. Ayahnya yakni Mark van Veen adalah seorang dosen filologi Semit di fakultas Theologi di Utrecht. (Wikipedia: filologi adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang sejarah, pranata, dan kehidupan suatu bangsa yang terdapat dalam naskah-naskah lama). Selain menjadi dosen, Mark juga menjadi pastor Anabaptis. Mark mendidik  Gerry dengan cara yang kolot dan over protective, seperti dilarang ke theatre, nonton bioskop dan lain-lain. Berbeda dengan ayahnya, Ibu Gerry yang bernama Jennifer Schmidt, merupakan mantan artis yang yang berperangai lemah lembut dan ngemong terhadap Gerry.

Di usia 16 tahun, Gerry berkenalan dengan Rob Verschoor, seorang pelukis jalanan yang berbakat. Rob berniat menjadikan Gerry yang cantik sebagai model lukisannya. Perkenalan tersebut berlanjut menjadi kisah asmara. Gerry berusaha memperkenalkan Rob pada ayahnya namun Mark malah mengusir Rob. Gerry yang sakit hati dengan perlakuan ayahnya terhadap Rob, kemudian malah nekat dan pacaran lewat jalan belakang. Akhirnya Gerry hamil di usia muda. Kehamilan Gerry membuat ayahnya berang dan mengusirnya. Pada saat itu Gerry baru tahu bahwa sesungguhnya ayahnya bukan Mark van Veen tetapi Matthew van Veen. Matthew yang berprofesi actor dan berpacaran dengan Jennifer. Namun Matthew meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan Jennifer dalam kondisi hamil tanpa nikah. Untuk menutup aib tersebut, Mark kemudian menikahi Jennifer.

Gerry yang sedang hamil muda dan diusir oleh ayahnya kemudian menerima ajakan Rob untuk merantau ke Hindia Belanda.  Rob sendiri tertarik untuk merantau ke Hindia Belanda karena tawaran dari Rumondt, seorang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda. Rumondt bercerita bahwa dia bisa mengenalkan Rob dengan orang-orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda dan para bangsawan Jawa yang kaya raya dan menyukai karya seni lukisan. Rumondt bercerita bahwa Rob pasti nanti akan kebanjiran pesanan lukisan. Selain termotivasi oleh cerita Rumondt, Rob juga termotivasi karena kakaknya juga menjadi suster di Hindia Belanda tepatnya di kota Lembang Jawa Barat. Rob dan Gerry bersama Rumondt akhirnya berlayar bersama ke Hindia Belanda. Selama perjalanan ini, Gerry merasa tidak nyaman dan curiga karena Rumondt sering menatap dan memperlakukannya dengan cara yang kurang sopan.

Sesampai di Hindia Belanda, Rob dan Gerry diantar oleh Rumondt ke Jogjakarta. Di sana Rob diperkenalkan dengan Martosuwignyo, seorang bangsawan kaya raya, beristri banyak namun suka berbuat mesum. Rob diminta untuk membuat lukisan di rumah baru Martosuwignyo. Selama di Jogja, Rob dan Gerry kemudian tinggal di salah satu rumah Martsuwignyo dan bertetangga baik dengan keluarga Scholten.

Rumondt sendiri kemudian ke Bandung. Dia ternyata mengelola bordil elit berkedok cafe De Duif (Merpati) di Bandung yang menyediakan wanita-wanita penghibur high class asli Belanda. Martosuwignyo sendiri merupakan salah satu pelanggan tetap De Duif tersebut. Dalam menjalankan operasinya, Rumondt didukung oleh Van der Wijk seorang pengusaha perkebunan Belanda yang kaya raya di Bandung. Van der Wijk inilah sebenarnya otak dan pemilik de Duif.  Bersama pengusaha lain mereka membentuk kelompok elite Preanger Planters. Mereka menginisiasi konsep wisata Parijs van Java atau kota kembang yang menawarkan kemolekan wanita. Konsep Parijs van Java ini mendapatkan perlawanan dari kalangan mahasiswa pergerakan, kalangan rohaniawan dan partai politik. Perlawanan tersebut mencapai puncaknya dengan dibakarnya bordil de Duif oleh pengikut partai politik komunis.

