Sunday, September 21, 2025

Buku Pintar MIND MAP

 


Buku Pintar MIND MAP

Penulis Toni Buzan

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Jakarta 2008

ISBN 978 979 22 2351 4

225 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan dari Buku  „The Ultimate Book of Mind Maps” karya Toni Buzan yang  diterbitkan oleh Harper Collins Publisher Ltd tahun 2005.

Mind Map merupakan  cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Mencatat dengan menggunakan Mind Map dilakukan dengan menggunakan tulisan dan gambar. Kita bisa membandingkan Mindmap dengan peta kota. Pusat Mind Map merupakan pusat kota yang mewakili ide terpenting. Jalan-jalan utama mewakili pikiran-pikiran utama dalam proses pemikiran kita.  Jalan-jalan sekunder mewakili pikiran-pikiran sekunder dan seterusnya. Pencatatan yang dimulai dengan ide primer, ide skunder tersier dan selanjutnya ini sama dengan cara analisis kerangka ikan (fishbone analysis). Mindmap ini banyak digunakan  oleh para pemikir seperti Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Albert Einstein  dan tokoh pemikir lainnya.

Beberapa pemikiran kunci dalam menggunakan mindmap ini adalah:

  • Mendorong keseimbangan otak kiri (analisis) dengan otak kanan (daya kreasi missal dengan menggunakan gambar dan warna).
  • Mindmap akan berfungsi efektif bila dilakukan proses pengulangan misalnya dengan sering direview atau dibaca ulang.
  • Dalam menyusun mindmap, kita perlu mengembangkan cara  berpikir lateral (out of the box) dan menghindarkan pemikiran yang linier.
  • Bila kita menggunakan mindmap untuk merancang sebuah perubahan (hidup kita, organisasi dll) kita perlu rajin melakukan review, evaluasi dan penyempurnaan secara berkala hingga sukses. Konsep ini disebut dengan TEFCAS (Trial/uji coba, Event/peristiwa, Feedback/umpan balik, Check/review/evaluasi, Adjust/sempurnakan, Success/Berhasil)

Tujuh langkah dalam membuat mindmap adalah:

Siapkan kertas kosong (misal ukuran A4 atau lebih besar) dan letakkan dalam posisi mendatar (landscape)

  • Gambarkan ide pokok/topik sentral yang akan  anda bahas 
  • Gunakan warna agar lebih hidup dan menambah energi pada pemikiran kreatif anda
  • Gambarkan cabang-cabang utama (pemikiran primer) ke gambar pokok anda, trus hubungan cabang skunder ke cabang primer dst.
  • Buatlah garis hubung yang melengkung  yang menghubungkan pikiran primer, skunder, tersier dst. Garis lengkung dibuat agar tidak membosankan otak kita dan terkesan lebih  fleksibel dibandingkan garis lurus yang terkesan linear dan kaku.
  • Gunakan satu kata unci untuk setiap  garis.
  • Gunakan Gambar- untuk mewakili ide-ide atau area menarik tertentu. Gambar-gambar dibuat sebagai bentuk visualisasi agar lebih mudah direkam dalam otak kita.

 

Berikut contoh Mind Map dalam menyiapkan sebuah rapat:

 

 

Beberapa manfaat menggunakan Mindmap antara lain:

  • Kita akan bisa memiliki pandangan menyeluruh (holistik) terhadap sebuah pokok permasalahan atau isu tertentu.
  • Kita juga bisa merencanakan rute dan membuat pilihan-pilihan dan mengetahui kemana kita akan pergi dan dimana kita berada.
  • Menstrukturkan data melalui pengelompokan/perumpunan.
  • Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan terobosan kreatif baru.
  • Dengan adanya gambar, warna dan bagan, memudahkan untuk membaca, mencerna dan mengingat isi sebuah isu tertentu.

Dalam buku ini Toni Buzan mencontohkan penggunaan Mindmap untuk merancang kehidupan kita seperti merencanakan jawal Keluarga, merencanakan keuangan Keluarga, menciptakan masa depan yang ideal dan lain-lain. Selain itu día juga mencontohkan membuat mindmap yang terkait pekerjaan misalnya menyelenggarakan rapat, membangun jejaringmemulai usaha, menulis esai, wawancara kerja dll. Penerapan lain mindmap adalah juga untuk kehiduan social kita seperti merancang akhir pekan yang romantis, merancang kebun, merancang pernikahan dan lain-lain.

Secara umum buku ini mudah dipahami, meski beberapa bagian perlu disimak lebih serius khusunya Bab 2 sd bab 5 yang membahas aspek psikologis dan otak. Saya menyarankan kepada  mahasiswa atau siapapun yang suka membaca ataupun menyimak acara diskusi, untuk menggunakan mindmap ini sebagai alat untuk menganalisis pemikiran penulis buku dan atau pembicara dalam sebuah event diskusi. Demikian pula mindmap ini akan sangat membantu menciptakan outline  bagi seseorang yang akan  menulis sebuah esai atau artikel.

