Sunday, February 04, 2024

SUTAN SJAHRIR; Pedoman Kehidupan Bangsa dan Sosialisme Kerakyatan

 


SUTAN SJAHRIR; Pedoman Kehidupan Bangsa dan Sosialisme Kerakyatan

Kumpulan Pidato dan Naskah Tulisan

Penerbit Java Book, Yogyakarta 2023

418 halaman

Buku ini merupakan kumpulan pemikiran salah satu tokoh pergerakan nasional yang kontroversial yakni Sutan Sjahrir, yang disampaikan melalui ceramah/pidato dalam berbagai pertemuan. Pointers-pointersnya sebagai berikut:


1.     Sosialisme Sekarang[1]

Pada saat 1950an ini kaum sosial democrat Barat telah berhasil membawa perubahan positif bagi bangsanya ketika mereka berkuasa. Namun mereka kekurangan tenaga  dan daya hidup untuk menyebarluaskan aliran politiknya ke pihak yang lebih luas.

Kaum komunis Rusia telah membuat berbagai kemajuan disbanding jaman Tsar. Namun keberhasilan itu ditempuh dengan cara yang dictator dan otoriter yang terkadang mengorbankan hak asasi manusia. Kaum sosialis kerakyatan di Asia, menilai pendekatan pembangunan industrialisasi yang ditempuh kaum komunis dirasa lebih praktis dan lebih kelihatan hasilnya dibanding pendekatan kaum sosialis. Meski demikian kaum sosialis kerakyatan ini tidak menyukai pendekatan kaum komunis yang sering melanggar HAM. Janji-janji kaum komunis bahwa mereka akan memperhatikan HAM ketika negara sudah makmur, nampaknya hanya merupakan impian belaka.

Kaum sosialis kerakyatan di Asia ini kurang menerima pandangan kaum sosialis democrat Barat yang dinilai bertele-tele dan mereka masih dipengaruhi oleh pandangan bahwa negara-negara Barat (termasuk yang sosialis) adalah mantan penjajah (kolonialis) yang harus dijauhi.

Kaum komunis seringkali menggunakan kemiskinan dan kesengsaraan sebagai basis agitasi propaganda mereka khususnya agitasi kepada Masyarakat miskin. Kaum sosialis kerakyatan dituntut untuk mampu mendekati dan menjelaskan kepada masyarakat tentang arah dan cara perjuangan kaum sosialis kerakyatan, yang berbeda dengan cara perjuangan kaum komunis yang penuh agitasi dan kebohongan.

Sosialisme Kerakyatan tidak mungkin berdampingan dengan komunisme karena Sosialisme menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Sedangkan komunisme menghalalkan segala cara (termasuk melawan HAM) untuk mewujudkan cita-cita penguasa. Untuk membangun landasan hukum dan pikir otoritarianisme, teori-teori dibuat seperti oleh Lenin, Hitler dan lain-lain.

Diktator otoriter seperti yang dipraktekkan Stalin, mulai ditinggalkan ke arah yang lebih lunak seperti yang diajarkan oleh Lenin (pendekatan partai Tunggal dan bukan dictator tunggal). Hal itu dicontohkan oleh negara Jugoslavia yang memisahkan diri dari kepemimpinan Rusia.

Pada tahun 1955 ini, kerjasama internasional mulai terbuka, tumbuh kesadaran para pihak untuk memajukan masyarakat secara bersama dan kemajuan iptekyang pesat di bidang komunikasi, transportasi dan energi nuklir. Semu aitu merupakan salah satu factor pendukung bagi sosialisme untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

 

2.     Sosialisme di Eropa Barat[2]

 Dalam tulisan ini Sutan Sjahrir mengungkapkan perbedaan pendekatan aliran komunisme dengan sosialisme demokrat yang berkembang saat itu (tahun 1950 an).

Aspek

Komunisme

Sosialisme Demokrat

Tujuan

Peningkatan kesejahteraan masyarakat luas

Peningkatan kesejahteraan masyarakat luas

Sistem Pemerintahan

Diktator proletariat

Pemerintahan demokratis oleh mayoritas.

Cara memperoleh kekuasaan pemerintahan

Perjuangan kelas/ pemberontakan/kekerasan

Perjuangan menguasai parlemen dengan memperhatikan harkat kemanusiaan.

Strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat

Redistribusi aset seperti land reform.

Menggunakan strategi fiskal seperti pengenaan pajak progresif untuk mendorong pemerataan pendapatan.

 

Dalam tulisannya Sutan Sjahrir juga menyoroti perkembangan sosialisme di beberapa negara Eropa yang ternyata terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan beberapa negara komunis Eropa yang berafiliasi ke Rusia, juga mencangkokkan pendekatan sosialis didalam sistem pemerintahannya.

 

 3.     Internasionalisme dalam ajaran dan Gerakan Sosialisme [3]

Secara teori, pada awalnya sosialisme merupakan sebuah paham politik yang bersifat lintas negara (internasionalisme). Marx dan Engels mengenalkan slogan yang sangat terkenal yakni “Kaum proletar dari segala bangsa bersatulah”.

Untuk mendukung Gerakan internasionalisme tersebut pada tahun 1848 dibentuk Liga Komunis di Brussel. Namun Liga Komunis ini bubar tahun 1876 karena perbedaan pandangan diantara anggotanya.

Pada tahun 1889, dibentuk Gerakan Internasional Kedua yang berbasis di Paris.  Gerakan ini bubar karena Perang Dunia Pertama dan kaum buruh/proletar terpecah-pecah karena membela negaranya masing-masing.

Tahun 1899 muncul Kaum Revisionis yang diinisiasi oleh Bernstein. Bernstein mengoreksi pendekattan kolot Marx yang menggunakan perjuangan kelas dan pemberontakan/kekerasan untuk merebus kekuasaan dari kaum borjuis. Bernstein menunjukkan bukti bahwa perjuangan melalui mogok kerja dan parlemen lebih efektif dalam mendukung peningkatan Kesejahteraan buruh dari pada pendekatan kolot dari Marx.

 

4.     Perkembangan Sosialisme di negeri kita sejak berdirinya PSI[4]

Ajaran sosialisme mempunyai dua pilar penting yakni (1) menciptakan tatanan kehidupan Masyarakat yang setara dan bebas penindasan  serta (2) mengutamakan peri kemanusiaan.

Di Eropa,  pada tahun 1950 an sosialisme dengan pendekatan yang relative lunak (tidak radikal) berkembang pesat karena  situasi sosial ekonomi yang berubah.  Paham komunisme yang radikal mulai banyak ditinggalkan.

Di Indonesia, Sosialisme masuk sekitar tahun 1900-an saat masih banyak penindasan oleh kolonialis Belanda. Dari sisi partai politik, sosialisme berkembang menjadi Partai Komunis Hindia (yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia)  dan ISDP (komunisme yang mengutamakan internasionalisme dan anti nasionalisme).

Sosialisme di Indonesia terwadahi dalam tujuan negara kita yang ingin menciptakan Masyarakat sejahtera, anti penjajahan dan penindasan. Tujuan negara ini menjadi pemersatu berbagai aliran politik di Indonesia.

Paska kemerdekaan, sosialisme di Indonesia kemudian pecah menjadi Partai Komunis Indonesia yang mengutamakan pendekatan perjuangan kelas dan berkiblat ke Moskow (Rusia), dan Partai Sosialis Indonesia yang berorientasi nasionalisme dan berupaya membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera, dengan berlandaskan pada kesetaraan, nilai kemanusiaan dan persatuan. Perbedaan pandangan kedua partai politik ini cukup serius, apalagi saat itu juga merebak Perang Dingin antara Blok Barat (yang jadi referensi Partai Sosialis), dengan Blok Timur (yang jadi referensi Partai Komunis Indonesia).

 

5.     Sosialisme Kerakyatan yang kita perjuangkan[5]

Marx dan Engels merupakan pemikir ternama tentang sosialisme. Mereka mendorong adanya pemerintahan oleh rakyat (komune). Meski demikian konsep pemerintahan  oleh rakyat ini merupakan konsep yang masih abstrak sehingga bisa multi tafsir. Perbedaan tafsir oleh para tokoh sosialisme ini kemudian menyebabkan munculnya beberapa varian yakni:

  • Komunisme yang mengutamakan internasionalisme (lintas negara), yang mendorong adanya dictator proletariat melalui kelembagaan partai. Konsep ini antara lain dikembangkan oleh Lenin. Aliran ini mendorong adanya peralihan kekuasaan ke tangan kaum proletar melalui pemberontakan dan kekerasan.
  • Komunisme yang dikendalikan secara sentralistik oleh seorang dictator dari partai komunis. Dalam aliran ini sang dictator menjadi penguasa tunggal. Aliran ini dikembangkan oleh Stalin. Aliran ini juga mendorong adanya peralihan kekuasaan ke tangan kaum proletar melalui pemberontakan dan kekerasan. Aliran ini dalam perkembangannya sering bersikap otoriter dan bahkan melakukan penindasan terhadap warganya sendiri.
  • Sosialisme democrat yang mendorong pemerintah dilakukan secara demokratis melalui pemilihan umum dengan mengedepankan pendidikan dan pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat.

Sosialisme di Indonesia yang dikembangkan oleh Partai Sosialis Indonesia lebih mendorong Upaya peningkatan Kesejahteraan Masyarakat luas melalui cara demokratis dan mengutamakan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

 

6.     Masa depan Sosialisme Kerakyatan[6]

Dalam artikel ini Sjahrir membahas perpecahan antara kaum sosialis kerakyatan dengan kaum komunis. Perpecahan ini antara lain disebabkan oleh Tindakan kaum komunis yang dianggap tidak konsisten melawan penindasan dan penjajahan. Bahkan kaum komunis sendiri melakukan praktek penjajahan dan penindasan terhadap kelompok pro kemerdekaan di Hongaria.