Pembakaran de Duif tersebut membuat Rumondt dan Van der Wijk tiarap mengatur strategi beberapa saat. Mereka kemudian membangun café baru di luar kota Bandung yang diberi nama de Druif (anggur). Mereka memboyong wanita-wanita dari de Duif ke café baru ini. Mereka juga mencari wanita-wanita Belanda yang cantik untuk dijadikan pelacur di café ini. Mereka kemudian teringat dengan Gerry yang sedang berada di Jogja ersama Rob suaminya. Mereka bertekad akan membaca Gerry guna dijadikan mascot café de Druif. Ternyata inilah motivasi sesungguhnya dari Rumondt sehingga mau berjerih payah membawa Rob dan Gerry ke Hindia Belanda. Ternyata Gerry  yang cantik jelita hendak dijadikan pelacur kelas elite di café milik Rumondt dan van der Wijk.

Di Jogja, usia kehamilan Gerry sudah memasuki saat melahirkan. Namun Rob yang terlalu asyik dengan pekerjaannya lalai terhadap  saat-saat krusial tersebut. Sampai akhirnya Gerry yang tertekan batinnya, melahirkan anak yang langsung meninggal dunia. Meninggalnya buah cinta mereka mengakibatkan Gerry mengalami depresi dan menyalahkan Rob.

Rumondt yang sedang mencari cara memboyong Gerry dari Jogja ke Bandung, kemudian menemukan jalan dengan  menawari Rob untuk melakukan pameran lukisan guna pengumpulan dana bagi lembaga gereja. Meski sejatinya penggalangan dana ini merupakan strategi kooptasi dari Preanger Planters terhadap para rohaniawan yang menentang konsep Parijs van Java. Rob menerima tawaran itu guna mencari situasi baru setelah Gerry sempat depresi karena kematian anaknya. Kebetulan Rob sudah selesai melakukan pekerjaan melukis di rumah Martosuwignyo sehingga dia bebas kemanapun juga. Gerry yang semula menolak pindah dari Jogja, akhirnya bersedia pindah ke Bandung karena dia akan dekat dengan kakak iparnya yang menjadi suster di Lembang.

Perpindahaan ke Bandung berjalan lancar. Di Bandung, Rob dan Gerry berkenalan dengan tetangga mereka yakni Abdoelkarim bin Abdoelkadir atau yang biasa disebut AbA. Dia merupakan seorang mahasiswa Fakultas Teknik. Dia seorang penganut Islam Kejawen dan suka menolong orang lain. AbA menyukai keluarga Rob karena mereka Rob bersikap egaliter dan tidak rasialis seperti orang Belanda yang tringgal di Bandung. Rob sendiri menyukai AbA karena Rob bisa belajar banyak pada pandangan batiniah Islam Kejawen yang dimiliki AbA.

Setelah menjalani prosesi pernikahan di gereja, Rob dan Gerry kemudian memulai kehidupan mereka di Bandung. Gerry berbahagia karena dia mulai hamil Kembali. Hal ini membuat Rob termotivasi dalam melukis. Dalam tempo singkat, Rob berhasil menyelesaikan lukisan-lukisannya dan siap dipamerkan. Dalam pameran yang disponsori Preanger Planters, Rob mendapat apresiasi dan banyak karyanya dibeli para orang kaya. Sebagian dana tersebut kemudian disumbangkan ke lembaga agama. Gerry sendiri saat pameran tidak muncul karena dia enggan bertemu Rumondt dan Van der Wijk. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Rumondt yang dengan sembunyi-sembunyi datang ke rumah Rob dan memperkosa Gerry yang sedang hamil. Perkosaan itu tidak diketahui orang. Hanya AbA yang melihat Rumondt pergi tergesa-gesa dari rumah Rob di malam itu dan menjalankan mobilnya dengan laju.

Pemerkosaan itu membuat Gerry depresi hingga berniat bunuh diri. Gerrypun kemudian dirawat di rumah sakit.  Rumondt berpura-pura tidak mengetahui kejadian itu. Dia bilang ke Rob bahwa Gerry depresi mungkin karena gangguan makhluk halus di rumahnya. Namun serapat-rapatnya ditutupi, bau bangkai akhirnya tercium juga. Rob akhirnya tahu bahwa Gerry depresi karena diperkosa  Rumondt. Rob kemudian menghajar Rumondt, meski Rob dikeroyok oleh Rumondt dan Piet Hein si penjaga café. Dengan licik Rumondt menusuk Piet Hein sampai meninggal dan Rob dijadikan tersangka. Rob kemudian disidang dandidakwa melakukan pembunuhan terhadap Piet Hein. Rob  akhirnya ditawan di penjara orang Belanda di Semarang.