Monday, September 08, 2025

JUNGLE CHILD; Rinduku pada Rimba Papua


 

 

JUNGLE CHILD; My Longing for the Papuan Jungle

Author: Sabine Kuegler

Publisher: Esensi-Erlangga, 2006

384 pages

 

This book is a translation of "Jungle Child," a true story written by Sabine Kuegler and published by Droemersche verlagsanstalt in 2006.

The book tells the story of the Kuegler – a German family, consisting of Klaus (father), Doris (wife), Judith (eldest child), Sabine (second child), and Christian (third child), who lived in West Irian in the 1980s. Klaus and Doris were volunteers for a social foundation (missionary) that provided services to underprivileged or isolated communities. Before serving in Papua, Klaus had worked in Nepal with a remote community there.

In West Irian, Klaus's family lived in a remote area (about an hour's helicopter flight from Lake Bira) with the Fayu tribe. Bira Lake is a hamlet in the Central Mamberamo district, Mamberamo Raya regency, Papua province, Indonesia. At that time, the Fayu people were a traditional society untouched by modern civilization, including in terms of education and health. Using sign language and limited local language, the Kuegler family adapted to the Fayu community.

Sabine, the central character in this book, is depicted as a tomboy and rebellious girl. She quickly adapted to her environment, especially quickly associating with the Fayu boys, as Fayu girls tend to be shy and introverted. Sabine easily mingled with the Fayu children and played in the forest, in the river, playing in the mud, hunting and eating insects, consuming wild animals like bats and crocodiles, eating local fruit, climbing trees, and so on. Sabine quickly learned about safe foods and those to avoid. From a young age, Sabine showed an interest in the forest and the environment. She enjoyed collecting various types of animals and insects she found in her environment. For education, Judith, Sabine, and Christian were homeschooled by their mother.

Besides studying the culture and language of the Fayu tribe, the Klaus family also indirectly discovered various lessons, such as: (1) a simple life in harmony with nature, (2) a slow lifestyle free from the stress of work, and (3) eating natural foods provided by nature. The Klaus family enjoyed the delicious taste of wild meat. This created a problem when they returned to Germany and found the meat bitter, leading Judith to become a vegetarian and no longer eat meat.

The Klaus family's presence among the Fayu tribe also brought about gradual social change. The Klaus family taught peace through practices, where clans that often fought among themselves were invited to engage in dialogue to resolve existing problems or conflicts. They were encouraged to gather and socialize to build friendships and family ties. The children, who had often been afraid due to fears of tribal war, eventually grew into a happier generation.

The Klaus family also taught about love and avoiding domestic violence. The Fayu tribe, whose male population is highly dominant, was encouraged to respect and love women. Coerced marriages were gradually eliminated. Violence against wives was also attempted to be eliminated.

Doris (Klaus' wife) also taught about health through medicine and healthy living by maintaining cleanliness. Doris assisted mothers in childbirth and cared for those who were injured or ill. In the Fayu tribe, minor wounds often developed into serious infections due to lack of treatment. Doris's introduction of health care increased the average life expectancy from 37 years to over 50 years.

Doris also contributed significantly to advancing the education of Fayu children. She purchased stationery for the Fayu children and taught them to write and read. The children enthusiastically participated in Doris's interactive and engaging lessons.

When Yudith, Sabine, and Christian grew up, they were sent to Europe and America to pursue higher education, as their mother's homeschooling was impossible. Sabine's departure for Europe was also driven by deep grief following the death of Ohri (her adopted brother from the Fayu tribe). To heal and forget her grief, Klaus and Doris sent Sabine to Switzerland to study.

Initially, Sabine first moved to Europe, she experienced culture shock due to the contrast between the Fayu and European cultures. This situation caused her to experience depression. Fortunately, Sabine slowly began to find her way and start a family. Although Sabine has adapted to European culture, she still acknowledges that part of her soul will always be a child of the jungle.

 

Comments:

A light novel with an accessible style. Many stories of childhood memories are both engaging and humorous. This book also teaches that traditional communities also possess a variety of local wisdom, and that it is not always frightening when approached appropriately. Recommended reading for children and young people who love local culture and nature.

 

 

 

JUNGLE CHILD; Rinduku pada Rimba Papua

Penulis Sabine Kuegler

Penerbit Esensi-Erlangga, 2006

384 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan buku Jungle Child yang merupakan true story yang dituliskan oleh Sabine Kuegler dan diterbitkan oleh Droemersche verlagsanstalt tahun 2006.

Buku ini bercerita tentang keluarga Kuegler dari Jerman yang terdiri Klaus (ayah), Doris (istri), Judith (anak sulung), Sabine (anak kedua) dan Christian (anak ketiga), yang tinggal di Irian Barat pada tahun 1980an.    Klaus dan Doris merupakan relawan yang bergabung dalam yayasan social (misionaris) yang memberikan layanan untuk masyarakat yang tertinggal atau terpencil. Sebelum bertugas di Papua, Klaus sempat bekerja di Nepal untuk sebuah masyarakat pedalaman di sana.