Melihat hal itu orang-orang sosialis yang konsisten dengan slogan pro rakyat, anti pejajahan dan penindasan memisahkan diri membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI). Sjahrir optimis sosialisme kerakyatan dengan pendekatan yang lebih lunak akan bisa diterima oleh rakyat Indonesia. Untuk mendapatkan dukungan Masyarakat, PSI kemudian aktif mengembangkan serikat buruh dan serikat tani. Selain itu mereka aktif mendekati kalangan terdidik untuk mau berjuan bersama meningkatkan kapasitas kaum buruh dan petani.

 

7.     Sosialisme dan Pimpinan[7]

Pada artikel ini,  Sjahrir mengupas perjalanan tata pemerintahan yang dimulai dengan Era Teokratis Dimana ada orang-orang yang yang dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Para pemimpin (atau raja)  tadi memperoleh “kekuatan” karena dianggap mempunyai kemampuan supra natural (kesaktian) yang diperoleh dari Tuhan.

Tahap berikutnya adalah kepemimpinan raja-raja/penguasa  yang feodalis bergeser kepada kepemimpinan yang lebih egaliter dimana orang awam bisa menjadi pemimpin misalnya melalui pemberontakan.  Kepemimpinan dalam situasi yang belum tertata mengakibatkan adanya penindasan yang kuat kepada yang lemah. Hal ini kemudian berkembang menjadi kapitalisme.

Kapitalisme sendiri kemudian memunculkan perlawanan dari kaum sosialis (dan komunis). Kaum komunis seperti di Rusia mendorong terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat secara merata melalui “perjuangan kelas” dan dictator proletariat. Diktator proletariat dimaksudkan adanya kepemimpinan kolektif (oleh Partai Komunis)  yang diisi oleh orang-orang yang dianggap cerdas dan mampu mewakili aspirasi kaum proletar dimanapun berada.

Diktator proletariat sendiri memperoleh kritik yang sangat tajam dari kaum sosialis democrat karena   dictator proletariat dalam menjalankan pemerintahannya seringkali melakukan penindasan dan kekerasan terhadap kaum proletary itu sendiri. Mereka menyebarkan mata-mata untuk  memantau kegiatan warganya. Hal ini menimbulkan rasa takut. Mereka secara fisik relative sejahtera, namun tidak secara kejiwaan.  

Untuk Indonesia sendiri, pilihan model tata pemerintahan dan kepemimpinan di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang masih “terbelakang” (saat tahun 1950an). Meski demikian pembangunan nasional haruslah mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara jasmani dan rohani. Oleh karenanya Pembangunan harus didasarkan pada penghormatan prinsip kemanusiaan dan kesetaraan.

 

8.     Pedoman Kehidupan Bangsa[8]

Dalam artikel ini Sjahrir menyoroti kehidupan paska kemerdekaan (sekitar tahun 1950an) yang mengalami euphoria setelah berakhirnya penjajahan. Euphoria tersebut ditandai dengan dinamika politik yang tinggi dan para tokoh beserta partai politik saling bersikutan untuk memperoleh kursi kekuasaan. Kesibukan mereka berebut kekuasaan dan jabatan, dibumbui oleh maraknya kasus korupsi di birokrasi dan partai politik.

Kehidupan yang menjadikan politik sebagai panglima, mengakibatkan Pembangunan sosial ekonomi terbaikan. Kemiskinan merajalela, keamanan memburuk dan disintegrasi sosial berkembang. Kondisi menimbulkan frustasi bago Masyarakat banyak karena kemerdekaan tidak membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.

Sjahrir menawarkan gagasan tentang perlunya Pembangunan ekonomi yang terencana yang didukung dengan pendekatan yang ilmiah. Dalam Pembangunan ekonomi ini, peningkatan kesejahteraan masyarakat luas harus menjadi tujuan utama, dengan tetap memperhatikan aspek kemanusiaan dan demokrasi. Sjahrir berpendapat bahwa kita gak perlu sungkan memakai pendekatan “Barat” sepanjang pendekatan tersebut bermanfaat dan cocok untuk mendukung Pembangunan di Indonesia.

 

9.     Peninjauan dan Penilaian Keadaan Dewasa ini di negeri kita[9]

Dalam artikel ini Sjahrir menyoroti kondisi ekonomi yang sangat buruk di Indonesia dan ketimpangan Jawa – Luar Jawa. Kondisi di Jawa yang padat penduduk, mengakibatkan lahan pertanian menjadi sangat terbatas. Sedangkan di Luar Jawa, potensi sumberdaya alam melimpah namun penduduknya tidak merata, teknologi belum maju  dan aksesibilitas  terbatas.  Pemerintah tahun 1950-an yang lebih mengutamakan politik dan pembebasan Irian Jaya tidak cukup memberikan perhatian untuk pembangunan ekonomi. Korupsi merajalela, deficit keuangan negara, inflasi, ketergantungan terhadap impor pangan  dan kaum Ali-baba semakin berkembang.

Dari sisi politik, instabilitas keamanan  mengakibatkan Masyarakat mengungsi dari kampung halamannya. Hal ini sangat ironis karena Ketika penjajahan Belanda dan Jepang mereka tiodak sampai mengungsi, sedangkan di jaman kemerdekaan mereka harus meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan rasa aman. Partai politik dan para pemimpin, lebih banyak memikirkan Nasib kelompoknya dan tidak peduli dengan Masyarakat yang semakin menderita. Kondisi politik yang tidak stabil juga dipengaruhi dengan campur tangan militer dalam pemerintahan dan tidak tegasnya Soekarno terhadap parpol pendukungnya yang korup dan sikapnya yang main mata dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI berusaha menempel pemerintah dan Soekarno agar suatu saat mereka bisa mengambil alih pemerintahan yang ada.

Ketidak stabilan politik ini menimbulkan banyak protes dari pemerintah daerah dan pemimpin politik di daerah. Mereka menuntut adanya desentralisasi pemerintahan yang adil. Tidak adanya solusi yangbisa diterima pemerintah pusat dan pemerrintah daerah kemudian menimbulkan pemberontakan  seperti  PRRI di Sumatera Tengah dan Minahasa. Pemberontakan ini juga menimbulkan sikap sentiment terhadap suku Jawa dan pemerintahan yang berbasis di Jawa. PKI sendiri terus memperkuat basis mereka sambil mengintai kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan dengan cara yang licik.

Di bidang militer, pada saat kemerdekaan jumlah tentara sangat banyak karena berasal dari laskar pejuang kemerdekaan. Siapapun bisa menjadi tentara. Setelah kemerdekaan perlu dilakukan rasionalisasi jumlah tentara agar efisien. Seleksi telah dilakukan  dengan memperhatikan kondisi fisik, Pendidikan dan berbagai parameter lainnya. Hal ini menimbulkan perasaan sakit hati bagi mereka yang tidak lolos seleksi. Hal ini diperparah eks tentara Hindia Belanda (KNIL) juga diterima menjadi tentara Republik Indonesia. Sebagian Barisan Sakit Hati ini memberontak atau melakukan aksi tindak gangguan keamanan yang akhirnya membuat pemerintah harus merekrut tentara daslam jumlah banyak untuk menjaga keamanan.

Masalah di bidang militer juga semakin kompleks dengan perpecahan diantara para pimpinan militer. Perpecahan ini sampai pemberontakan di daerah Sumatera dan Sulawesi, dan menjadi halangan besar untuk Pembangunan militer kita. Isu lain adalah ketidakjelasan peran tentara paska kemerdekaan. Apakah militer akan focus fungsi menjaga ketertiban dan keamanan? Ataukah militer akan focus untuk pertahanan negara? Ketidak jelasan peran militer ini akan sangat mempengaruhi arah Pembangunan dunia miter, struktur kemiliteran dan jumlah personal yang dibutuhkan.

Di bidang politik luar negeri, Indonesia memiliki jumlah penduduk, sumberdaya alam dan kondisi geografis yang sangat strategis. Di lingkup Asia Tenggara, meskipun menjalankan politik bebas, Indonesia perlu  mewaspadai acaman komunisme yang semakin berkembang di China dan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Karena tidak menutup kemungkinan, komunisme tersebut juga akan melakukan kudeta pemerintahan di Indonesia. Pegalaman di banyak negara, kaum komunis adakah opportunis yang licik, sehingga perlu ekstra hati-hati dalam menghadapinya. Apalagi kesadaran politik Masyarakat kita masih terbatas, tidak memahami kelicikan kaum komunis  dan mudah diiming-imingi dengan propaganda yang utopis.

Di bidang birokrasi, profesionalisme para pemimpinn dan  birokrasi pemerintah terbatas dan tidak mempunyai visi Pembangunan yang jelas. Hal ini diperparah dengan mentalitas yang korup. Pemberontakan di berbagai daerah muncul antara lain disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap birokrasi pemerintah pusat yang lemah. Diperlukan pimpinan yang berintegritas, professional, mampu mendidik dan memimpin Masyarakat dalam membangun Indonesia.

 

10.  Keadaan dan Tugas kita[10]

Dalam artikel ini, Sjahrir menyoroti Demokrasi Terpimpin yang dicanangkan Soekarno yang telah menimbulkan inflasi yang cukup hebat. Pengeluaran pmerintah yang besar untuk pembebasan Irian Jaya dan konfrontasi dengan Malaysia serta korupsi, telah membuat peredaran uang sangat tinggi.

Kelesuan ekonomi ini dicoba dijawab dengan membangkitkan nasionalisme melalui proyek mercusuar, penerapan dwifungsi ABRI (khususnya Angkatan Darat), penempatan pejabat ABRI dalam Perusahaan BUMN,  dan lain-lain. Namun Upaya penanaman nasionalisme ini tidak sepenuhnya bisa menjawab persoalan ekonomi yang ada. Bahkan kegelisahan dan frustasi akibat inflasi ini juga menghinggapi kalangan militer.

Di bidang politik, Ketika para Parpol hanya menjadi aksesoris pelengkap, PKI dengan kelihaiannya terus berusaha menempel dan menudukung presiden. Mereka mencoba kompromi dengan situasi yang ada, sambil mengintai kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan.

