Sunday, July 06, 2025

Kuasa Eksklusi, dilema pertanahan di Asia Tenggara

 


Kuasa Eksklusi, dilema pertanahan di Asia Tenggara

karya Derek Hall, Philip Hirsch & Tania Murray Li

(terjemahan Darmanto Simaepa & Achmad Choirudin, ed. Ben White)

Penerbit: INSISTPress, 2020,

ISBN 978-602-0857-90-9

402 halaman

 

Judul asli: Powers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia (NUS Press, 2011).

 

Buku ini ditulis berdasarkan penelitian proyek ChATSEA (2005–2010) dan studi kasus di tujuh negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam. Studi agraria ini dilakukan di tahun 2000an, namun dalam analisisnya terkadang juga dikupas sejarah agraria di masing-masing negara. Studi ini mengkaji perubahan-perubahan cara penutupan/pencegahan akses orang atas tanah (eksklusi) baik eksklusi type positif maupun negative (missal penggusuran, penyingkiran). Adanya eksklusi membuat individu atau kelompok tidak memiliki akses yang sama ke sumber daya, kesempatan, atau hak yang dimiliki oleh anggota masyarakat lainnya. Sebuah kata yang berlawanan makna dengan inklusi (pemberian akses).

 Eksklusi bidang agraria bisa dilakukan melalui berbagai cara yakni:

  • Pengaturan (regulation) melalui  aturan formal/birokratis yang mengatur pembatasan penggunaan, klaim, zonasi termasuk yang mengatur siapa dapat memanfaatkan tanah
  • Paksaan (force) melalui pengusiran atau pengamanan paksa oleh negara, milisi, atau pihak swasta menggunakan kekerasan 
  • Pasar (market) yang dipengaruhi oleh dinamika harga, permintaan lahan, dan tekanan komodifikasi tanah yang memaksa pemilik menjual tanahnya.
  • Legitimasi (legitimacy) yakni dasar moral dan sosial seperti klaim adat atau kontribusi finansial yang menguatkan eksklusi dengan citra sah

Keempat cara tersebut di atas bekerja sinergis, menciptakan eksklusi yang kompleks dalam berbagai konteks relasi pertanahan di Asia Tenggara.

Luas tanah di muka ini relative tetap, memang terdapat upaya untuk menambah luasan tanah di muka bumi namun nampaknya jumlahnya tidak terlalu signifikan. Dari waktu ke waktu, jumlah luas tanah yang tetap dihadapkan dengan pertambahan populasi penduduk yang meningkat pesat. Kebutuhan tanah untuk permukiman, industry, kawasan konservasi dan kepentingan lainnya membuat nilai tanah semakin tinggi dan perlu pengaturan yang lebih adil.

 

Eksklusi pertama: program reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah.

Untuk menjamin keadilan agraria, reforma agraria dalam bentuk pembagian lahan kepada tuna kisma (warga yang tidak punya lahan tanah) menjadi salah satu strategi yang dikembangkan di beberapa negara Asia Tenggara terlebih yang beridiologi komunis.. Strategi lain adalah negara melakukan pengaturan alokasi tanah, sehingga orang tidak bisa bebas seenak hati memanfaatkan lahan tersebut dan harus memperhatikan tata ruang yang ada.

Cara lain yang banyak ditempuh untuk menjamin kepastian hukum atas tanah adalah pemberian sertifikat (hak milik dan atau hak sewa/hak pakai) kepada pemilik/penggarap lahan. Selain memberikan kepastian hukum, seorang pemikir ekonomi Hernando de Soto, berpendapat bahwa sertifikasi tanah merupakan bentuk pemberian akses modal ke petani, karena mereka dapat mengagunkan sertifikat tersebut ke lembaga keuangan.  Namun pendapat de Soto ini mendapat tentangan dari banyak pihak karena sertifikasi tanah akan memudahkan petani menjual asset tanahnya dan kembali miskin. Selain itu sertifikasi yang sifatnya individual akan bisa merusak struktur sosial yang ada di masyarakat.

Pembagian lahan garapan, alokasi tanah  dan sertifikasi tanah yang diinisiasi negara ini, membuat orang lain ter-eksklusi dan tidak bisa memanfaatkan lahan tersebut dengan bebas. Hal ini menunjukkan bahwa eksklusi merupakan keniscayaan yang harus dihadapi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar strategi tersebut dijalankan secara adil??

 Menurut pendapat saya, untuk eksklusi melalui reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah, nampaknya eksklusi dengan cara “pengaturan” yang lebih dominan.

 

Eksklusi Kedua: Menguatnya Kepedulian Lingkungan dan konservasi alam

Tumbuhnya kesadaran global terkait pelestarian hutan dan lingkungan membuat pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara kemudian menggencarkan program pembangunan Kehutanan yang salah satunya melalui penataan dan penetapan batas hutan serta pengembangan Taman Nasional. Upaya pelestarian hutan ini banyak didukung oleh donor dan ornop yang peduli lingkungan.  Persoalannya penataan dan penetapan hutan yang dilakukan oleh negara seringkali kurang mempertimbangkan kepentingan masyarakat adat/local yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan tersebut. Maraknya kasus konflik masyarakat dengan Taman Nasional atau instansi kehutanan merupakan bukti nyata dualisme hukum formal yang diacu pemerintah dengan hukum adat yang diacu oleh masyarakat ada/local. Masyaraat adat/local yang telah hidup turun temurun dalam hutan dan bebas mengembangkan kegiatan penghidupan  seringkali terusir dari kampungnya karena kebijakan ini.

Menurut pendapat saya, seperti eksklusi melalui reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah, nampaknya eksklusi untuk kepentingan pelestarian lingkungan juga banyak dilakukan dengan cara “pengaturan”. Namun dalam banyak kasus, cara “pemaksaan” juga sering terjadi dalam penetapan hutan khususnya kawasan konservasi..