Di Irian Barat, Keluarga Klaus tinggal di daerah terpencil (sekitar satu jam penerbangan helikopter dari Danau Bira) bersama masyarakat suku Fayu. Danau Bira adalah sebuah kampung atau desa yang berada di distrik Mamberamo Tengah, kabupaten Mamberamo Raya, provinsi Papua, Indonesia. Saat itu  Suku Fayu merupakan masyarakat tradisional yang belum tersentuh peradaban modern termasuk dari sisi pendidikan dan kesehatan. . Dengan menggunakan bahasa isyarat dan bahasa local yang terbatas, Keluarga Kuegler beradaptasi dengan masyarakat suku Fayu.

Sabine yang menjadi tokoh central dalam buku ini, digambarkan sebagai anak perempuan yang tomboi dan bandel. Dia dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya, khususnya cepat bergaul dengan anak laki-laki suku Fayu karena anak perempuan suku Fayu cenderung pemalu dan introvert. Sabine dengan mudah membaur dengan anak-anak suku Fayu dan bermain di hutan, di sungai, main Lumpur, berburu dan  makan serangga, makan daging satwa liar seperti kelelawar dan buaya, makan buah local, memanjat pohon dan lain-lain. Sabine dengan cepat belajar tentang makanan yang aman dimakan dan yang harus dihindari. Sejak kecil Sabine sudah menunjukkan ketertarikan terhadap hutan dan lingkungan. Dia suka mengoleksi berbagai jenis satwa dan serangga yang día temukan di lingkungannya. Untuk pendidikan, Judith, Sabine dan Christian mengikuti sistem homeschooling yang dipandu oleh ibunya.

Keluarga Klaus sendiri selain mempelajari budaya dan bahasa suku Fayu, secara tidak langsung juga menemukan berbagai pembelajaran seperti: (1) kehidupan yang sederhana dan selaras dengan alam, (2) kehidupan yang slow living dari jauh dari stress karena pekerjaan, (3) mereka makan makanan natural yang disediakan oleh alam. Keluarga Klaus menyukai dagiung satwa liar yang terasa lezat. Hal ini menimbulkan persoalan karena ketika kembali ke Jerman, mereka merasakan daging di Jerman terasa pahit sehingga Judith memutuskan jadi vegetarian dan tidak mau makan daging lagi.  

Kehadiran Keluarga Klaus ke tengah-tengah suku Fayu, juga membawa perubahan social secara perlahan. Keluarga Klaus mengajarkan melalui praktek tentang perdamaian, dimana antar marga yang sering berperang antar suku diajak untuk berdialog untuk memecahkan masalah atau konflik yang ada. Mereka diajak berkumpul dan bersilaturahmi untuk membangun persahabatan dan kekeluargaan.  Anak-anak yang selama ini sering ketakutan karena kekuatiran ada perang suku, akhirnya tumbuhb menjadi generasi yang lebih ceria.

Keluarga Klaus juga mengajarkan tentang cinta kasih dan menghindarkan kekerasan dalam rumah tangga. Suku Fayu yang dominasi kaum prianya sangat menonjol, diajak untuk menghormati kaum perempuan dan mengasihi mereka. Perkawinan yang dilandasi paksaan, perlahan-lahan dihindarkan. Kekerasan suami terhadap istri juga berusaha dihilangkan.

Doris (istri Klaus) juga mengajarkan tentang kesehatan melalui pengobatan dan cara hidup sehat dengan menjaga kebersihan. Doris membantu ibu-ibu melahirkan serta merawat orang-orang yang terluka atau sakit. Di Suku Fayu, luka yang sepele sering berkembang menjadi infeksi serius karena minimnya pengobatan. Adanya introduksi kesehatan oleh Doris membuat angka harapan hidup yang semula hanya rata-rata 37 tahun meningkat jadi di atas 50 tahun.

Doris juga berkontribusi besar untuk memajukan pendidikan anak-anak suku Fayu. Dia membelikan peralatan alat tulis untuk anak-anak Suku Fayu dan mengajarkan menulis dan membaca. Anak-anakpun sangat antusias mengikuti pelajaran dari Doris yang sangat interaktif dan menarik bagi mereka.

Saat Yudith, Sabine dan Christian beranjak dewasa, mereka dikirim ke Eropa dan Amerika untuk medapatkan pendidikan tinggi di sana, karena materi pendidikan tinggi tidak mungkin disampaikan secara home shooling oleh ibunya. Kepergian Sabine ke Eropa, sendiri juga didorong adanya kesedihan yang mendalam akibat meninggalnya Ohri (kakak angkatnya dari Suku Fayu). Untuk mengobati dan melupakan kesedihan Sabine,  Klaus dan Doris mengirimkan Sabine ke Swiss untuk bersekolah di sana.

Pada awal kepindahannya ke Eropa, Sabine mengalami culture shock akibat kontrasnya perbedaan budaya di Suku Fayu dengan budaya Eropa. Kondisi tersebut menyebabkan Sabine sempat mengalami depresi. Untunglah perlahan-lahan, Sabine mulai nenemukan jalan hidupnya dan berkeluarga. Meski Sabine sudah beradaptasi dengan budaya Eropa, namun dalam hatinya día tetap mengakui bahwa separuh jiwanya akan terus menjadi anak rimba.