Menghadapi situasi tersebut, Sjahrir melontarkan beberapa gagasan untuk perbaikan yakni: (1) menjaga semangat persatuan dan kesatuan antar partai dan tidak gontok-gontokan sendiri, (2) membangun optimisme Masyarakat melalui pengorganisasian Masyarakat dalam wadah serikat buruh, serikat tani dll, (3) Membangkitkan semangat persatuan bagi pemerintah daerah, (4) mengembangkan pemuda pelopor atau local champion Pembangunan, (5) m,embuat rencana Pembangunan yang matang dan diimplemengtasikan dan dimonitor secara konsisten.

 

11.  Tinjauan Dalam Negeri[11]

Dalam artikel ini Sjahrir mengkritisi Demokrasi terpimpin yang dilakukan oleh Soekarno. Kebijakan merebut Irian Jaya dan konfrontasi Malaysia serta kondisi politik yang tidak stabil telah menyebabkan ekonomi merosot yang ditandai dengan lemahnya produksi, merosotnya perdagangan luar negeri, belanja yang tinggi untuk persenjataan, minimnya pendapatan negara dari pajak serta inflasi yang tinggi. Hal ini kemudian menimbulkan masalah sosial seperti pemberontakan dan kriminalitas yang meningkat dan menurunnya disiplin pegawai pemerintah.

Di bidang politik, partai dikooptasi oleh pemerintah dan posisi militer yang menguat dalam pemerintahan. Posisi militer ini bermanfaat untuk mengimbangi PKI yang  senantiasa mengintai kesempatan untuk menguasai pemerintahan. Oleh karenanya PKi mendorong adanya kebijakan konfrontatif dengan Malaysia karena PKI berharap Upaya tersebut bisa mengganggu konsentrasi militer di pemerintahan. Selain itu PKI berharap kebijakan konfrontasi ini bisa digunakan  untuk mendapatkan senjata untuk barisan taninya (seperti slogan Mao Tse Tung bahwa petani berjuang dengan cangkul di tangan tanan dan bedil di tangan kiri). Dalam perkembangannya, Aidit yang memimpin PKI berusaha menyesuaikan Langkah politiknya sesuai dengan dinamika yang ada di Indonesia dan tidak sepenuhnya mengikuti kebijakan komunis Moskow. Selanjutnya Aidit juga lebih cenderung mengikuti aliran komunisme China yang lebih mengakomodir petani. Dinamika politik Indonesia saat itu agak membingungkan bagi PKI karena Soekarno masih cukup kuat sehingga PKI masih belum nberani mengambil alih kekuasaan.

 

12.  Pembangunan Ekonomi Negara KitaTinjauan Dalam Negeri[12]

Dalam artikel ini, Sjahrir menyoroti Pembangunan ekonomi yang mandeg di awal kemerdekaan. Banyak kekecewaan yang muncul dari masyarakat karena setelah merdeka kondisi masyarakat lebih buruk dibanding jaman penjajahan. Kelaparan merajalela dan pelayanan Kesehatan menurun. Insfrastruktur sepetrti jalan raya banyak yang rusak, produksi pertanian menurun karena minimnya pupuk, industry merosot karena peralatan tidak menunjang, pengangguran merajalela karena minimnya lapangan kerja dan pertambahan populasi yang cukup tinggi.

Beberapa pemikiran Sjahrir untuk mengatasi hal tersebut antara lain” (1) pemupukan modal Pembangunan dari masyarakat dan pemerintah, dan mengurangi ketergantungan terhadap modal asing agar keuntungan bisa dinikmati bangsa sendiri (2) prioritasi impor untuk barang-barang modal kerja yang dibutuhkan untuk mendorong produksi dalam negeri, (3) membangun industry pokok yang selama ini diimpor dari luar untuk menghemat devisa, (4) membangun industry strategis yang dibutuhkan di pasar internasional seperti baja, (5) peningkatan kualitas dan rasionalisasi/ pengurangan pegawai negeri dan tentara untuk menghemat pengeluaran negara, (6) prioritasi pembangunan untuk pemenuhan basic needs di bidang kesehatan dan Pendidikan/human investment, (7) meningkatkan kualitas dan kuantitas Pendidikan untuk menyiapkan SDM yang terampil secara teknis dan juga manajemen, (8) menciptakan lapangan kerja baru untuk mengatasi pengangguran (9) meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian, (10) Pembangunan infrastruktur untuk menunjang pemasaran produk pertanian, (11) membangun pemerintah dan Masyarakat yang mempunyai budaya hemat, (12) pengembangan insentif untuk investasi bidang produksi strategis yang berkaitan dengan kebutuhan public, (13) pemerintah memfasilitasi hubungan antara pemilik Perusahaan dengan buruh agar tercipta hubungan kerja yang kondusif dan saling menguntungkan.

 

Komentar:

Secara umum buku ini bisa menuntun kita untuk memahami: (1) persamaan dan perbedaan konsep sosialisme democrat dengan komunisme, (2) dinamika politik paska kemerdekaan sampai tahun 1965-an.

Kritik untuk buku ini adalah: (1) Tidak memiliki kata pengantar yang memudahkan pembaca untuk memahami alur buku dari awal. (2) Terdapat artikel-artikel yang kurang lebih isinya sama sehingga terasa seperti pengulangan, (3) Gaya bahasa asli yang dipertahankan di buku ini mungkin seringkali  agak susah dicerna oleh generasi sekarang. 

 

 

 



[1] Ceramah Sutan Sjahrir dalam Kongres Asia II Bombay, 6 November 1956.

[2] Naskah lepas

[3] Naskah lepas

[4] Naskah lepas

[5] Suara Sosialis Agustus 1956

[6] Suara Sosialis Februari 1957

[7] Ceramah pada waktu Dies Natalis Gerakan Sosialis 16 Oktober 1957 di Bandung

[8] Pidato pada waktu Kongres “Majelis Pemuda Kristen Oikumenis” ke IV di Bandung (18 April 1957).

[9] Catatan lepas.

[10] Naskah lepas, ditulis tahun 1963.

[11] Naskah lepas, ditulis tahun 1964.

[12] Naskah lepas,

Sunday, January 21, 2024

JANG OETAMA; Jejak dan Perjuangan HOS. Tjokroaminoto

 


JANG OETAMA; Jejak dan Perjuangan HOS. Tjokroaminoto

Penulis: Aji Dedi Mulawarman

Penerbit Galang Pustaka,

Yogyakarta 2015

ISBN 978-602-9431-92-6

256 halaman

 

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup salah satu tokoh pergerakan nasional HOS Tjokroaminoto (1882-1934). Secara umum buku ini isinya mirip dengan buku HOS Tjokroaminoto yang ditulis oleh sejarawan Drs. Anhar  Gonggong pada tahun 1985. Kelebihan buku ini adalah bahasa yang lebih popular sehingga mudah dicerna dan referensi pendukung yang lebih kaya.

Jang Oetama (Yang Utama) merupakan gelar yang disematkan oleh Kongres Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) tahun 1935 untuk menghormati kepeloporan dan kepahlawanan HOS Tjokroaminoto.

 

Latar belakang keluarga

Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto lahir tanggal 16 Agustus 1882 di Bakur-Sawahan, Madiun, Jawa Timur. Kakek buyut Tjokroaminoto adalah ulama Kiai Bagus Kasan Basari  yang menyunting seorang putri Raja Surakarta. Kakeknya adalah seorang Bupati Ponorogo dan ayahnya merupakan seorang Wedana (Asisten Bupati). Karena berasal dari Keluarga bangsawan maka beliau berhak menyandang gelar “Raden Mas”. Setelah aktif dalam pergerakan politik yang berafiliasi Sosialisme Islam yang menghormati kesetaraan, beliau meninggalkan gelar Raden Mas. Beliau lebih suka menggunakan istilah Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau HOS Tjokroaminoto untuk menonjolkan identitias Islam pribumi.  

Hari kelahiran Tjokroaminoto bersamaan dengan letusan gunung berapi Gunung Krakatau. Hal ini oleh sebagian orang dihubungkan dengan keyakinan bahwa beliau akan memberikan “prestasi” yang dahsyat seperti ledakan gunung tersebut.

Meskipun Tjokroaminoto memperoleh pendidikan pamongpraja di OSVIA Magelang,  mempunyai kakek seorang Bupati Ponorogo, ayah wedana dan punya mertua seorang Wakil Bupati  Ponorogo, namun Tjokroaminoto tidak tertarik jadi pamong praja. Beliau malah suka kerja di swasta seperti di sebuah perusahaan dagang swasta, pindah jadi calon masinis, pindah jadi tenaga kimia di pabrik gula bahkan jadi kuli pelabuhan. Beliau lama kelamaan malah tertarik dengan fenomena banyaknya kemiskinan yang terjadi di lingkungan masyarakatnya.

 

Karir politik

Tjokroaminoto merupakan orang yang cerdas dan suka berorganisasi. Beliau sempat menjadi ketua perkumpulan Panti Harsoyo Surabaya. Karir politik Tjokroaminoto dalam pergerakan nasional dimulai dalam usia muda. Beliau mula-mula masuk Budi Utomo dan menjadi Ketua Budi Utomo Surabaya. Ketertarikan pada perkembangan dunia Islam yang  sedang melemah, membuat beliau kemudian bergabung dengan Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam atau SI  pada tahun 1912. SI sejak awal sudah melihat perlunya negara Indonesia yang merdeka sehingga bisa mengatur bangsa sendiri (zelf bestuur). Mereka memperjuangkan gagasan tersebut dengan cara yang kooperatif. Selain mendorong kemerdekaan bangsa, salah satu garis politik yang dipilih oleh SI adalah anti kapitalisme asing dan memilih jadi pelindung wong cilik.

Pada tahun 1918, Dewan Rakyat (Volksraad) dibentuk untuk menampung dan menyuarakan kehendak rakyat. Tjokroaminoto dan Abdul Muis (sastrawan pengarang novel Salah Asuhan) mewakili SI duduk dalam Volksraad tersebut. Namun Volksraad ini tidak mampu mewadahi cita-cita kemerdekaan yang diharapkan oleh SI, sehingga Tjokroaminoto dan Abdul Muis lebih banyak mengambil peran sebagai oposisi.