 

Ekslusi Ketiga: “Demam” komoditas budidaya (monokultur/perkebunan)

Ketika demam (booming) komoditi budidaya seperti kopi, kakao, kelapa sawit, tambak udang dan komoditi lainnya seringkali membuat banyak orang tertarik berinvestasi pada komoditi tersebut. Hal ini mengakibatkan tanah di lokasi yang sesuai dengan agroklimat tanaman tersebut menjadi jadi incaran banyak pihak. Dalam kasus di Indonesia, booming kelapa sawit membuat banyak perusahaan berinvestasi sehingga lahan kosong jadi incaran. Demikian pula dengan komoditi coklat di Sulawesi Tengah membuat banyak pengusaha dari Sulawesi Selatan berinvestasi ke kakao.

Persoalan muncul ketika investor tersebut menggunakan  pendekatan “pasar” dengan membeli lahan-lahan produktif petani. Banyak petani yang kemudian tergiur menjualnya, sehingga mereka beralih menjadi tuna kisma karena mereka sudah kesulitan mencari tanah kosong/hutan untuk dibuka kembali.

Petani kecil yang melakukan budidaya tanaman komersil secara monokultur juga sering terancam ketika harga komoditi turun drastis, atau gagal panen sehingga mereka kesulitan untuk membayar kredit atau kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini berakibat mereka mencari jalan pintas dengan menjual tanahnya guna menutup hutang dan kebutuhan hidupnya.

Selain melalui mekanisme pasar, eksklusi untuk pengembangan perkebunan ini juga banyak dilakukan melalui cara “pengaturan” bahkan “pemaksaan”

  

Eksklusi keempat:  Alih fungsi lahan pertanian,

Berkembangnya kota, suatu saat akan menemui titik jenuh karena lahan terbatas sementara kebutuhan terus perkembang. Oleh karenanya pemanfaatan daerah-daerah periferi pinggiran kota besar menjadi salah satu pilihan seperti Jakarta dengan daerah penyangganya seperti Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Banyak lahan pertanian yang beralih fngsi untuk permukiman maupun industri.  Selain itu berkembangnya penduduk juga membawa konsekwensi berupa kebutuhan fasilitas wisata atau rekreasi. Hal ini juga menimbulkan eksklusi.

Cara yang banyak ditempuh untuk konversi lahan pertanian untuk industri, wisata, permukiman dll antara lain melalui “pasar (jual beli)”, pengaturan oleh pemerintah dan tidak jarang dibumbui dengan aksi pemaksaan.

 

Eksklusi kelima:  Pencegahan akses oleh “orang dekat”.

Kehidupan masyarakat desa mengalami dinamika.  Masyarakat yang dulu digambarkan guyub, saling menolong,, saling berbagi, harmonis dan seterusnya seperti yang digambarkan oleh Cliffort Geertz, tidak sepenuhnya terjadi saat ini. Kehidupan individualisme makin kentara dan hubungan makin formal.

Dalam masyarakat sendiri juga terdapat struktur sosial yang sering terkait erat dengan struktur ekonomi. Dalam masyarakat desa yang belum banyak berhubungan dengan lembaga keuangan, keluarga yang mampu biasanya akan jadi tempat tujuan utama bila seseorang membutuhkan uang. Namun peminjaman ini seringkali disertai dengan “bunga“ yang nilainya seringkali cukup tinggi. Apabila si peminjam tidak mampu membayar pinjamannya, lahan tanahnya akan disita menjadi milik pemberi pinjaman. Dengan cara ini orang yang mampu bisa melakukan akumulasi modal dengan cara meminjamkan uang.

 

Eksklusi keenam: Klaim berbasis identitas & keterikatan tempat

Eksklusi ini terjadi ketika sebuah komunitas adat/kedaerahan meng-klaim tanah yang telah dikuasai pihak lain dengan menggunakan argumentasi bahwa masyarakat adat/lokal lebih berhak atas tanah tersebut dibandingkan pendatang karena masyarakat adat tersebut telah turun temurun tinggal di daerah tersebut.  Kasus klaim ini antara lain terjadi di beberapa daerah transmigrasi di Indonesia, di mana masyarakat adat meng-klaim lahan tranmigran sebagai tanah leluhurnya. Kasus yang hampir mirip adalah kasus pengusiran orang Madura sebagai imbas kerusuhan di Sanggau (Kalbar) dan Sampit (Kalteng).

Hal ini terasa menyesakkan bagi para transmigran karena mereka semata-mata mengikuti program yang diselenggarakan pemerintah, namun ternyata tidak ada jaminan hukum atas lahan yang mereka kuasai.

 

Dari pemaparan di atas, terlihat bahwa dilema pertanahan yakni setiap intervensi produktif atau perubahan terhadap tanah selalu mengandung ‘harga’—karena eksklusi terhadap pengguna lain adalah konsekuensi yang tak terhindarkan. Bahkan sering kali eksklusi muncul dalam bentuk ganda yakni melindungi sebagian pihak sekaligus menciptakan ketidakamanan bagi pihak lain.

 Dari buku ini, sebuah pertanyaan yang tersisa di benak saya adalah seperti apakah strategi yang adil yang bisa mengakomodir kepentingan pembangunan sekaligus juga menghormati hak kepemilikan pribadi, penghormatan terhadap masyarakat adat/tradisi, produksi yang berorientasi subsisten?

 

Rekomendasi

Buku ini dikemas dalam alur yang runtut dan bahasa yang mudah dicerna oleh orang awam.Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang tertarik pada studi agraria & kebijakan pertanahan, konflik sosial-politik atas sumber daya tanah, dan pegiat advokasi masyarakat  adat dan pedesaan.

Thursday, May 22, 2025

Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977


 


Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977

Penulis Ramadhan K.H.

Pusataka Sinar Harapan

Jakarta 1993

ISBN 979-416-165-9

534 halaman

 

 

Ali Sadikin merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta tahun 1966-1977 yang legendaris. Beliau berlatar belakang militer KKO – marinir. Dia dikenal tegas tanpa kompromi bahkan kepala batu. Sifat itu yang mungkin menjadi salah satu alasan Bung Karno mengangkatnya menjadi Gubernur Jakarta. Untuk menata Jakarta yang saat itu semrawut dan penuh persoalan sosial akibat urbanisasi, menjadi sebuah kota metropolitan ibu kota negara yang tertata diperlukan orang yang tegas dan taktis.