 

Komentar:

sebuah novel yang ringan dan gaya bahasa yang mudah dipahami. Banyak cerita kenangan masa kecil yang mengasyikkan dan lucu. Buku ini juga mengajarkan bahwa masyarakat tradicional juga mempunyai berbagai kearifan local, dan tidak selalu menakutkan ketika kita bisa mendekatinya secara tepat. Direkomenasikan dibaca untuk anak-anak dan generasi mudah yang mencintai budaya local dan alam.

 

 

 

 

 

 


Thursday, September 04, 2025

BUILDING A SECOND BRAIN

 



BUILDING A SECOND BRAIN

Metode efektif mengelola kehidupan digital agar lebih produktif dan kreatif

Penulis: Thiago Forte

Penerbit Renebook

Jakarta 2024

ISBN 978 623 6083 772

324 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan dari buku asli berjudul “Building a second brain: A proven  method in organize your digital life and unlock your creative potential”, karya Thiago Forte (seorang ahli produktivitas) yang diterbitkan  tahun 2022.

Di usia muda Thiago terkena penyakit . Dia sudah berulangkali berobat ke dokter namun dokter tidak menemukan penyakit yang dideritanya. Kondisi kesehatannya semakin memburuk dan membuatnya depresi.

Kondisi kesehatan Thiago membaik ketika dia mulai melakukan “meditasi”. Jiwanya berangsur tenang dan derita penyakitnya mulai berkurang. Dia semakin  rajin membagikan tulisannya dan pemikirannya ke orang lain. Dia menemukan kembali semangat hidupnya, ketika dia merasakan dirinya bermanfaat bagi orang lain.

Dalam buku ini, Thiago menyoroti bahwa di era digital ini kita dibanjiri oleh berbagai informasi melalui media sosial, televisi, radio, email, buku dan lain sebagainya. Banyak orang akhirnya bingung sendiri karena banjir informasi tersebut dan kesulitan menentukan prioritas informasi dalam kehidupannya. Dalam dunia kerja, banyaknya informasi yang tidak disertai pemilahan dan pengelolaan informasi yang memadai membuat kita punya banyak data namun kesulitan untuk menemukan data tersebut ketika kita membutuhkannya.

Untuk mengatasi banjir informasi tersebut, Thiago menyarankan agar kita memanfaatkan sarana pendukung digital seperti laptop/tablet sebagai “otak kedua”  untuk membantu menyimpan informasi secara terstruktur. Ketika suatu saat kita mempunyai tugas atau kegiatan tertentu, misalnya melakukan pelatihan untuk kelompok tani hutan, kita perlu melakukan empat Langkah CODE (Capture, Organize, Distill, Express).

 

Capture

Adalah menangkap informasi dan mempertahankan informasi yang berguna dan penting. Ingat prinsip Garbage in garbage out bahwa  hanya informasi berkualitas yang akan menghasilkan karya berkualitas pula. Sehingga kumpulkanlah “hanya” informasi yang berguna yang sesuai kebutuhan kita. Dalam tahap capture ini janganlah terjebak dalam sikap terlalu perfeksionis, sehingga kita tidak bisa segera melangkah untuk memproses data dan informasi yang tersedia.  Informasi yang dikumpulkan bisa berupa:

  • Sorotan atau bagian yang menarik dan kita highlight/sorot atau stabilo ketika membaca buku atau artikel. Sekarang tersedia perangkat lunak yang menyediakan fitur sorotan ini dan bisa mengumpulkan sorotan-sorotan yang kita stabilo dalam sebuah bacaan digital
  • Kutipan dari bagian penting sebuah buku/artikel
  • Bookmark atau tautan favorit dari sebuah website
  • Memo suara atau rekaman dari handphone
  • Catatan rapat
  • Gambar
  • Poin-poin pokok dari sebuah pertemuan/seminar/diskusi dll
  • Gagasan atau ide yang muncul dari perenungan maupun yang insidentil.

 

Upayakan bahan yang disimpan tadi mudah dibuka dengan aplikasi yang mudak didapatkan. Selain itu ukuran file-nya tidak terlalu besar agar tidak memakan banyak tempat penyimpanan.

 

Organize

Adalah Mengelola informasi dan menyimpan untuk ditindaklanjuti. Informasi yang terkumpul harus diorganisir penyimpanannya  agar memudahkan pencarian saat dibutuhkan. Thiago menyarankan pengelompokan informasi dengan konsep PARA (Project, Area, Resource, Archieve) untuk pengorganisasian data dan  informasi.

  • Project merupakan Upaya jangka pendek dalam pekerjaan atau kehidupan yang sedang anda kerjakan saat ini.
  • Area atau Bidang merupakan tanggungjawab jangka Panjang yang ingin anda tangani seiring berjalannya waktu
  • Resources atau sumberdaya merupakan  topik atau minat yang mungkin berguna bagi masa depan
  • Archieve atau Arsip merupakan Item tidak aktif dari tiga kategori di atas.