Pada tahun 1921, Sarekat Islam Merah yang dikomandani Semaun dan berafiliasi komunis memisahkan diri dari Sarekat Islam. Pemisahan ini didasari perbedaan ideologis karena SI berideologi Islam dan SI Merah berideologi komunis. Pada tahun 1923 SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam dan mengambil kebijakan non kooperatif dengan pemerintah.

Pada tahun 1929 Partai Serikat Islam berubah nama menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) yang mempunyai cabang di banyak daerah. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Suryopranoto, dr. Sukiman, AM Sangaji dll merupakan tokoh-tokoh PSII. Dalam perkembangannya, selain dengan kaum komunis, PSII juga mempunya perbedaan pandangan yang serius dengan golongan nasionalis (Dr. Sutomo cs). Di Tingkat internal PSII juga mengalami perpecahan antara Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim yang berorientasi Islam dengan dr. Sukiman dan Suryopranoto yang cenderung nasionalis.

Di bulan Ramadhan tepatnya 17 Desember 1934, Tjokroaminoto meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Yogyakarta. Setelah meninggalnya HOS Tjokroaminoto, PSII mengalami kemunduran yang cukup signifikan.

 

Butir-butir pemikiran Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan seorang organisatoris yang hebat. Hal ini  dibuktikan dengan jumlah anggota SI pada awal berdirinya tahun 1912 hanya 2.000 orang, bisa berkembang menjadi 2.500.000 orang pada tahun 1919. Beliau juga bisa mengembangkan SI tidak hanya di Jawa tetapi juga di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bahkan Ambon. Gagasan pemikiran Tjokroaminoto yang pro rakyat kecil, dipandang merupakan gagasan baru yang membawa harapan untuk orang banyak Apalagi gagasan tersebut disampaikan dengan gaya orasi yang sangat memikat dalam rapat akbar yang dihadiri puluhan ribu orang. Bahkan tidak jarang sebagian masyarakat yang masih tradisional menganggap Tjokroaminoto adalah “Heru Tjokro” atau “Sang Ratu Adil” yang akan membebaskan masyarakat dari penjajahan dan kemiskinan. Masyarakat tersebut rela antri berdesakan untuk bersalaman atau menyentuh baju Tjokroaminoto yang dianggap jelmaan “Ratu Adil”. Melihat fenomena tersebut Haji Agoes Salim dengan bijak mengingatkan Tjokroaminoto agar tidak terjebak dalam kultus individu. Melihat pengaruh Tjokroaminoto yang sangat besar, Belanda menyebutnya “Raja Jawa tanpa Mahkota”. 

Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim dan Abdul Moeis sering disebut sebagai Tiga Serangkai  Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) karena kecendekiawanan, integritas, dan kepemimpinannya. Beliau bertiga menjadi motor penggerak PSI/PSII.

 Beberapa pokok pemikiran beliau antara lain:

1.      Pemerintahan oleh bangsa sendiri (Zelf Bestuur)

   Salah satu pemikiran cemerlang Tjokroaminoto adalah anti kolonialisme dan perlunya pemerintahan pribumi untuk menentukan nasib sendiri (zelf bestuur). Beliau melihat penjajahan menimbukan kemiskinan dan penderitaan sehingga beliau berpendapat penjajahan asing harus diakhiri. Bangsa Indonesia harus diatur oleh pemerintah sendiri dan bukan oleh Belanda atau pemerintah boneka Hindia Belanda.

2.   Anti kapitalisme asing.

     Sejak tahun 1928, HOS Tjokroaminoto sudah melakukan penentangan terhadap sewa tanah (erfpacht) oleh orang asing. Kontrak sewa yang panjang oleh orang asing, pasti akan mengurangi jatah lahan yang bisa digarap petani. Beliau bersama PSII juga mendorong adanya keringanan pajak bagi rakyat pribumi serta penghapusan kerja paksa.

3.   Sosialisme Islam

    Beliau mendorong Sosialisme Islam sebagai dasar negara. Sosialisme di sini diartikan sebagai sebuah bentuk paham yang mengutamakan persahabatan dan persaudaraan sebagai pengikat kehidupan bermasyarakat, dan bukan individualisme. Keperluan Masyarakat, hak-hak Masyarakat dan kewajiban Masyarakat harus diletakkan di atas kepentingan sendiri dengan berpegang pada aturan-aturan Islam. Tujuan akhir Sosialisme Islam ini adalah Kesejahteraan lahir dan batin berdasarkan Islam.  Ideologi sosialisme Islam ini menimbulkan perpecahan dengan SI Merah yang berafiliasi komunis karena SI mendasarkan pada pengakuan terhadap aspek reliji sedang komunisme  berbasis pendekatan kesejahteraan materialisme semata.

4.  Pan Islamisme

      Gerakan Pan Islamisme ingin mengembalikan umat Islam untuk bersatu sebagaimana yang pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad dan sepeninggalnya. Gerakan ini memiliki gagasan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dengan menanggalkan warna kulit, etnis, bangsa, dan budaya. Tjokroaminoto bersama SI berusaha menggalang jejaring kerjasama  yang kokoh dengan organisasi Islam lain (termasuk organisasi Islam Internasional) atas dasar kesamaan ideologi. Untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam, upaya pembangunan karakter dan budaya umat Islam sesuai dengan ajaran Islam menjadi sangat penting. Pandangan Pan Islamisme ini banyak dikritik oleh golongan nasionalis seperti dr Sutomo yang menganggap bahwa cita-cita Pan Islamisme sulit terwujud. PSII juga dikritik karena lebih mengutamakan Islam daripada nasionalisme.

 

Sisi lain HOS Tjokroaminoto

Orator sang ratu adil

Tjokroaminoto merupakan seorang orator ulung dan menjadi tokoh pergerakan nasional dalam usia yang muda. Beliau sangat menguasai materi yang disampaikan dan juga menguasai teknik orasi. Buya HAMKA  yang pernah mengikuti kursus Sarekat islam tahun 1924 sangat mengagumi pemikiran dan kemampuan orasi HOS Tjokroaminoto. Beliau menyampaikan bahwa ketika Tjokroaminoto mengajar, semua peserta penuh antusias mengikuti pelajarannya dengan penuh konsentrasi.

Gaya orasi Tjokroaminoto yang memikat ini, kemungkinan ditiru oleh Soekarno. Ketika Tjokroaminoto berbicara, semua orang diam dan mendengarkan dengan seksama. Hal yang terjadi pula ketika Soekarno sedang pidato, semua orang diam dan ibarat ada jarum jatuh, akan terdengar nyaring bunyinya.

Wartawan yang cerdas

Tjokroaminoto mempunyai kemampuan jurnalisme yang sangat baik. Untuik menyampaikan gagasannya kepada masyarakat luas, selain melalui orasi, Tjokroaminoto menggunakan media massa koran. Beberapa koran tersebut antara lain Oetoesan Hindia, Soeloeh Hoekoem, Fadjar Asia, Al-Islam, Al-Djihad, dan Bendera Islam. Selain itu juga terdapat beberapa penerbitan local yang dikelola oleh rekan-rekan seperjuangan beliau. Pada awal tahun 1900, pengawasan media cetak agak dilonggarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sehingga Tjokroaminoto dan kawan-kawan seperjuangannya agak leluasa menggunakan koran sebagai media perjuangan.

Organisatoris yang hebat

Untuk menjalankan organisasi Sarekat islam (dan kemudian PSI/PSII) termasuk penerbitan koran, Tjokroaminoto berhasil menggalang donasi dari para pengusaha dan pedagang serta anggota partai. Beliau juga bisa mendapatkan dukungan donasi dari pemerintah arab atau organisasi internasional lain.

Beliau menyadari bahwa kaderisasi merupakan kunci untuk mengembangkan dan menjaga kesinambungan organisasi. Oleh karenanya beliau juga menyelenggarakan kursus  bagi kader, yang isinya mencakup cara mengelola organisasi dan pembahasan garis politik partai. Kader yang sudah dilatih kemudian disebarkan ke berbagai cabang SI yang masih lemah organisasinya, untuk membenahi organisasi cabang SI tersebut.

Tjokroaminoto juga berusaha mendorong penerapan idiologi dalam praktek nyata di masyarakat.  Sebagai contohnya, untuk mendukung sosialisme Islam, Tjokroaminoto bersama PSII mendorong tumbuh kembangnya sarekat tani, sarekat buruh, koperasi dan lembaga perbankan syariah. Di dunia Pendidikan yang menjadi salah satu concern beliau, beliau juga mendorong adanya sekolah-sekolah untuk pribumi.

Tjokroaminoto merupakan seorang pemerhati budaya dan mahir untuk memainkan alat music tradisional. Beliau juga menggunakan pendekatan budaya kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh Wali Songo dalam menyebarkan Islam.

Kepala Keluarga yang bijaksana

Tjokroaminoto merupakan kepala eluarga yang mendidik anaknya dengan disiplin dan lekat dengan ajaran Islam. Istri pertamanya (RA Soeharsikin) yang dinikahui sekitar tahun 1902 berasal dari keluarga bangsawan  yang setia mendukung perjuangan Tjokroaminoto. Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, beliau menjadikan rumahnya di Surabaya sebagai tempat indekost bagi para pemuda yang akhirnya menjadi tokoh pergerakan nasional.  Rumah di jalan Paneleh Surabaya tersebut akhirnya menjadi tempat berdiskusi bagi para tokoh pergerakan bangsa.

Istri kedua Pak Tjokro (Roestina) yang dinikahi sekitar 1921 (ada kemungkinan setelah istri pertama meninggal), berasal dari kalangan rakyat biasa dan berprofesi sebagai seniman. Beliau memilih Ibu Roestina karena beliau menghormati prinsip kesetaraan, dan ingin menjauhkan diri dari atribut kebangsawanan yang dirasa kurang sesuai dengan sosialisme Islam.  Ibu Roestina ini yang melanjutkan peran Ibu Soeharsikin dalam merawat anak dan mendukung perjuangan HOS Tjokroaminoto hingga akhir hayat.