 

Beberapa terobosan yang dilakukan Bang Ali, ketika menjabat sebagai Gubernur antara lain:

1. Análisis kemampuan keuangan daerah. Di tahun 1966,  APBD Jakarta hanya 66 juta rupiah yang sebagian besar berasal dari bantuan Pemerintah Pusat (APBN). Satu dollar Amerika saat itu berkisar Rp. 250,-  sehingga setara 264,000 US$.  Jumlah yang tidak mencukupi untuk membiayai pembangunan Jakarta. Melihat kondisi tersebut Bang Ali mengembangkan  strategi menggenjot PAD seperti pajak motor, pajak judi untuk orang Cina, dan mengundang investasi. Hasil pajak yang berlipat tersebut  digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik berbagai sektor  di Jakarta. APBD disusun dengan melihat rencana dan kebutuhan pembangunan yang mengacu pada masterplan Jakarta, dan bukan melihat duit yang tersedia. Kenaikan APBD ini terus berlanjut hingga tahun 1977/1978 mencapai sekitar 39,7 milyar rupiah (atau setara 95,6 juta US$ dengan kurs 1 US$ setara Rp. 415)

2.  Penataan organisasi birokrasi DKI Jakarta untuk menghindarkan overlapping dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi kerja. Instansi yang tidak penting dihapus dan instansi baru dibentuk sesuai urgensi dan kewenangan yang ada. Pembagian kewenangan Pusat dan Daerah diperjelas termasuk tata hubungan kerja antar lembaga.Meski demikian dalam implementasi program, Bang Ali melalui pendekatan pragmatisnya sering mengambil alih peran Pemerintah Pusat ketika pemerintah Pusat dirasa lamban bergerak terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik seperti pembangunan jalan, sekolah dan lain-lain.  

3.  Peningkatan pelayanan publik sector pendidikan dan kesehatan melalui pembangunan ratusan gedung sekolah, pengadaan tenaga guru, pembangunan gelanggang mahasiswa, pembangunan Puskesmas di setiap kelurahan dan pengadaan tenaga kesehatan.

4.  Pembenahan tata kota mengacu masterplan Jakarta dan prinsip efisiensi. Terdapat pembangian zona perkantoran, permukiman, industri dll yang terintegrasi dengan infrastruktur transportasi, listrik, gas dan telepon. Pengembangan Tata Kota ini bahkan sudah memikirkan perluasan wilayah Jakarta dan integrasi dengan daerah Bogor, Tangerang dan Bekasi. Dalam pembenahan Tata Kota ini juga siintegrasikan adanya ruang terbuka hijau dan program penghijauan didalmnya.

5.  Peningkatan pelayanan publik sector transportasi melalui penambahan armada kendaraan, pendirian perusahaan angkutan PPD, pembangunan prasarana jalan serta penataan becak sebagai angkutan umum.

6.  Jakarta sebagai daerah metropolitan banyak mengundang ketertarikan warga propinsi lain untuk menguad nasib di ibukota. Fenomena ini terjadi dalam bentuk urbanisasi. Sayangnya tidak semua orang yang berurbanisasi mempunya bekal ketrampilan dan modal yang cukup. Hal ini berakibat munculnya kantong-kantong kemiskinan, permukiman kumuh,  pelacuran, kriminalitas dan lain-lain. Bang Ali berusaha mengatasi hal ini melalui pembenahan Kampung melalui Program Muhamad Husni Thamrin (MHT) yang mencakup pembangunan sanitasi, drainase, air minum, penanganan sampah dan penataan perumahan. Untuk pelacuran, Bang Ali melakukan kebijakan lokalisasi untuk memudahkan mengontrol mereka. Guna mengatasi urbanisasi ini, Bang Ali mendorong kerjasama dengan Jawa Barat, jawa Tengah dan daerah lain namun hasilnya belum optimal.

7.  Pembangunan ekonomi melalui pengembangan iklim investasi yang kondusif, pameran produk dalam negeri melalui Pekan Raya Jakarta, memfasiltasi pendidan KADIN, pembangunan pasar tradisional serta lapangan kerja tenaga trampil. Di tahun 1976 terdapat investasi Penanaman Modal Asing sebanyak 357 buah dengan total investasi sekitar 950 juta US$.

8.  Memfasilitasi pembangunan budaya melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, dukungan untuk festival musik, film, teater remaja dan lain-lain. Bang Ali mengaku tidak mempunyai bakat di bidang seni namun día sangat senang bergaul dengan para seniman karena seniman merupakan orang bebas sehingga akan obyektif ketika memberikan kritik dan masukan untuk pemerintah. Bang Ali juga memfasilitasi pembangunan beberapa museum karena beliau ingin Jakarta sebagai kota metropolitan juga tetap bsa menunjukkan budaya asli Indonesia. Demikian pula Bang Ali mendukung pembangunan Taman Mini Indosia Indah karena diharapkan bis amenjadi ministur budaya Indonesia

9.  Di bidang keagamaan, Bang Ali berkontribusi dalam upaya  perbaikan pelayanan pemerintah kepada calon jamaah ibadah haji seperti dalam pemeriksaan kesehatan, pelayanan akomodasi, pendampingan oleh petugas bimbingan haji, transportasi dan lain-lain. Bang Ali juga berkontribusi dalam penyelenggaraan festival MTQ yang meriah dan melibatkan publik luas.