 

Distill

Adalah menyaring dan menemukan intisari informasi yang sudah dikumpulkan. Proses penyaringan ini membutuhkan ketelatenan dan bisa dilakukan secara bertahap untuk menemukan intisarinya. Dalam proses penyaringan ini latihan membuat ringkasan atau resume akan sangat membantu. Semakin tinggi jam terbang dalam membuat ringkasan, kita akan semakin mudah menemukenali benang merah sebuah tulisan atau bahan bacaan.

 

Express

Adalah mengekspresikan informasi yang kita kumpulkan dalam bentuk sebuah hasil karya. Untuk membuat karya ini, Thiago menyarankan dibuat draft kasar atau contoh-contoh kecil (intermediate package) secara bertahap yang nanti bisa dihubung-hubungkan atau disempurnakan. Jangan sungkan mintakan input atau feedback untuk penyempurnaan dari orang sekeliling kita terhadap intermediate package ini.

 

Dalam menggunakan CODE ini, untuk Capture dan Organize, kita perlu menggunakan pendekatan Divergensi untuk membuka seluas-luasnya kreatifitas, inovasi dan informasi yang perlu kita kumpulkan. Meski demikian kita perlu punya fokus agar kita tidak tersesat dalam kreatifitas yang tidak berujung atau banjir informasi. Sedangkan untuk Distill dan Express kita perlu menggunakan pendekatan Konvergensi yakni mengeliminasi pilihan, memperhitungkan untung rugi dan memilih yang benar-benar penting.

 

Pada akhir tulisannya, Thiago menyarankan agar kita mengecek ulang proyek yang kita garap hingga hasilnya memuaskan. Selanjutnya kita perlu mengorganisir informasi yang kita kumpulkan misalkan dimasukan ke folder arsip, untuk antisipasi bila informasi tersebut dibutuhkan suatu saat kelak. Data-data di desktop yang berserakan perlu diatur ulang biar kita mudah mencarinya bila membutuhkannya nanti. Kita perlu merayakan proyek yang telah selesai, dan men-setting ulang untuk proyek-proyek prioritas di masa depan.

 

 

 

 

Sunday, July 06, 2025

Kuasa Eksklusi, dilema pertanahan di Asia Tenggara

 


Kuasa Eksklusi, dilema pertanahan di Asia Tenggara

karya Derek Hall, Philip Hirsch & Tania Murray Li

(terjemahan Darmanto Simaepa & Achmad Choirudin, ed. Ben White)

Penerbit: INSISTPress, 2020,

ISBN 978-602-0857-90-9

402 halaman

 

Judul asli: Powers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia (NUS Press, 2011).

 

Buku ini ditulis berdasarkan penelitian proyek ChATSEA (2005–2010) dan studi kasus di tujuh negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam. Studi agraria ini dilakukan di tahun 2000an, namun dalam analisisnya terkadang juga dikupas sejarah agraria di masing-masing negara. Studi ini mengkaji perubahan-perubahan cara penutupan/pencegahan akses orang atas tanah (eksklusi) baik eksklusi type positif maupun negative (missal penggusuran, penyingkiran). Adanya eksklusi membuat individu atau kelompok tidak memiliki akses yang sama ke sumber daya, kesempatan, atau hak yang dimiliki oleh anggota masyarakat lainnya. Sebuah kata yang berlawanan makna dengan inklusi (pemberian akses).

 Eksklusi bidang agraria bisa dilakukan melalui berbagai cara yakni:

  • Pengaturan (regulation) melalui  aturan formal/birokratis yang mengatur pembatasan penggunaan, klaim, zonasi termasuk yang mengatur siapa dapat memanfaatkan tanah
  • Paksaan (force) melalui pengusiran atau pengamanan paksa oleh negara, milisi, atau pihak swasta menggunakan kekerasan 
  • Pasar (market) yang dipengaruhi oleh dinamika harga, permintaan lahan, dan tekanan komodifikasi tanah yang memaksa pemilik menjual tanahnya.
  • Legitimasi (legitimacy) yakni dasar moral dan sosial seperti klaim adat atau kontribusi finansial yang menguatkan eksklusi dengan citra sah

Keempat cara tersebut di atas bekerja sinergis, menciptakan eksklusi yang kompleks dalam berbagai konteks relasi pertanahan di Asia Tenggara.

Luas tanah di muka ini relative tetap, memang terdapat upaya untuk menambah luasan tanah di muka bumi namun nampaknya jumlahnya tidak terlalu signifikan. Dari waktu ke waktu, jumlah luas tanah yang tetap dihadapkan dengan pertambahan populasi penduduk yang meningkat pesat. Kebutuhan tanah untuk permukiman, industry, kawasan konservasi dan kepentingan lainnya membuat nilai tanah semakin tinggi dan perlu pengaturan yang lebih adil.

 

Eksklusi pertama: program reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah.

Untuk menjamin keadilan agraria, reforma agraria dalam bentuk pembagian lahan kepada tuna kisma (warga yang tidak punya lahan tanah) menjadi salah satu strategi yang dikembangkan di beberapa negara Asia Tenggara terlebih yang beridiologi komunis.. Strategi lain adalah negara melakukan pengaturan alokasi tanah, sehingga orang tidak bisa bebas seenak hati memanfaatkan lahan tersebut dan harus memperhatikan tata ruang yang ada.