Penutup

Semoga semangat pengorbanan HOS Tjokroaminoto bisa menular dan diteladani oleh kita semua. Semoga perjuangan HOS Tjokroaminoto bernilai ibadah dan pahala senantiasa mengalir untuk beliau.

Saturday, January 13, 2024

HOS. TJOKROAMINOTO

 


HOS. TJOKROAMINOTO

Penulis: Drs. Anhar Gonggong

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Jakarta 1985

114 halaman

 

Buku ini ditulis oleh sejarawan Anhar Gonggong tahun 1985. HOS. Tjokroaminoto (1882-1934) merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang legendaris dan disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.

 

Latar belakang keluarga

Kakek buyut Tjokroaminoto adalah ulama Kiai Bagus Kasan Basari  yang menyunting seorang putri Raja Surakarta. Kakeknya adalah seorang Bupati Ponorogo dan ayahnya merupakan seorang Wedana (Asisten Bupati). Salah satu hal yang menarik adalah Tjokroaminoto yang telah menempuh pendidikan pamongpraja di OSVIA Magelang, berdarah bangsawan, mempunyai kakek seorang Bupati Ponorogo, ayah wedana dan punya mertua seorang Wakil Bupati  Ponorogo, tidak mau memanfaatkan kebangsawanan keluarga dan kekuasaan mertuanya untuk membangun karir pribadi. Tjokroaminoto tidak tertarik jadi pamong praja. Beliau malah suka kerja di swasta seperti di sebuah perusahaan dagang swasta, pindah jadi calon masinis, pindah jadi tenaga kimia di pabrik gula bahkan jadi kuli pelabuhan. Pengalaman menjadi kuli pelabuhan ini menjadi bekal yang berharga ketika beliau di kemudian hari mendirikan organisasi serikat pekerja. Untuk menopang penghasilan yang pas-pasan, di Surabaya Tjokroaminoto menyewakan sebagian rumahnya untuk kos-kosan sederhana bagi para pelajar termasuk Soekarno.

 

Karir politik

Karir politik Tjokroaminoto dalam pergerakan nasional dimulai dalam usia muda. Beliau mula-mula masuk Budi Utomo dan menjadi Ketua Budi Utomo Surabaya. Ketertarikan pada perkembangan dunia Islam yang  sedang melemah, membuat beliau kemudian bergabung dengan Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam atau SI  pada tahun 1912. SI sejak awal sudah melihat perlunya negara Indonesia yang merdeka. Mereka memperjuangkan gagasan tersebut dengan cara yang kooperatif. Selain mendoronmg kemerdekaan bangsa, salah satu garis politik yang diapilih oleh SI adalah anti kapitalisme asing dan memilih jadi pelindung wong cilik.

Pada tahun 1918, Dewan Rakyat (Volksraad) dibentuk untuk menampung dan menyuarakan kehendak rakyat. Tjokroaminoto dan Abdul Muis mewakili SI duduk dalam Volksraad tersebut. Namun Volksraad ini tidak mampu mewadahi cita-cita kemerdekaan yang diharapkan oleh SI, sehingga Tjokroaminoto dan Abdul Muis lebih banyak mengambil peran sebagai oposisi. SI sesuai prinsipnya yang anti kapitaslis asing kemudian banhyak bergerak mendirikan sarekat tani dan sarekat buruh. Bahkan beberapa tokoh SI sendiri (termasuk Tjokroaminoto) sempat dikjebloskan ke penjara karena dituduh menghasut rakayt dan menimbulkan huru-hara.

Pada tahun 1921, Sarekat Islam Merah yang dikomandani Semaun dan berafiliasi komunis memisahkan diri dari Sarekat Islam. Pemisahan ini didasari perbedaan ideologis karena SI berideologi Islam dan SI Merah berideologi komunis. Pada tahun 1923 SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam dan mengambil kebijakan non kooperatif dengan pemerintah. Di bidang sosio ekonomi, Partai SI berhubungan erat dengan Muhammadiyah yang mempunyai program amal usaha untuk Kesejahteraan umat. Partai SI ini di tahun 1928  juga menginisiasi pembentukan “Majelis Ulama” untuk menjadi wadah diskusi menyelesaikan perbedaan khilafiyah dalam berbagai aliran Islam.

Pada tahun 1929 Partai Serikat Islam berubah nama menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) yang mempunyai cabang di banyak daerah. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Suryopranoto, dr. Sukiman, AM Sangaji dll merupakan tokoh-tokoh PSII. Dalam perkembangannya, selain dengan kaum komunis, PSII juga mempunya perbedaan pandangan yang serius dengan golongan nasionalis (Dr. Sutomo cs). Di Tingkat internal PSII juga mengalami perpecahan antara Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim yang berorientasi Islam dengan dr Sukiman dan Suryopranoto yang cenderung nasionalis.

Di bulan Ramadhan tepatnya 17 Desember 1934, Tjokroaminoto meninggal dunia karena sakit.

 

Butir-butir pemikiran Tjokroaminoto

Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim sering disebut sebagai dwitunggal  Partai Sarekat Islam Indonesia karena kecendekiawanan, integritas, dan kepemimpinannya. Beliau sering disebut menjadi guru bagi Soekarno yang nasionalis, Kartosoewirjo yang Islamis dan Semaun yang komunis. Sebuah sumber juga menyebutkan bahwa Sarekat Islam yang dipimpin Tjokroaminoto mempunyai pengaruh kuat bagi dinamika politik di kemudian hari. Sarekai Islam telah melahirkan Sarekat Islam Putih yang kemudian berkembang menjadi Masjumi, Sarekat Islam Hijau yang berkembang menjadi Darul Islam – Kartosoewirjo dan Sarekah Islam Merah yang berkembang jadi partai Komunis Indonesia-Semaun.

Tjokroaminoto merupakan seorang orator ulung dan menjadi tokoh pergerakan nasional dalam usia yang muda. Seorang Buya HAMKA  (yang saat itu masih muda) sangat mengagumi pemikiran dan kemampuan orasi HOS Tjokroaminoto.

Beberapa pokok pemikiran beliau antara lain:

1.     Anti kapitalisme asing.

Sejak tahun 1928, HOS Tjokroaminoto sudah melakukan penentangan terhadap sewa tanah (erfpacht) oleh orang asing yang durasinya 75 tahun dan bisa diperpanjang. Beliau menolak sewa seperti itu karena masyarakat kita yang agraris (saat itu jumlah petani sekitar 80-90% dari jumlah penduduk) sangat membutuhkan lahan. Kontrak yang panjang oleh orang asing, pasti akan mengurangi jatah lahan yang bisa digarap petani. Beliau Bersama PSII juga mendorong adanya keringanan pajak bagi rakyat pribumi serta penghapusan kerja paksa.

2.     Sosialisme Islam

Beliau mendorong Sosialisme Islam sebagai dasar negara. Sosialisme di sini diartikan sebagai sebuah bentuk paham yang mengutamakan persahabatan dan persaudaraan sebagai pengikat kehidupan bermasyarakat, dan bukan individualisme. Keperluan Masyarakat, hak-hak Masyarakat dan kewajiban Masyarakat harus diletakkan di atas kepentingan sendiri dengan berpegang pada aturan-aturan Islam. Dalam sosialisme islam ini secara implisit juga terkandung prinsip kemerdekaan (liberty), persamaan (egality) dan persaudaraan (fraternity).

Ideologi sosialisme Islam ini menimbulkan perpecahan dengan SI Merah yang berafiliasi komunis karena SI mendasarkan pada pengakuan terhadap aspek reliji sedang komunisme  berbasis pendekatan materialisme. Dalam Sosialisme Islam dimungkinkan adanya orang kaya sepanjang kekayaan dikumpulkan dengan cara yang sesuai ajaran agama, sedang komunisme mendorong adanya perjuangan kelas yang melawan  semua “orang kaya” tidak peduli apakah orang kaya asing ataukah pribumi.

Untuk mendukung sosialisme ini, Tjokroaminoto bersama PSII mendorong tumbuh kembangnya sarekat tani, dan sarekat buruh. Beliau juga mendorong tumbuhnya koperasi sebagai salah satu lembaga perekonomian masyarakat.

3.     Pan Islamisme

Gerakan Pan Islamisme ingin mengembalikan umat Islam untuk bersatu sebagaimana yang pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad dan sepeninggalnya. Gerakan ini memiliki gagasan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dengan menanggalkan warna kulit, etnis, bangsa, dan budaya. Beberapa tokoh Pan Islamisme adalah Al Tahtawi (1801-1873), Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897), dan Muhammad Abduh (1849-1905). Dalam pandangan Jamaluddin Al Afgani, Islam mengalami kemunduran akibat berbagai faktor. Misalnya umat yang meninggalkan ajaran Islam, bersikap taklid, bersikap fatalis, menjauhi akhlak mulia, lemah dalam persaudaraan Islam, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan melalaikan ilmu pengetahuan.

Tjokroaminoto bersama SI berusaha menggalang jejaring kerjasama  yang kokoh dengan organisasi Islam lain (termasuk organisasi Islam Internasional) atas dasar kesamaan ideologi. Untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam, upaya pembangunan karakter dan budaya umat Islam sesuai dengan ajaran Islam menjadi sangat penting.

Pandangan Pan Islamisme ini banyak dikritik oleh golongan nasionalis seperti dr Sutomo yang menganggap bahwa cita-cita Pan Islamisme sulit terwujud. PSII juga dikritik karena lebih mengutamakan Islam daripada nasionalisme.

4.     Tafsir Al Quran

Di bidang agama, pada tahun 1928 Tjokroaminoto juga menulis tafsir Al Quran. Penulisan Tafsir ini kemudian diawasi oleh Majelis Ulama Indonesia karena ada kecenderungan banyak menggunakan referensi dari para pemikir India, dan diduga banyak berafiliasi ke aliran Ahmadiyah Lahore.