10. Memfasilitasi pembangunan Olahraga yang mencakup pembangunan fasilitas olahraga, terlibat dalam penyelenggaraan PON, serta pembinaan olahraga untuk remaja

11. Di bidang politik, Bang Ali nenjadi salah satu petinggi Golkar meski demikian beliau secara tegas menyatakan bahwa sebagai Gubernur yang demokratis día adalah milik bersama. Oleh karenanya beliau mendorong kampanye yang fair bagi semua Parpol tanpa harus saling mengejek dan menjatuhkan.  Di saat pemilu 1977, PPP unggul di Jakarta, sedang Golkar hanya nomor 2. Sikap dewmokratis bang Ali juga ditunjukkan dengan pribadi yang mau menerima kritik. Tidak mengherankan bila Bang Ali kemudian banyak bergaul akrab dengan para aktivis demokrasi, mahasiswa kritis, seniman, dan pers/media. Bang Ali menganggap massa kritis tadi bisa menjadi sumber infornasi dan inspirasi yang tidak pernah habis.

12. Pembangunan di bidang hukum dilakukan melalui fasilitasi pembentukan Lembaga Bantuan Hukum yang diinisiasi bersama Adnan Buyung Nasution. LBH ini ditugaskan untuk memberikan pendampingan layanan hukum  gratis kepada para pencari keadilan khususnya kaum miskin.

13. Memfasilitasi Pembangunan sarana rekreasi bagi warga ibukota seperti Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, bioskop-bioskop, museum dan lain-lain. Selain sebagai fasilitas hiburan sarana rekreasi tadi juga dimaksudkan untuk menggali sumber pendapatan daerah.

14. Untuk mendorong jakarta sebagai kota metropolitan modern, Bang Ali mendorong kerjasama luar negeri antara Jakarta dengan Amsterdam. Salah satu aspek yang dikembangkan adalah komputerisasi untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi  pelayanan publik warga ibukota.


Jakarta di bawah kepemimpinan Bang Ali, memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Atas kepemimpinannya Bang Ali memperoleh penghargaan internasional Ramon Magsaysay dari Philipina tahun 1971. Di dalam negeri banyak lembaga yang memberikan apresiasi serta penghargaan kepada Bang Ali atas kepemimpinannya selama menjabat Gubernur di Jakarta baik dari perguruan tinggi, seniman, organisasi profesi maupun masyarakat awam.

Tak ada gading yang tak retak, meski telah menorehkan berbagai prestasi selama menjabat Gubernur Jakarta, Bang Ali menyatakan bahwa prestasi yang dicapai adalah prestasi bersama. Selain itu beliau secara sportif juga mengakui bahwa masih banyak masalah yang belum bisa diselesaikan olehnya seperti masalah sampah, pengadaan tanah untuk pembangunan, sanitasi, kemiskinan dan lain-lain khususnya yang berkaitan dengan isu urbanisasi.  

Penampilan Bang Ali yang charming membuat banyak orang terpikat. Sampai seorang wartawan Jepang menyebutnya “Gubernur yang berparas Bintang film”. Tapi saya meyakini orang terpikat kepada beliau tidak hanya karena penampilan fisiknya, tetapi utamanya terpikat karena integritas, ketegasan, sportivitasnya, keterbukaannya, dan keperpihakannya kepada rakyat Jakarta. Sebuah suri teladan kepemimpinan yang semakin langka saat ini.  Sebuah quote yang saya temukan di toko kaos Joger Bali menyatakan: “ Bang Ali Sadikin adalah salah satu orang yang sebenarnya paling pantas, perlu dan mampu jadi Presiden kita yang baik, tapi kita tidak pernah memilih beliau untuk itu“.

Buku setebal 534 halaman ini, ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami. Saya belum menemukan tulisan lain tentang Bang Ali, sehingga secara subyektif, pendapat saya tentang pribadi Bang Ali sangat dipengaruhi oleh isi buku ini. Meski demikian, ketika membaca Kata Pengantar-nya ditulis oleh Mochtar Lubis yang merupakan orang yang kritis dan berintegritas, maka saya berpikir bahwa buku biografi ini BUKAN merupakan memoar glorifikasi, tapi merupakan sebuah cerita yang obyektif apa adanya… Sangat direkomendasikan dibaca untuk para calon pemimpin (daerah), orang-orang yang bergerak di birokrasi atau yang suka menggeluti isu kepemimpinan…

Monday, April 21, 2025

The Miracle of Enzyme – Self Healing Program

 


The Miracle of Enzyme – Self Healing Program

Penulis Hiromi Shinya, MD

Penerbit Qanita, Bandung 2009

ISBN 978-979-3269-79-5

304 halaman

 

Buku ini merupakan buku terjemahan dari The Enzyme Factor, karya Hiromi Shinya yang diterbitkan Council Oak Book, Tulsa, Oklahoma tahun 2007. Hiromi Shinya merupakan sorang dokter Gastroenterolog (dokter spesialis yang mengobati penyakit dan gangguan pada sistem pencernaan dan hati). Beliau seorang dokter keturunan Jepang yang bekerja di Albert Einstein College of Medicine, New York City. Beliau berpraktik lebih dari 40 tahun dan memeriksa lambung dan usus lebih dari 300,000 orang pasien.

 Dokter Shinya dalam buku ini mengupas tentang pendekatan kesehatan berdasarkan persediaan enzim vital dalam tubuh. Beliau nenekankan bahwa seseorang yang mempunyai system pencernaan yang bersih akan dapat melawan penyakit apapun dengan mudah. Sebaliknya, hampir semua penyakit adalah akibat dari kebiasaan-kebiasaan (termasuk konsumsi)  yang terakumulasi selama beberapa waktu. Sistem pencernaan yang bersih akan menghasilkan enzyme yang sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan seperti sintesis, penguraian, transportasi, ekskresi, detoksifikasi, pnyediaan energi dan regenerasi sel. Selain dari dalam tubuh sendiri, mahluk hidup juga menggunakan enzyme yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Terdapat lebih 5,000 jenis enzyme dalam sel-sel mahluk hidup yang masing-masing memiliki karakteristik khusus dan fungsi unik. Dalam tubuh mahluk hidup juga terdapat “enzyme pangkal/induk” yang nantinya bisa dirubah menjadi enzyme-enzyme lain sesuai kebutuhan. Namun yang perlu diwaspadai adalah enzyme pangkal ini akan berkurang sesuai pertambahan usia.