Cara lain yang banyak ditempuh untuk menjamin kepastian hukum atas tanah adalah pemberian sertifikat (hak milik dan atau hak sewa/hak pakai) kepada pemilik/penggarap lahan. Selain memberikan kepastian hukum, seorang pemikir ekonomi Hernando de Soto, berpendapat bahwa sertifikasi tanah merupakan bentuk pemberian akses modal ke petani, karena mereka dapat mengagunkan sertifikat tersebut ke lembaga keuangan.  Namun pendapat de Soto ini mendapat tentangan dari banyak pihak karena sertifikasi tanah akan memudahkan petani menjual asset tanahnya dan kembali miskin. Selain itu sertifikasi yang sifatnya individual akan bisa merusak struktur sosial yang ada di masyarakat.

Pembagian lahan garapan, alokasi tanah  dan sertifikasi tanah yang diinisiasi negara ini, membuat orang lain ter-eksklusi dan tidak bisa memanfaatkan lahan tersebut dengan bebas. Hal ini menunjukkan bahwa eksklusi merupakan keniscayaan yang harus dihadapi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar strategi tersebut dijalankan secara adil??

 Menurut pendapat saya, untuk eksklusi melalui reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah, nampaknya eksklusi dengan cara “pengaturan” yang lebih dominan.

 

Eksklusi Kedua: Menguatnya Kepedulian Lingkungan dan konservasi alam

Tumbuhnya kesadaran global terkait pelestarian hutan dan lingkungan membuat pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara kemudian menggencarkan program pembangunan Kehutanan yang salah satunya melalui penataan dan penetapan batas hutan serta pengembangan Taman Nasional. Upaya pelestarian hutan ini banyak didukung oleh donor dan ornop yang peduli lingkungan.  Persoalannya penataan dan penetapan hutan yang dilakukan oleh negara seringkali kurang mempertimbangkan kepentingan masyarakat adat/local yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan tersebut. Maraknya kasus konflik masyarakat dengan Taman Nasional atau instansi kehutanan merupakan bukti nyata dualisme hukum formal yang diacu pemerintah dengan hukum adat yang diacu oleh masyarakat ada/local. Masyaraat adat/local yang telah hidup turun temurun dalam hutan dan bebas mengembangkan kegiatan penghidupan  seringkali terusir dari kampungnya karena kebijakan ini.

Menurut pendapat saya, seperti eksklusi melalui reforma agraria, alokasi tanah dan sertifikasi tanah, nampaknya eksklusi untuk kepentingan pelestarian lingkungan juga banyak dilakukan dengan cara “pengaturan”. Namun dalam banyak kasus, cara “pemaksaan” juga sering terjadi dalam penetapan hutan khususnya kawasan konservasi..

 

Ekslusi Ketiga: “Demam” komoditas budidaya (monokultur/perkebunan)

Ketika demam (booming) komoditi budidaya seperti kopi, kakao, kelapa sawit, tambak udang dan komoditi lainnya seringkali membuat banyak orang tertarik berinvestasi pada komoditi tersebut. Hal ini mengakibatkan tanah di lokasi yang sesuai dengan agroklimat tanaman tersebut menjadi jadi incaran banyak pihak. Dalam kasus di Indonesia, booming kelapa sawit membuat banyak perusahaan berinvestasi sehingga lahan kosong jadi incaran. Demikian pula dengan komoditi coklat di Sulawesi Tengah membuat banyak pengusaha dari Sulawesi Selatan berinvestasi ke kakao.

Persoalan muncul ketika investor tersebut menggunakan  pendekatan “pasar” dengan membeli lahan-lahan produktif petani. Banyak petani yang kemudian tergiur menjualnya, sehingga mereka beralih menjadi tuna kisma karena mereka sudah kesulitan mencari tanah kosong/hutan untuk dibuka kembali.

Petani kecil yang melakukan budidaya tanaman komersil secara monokultur juga sering terancam ketika harga komoditi turun drastis, atau gagal panen sehingga mereka kesulitan untuk membayar kredit atau kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini berakibat mereka mencari jalan pintas dengan menjual tanahnya guna menutup hutang dan kebutuhan hidupnya.

Selain melalui mekanisme pasar, eksklusi untuk pengembangan perkebunan ini juga banyak dilakukan melalui cara “pengaturan” bahkan “pemaksaan”

  

Eksklusi keempat:  Alih fungsi lahan pertanian,

Berkembangnya kota, suatu saat akan menemui titik jenuh karena lahan terbatas sementara kebutuhan terus perkembang. Oleh karenanya pemanfaatan daerah-daerah periferi pinggiran kota besar menjadi salah satu pilihan seperti Jakarta dengan daerah penyangganya seperti Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Banyak lahan pertanian yang beralih fngsi untuk permukiman maupun industri.  Selain itu berkembangnya penduduk juga membawa konsekwensi berupa kebutuhan fasilitas wisata atau rekreasi. Hal ini juga menimbulkan eksklusi.