 

Penutup

Menjadi salah satu tokoh pergerakan, merupakan sebuah pilihan yang penuh perjuangan karena terkadang harus mengorbankan waktu, tenaga dan harta untuk kepentingan bangsa dan mengenyampingkan  kepentingan keluarga. Semoga semangat pengorbanan HOS Tjokroaminoto bisa menular dan diteladani oleh kita semua. Semoga perjuangan HOS Tjokroaminoto bernilai ibadah dan pahala senantiasa mengalir untuk beliau.


 

 Komentar:

  • Saya mendapatkan buku ini dari toko buku loak dan ada stempelnya sebuah SD di Kabupaten Tuban.Kalau buku ini menjadi koleksi perpustakaan sebuah SD, saya melihat isinya hanya relevan untuk guru. Tapi untuk murid SD, buku ini terlalu berat dari sisi isi dan Bahasa. Bahkan saya berpendapat buku ini mungkin cocoknya untuk anak kuliah (atau setidaknya siswa SMA).
  • Buku ini menggunakan beberapa kutipan dengan gaya bahasa lama (bukan  ejaannya tapi gaya Bahasanya yang lama). Bagi para pembaca milenial mungkin perlu mengunyah agak lama agar bisa memahami makna tulisan yang sebenarnya.
  • Terdapat beberapa kesalahan lay out sehingga terkesan ada kalimat-kalimat atau kutipan yang terpenggal.

 

 

 

 

 

Saturday, January 06, 2024

Akhir yang tidak selesai; Gelombang Kedatangan Tanaman dan Perubahan Wilayah Pedalaman

 


Akhir yang tidak selesai; Gelombang Kedatangan Tanaman dan Perubahan Wilayah Pedalaman

Hery Santoso

Penerbit Interlude, Yogyakarta 2023

ISBN 978-623-8275-04-5

216 halaman

 

Dalam buku ini mas Hery menuturkan pasang surut komoditi boomcrop. Boomcrop dalam hal ini dimaknai sebagai komoditas yang menimbulkan berbagai kejutan  dalam waktu yang relative singkat, baik berupa lonjakan produksi, yang kemudian diikuti  dengan keuntungan, hingga  gelombang migrasi ke wilayah-wilayah baru utamanya di wilayah pedalaman. Beberapa komoditi yang dibahas antara lain Tembakau, Karet, Kentang, Kopi, Kakao dan Kelapa Sawit.

 

Tembakau (Emas Hijau)

Budidaya tembakau di wilayah Temanggung dan Dieng, dipicu oleh Sistem Tanam Paksa (cultuur stelsel) sekitar tahun 1870 . Meskipun system tanam paksa dihentikan, masyarakat setempat  masih terus membudidayakan tembakau. Wilayah dataran tinggi merupakan wilayah yang ekosistemnya unik sehingga komoditi yang sesuai untuk wilayah dataran tinggi relative sangat terbatas. Keterbatasan komoditi ini membuat mereka hanya mempunyai pilihan terbatas sebagai sumber penghidupan, sehingga daerah dataran tinggi sering dikonotasikan sebagai daerah yang miskin. Oleh karena itu ketika tembakau diintroduksi di sana dan cocok dibudidayakan, tembakau menjadi salah satu harapan bagi masyarakat untuk memperbaiki kondisi ekonominya. Meskipun budidaya tembakau membutuhkan external input  tinggi termasuk dari curah tenaga kerja, tembakau juga menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Penerimaan masyarakat yang sangat positif terhadap tembakau kemudian melebur ke mitos dan ritual-ritual masyarakat terkait dengan tembakau.

Pada awalnya tembakau seringh dikombinasikan dengan jagung sebagai makanan pokok, kacang-kacangan untuk penyubur tanah dan ternak untuk sumber tenaga kerja dan pupuk. Kombinasi tersebut menciptakan ekologi yang seimbang. Perpaduan yang menguntungkan tersebut juga didukung oleh adanya migrasi penduduk  ke daerah dataran tinggi. Namun karena pertimbangan efisiensi dan mencari untung yang lebih besar, lama kelamaan banyak petani tembakau meninggalkan konsep tersebut. Mereka lebih banyak melakukan budidaya tembakau secara monokultur. Dengan sistem monokultur ini unsur hara tergerus dan  mereka membutuhkan input yang disupply dari pupuk dan obat-obatan pabrik. Input-input tersebut relatif mahal sehingga petani banyak yang memanfaatkan jasa Lembaga keuangan formal maupun informal. Kerusakan ekologis yang mengakibatkan ketergantungan yang tinggi terhadap input dari luar serta margin keuntungan yang semakin menipis membuat budidaya tembakau di beberapa daerah menjadi surut dan beralih ke komoditas lain.

 

Karet (emas putih)

Pada awal abad 19-20, karet bersama tembakau menjadi komoditas yang menjanjikan di Deli-Sumatera Utara. Berbagai komoditas perkebunan seperti karet, teh, dan tembakau diproduksi  oleh Kongsi dagang internasional dari Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika. Praktik Perkebunan di Pantai Timur Sumatera ini menghidupkan adanya praktik perbudakan dengana adanya kuli kontrak dari Jawa dan Cina. Ribuan perempuan juga didatangkan dari Jawa untuk menyediakan layanan seks untuk para pekerja perkebunan. Komoditi karet yang dihasilkan dari Perkebunan tersebut sebagian besar dikirim ke Amerika.

Penyebaran varietas baru karet Brazil yang sangat pesat mengakibatkan penguasaan lahan oleh masyarakat semakin terdesak. Meskipun di lahan perusahaan, tersedia sistem jalur untuk memberi kesempatan budidaya tanaman pangan, namun dirasa tidak mencukupi. Masyarakat local kemudian mensiasatinya dengan mengembangkan  kebun karet rakyat dengan perladangan gilir balik dengan pola agroforestry tanaman karet dengan padi ladang, tanaman buah, rotan dan lain-lain.  Pengembangan agroforestry tersebut ditengarai lebih merupakan pilihan rasional untuk maksimalisasi keuntungan dan bukan pertimbangan kelestarian ekologi semata. Pengembangan agroforestry tersebut lebih merupakan agroekosistem ekstensif yang dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dari sisi tenaga kerja dan kesuburan tanah. Pengembangan budidaya karet di Sumatera ini kahirnya membawa banyak perubahan sosial dan ekonomi dari sisi tenurial yang mengarah ke individual, munculnyasistem tenaga kerja upahan dan lain-lain.

Di Kalimantan, sebagian masyarakat  telah mengambil karet alam  seperti Willunghbeia sp,  gutta percha dari Nyatoh (Palaquium sp) dan getah jelutong (Dyera costulanta).  Saat itu mereka hanya mengambil dari alam sehingga sering menghadapi ancaman Binatang buas maupun perebutan areal antar suku. Adanya introduksi budidaya karet varietas baru , membuat Masyarakat Dayak kemudian mengembangkan pertanian semi menetap. Meski demikian pengembangan budidaya karet di Kalimantan tidak cukup merata karena adanya komoditas lain yang berniali ekonomi tinggi seperti lada dan rotan.

Karet mengalami booming pada tahun 1920, namun kemudian merosot di tahun 1930. Pada saat itu kebutuhan pasar yang tinggi, kondisi geografis dan klimatologis yang mendukung budidaya karet, ketersediaan tenaga kerja serta aspek historis masyarakat yang sudah mengenal karet alam, membuat perkembangan budidaya karet melonjak pesat. Saat ini karetpun masih menjadi komoditas penting untuk sokoguru ekonomi local jutaan petani, penyerapan tenaga kerja dan devisa negara. Pada tahun 2016, karet berkontribusi sekitar 25-40%  dari total ekspor subsector perkebunan. Perkebunan karet rakyat mencapai 85% dari total area kebun karet nasional yang mencapai 3,5 juta hektar. Sedangkand ari sisi produksi, karet rakyat mencapai 76% dari total produksi karet nasional. Dari sisi ekonomi rumah tangga, di beberapa daerah seperti di Bungo – Jambi, 70% pendapatan rumah tangga berasal dari karet. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan karet rakyat ini adalah banyak agroforestry karet sudah tua dan tidak produktif lagi sehingga perlu dicarikan jalan pemecahannya.

 

Kentang

Di lereng atas Daerah Dataran Tinggi Dieng merupakan daerah yang terbelakang karena kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya yang terbatas. Lokasi yang tinggi mengakibatkan budidaya pertanian menjadi terbatas. Sebelum tahun 1970-an mereka menanam jangung dan tembakau. Kondisi kemudian membaik di tahun 1970 ketika sayuran kubis/kol dibudidayakan dan masyarakat lereng atas mendapatkan keuntungan dari budidaya sayuran tersebut.

Kondisi tersebut semakin berkembang dengan dibudidayakannya tanaman kentang Granola pada tahun 1980-1990 an yang hanya bisa tumbuh di atas ketinggian 1800 dpl. Meskipun budidaya kentang membutuhkan input eksternal yang tinggi, namun itu tidak terlalu menjadi masalah bagi masyarakat karena di lingkungannya terdapat Lembaga keuangan formal dan informal yang menyediakan pinjaman modal. Booming kentang ini menyebabkan desa-desa lereng atas yang semula dianggap miskin dan terbelakang menjadi desa yang makmur. Pembangunan kampung seperti tempat ibadah (masjid dan mushola), ritual keagamaan, pesta kembang api, Pendidikan anak semakin berkembang. Kehidupan sosialpun cenderung makin individualis  dan terjadi pengelompokan antar keluarga berdasar alur darah keturunan (sistem bani/trah).  

Untuk maksimalisasi keuntungan, masyarakat petani kentang menggenjot produksi dengan mengelola lahan tanpa jeda (panen 3 kali setahun). Mereka mengatasi kebutuhan nutrisi tanah dengan memanfaatkan pupuk dan obat-obatan pabrik. Selain itu mereka melakukan ekstensifikasi  perluasan lahan kentang dengan merambah hutan dan Kawasan cagar budaya. Untuk mengatasi kebutuhan tenaga kerja, petani di lereng atas kemudian menerapkan sistem upahan dengan mendatangkan pekerja dari desa di lereng bawah. Akibat eksploitasi lahan yang berlebihan, kejayaan kentang hanya bertahan 2-3 dekade saja. Nutrisi lahan semakin habis sehingga terjadi ketergantungan yang semakin tinggi terhadap pupuk pabrik. Selain itu muncul berbagai penyakit tanaman yang sulit diobati. Ekosistem lereng atas yang rentan, menjadi tergerus oleh pertanian kentang yang eksploitatif.  Erosi pun semakin meningkat. Kondisi tersebut berakibat pada produktifitas yang menurun, dan margin keuntungan yang semakin menipis. Semua itu berujung pada kebangkrutan sebagian petani yang tidak mampu mengembalikan pinjaman modal kepada lembaga keuangan yang menjadi kreditornya.