 Untuk menjaga kesehatan system pencernaan kita, Dr. Shinya menyarankan kita untuk memperbaiki gaya hidup kita agar enzyme dalam tubuh kita terjaga keseimbangannya. Beberapa tips beliau terkait dengan asupan, proses pencernaan dan pengelolaan stress.

 Asupan Makanan dan Minuman

1.     Perbanyak makan bahan makanan nabati (85%) dan hewani (15%). Struktur gigi manusia diciptakan untuk lebih banyak makan bahan nabati. Daging akan relatif susah dicerna dan akan membutuhkan bantuan  enzym untuk mencernanya. Hal ini akan menyebabkan persediaan enzym pangkal akan berkurang.

2.     Makanlah makanan yang kaya enzym yang tumbuh di daerah subur dan  kaya mineral, karena mineral yang ada dalam tanah akan memperkaya kandungan enzym dalam tumbuhan.

3.     Makanlah bahan makanan yang tidak mengandung bahas pestisida atau zat kimia tambahan (pengawet, pewarna dll. Pestisida atau bahan kimia yang masuk ke tubuh, akan dinetralisir oleh enzym dalam tubuh kita. Konsekwensinya persediaan enzym pangkal akan berkurang.

4.     Masaklah dan Makanlah segera makanan setelah dipanen.

5.     Jangan memasak makanan terlalu lama karena enzym yang berharga sensitif terhadap panas dan akan terurai pada suhu 48-115 derajat celcius.

6.     Jangan biarkan makanan teroksidasi dengan udara. Misal jangan mengupas buah dan  tidak segera dimakan, karena kualitas enzym dalam buah tersebut akan berkurang drastis.

7.     Makanlah bahan hewani yang suhu badannya lebih rendah dari suhu badan manusia seperti ikan karena kandungan lemak ikan tersebut akan mudah terurai dalam tubuh manusia yang suhunya lebih tinggi,

8.     Hindarilah konsumsi susu pabrik, yogurt, keju dll yang mempunyai kandungan zat kimiawi tinggi.

9.     Makanlah makanan berserat, seimbang dan dalam jumlah cukup. Bisa tambahkan madu, teh herbal, rumput laut.

10.  Hindarkan atau batasi gula, garam, Lemak/gorengan, coklat, minuman alcohol, kopi dan rokok

11.  Orang Dewasa minum air sebanyak 6-10 gelas air

 

Proses

1.     Sebaiknya minum air 1-3 gelas air setelah bangun tidur dan 2-3 gelas air sekitar 1 jam sebelum makan.

2.     Makanan dikunyah 30-50 bahkan 70 kali agar halus dan mudah dicerna. Selain itu mengunyah yang lama akan memproduksi banyak enzim serta kadar glukosa dalam darah akan tinggi sehingga akan cepat merasa kenyang.

3.     Sebaiknya makan malam dilakukan di sore hari atau 4-5 jam sebelum tidur. Hal ini untuk mencegah meningkatnya asam lambung dan muntah akibat asam lambung naik.

 

 Gaya hidup

1.     Melakukan pengelolaan stress karena stress dapat memicu asam lambung dan akhirnya menguras enzim pangkal dalam tubuh kita.

2.     Pernapasan dan meditasi untuk membangun energi positif dan membuang racun dalam tubuh.

3.     Olahraga yang cukup

4.     Istirahat yang cukup

5.     Pembuangan (buang air besar/Kecil) yang teratur

 

Dalam analisisnya, Dr. Shinya menggunakan pendekatan holistic dan menekankan keseimbangan alam. Manusia hendaklah hidup selaras dengan alam agar terhindar dari penyakit yang merugikan. Beliau menekankan bahwa sebaiknya manusia mencegah penyakit dengan memperhatikan asupan yang masuk ke tubuhnya. Beliau juga menyebutkan  bahwa tubuh manusia merupakan kesatuan sehingga pengobatan kuratif harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak cukup pada obyek yang sakit. Beliau mengkritisi spesialisasi ilmu kedokteran yang membuat ilmu pengobatan semakin terkotak-kotak.

 Secara umum buku ini menarik dan mudah dicerna orang awam karena menggunakan Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami orang awam. Disarankan untuk dibaca oleh siapapun yang ingin memperbaiki gaya hidup agar lebih sehat di masa depan.

Wednesday, March 12, 2025

Romo Casutt,SJ dalam senyap bangun Pendidikan Vokasi Indonesia

 


Romo Casutt,SJ dalam senyap bangun Pendidikan Vokasi Indonesia

Penulis: A Bobby Pr.

Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2018

ISBN 978-602-412-352-9

314 halaman

 

Romo Casutt SJ merupakan seorang Pastor ordo Serikat Jesus (SJ) kelahiran Swiss 24 Januari 1926. Sejak kecil dia mempunyai ketertarikan untuk menjadi misionaris. Untuk mewujudkan cita-citanya, selama tahun 1945-1955  beliau menempuh Pendidikan di  Seminari dan Pendidikan Teologi di berbagai kota di Eropa.

Sejak tahun 1957, Beliau menjalankan tugas misionaris di Indonesia dengan menjadi guru di Seminari Mertoyudan – Magelang (1957-1965). Beliau kemudian menjadi Asisten Direktur dan Direktur Asrama Realino  Yogyakarta (1965-1971). Selama di asrama Realino beliau membangun semangat toleransi dengan menerima berbagai mahasiswa non Katholik menjadi penghuni asrama.Pada kurun waktu 1971-2001 beliau diangkat menjadi Direktur Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Kemudian pada periode 2003-2004 menjadi Direktur ATMI CIkarang. Pergulatan beliau di bidang pendidikan didasari panggilan hidupnya tidak hanya untuk berdoa saja, tetapi juga berkarya untuk sesama khususnya membantu mereka yang miskin dan terpinggirkan.