Mengetahui Rob ditawan di Semarang, AbA yang prihatin dengan kondisi Gerry kemudian mengungsikan Gerry ke gereja tempat Suster Theresa (kakak Rob) di Lembang. AbA sudah menduga bahwa Rumondt akan memanfaatkan situasi Rob yang ditahan, untuk mendekati dan berbuat jahat kepada Gerry. Dugaan tersebut benar, Rumondt blingsatan mencari Gerry yang menghilang. Dia kemudian mencecar AbA tentang keberadaan Gerry. Saking jengkelnya terhadap AbA yang merahasiakan keberadaan Gerry, Rumondt sampai hati mencelakai AbA dengan menabrak AbA yang mengendarai sepeda. Berutung AbA selamat walau sempat mengalami gegar otak.

Rasa kangen membuat Gerry menengok rumah tinggalnya di Bandung. Hal ini tidak luput dari pengintaian Rumondt. Suatu ketika Rumondt dan Van der Wijk menyuruh anak buahnya untuk menculik Gerry dan membawa ke rumah perkebunan milik Van der Wijk yang terisolir di daerah Situ Patenggang Ciwidey. Rencananya, Gerry akan diisolasi hingga melahirkan bayinya, dan setelah lahir bayinya akan diberikan ke orang dan Gerry akan dijadikan pelacur di café de Druif. Rencana itu berjalan mulus. Gerry melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Indonesia. Bayi tersebut kemudian diculik oleh bidan suruhan Van der Vijk yang berpura-pura membantu proses persalinan Gerry.

Di penjara Semarang, Rob bersahabat dengan Dan Miero seorang Yahudi Belanda. Dan Miero merupakan pimpinan napi yang disegani, namun dia tidak berkutik berkelahi dengan Rob. Dan Miero mengajaknya bersekongkol dengan kepala penjara bernama Ter Braak untuk mencuri sekotak berlian. Dan Miero yang berhasil mencuri kotak berlian akhirnya dikhianati  dan dibunuh oleh Ter Braak. Rob yang perannya melukis wajah Dan Miero menjadi wajah Hastingh pemilik berlian, pada saat perampokan tidak dilibatkan dan disuruh menanti di sebuah gubug oleh Dan Miero dan Ter Braak. Ternyata Rob juga dikhianati oleh Ter Braak dan disingkirkan dengan cara dibakar gubugnya sampai habis. Akhirnya berlian tersebut dikuasai oleh Ter Braak dan digunakan untuk berfoya-foya dengan istrinya yang masih muda namun suka bermewah-mewah.

Gerry yang marah karena anaknya diculik kemudian kabur dari rumah perkebunan Van der Wijk. Dia pulang ke Bandung dalam kondisi acak-acakan, dan ditolong oleh keluarga AbA. Gerry kemudian melaporkan kasus penculikan anaknya oleh Van der Wijk dan Rumondt kepada Polisi. Polisi kemudian menindaklanjutinya dengan menangkap Can der Wijk. Rumondt akhirnya ditangkap polisi namun dengan tuduhan pembunuhan terhadap seorang rohaniawan yang kritis terhadap Preanger Planters. Dalam persidangan kemudian Van der Wijk dihukum sepuluh tahun di penjara Semarang. Dalam kasus pembunuhan rohaniawan, Rumondt terbukti tidak bersalah namun dia dihukum berat karena melakukan keonaran di pengadilan dan ada saksi yang bersaksi bahwa Rumondt-lah yang membunuh Piet Dien. Rumondt akhirnya juga ditawan limabelas tahun di penjara Semarang. Adanya pengakuan itu membuat Departemen Justisi mengeluarkan surat pembebasan untuk Rob. Namun di Semarang sana, Rob sudah dibunuh di gubugnya oleh Ter Braak.