Cara yang banyak ditempuh untuk konversi lahan pertanian untuk industri, wisata, permukiman dll antara lain melalui “pasar (jual beli)”, pengaturan oleh pemerintah dan tidak jarang dibumbui dengan aksi pemaksaan.

 

Eksklusi kelima:  Pencegahan akses oleh “orang dekat”.

Kehidupan masyarakat desa mengalami dinamika.  Masyarakat yang dulu digambarkan guyub, saling menolong,, saling berbagi, harmonis dan seterusnya seperti yang digambarkan oleh Cliffort Geertz, tidak sepenuhnya terjadi saat ini. Kehidupan individualisme makin kentara dan hubungan makin formal.

Dalam masyarakat sendiri juga terdapat struktur sosial yang sering terkait erat dengan struktur ekonomi. Dalam masyarakat desa yang belum banyak berhubungan dengan lembaga keuangan, keluarga yang mampu biasanya akan jadi tempat tujuan utama bila seseorang membutuhkan uang. Namun peminjaman ini seringkali disertai dengan “bunga“ yang nilainya seringkali cukup tinggi. Apabila si peminjam tidak mampu membayar pinjamannya, lahan tanahnya akan disita menjadi milik pemberi pinjaman. Dengan cara ini orang yang mampu bisa melakukan akumulasi modal dengan cara meminjamkan uang.

 

Eksklusi keenam: Klaim berbasis identitas & keterikatan tempat

Eksklusi ini terjadi ketika sebuah komunitas adat/kedaerahan meng-klaim tanah yang telah dikuasai pihak lain dengan menggunakan argumentasi bahwa masyarakat adat/lokal lebih berhak atas tanah tersebut dibandingkan pendatang karena masyarakat adat tersebut telah turun temurun tinggal di daerah tersebut.  Kasus klaim ini antara lain terjadi di beberapa daerah transmigrasi di Indonesia, di mana masyarakat adat meng-klaim lahan tranmigran sebagai tanah leluhurnya. Kasus yang hampir mirip adalah kasus pengusiran orang Madura sebagai imbas kerusuhan di Sanggau (Kalbar) dan Sampit (Kalteng).

Hal ini terasa menyesakkan bagi para transmigran karena mereka semata-mata mengikuti program yang diselenggarakan pemerintah, namun ternyata tidak ada jaminan hukum atas lahan yang mereka kuasai.

 

Dari pemaparan di atas, terlihat bahwa dilema pertanahan yakni setiap intervensi produktif atau perubahan terhadap tanah selalu mengandung ‘harga’—karena eksklusi terhadap pengguna lain adalah konsekuensi yang tak terhindarkan. Bahkan sering kali eksklusi muncul dalam bentuk ganda yakni melindungi sebagian pihak sekaligus menciptakan ketidakamanan bagi pihak lain.

 Dari buku ini, sebuah pertanyaan yang tersisa di benak saya adalah seperti apakah strategi yang adil yang bisa mengakomodir kepentingan pembangunan sekaligus juga menghormati hak kepemilikan pribadi, penghormatan terhadap masyarakat adat/tradisi, produksi yang berorientasi subsisten?

 

Rekomendasi

Buku ini dikemas dalam alur yang runtut dan bahasa yang mudah dicerna oleh orang awam.Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang tertarik pada studi agraria & kebijakan pertanahan, konflik sosial-politik atas sumber daya tanah, dan pegiat advokasi masyarakat  adat dan pedesaan.

Thursday, May 22, 2025

Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977


 


Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977

Penulis Ramadhan K.H.

Pusataka Sinar Harapan

Jakarta 1993

ISBN 979-416-165-9

534 halaman

 

 

Ali Sadikin merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta tahun 1966-1977 yang legendaris. Beliau berlatar belakang militer KKO – marinir. Dia dikenal tegas tanpa kompromi bahkan kepala batu. Sifat itu yang mungkin menjadi salah satu alasan Bung Karno mengangkatnya menjadi Gubernur Jakarta. Untuk menata Jakarta yang saat itu semrawut dan penuh persoalan sosial akibat urbanisasi, menjadi sebuah kota metropolitan ibu kota negara yang tertata diperlukan orang yang tegas dan taktis.

 

Beberapa terobosan yang dilakukan Bang Ali, ketika menjabat sebagai Gubernur antara lain:

1. Análisis kemampuan keuangan daerah. Di tahun 1966,  APBD Jakarta hanya 66 juta rupiah yang sebagian besar berasal dari bantuan Pemerintah Pusat (APBN). Satu dollar Amerika saat itu berkisar Rp. 250,-  sehingga setara 264,000 US$.  Jumlah yang tidak mencukupi untuk membiayai pembangunan Jakarta. Melihat kondisi tersebut Bang Ali mengembangkan  strategi menggenjot PAD seperti pajak motor, pajak judi untuk orang Cina, dan mengundang investasi. Hasil pajak yang berlipat tersebut  digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik berbagai sektor  di Jakarta. APBD disusun dengan melihat rencana dan kebutuhan pembangunan yang mengacu pada masterplan Jakarta, dan bukan melihat duit yang tersedia. Kenaikan APBD ini terus berlanjut hingga tahun 1977/1978 mencapai sekitar 39,7 milyar rupiah (atau setara 95,6 juta US$ dengan kurs 1 US$ setara Rp. 415)