ATMI Surakarta dibangun tahun 1964 untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil guna mendukung industrialisasi saat itu. Sewaktu Romo Casutt menjabat Direktur ATMI Surakarta, pada mulanya ATMI sering dipandang sebelah mata oleh Masyarakat  karena hanya menghasilkan diploma dan tidak menghasilkan sarjana. Namun perlahan-lahan ATMI Surakarta berkembang menjadi akademi yang bergengsi karena alumninya berkualitas dan terserap di dunia tenaga kerja bahkan jadi rebutan banyak perusahaan industri.  

Beberapa kunci keberhasilan ATMI menghasilkan alumni berkualitas antara lain dipengaruhi adanya konsep Pendidikan vokasi yang mengadopsi dan mengadaptasi konsep Pendidikan Vokasi dari Swiss yang sudah mapan, seperti:

  1. Calon siswa yang direkrut mempunyai kualitas yang baik
  2. Guru dan instruktur berkualitas yang didukung dengan pengembangan kapasitas SDM yang memadai.
  3. Kelas yang intensif 25-40 orang
  4. Kurikulum dengan porsi 30 % teori dan 70% praktik
  5. Kurikulum yang dinamis dan disesuaikan dengan kebutuhan industry (konsep link and match dengan dunia usaha dunia industry)
  6. Adanya konsep teaching factory (belajar di pabrik/praktek usaha) sehingga siswa dituntut untuk belajar secara serius agar produk prakteknya laku di pasaran.
  7. Teknologi dan peralatan praktek (misal mesin-mesin) yang up to date bahkan lebih modern daripada milik Perusahaan Industri

 

Kepada para siswa, Romo Casutt dan tenaga Pendidik di ATMI menanamkan pentingnya Competence (keahlian/ketrampilan), Conscience (kesadaran adanya tanggung jawab moral) dan Compassion (kepedulian terhadap sesama). Romo Casutt dkk secara tegas membangun sikap mental para siswa agar:

  • Disiplin
  • Tanggungjawab
  • Kerja keras
  • Inovatif
  • Jujur

Pihak ATMI memberikan sanksi tegas untuk siswa atau karyawan yang tidak jujur, tidak mau bekerja keras, tifak bertanggung jawab  atau tidak displin. Penanaman sikap mental secara intensif ini berhasil membentuk karakter unggul bagi para siswa dan alumninya. Para alumni tidak hanya mempunyai ketrampilan atau kompetensi teknis, tapi mereka juga dibekali dengan sikap mental yang professional dan tangguh.

Keuangan ATMI selain dari iuran siswa juga memperoleh dukungan dari berbagai Lembaga penyumbang seperti berbagai Lembaga donatur dari Eropa. Romo Casutt mempunyai peran strategis dalam mencari sumber pendanaan dari donatur, karena iuran dari siswa terkadang tidak mencukupi karena sebagian siswa juga berasal dari kalangan miskin.  

Untuk menjamin sustainabilitas keuangan Lembaga ATMI, Romo Casutt kemudian mengembangkan praktek usaha Dimana para siswa diarahkan untuk praktek dan menghasilkan produk yang bisa dijual di pasaran seperti Filling cabinet, tempat tidur rumah sakit dan lain-lain. Romo Casutt terjun sendiri membangun jejaring pasar dengan toko-toko. Pada mulanya produk ATMI kurang laku karena dianggap mahal. Tapi lama-kelamaan produk ATMI semakin diterima di pasar karena harga mahal tapi kualitasnya tidak kalah dengan produk impor dari Eropa.

Kualitas alumni yang tinggi, membuat alumni ATMI sering jadi rebutan bahkan sebelum mereka lulus. Romo Casutt kemudian mengatur agar terdapat distribusi yang adil kepada para Perusahaan dengan memperhatikan perlakuan Perusahaan kepada para karyawannya. Saat ini banyak alumni ATMI Surakarta yang kemudian duduk di jabatan strategis berbagai Perusahaan. Hal ini tidak terlepas dari profesionalitas dari sisi kompetensi dan sikap mental yang telah mereka peroleh selama kuliah di ATMI.

Keberhasilan ATMI Surakarta ini kemudian menumbuhkan gagasan untuk mengembangan ATMI di daerah industry di Cikarang. ATMI Cikarang ini terbangun dengan dukungan sumbangan dari para pengusaha maupun donator dari Eropa (untuk pengadaan mesinnya). Diharapkan pendirian ATMI Cikarang ini akan bisa mendukung penyediaan tenaga terampil guna memenuhi kebutuhan industri di masa depan.

Kepiawaian Romo Casutt dalam pengembangan Pendidikan vokasi, membuat beliau direkrut menjadi salah seorang penasehat di Kementerian Pendidikan untuk membenahi sekolah vokasi. Beliau terus melakukan advokasi untuk mendukung keberlanjutan dan pembenahan sekolah vokasi khsusnya Sekolah Teknik Menengah (STM).

Romo Cassut yang berperan besar dalam membangun dan membesarkan ATMI Surakarta dan ATMI Cikarang meninggal dunia tahun 2012 dan dimakamkan di Ungaran-Semarang. Inisatif yang dibangun Romo Cassut di ATMI Surakarta dan Cikarang sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat berharga untuk pembenahan sekolah vokasi di Indonesia, tapi sayangnya nampaknya pemerintah dan banyak sekolah vokasi nampaknya kurang tertarik dan lebih banyak mengejar aspek kuantitas yang ujung-ujungnya malah menciptakan pengangguran terbuka atau setengah terbuka….

Thursday, January 09, 2025

Panggilan Rasul (Kumpulan Cerpen)

 


Panggilan Rasul (Kumpulan Cerpen)

Penulis Hamsad Rangkuti

Penerbit Diva Press

Yogyakarta 2017

ISBN  978-602-407-041-0

172 halaman

 

Buku Kumpulan Cerpen karya Hamsad Rangkuti ini berisi 14 cerpen dengan tema budaya Islam.