Ditawannya Van der Wijk dan Rumondt membuat Gerry merasa bebas. Dia kemudian mencari anaknya Indonesia ke Yogyakarta, karena mendengar anaknya dititipkan di panti asuhan di Jogja. Namun dia kecele karena anaknya sudah diambil kembali dan dibawa ke tempat lain oleh bidan gadungan yang membantu persalinannya. Dengan rasa kecewa Gerry kemudian melanjutkan perjalanan ke semarang untuk menemui Rob yang ditawan di sana. Namun Gerry yang didampingi Ter Braak hanya menemukan kuburan dengan palang salib bertuliskan nama Rob. Gerry yang putus asa kemudian pulang ke Lembang dan disana dia menemukan anaknya yang dirawat oleh suster Theresa kakak iparnya. Mungkin karena dorongan kemanusiaannya, bidan gadungan meletakkan bayi Indonesia didepan rumah Gerry di Bandung. Untunglah keluarga AbA segera melihatnya dan menolongnya. Oleh AbA bayi Indonesia tersebut kemudian diantar ke suster Theresa untuk dirawat.

Gerry merasa hidup di Indonesia tanpa sanak keluarga membuat dia kesepian. Oleh karenanya dia merencanakan untuk membawa Indonesia ke Amerika untuk berkumpul dengan keluarga besarnya. Sebelum berangkat Gerry bermaksud mengajak Indonesia ziarah ke makam Rob di Semarang. Namun di sana dia menjumpai manusia aneh buruk rupa yang mengendap-endap di makam Rob. Ternyata manusia itu adalah Rob yang raganya rusak akibat terbakar gubugnya. Saat itu Rob ditlong oleh seorang tabib sinshe China yang ternyata tinggal di dekat gubug yang dibakar. Meskipun jiwanya tertolong, namun raga dan wajahnya sudah terlanjur rusak. Rob merasa rendah diri dengan penampilannya sehingga dia menjauh dari khalayak ramai. Diapun menjauh dari Gerry karena kuatir Gerry akan takut dan menolaknya. Setelah melalui berbagai pendekatan, Rob akhirnya bersedia diajak pulang oleh Gerry ke Bandung.

Selang sebulan kemudian, mereka kemudian diantar oleh Suster Theresa,  keluarga AbA, keluarga Scholten dari Yogya dan berbagai handai taulan lainnya ke Pelabuhan. Rob, Gerry dan Indonesia telah meneguhkan hati untuk menuju tanah harapan negeri Amerika dan meninggalkan darah dan airmata di Hindia Belanda.

Novel Parijs van Java ini merupakan novel keempat Remy Sylado yang pernah kubaca. Novel lainnya adalah Ca Bau Kan, Kerudung Merah  Kirmizi dan Malaikat Lereng Tidar. Membaca karya Remy Sylado, kita akan dihadapkan pada novel yang bernuansa cerita sejarah dengan penjabaran lokasi yang detail. Saya menduga Remy Silado menulis novel didahului dengan berbagai studi terlebih dulu, setidaknya desk study. Selain aspek kesejarahan, nilai positif dari novel ini adalah Remy berusaha menampilkan kehidupan yang toleransi dan saling menghargai antar umat beragama dan antar ras. Bahwa perasaan sebagai ras unggul yang menghinggapi orang Belanda colonial, tidaklah berarti apa-apa dibanding nilai-nilai ketimuran yang ada. Remy berusaha mengangkat nilai-nilai humanisme universal dalam novel ini. Novel ini juga sarat dengan pesan moral karena dalam setiap bab, Remy menyisipkan peribahasa atau quotes bijak dari Bahasa Belanda  yang bisa menjadi bahan renungan kita. Dari sisi penulisan, saya menyukai cara Remy memenggal alur tulisan sehingga masing-masing Bab-nya tidak terlalu tebal. Pembagian bab yang tipis membuat, saya merasa tidak terlalu capek lembar demi lembar karya tulisannya. Dari sisi penulisan, saya menemukan banyak kosa kata ‘sastrawi” yang baru saya temukan kali ini. Kemungkinan kata-kata tersebut diambil dari Bahasa Sanskerta. Memang kata-kata tersebut seperti pasir yang terkunyah ketika makan nasi. Bikin kaget dan berkata “aduh”, namun kemudian membuat kita untuk pelan-pelan dan berhati-hati mengunyah ramuan kata-kata yang ada di depan kita.