 

Kopi (Emas Hitam)

Pada tahun 1700an, Masyarakat Priangan mulai membudidayakan kopi yang dirasa prospektif. Masyarakat berani menempuh resiko membudidayakan kopi untuk menggantikan komoditas konvensional yang mereka budidayakan sebelumnya. Secara perlahan kemakmuran mereka meningkat walaupun tidak sepenuhnya berhasil menghapus kemiskinan. Pemerintah colonial yang melihat kopi sebagai komoditi yang menguntungkan kemudian memaksakan monopoli dan membeli harga kopi dengan sangat murah. Masyarakat kemudian melakukan perlawanan dengan menjual kopi mereka ke pedagang Cina.

Kopi bagi Masyarakat Gayo Aceh merupakan komoditi yang melegenda, meski mereka mengadopsi kopi  setelah kopi mengalami kejayaan di Priangan satu abad sebelumya. Kopi   telah mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan religi masyarakat. Kontribusi kopi terhadap pendapatan ekonomi rumah tangga di Gayo, sangatlah signifikan. Biaya produksi kopi yang cukup mahal, tidaklah menjadi penghalang untuk petani membudidayakan kopi karena berbagai Lembaga permodalan tersedia di lingkungannya. Walau perlu diakui bahwa tidak selamanya kopi menghasilkan kisah manis, karena terdapat kepedihan seperti kemiskinan yang tak kunjung usai, renternir yang merajalela dan resiko-resiko yang selalu mengintai. Meski demikian budidaya kopi menjadi salah satu pilihan yang terus dilakukan masyarakat paska perkebunan kopi oleh kongsi pemerintah colonial berakhir.

Di daerah lain seperti Pegunungan Tengger, sejak perluasan tanam paksa, adopsi tanaman kopi juga sangat massif. Kopi yang semula ditanam sebagai tanaman pagar, dikembangkan memenuhi petak-petak pertanian lahan kering Masyarakat. Sekitar tahun 1840 diperkirakan sekitar 400.000-500.000 keluarga terlibat dalam budidaya kopi. Lahan-lahan tidur atau sebagian Kawasan hutan disulap menjadi kebun kopi.

Kopi sebagai emas hitam yang bernilai tinggi, membuat pemerintah colonial melakukan control secara ketat seperti dalam bentuk monopoli, control harga dan lain-lain. Masyarakat disuruh menanam kopi di kebunnya untuk kepentingan pemerintah colonial. Akibat tekanan ini lahan produksi pangan masyarakat menjadi terbengkelai sehingga muncul kondisi rawan pangan. Masyarakat juga kehilangan kesempatan untuk budidaya tanaman komersial lain yang potensial menjadi alternatif tambahan pendapatan mereka. Walau kopi menguntungkan, namun keuntungan itu hanya dinikmati pemerintah colonial dan masyarakatnya malah miskin. Bahkan secara ekstrim dikatakan Masyarakat yang menanam kopi tidak bisa menikmati kopi yang ditanamnya karena semua disetorkan ke Kongsi pemerintah. Tradisi minum seduhan daun kopi, kopi luwak dan kopi jagung, merupakan sebuah bentuk kemiskinan karena mereka tidak bisa menikmati kopi berkualitas yang dihasilkan di kebunnya. Mereka hanya bisa memanfaatkan sisa-sisa kopi yang tidak lolos seleksi oleh Kongsi pemerintah. Kuatnya control dan intervensi pemerintah colonial dalam budidaya kopi di waktu lalu, mengakibatkan tidak muncul pengusaha pribumi yang tangguh. Karena penikmat utama keuntungan bisnis kopi adalah pemerintah colonial.

Tanam paksa kopi dihapus 1908. Di dataran Tinggi Kerinci-Sumatera, produksi kopi meningkat  sepuluh kali lipat antara tahun 1923-1926. Hal ini menunjukkan Masyarakat mempunyai rasionalitas sendiri dalam budidaya kopi. Ketika mereka melihat kopi menguntungkan dan membawa kemakmuran, mereka akan membudidayakannya walau investasi cukup besar dan demikian pula dengan resikonya. Walaupun daya dukung lingkungan menurun dan muncul penyakit tanaman baru yang mengakibatkan kejatuhan produksi kopi, namun Sebagian petani kelas menengah nampaknya tetap bertahan dengan kopi. Apalagi ditemukan beberapa varietas kopi baru yang dianggap menjanjikan. Untuk maksimalisasi keuntungan, petani menemukan langkah-langkah adaptif. Misalnya untuk mengurangi resiko cuaca yang tidak menentu, mereka biasa melakukan panen ketika biji masih hijau. Untuk mengatasi pencurian kopi, mereka membuat kamuflase dengan membiarkan kebun kopi mereka seperti hutan belukar.

Padsa saat ini, minum kopi sudah menjadi gaya hidup. Produksi kopi pun lebih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Selama lima tahun terakhir, produksi kopi berkisar 600.000 ton pertahun. Kopi telah berhasil memberikan kontribusi signifikan bagi Sebagian petani kopi. Meski demikian terdapat sejumlag tantangan yang diohadapi petani kopi seperti produktivitas yang rendah, margin keuntungan tipis, ketidakberdayaan dalam mobilisasi factor produksi, lemahnya posisi tawar,dan  tuntutan standar kualitas yang semakin meningkat.

Sebuah pembelajaran dari kasus kopi ini adalah di daerah pedalaman yang jarang terjangkau oleh kehadiran negara, peranan pasar ternyata bisa sangat menentukan dalam mendorong dinamika Masyarakat. Petani yang kelihatanya bernalar pikir sederhana, mempunyai rasionalitas dan keberanian tersendiri Ketika menghadapi tantangan masa depan dan kemakmuran keluarganya.

 

Kakao (Emas Coklat)

Kakao merupakan salah satu komoditi di Sulawesi yang sudah diproduksi sejak jaman colonial. Kakao pernah mengalami booming pada tahun 1820-1880 meski dalam skala relative kecil. Kakao saat itu dijadikan sebagai komoditi cadangan yang bisa menggantikan komoditi lain (misal teh, kopi, karet) ketika komoditi lain tersebut mengalami kemunduran. Kakao kemudian dikembangkan secara massif oleh pemerintah colonial Ketika pasar internasional minuman coklat semakin meningkat. Mulai abad 19, kakao telah diekspor dari Sulawesi ke Filipina. Ekspor tersebut terhenti di tahun 1928 ketika produksi kakao merosot. Ekspansi kakao kemudian merambah Ambon dan Jawa. Meski demikian Suklawesi tetap dianggap penting karena menjadi sentra kakao tertua di Indonesia. Kemerosotan produksi kakao tersebut antara lain disebabkan oleh kemunduran ekosistem penopangnya, serta hama dan penyakit tanaman. 

Booming kakao Kembali terjadi tahun 1980an Ketika pasokan kakao dunia terhambat karena serangan hama kakao di Pantai Gading dan Ghana. Kakao di Sulawesi yang selama setengah abad mati suri, kembali menggeliat dengan peluang pasar itu. Banyak orang Bugis dari dataran rendah migrasi ke dataran tinggi di Napu dan Kulawi (Sulawesi Tengah) untuk membuka lahan kakao baru yang dikelola secara mandiri. Kakao dipandang sebagai komoditi yang menjanjikan kemakmuran dibanding tembakau dan bawang yang selama ini menopang kehidupan Masyarakat di sana.

Anatara decade 1980-1990an  produksi kakao meningkat signifikan dan Indonesia menjadi penghasil kakao ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Lonjakan produksi ini dilakukan oleh petani kakao (bukan Perusahaan) di Sulawesi. Di tahun 2004, total pengapalan kakao dari pelabuhan Makassar mencapai 200.000 ton (produksi tahunan nasional sekitar 309.000 ton).

Booming kakao di atas antara lain dipengaruhi oleh: (1) tersedianya lahan yang luas dan cenderung masih subur dan segar, (2) tersedianya tenaga kerja melimpah seperti migran Bugis, (3) tersedianya pengetahuan tentyang teknik budidaya dan pasar kakao, (4) terbukanya pasar dunia akibat penurunan produksi di Pantai Gading dan Ghana, (5) jaringan infrastruktur yang memadai, (6) merosotnya nilai rupiah terhadap dollar sehingga komoditi ekspor diuntungkan. Booming kakao yang menghipnotis banyak orang, memang memberikan peningkatan kemakmuran bagi sebagian petani. Namun di sisi lain, booming kakao tersebut juga disertai dengan kebutuhan lahan yang meningkat. Untuk mengatasi kebutuhan lahan tersebut, sebagian masyarakat memanfaatkan lahan hutan di sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Selain dampak negative perambahan hutan, hal lain yang perlu diantisipasi adalah politik identitas karena ada pandangan stereotype (yang belum tentu benar) bahwa yang mendapatkan keuntungan dari booming kakao adalah pendatang (seperti orang Bugis) dan bukan penduduk asli setempat.

Saat ini kakao Kembali mengalami penurunan produksi.Satu hektar kebun kakao yang semula bisa menghasilkan 700 kg kakao, saat ini hanya bisa menghasilkan separuhnya. Seperti apakah strategi untuk bertahan hidup ke depan? Kembali ke jagung dan buah-buahan? Ataukah beralih ke sawit?