Cerpen Salam Lebaran berisi cerita Suherman yang menguji kesetiaan Sri, kekasihnya. Di saat bulan puasa, Suherman mudik ke kotanya Sri dan menyamar menjadi seorang pria yang menjelek-jelekkan nama Suherman. Namun Sri tidak bergeming, dan berakhir happy ending dimana saat lebaran, Suherman diperkenalkan dan diterima oleh keluarga besar Sri.

Cerpen Ayahku seorang guru mengaji, berkisah tentang pak Achmad seorang pembuat kasur yang merangkap menjadi guru mengaji yang dibayar seikhlasnya. Pak Achmad mengalami dilemma karena pesanan kasur semakin berkurang dan anak-anak mulai jarang mengaji. Pak Sanusi, seorang guru mengaji yang lain, kemudian banting stir menjadi pembaca doa di kuburan. Dia diupah oleh Keluarga yang sedang ziarah kubur untuk membacakan doa yang ditujukan untuk almarhum yang sudah meninggal. Pak Sanusi bisa mengumpulkan uang yang memadai dari menjual jasa membaca doa tersebut. Bahkan tidak jarangg pak Sanusi memperoleh tips dari kegiatan tersebut. Pak Achmad semula mengikuti jejak pak Sanusi, namun Pak Achmad menekuni kembali menjadi guru ngaji dari rumah ke rumah karena menyadari mengajar mengaji untuk orang yang masih hidup akan lebih bermakna daripada hanya berdoa untuk orang yang sudah meninggal.

Cerpen Lailatul Qadar, bercerita tentang suasana bulan puasa indah dimana orang sering berbuka dan sahur bersama. Di bulan puasa ini orang juga rajin beribadah untuk mendapatkan berkah Lailatul Qadar agar ibadah yang dilakukannya setara nilainya dengan ibadah selama seribu bulan. Dalam cerpen ini dikisahkan bahwa seorang seniman, terkadang tidak bisa berpegang pada idealisme semata. Ada kalanya tekanan ekonomi, membuat seorang seniman berkompromi dengan situasi.

Cerpen Santan Durian, berkisah tentang tradisi bertukar makanan untuk berbuka. Selain kolak, santan durian merupakan salah satu makanan favorit berbuka puasa. Namun bagi si tokoh, santan durian menimbulkan trauma tersendiri karena menimbulkan konflik keluarga. Sebagian dahan pohon durian pak Manaf Sebagian menjorok ke pekarangan ayah si tokoh. Pak Manaf menuduh ayah si tokoh mengambil durian yang jatuh di pekarangannya. Konflik itu sampai puncaknya ketika pak Manaf membuang kiriman santan durian kiriman dari Keluarga si Tokoh. Trauma itu senantiasa muncul ketika si tokoh mencium aroma bau santan durian.

Cerpen Malam Takbir, berisikan cerita tentang seorang pria tua yang sedang  beristirahat di sebuah warung untuk menunggu saat berbuka puasa di saat hari puasa terakhir. Setelah menunaikan ibadah shalat maghrib, pria tersebut menikmati makan di warung. Tiba-tiba sebuah shuttlecock yang sedang dimainkan dua anak perempuan di halaman warung jatuh ke piring nasinya. Laki-laki tersebut dengan santai memberikan shuttlecock kepada anak perempuan tersebut. Anak Perempuan tersebut merasa bersalah, minta maaf dan pulang ke rumahnya. Tak lama kemudian anak Perempuan tersebut datang Kembali ke warung bersama ibunya untuk meminta maaf dan memberikan sejumlah uang pengganti kepada pak tua tersebut, karena mereka kuatir pak tua akan sakit setelah memakan nasi yang tercemar kotoran shuttlecock. Pak tua tersebut pada mulanya menolak pemberian tersebut. Namun hatinya luluh ketika disadarkan uang itu merupakan rejeki yang dikirimkan Allah untuk dirinya dan keluarganya.

Cerpen Panggilan Rasul, berkisah tentang sebuah keluarga kaya punya anak tiga laki-laki di sebuah kampung. Sebagai muslim yang taat mereka mengikuti tradisi untuk menyunatkan anak laki-lakinya. Namun malang, sunat untuk anak sulung dan  anak kedua yang dilakukan di dukun sunat berakhir tragis karena keduanya mengalami pendarahan yang luar biasa. Bahkan muncul rumor bahwa anak-anak tersebut meninggal karena guna-guna. Oleh karena itu keluarga tersebut harap-harap cemas ketika akan menyunatkan anak ketiga. Mereka kemudian mencari dokter sunat yang berpengalaman. Alhamdulillah proses sunat untuk anak ketiga berjalan lancar  dan berakhir bahagia.

Cerpen 4 buku 40 hari, berisi kisah seorang pensiunan pegawai negeri yang telah beranak cucu. Ketika istri pertama meninggal, pak tua kemudian melakukan acara ritual doa termasuk doa setelah 40 hari meninggalnya istri pak tua tersebut. Pak tua tersebut kemudian menikah lagi, namun tak berapa lama istri barunya meninggal duluan. Hal tersebut berulang saat dia menikah dengan istri ketiga dan keempat. Sehingga  pak tua tersebut mempunya 4 buah buku doa yang diterbitkan untuk menghormati istri-istrinya. Setelah ditelusur, pak tua menikah ternyata bukan untuk pemenuhan kebutuhan biologis semata, namun beliau menikah lagi agar bisa menyantuni janda atau perempuan yang dinikahinya melalui uang pensiunnya.

Cerpen Pedagang Kacang dari Berenun, merupakan kisah pertemuan si tokoh dengan seorang penjual kacang rebus yang biasa mangkal di malam hari di sebuah Taman di kota Sigli. Kacang yang lezat dan special karena dibuat dari kacang tanah pilihan berbiji 3 atau 4. Pak tua penjual kacang rebus tadi merupakan warga  yang berasal dari Berenun, sebuah daerah asal Daud Beureuh, tokoh karismatik Aceh. Ketika keesokan harinya sedang di hotel, si tokoh dikejutkan oleh seseorang yang mengantarkan kamera mahal miliknya yang semalam tertinggal di tempat pedagang kacang rebus. Di balik kesederhanaannya, pak tua penjual kacang rebus ternyata memiliki watak jujur yang saat ini semakin susah ditemukan.