Sunday, June 25, 2023

Dari Jogja untuk Indonesia; Sebuah Wacana Kebijakan Publik

 

Dari Jogja untuk Indonesia; Sebuah Wacana Kebijakan Publik

Penerbit PT. Hanindita Graha Widya,

Yogyakarta 2003

160 halaman

ISBN 979-8849-35-3

 

Buku ini merupakan kumpulan artikel pendek (rata-rata 3-5 halaman buku) yang berisi pemikiran-pemikiran dalam mensikapi dampak krisis ekonomi  pada awal era reformasi (awal 2000 an).  Para penulis terdiri dari para aktivis yang tergabung dalam sebuah ornop di Yogyakarta bernama Institute for Public Policy and Economic Studies. Para aktivis ini mempunyai latar belakang multi disiplin dan sebagian besar juga berlatar belakang sebagai akademisi di Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. 

Kebijakan public adalah kebijakan  baik politik, wkonomi dan sosial yang diambil secara kolektif  demi kepentingan atau keuntungan masyarakat secara bersama-sama (kolektif). Kebijkaan public bisa berupa aturan atau rambu-rambu , bisa berupa penyediaan barang public yang dipakai bersama (missal jalan raya), bahkan bisa berupa hukum atau kode etik hubungan antar manusia atau budaya. Sistem politik dianggap baik bila mampu mengakomodasikan seluruh kepentingan anggota masyarakat pengguna jasa atau barang public tersebut. Dalam penyediaan jasa dan barang public tersebut sering ditemukan konflik kepentingan antara kepentingan sosial  dan kepentingan individu. Para penyelenggaran pemerintahan termasuk wakil rakyat seringkali terjebak dalam persoalan ini. Adanya rasionalitas kolektif (masyarakat paguyuban) juga seringkali bangsa kita mudah terjebak dalam kolusi dan nepotisme yang mengakibatkan birokrasi kita menjadi sulit berkembang secara professional.

Dalam buku ini sebagian besar penulis menyoroti  posisi Yogyakarta sebagai kota budaya, kota wisata dan kota pendidikan. Untuk menunjang pengembangan ekonomi kreatif sebagai kota budaya, kota wisata dan kota Pendidikan, beberapa gagasan  yang ditawarkan oleh para penulis antara lain:

1.  Pelestarian kota budaya
a. Perlu penataan kota, perlindungan cagar budaya dan penegakan hukum secara

         konsisten
b. Memasarkan museum sebagai obyek wisata
c. Penataan kawasan budaya
d. Pengembangan dialog dan komunitas budaya

2. Pengembangan Wisata

    a. Kebijakan pembangunan pro wisata dan pedesaan

    b. Pengembangan atraksi budaya

    c. Pengembangan kawasan hijau yang asri  dan penanganan sampah

    d. Pembenahan daya saing daerah di bidang wisata (missal deregulasi)

    e. Pengembangan budaya tertib lalu lintas untuk mendukung wisata yang nyaman

    f. Penanganan gelandangan untuk menciptakan lingkungan sosial yang kondusif.

3. Pengembangan Kota Pendidikan

    a. Pengembangan pendidikan berkualitas baik dari sisi Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan

        Emosional dan Kecerdasan Spiritual

    b. Pembangunan perpustakaan terpadu

    c. Pembangunan kampus terpadu

Untuk bia mengembangkan Yogyakarta sebagai kota budaya, kota wisata dan kota Pendidikan, diperlukan dukungan adanya kebijakan pembangunan yang selaras, aparatus yang bersih dan dukungan masyarakat secara menyeluruh.

Meskipun buku ini ditulis untuk kasus Jogja, namun banyak isi tulisan yang juga relevan untuk diterapkan di wilayah lain. Demikian pula dengan dimensi waktu, beberapa tulisan juga masih relevan untuk kurun waktu sekarang ketika reformasi sudah berjalan 25 tahun. Kritik saya terhadap buku ini adalah pengelompokan artikel yang terkadang terkesan campur aduk sehingga alur penangkapan saya sebagai pembaca jadi agak melompat-lompat.