 

Kelapa Sawit

Budidaya sawit di Pantai Timur Sumatera dimulai tahun 1911 seluar 2.630 hektar yang kemudian berkembang menjadi 2.715 hektar (tahun 1915), 6.916 hektar (tahun 1922) 31.600 hektar (tahun 1925), 90.000 hektar (tahun 1938) dan 100.000 hektar  (tahun 1939). Budidaya sawit tersebut dilakukan melalui Perusahaan Perkebunan.

Selama tiga decade terakhir, animo masyarakat untuk terlibat dalam produksi sawit  terjadi hamper secara merata di Sumatera, Kalimantan Sulawesi bahkan Papua. Mereka seolah berkompetisi dengan Perusahaan yang terus berekspansi ke berbagai wilayah penjuru tanah air. Nilai ekonomis sawit dipandang sangat menjanjikan sehingga sebagian petani rela menggantikan komoditi karet dan lainnya dengan sawit. Ekspansi ini cukup massif, dimana di tahun 1968 luas kebun sawit nasional hanya 119.660 hektar. Namun di tahun 2015 luas kebun sawit nasional telah mencapai 11.445.808 hektar. Dari luasan 11,4 juta hektar tersebut 41% merupakan kebun sawit rakyat. Ekspansi ini antara lain dipengaruhi oleh keuntungan yang menjanjikan, promosi Pembangunan pemerintah dan peluang pasar lemak nabati di Tingkat global. Ekspansi ini juga membawa perubahan sosial dari Masyarakat yang subsisten menjadi Masyarakat konsumsi. Selain itu terkadi perubahan agroekosistem heterogen yang stabil (karet, kakao, kopi, lada dll) menjadi ekosistem homogen yang tidak stabil (sawit).

Budidaya sawit oleh pemerintah Indonesia dan Bank Dunia dimulai sejak tahun 1970an melalui Perkebunan Inti Rakyat. Pekebun diorganisir dan dicangkokkan ke Perusahaan. Selain itu terdapat proyek OPHIR  yang merupakan Kerjasama pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman yang mencangkokkan 2.400 petani local (termasuk purnawirawan) dengan luasan kebun 5.903 hektar ke Perusahaan negara PTPN VI di Sumatera Barat. Konsep ini kemudian menjadi cikal bakal program inti plasma.

Di tingkat petani sawit sendiri, dapat dikategorikan menjadi petani swadaya local yang independent, petani plasma local yang terikat Perusahaan dan petani kapitalis   yang didominasi para migran dan spekulan tanah  dan sudah bersandar pada prinsip akumulasi kapital. Diantara ketiga petani tersebut petani swadaya merupakan petani yang paling marginal  karena akses terhadap factor produksi lemah yang berakibat pada rendahnya produktivitas mereka. Lahan yang dikelola petani swadaya seringkali tidak mempunyai status yang jelas atau bahkan illegal sehingga mereka tidak bisa mengakses berbagai layanan produksi yang disediakan pemerintah termasuk peremajaan sawit, standarisasi Perkebunan berkelanjutan.

Di tahun 2018, luas kebun sawit nasional diperkirakan 14,3 juta hektar dan 5,7 juta hektar (40%) diantaranya merupakan kebun sawit rakyat. Namun produktifitas sawit rakyat tersebut hanya 50% lebih rendah dari produktivitas sawit milik Perkebunan swasta. Diantara 5,7 juta hektar sawit rakyat, 1,96 juta hektar merupakan sawit milik petani swadaya. Dari sisi produksi,  sawit rakyat menghasilkan 16,8 juta ton (35%) dari total produksi nasional 48,68 ton. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sawit Perusahaan menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Sedangkan sawit rakyat menyerap tenaga kerja 4,6 juta orang.

Isu lahan merupakan isu krusial dalam budidaya sawit ini. Karena keterbatasan lahan, tidak jarang petani mengembangkan budidaya sawit di Kawasan hutan.  Terhadap lahan yang di luar Kawasan hutanpun mereka seringkali tidak didukung dengan bukti kepemilikan yang sah seperti sertifikat. Surat yang dimiliki paling hanya berupa Surat Keterangan Tanah yang diterbitkan otoritas desa. Para migran dan investor seringkali membeli lahan dari penduduk local, dan penduduk local menggunakan uang hasil penjualan untuk berinvestasi di lahan baru mereka. Karena penguasaan lahan didasarkan mekanisme pasar maka para pekebun yang mempunyai akses permodalan kuat bisa memiliki kebun sawit puluhan bahkan ratusan hektar. Sedangkan pekebun yang tidak punya akses modal hanya memiliki kebun 1-2 hektar saja. Dengan basis mekanisme pasar pula, banyak orang kota termasuk pejabat local yang memiliki kebun2 sawit di pedalaman yang dikelola oleh tenaga kerja setempat. Status tanah yang illegal ini menjadi semakin pelik ketika si pemilik berhadapan dengan penegak hukum (missal Instansi Kehutanan) dan disaat yang sama dia harus membayar hutang ke Lembaga penyedia modal.

Sawit merupakan tanaman yang cepat rusak dan harus segera diolah. Dalam tempo 3 hari setelah dipanen, sawit harus diolah di pabrik. Untuk minimalisasi resiko tersebut, Sebagian petani yang jauh dari pabrik pengolahan mengembangkan inovasi dengan mengembangkan kebun sawit campuran missal dengan karet. Harapannya, mereka mempunyai Cadangan income bila sawit gagal panen atau harganya jatuh.  

Sawit memang kontroversial. Dari sisi ekonomi, tidak bisa dipungkiri bahwa sawit telah memberikan alternatif pendapatan bagi negara dan juga petani. Namun dari sisi ekologi, dan praktik budidaya selama ini muncul berbagai dampak yang perlu diwaspadai.

 

-----------------------------

Dalam buku ini, Mas Hery sebagai aktivis bidang lingkungan mencoba  menggali fenomena boomcorp dengan menggunakan pendekatan anthropologis. Beliau tidak menggunakan pendekatan romantisme terhadap kehidupan pedesaan yang penuh harmoni. Namun menggunakan pendekatan emic yang melihat fenomena dari sudut orang dalam (petani) ketika mereka mengadopsi sebuah komoditi. Dari pengamatannya, disimpulkan bahwa petani di pedalaman adalah orang-orang yang rasional dalam memilih komoditi yang akan dibudidayakan. Petani akan memilih komoditi yang paling menguntungkan secara ekonomis karena dinamika lingkungannya yang semakin berorientasi pada masyarakat konsumtif. Secara alamiah para petani pedalaman juga ingin hidup makmur, seperti warga Masyarakat di daerah lain atau berprofesi lain. Bahkan mereka berani mengambil resiko tertentu terkait pilihannya tersebut. Secara implisit, pertimbangan ekologis nampaknya bukan menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan suatu komoditi.

Petani pekebun di pedalaman juga memiliki karakter inovatif dalam mensiasati tantangan dan hambatan yang ada. Upaya maksimalisasi keuntungan sering melahirkan gagasan-gagasan yang win-win solution dari sisi ekonomi maupun ekologi. Seperti kebun campuran, dari sisi ekonomi bermanfaat untuk penganeka ragaman pendapatan, tetapi dari sisi ekologi ternyata bermanfaat untuk menjaga biodiversity termasuk  mencegah serangan hama yang massif.

Akses lahan, akses permodalan, peluang pasar, infrastruktur pendukung, tenaga kerja dan pengetahuan teknis dan pengetahuan tentang pasar, menjadi factor penting dalam pemilihan komoditi boomcorp oleh para petani. Hal itu pula yang menjadi salah satu kunci perkebunan rakyat menjadi eksis walaupun banyak budidaya boomcrop dulu diinisiasi oleh Perusahaan/Kongsi dagang.

Komoditi boomcorp mengalami pasang surut, kejayaan dan kemunduran. Negara seringkali terlambat hadir di daerah pedalaman. Kehadiran negara seringkali digantikan oleh pasar, dan disinilah pergumulan sering terjadi. Petani-petani kecil dengan aksesnya yang terbatas seringkali tidak bisa memanfaatkan peluang dan layanan yang tersedia, sehingga produktivitasnya rendah. Itu mengapa boomcrop menguntungkan bagi sebagian orang tapi belum bisa menghapus kemiskinan yang ada.

 

 

Tuesday, January 02, 2024

 

Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan

M. Quraish Shihab

Penerbit Mizan, Bandung 1994

ISBN 979-433-264-X

459 halaman

 

Buku ini merupakan karya Bapak M. Quraish Shihab yang merupakan salah satu sosok ahli tafsir terkemuka di Indonesia. Buku setebal 459 halaman ini merupakan kumpulan tulisan terpilih beliau di Harian Pelita sejak tahun 1990 hingga awal 1993.

Buku ini secara garis besar memuat tulisan yang berkaitan dengan tauhid dan ibadah, serta juga kehidupan sosial beragama. Buku ini dibagi dalam 7 bagian yakni:

1.     Memahami Petunjuk Agama

2.     Memahami Takdir Allah

3.     Memahami Makna Shalat kita

4.     Memahami Potensi Ruhaniah Manusia

5.     Memahami masalah-masalah di sekitar kita

6.     Memahami kecendekiawanan dan kepemimpinan

7.     Memahami Kesatuan Sumber Agama


Karena buku ini berasal dari tulisan artikel di koran, maka tulisan beliau ini relative ringan dan mudah dipahami. Kepakaran Pak Quraish Shihab dalam ilmu tafsir, membuat pembaca dituntun untuk memahami tekstual (makna tertulis) maupun kontekstual (makna secara situasional) dari sebuah kata atau kalimat. Meski ringan, tulisan  beliau juga menuntun kita untuk berefleksi terhadap amalan-amalan ibadah kita maupun refleksi terhadap sikap perilaku kita.

Saat kita menghadapi Pemilu dan Pilpres, banyak tulisan2 beliau dalam buku ini yang relevan dijadikan pegangan bagi kita dalam memilih pemimpin yang berkualitas.  Pak Quraish merupakan salah satu cendekiawan muslim yang moderat, sehingga beliau mengajarkan banyak toleransi dan kata-katanya penuh kesejukan. Semoga berkah untuk beliau yang sudah berkenan bersedekah ilmu kepada kita semua.