Cerpen Antena, berisi kisah tentang seorang pak tua yang membeli antenna di bulan puasa, supaya dia bisa menikmati siaran langsung shalat tarawih yang dilaksanakan di Majidil Haram. Pak tua tersebut merupakan seorang marbot/penjaga masjid yang tekun dan penuh keikhlasan menjalankan tugasnya. Suatu saat dia mendapat rejeki berhaji, atas sponsor seorang donatur. Selama berhaji di tanah suci, dia mengalami berbagai peristiwa spiritual yang membuat hatinya merenung dan semakin dekat dengan Khaliq-nya.

Cerpen Malam Seribu Bulan, cerpen ini bercerita tentang Ibnu Thalib seorang perantau dan penjual obat keliling di ibukota. Di kampung halamannya yang budaya relijiusnya tinggi, setiap orang berbondong-bondong beribadah di bulan puasa untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Guru agama di kampung menafsirkan seseorang yang mendapatkan berkah malam Lailatul Qadar, akan membuat alam sekitarnya tunduk ke dia. Pohon kelapa akan merunduk kepadanya, agar dia bisa memetic kelapa muda dengan mudah. Karena Ibnu tinggal di Jakarta dan pohon kelapa jarang ditemukan, maka dia menggantikan pohon kelapa dengan Tugu Monas. Ibnu menjelang akhir bulan puasa rajin tirakat di Tugu Monas, dengan harapan Monas akan menunduk padanya dan merelakan emasnya.

Cerpen Karjan dan kambingnya, beerkisah tentang Karjan seorang gelandangan yang tinggal di gubug pinggiran rel kereta. Dia terkadang memburuh sebagai pemelihara rel dari rumput yang mengganggu. Di bulan puasa, Karjan memperoleh hadiah seekor kambing dari Parman, rekannya sesama gelandang yang sudah berhasil secara ekonomi. Kambing tersebut dihadiahkan supaya Karjan bira merayakan lebaran dan berpesta kambing guling dengan teman-teman di gubugnya. Ketika Karjan membawa kambing tersebut dan melewati pos keamanan, petugas keamanan menyita kambing tersebut dan Karjan ditahan dengan tuduhan mencuri kambing tersebut. Petuigas keamanan beranggapan bahwa Karjan adalah gelandangan miskin sehingga tidak mungkin membeli atau mempunyai seekor kambing. Sebuah cara berpikir yang menyederhanakan persoalan secara berlebihan.

Cerpen si Lugu dan si Malin Kundang, bercerita tentang seorang petani tua yang ingin mengunjungi anaknya di sebuah komplek mewah di kota besar. Pak tua tersebut membawa berbagai hasil kebun dan ayam sebagai oleh-oleh untuk anaknya. Tapi rencana kunjungan tertahan oleh Satpam dan polisi yang tidak percaya bila pak tua tersebut punya anak di komplek mewah tadi. Satpam tidak membolehkan paktua masuk ke komplek tersebut bahkan ayam yang dibawanya dibunuhnya pula. Pak tua menyumpah-nyumpah dan mengancam si polisi akan jadi patung seperti si Malin Kundang. Untunglah pak tua tersebut kemudian bertemu dengan anaknya yang sedang menuju gerbang perumahan setelah pergi dari luar. Pak tua diajak ke rumah anaknya dan diajak keliling-keliling kota. Saat keliling kota, pak tua terkaget-kaget melihat patung polisi di persimpangan jalan. Dia mengira polisi yang disumpahinya telah menjadi patung seperti hikayat Malin Kundang.

Cerpen Hujan dan Gema Takbir, cerpen ini berkisah tentang sebuah keluarga di ibukota yang mempunyai pembantu bernama Iyem. Setiap lebaran Iyem pulang kampung. Menjelang lebaran tahun lalu, Iyem minta ijin mudik berlebaran di kampung namun tidak diijinkan oleh majikannya tersebut. Iyem menjadi sangat sedih karena tidak bisa pulang, dan kekasihnya meninggalkan dirinya karena terpikat pada wanita lain yang bareng mudik saat itu. Lebaran tahun ini Iyem minta ijin untuk mudik. Majikannya dengan penuh pengertian mengijinkan Iyem mudik karena tidak ingin merusak kebahagiaan Iyem yang ingin berlebaran di kampung. Majikannya juga mengijinkan Iyem mudik karena ingin menebus dosa kesalahan tidak mengijinkan Iyem mudik tahun lalu. Setelah mudik ke kota Kembali, Iyem bercerita dengan bahagia bahwa ketika mudik, di tengah terpaan hujan dan gema takbir, seorang pria menyatakan cintanya pada Iyem. Pria tersebut merupakan seorang sopir keluarga yang tinggalnya berdekatan dengan majikan Iyem. Akhirnya majikan sopir tersebut mewakili Sopir melamar Iyem yang diwakili oleh keluarga majikannya. Sebuah akhir bahagia dan sangat Indah.

Cerpen Reuni, cerita ini merupakan kelanjutan cerpan  Malam Takbir, Cerpen ini berisikan cerita tentang si tokoh yang sedang berkunjung ke warung dan bertemu Kembali dengan pak tua yang tahun lalu sempat ditemui ketika berbuka puasa. Mereka kemudian diundang berbuka bersama oleh keluarga anak perempuan yang dulu shuttlecock-nya jatuh ke piring nasi pak tua. Sebuah reuni yang Indah. Namun ternyata semua itu hanya halusinasi karena warung itu beserta musholanya ternyata sudah roboh.

 

Saya menikmati membaca cerpen Hamsad Rangkuti. Cerita dengan alur dan bahasa sederhana, namun penuh dengan pesan moral didalamnya.