2.  Penataan organisasi birokrasi DKI Jakarta untuk menghindarkan overlapping dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi kerja. Instansi yang tidak penting dihapus dan instansi baru dibentuk sesuai urgensi dan kewenangan yang ada. Pembagian kewenangan Pusat dan Daerah diperjelas termasuk tata hubungan kerja antar lembaga.Meski demikian dalam implementasi program, Bang Ali melalui pendekatan pragmatisnya sering mengambil alih peran Pemerintah Pusat ketika pemerintah Pusat dirasa lamban bergerak terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik seperti pembangunan jalan, sekolah dan lain-lain.  

3.  Peningkatan pelayanan publik sector pendidikan dan kesehatan melalui pembangunan ratusan gedung sekolah, pengadaan tenaga guru, pembangunan gelanggang mahasiswa, pembangunan Puskesmas di setiap kelurahan dan pengadaan tenaga kesehatan.

4.  Pembenahan tata kota mengacu masterplan Jakarta dan prinsip efisiensi. Terdapat pembangian zona perkantoran, permukiman, industri dll yang terintegrasi dengan infrastruktur transportasi, listrik, gas dan telepon. Pengembangan Tata Kota ini bahkan sudah memikirkan perluasan wilayah Jakarta dan integrasi dengan daerah Bogor, Tangerang dan Bekasi. Dalam pembenahan Tata Kota ini juga siintegrasikan adanya ruang terbuka hijau dan program penghijauan didalmnya.

5.  Peningkatan pelayanan publik sector transportasi melalui penambahan armada kendaraan, pendirian perusahaan angkutan PPD, pembangunan prasarana jalan serta penataan becak sebagai angkutan umum.

6.  Jakarta sebagai daerah metropolitan banyak mengundang ketertarikan warga propinsi lain untuk menguad nasib di ibukota. Fenomena ini terjadi dalam bentuk urbanisasi. Sayangnya tidak semua orang yang berurbanisasi mempunya bekal ketrampilan dan modal yang cukup. Hal ini berakibat munculnya kantong-kantong kemiskinan, permukiman kumuh,  pelacuran, kriminalitas dan lain-lain. Bang Ali berusaha mengatasi hal ini melalui pembenahan Kampung melalui Program Muhamad Husni Thamrin (MHT) yang mencakup pembangunan sanitasi, drainase, air minum, penanganan sampah dan penataan perumahan. Untuk pelacuran, Bang Ali melakukan kebijakan lokalisasi untuk memudahkan mengontrol mereka. Guna mengatasi urbanisasi ini, Bang Ali mendorong kerjasama dengan Jawa Barat, jawa Tengah dan daerah lain namun hasilnya belum optimal.

7.  Pembangunan ekonomi melalui pengembangan iklim investasi yang kondusif, pameran produk dalam negeri melalui Pekan Raya Jakarta, memfasiltasi pendidan KADIN, pembangunan pasar tradisional serta lapangan kerja tenaga trampil. Di tahun 1976 terdapat investasi Penanaman Modal Asing sebanyak 357 buah dengan total investasi sekitar 950 juta US$.

8.  Memfasilitasi pembangunan budaya melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, dukungan untuk festival musik, film, teater remaja dan lain-lain. Bang Ali mengaku tidak mempunyai bakat di bidang seni namun día sangat senang bergaul dengan para seniman karena seniman merupakan orang bebas sehingga akan obyektif ketika memberikan kritik dan masukan untuk pemerintah. Bang Ali juga memfasilitasi pembangunan beberapa museum karena beliau ingin Jakarta sebagai kota metropolitan juga tetap bsa menunjukkan budaya asli Indonesia. Demikian pula Bang Ali mendukung pembangunan Taman Mini Indosia Indah karena diharapkan bis amenjadi ministur budaya Indonesia

9.  Di bidang keagamaan, Bang Ali berkontribusi dalam upaya  perbaikan pelayanan pemerintah kepada calon jamaah ibadah haji seperti dalam pemeriksaan kesehatan, pelayanan akomodasi, pendampingan oleh petugas bimbingan haji, transportasi dan lain-lain. Bang Ali juga berkontribusi dalam penyelenggaraan festival MTQ yang meriah dan melibatkan publik luas.

10. Memfasilitasi pembangunan Olahraga yang mencakup pembangunan fasilitas olahraga, terlibat dalam penyelenggaraan PON, serta pembinaan olahraga untuk remaja

11. Di bidang politik, Bang Ali nenjadi salah satu petinggi Golkar meski demikian beliau secara tegas menyatakan bahwa sebagai Gubernur yang demokratis día adalah milik bersama. Oleh karenanya beliau mendorong kampanye yang fair bagi semua Parpol tanpa harus saling mengejek dan menjatuhkan.  Di saat pemilu 1977, PPP unggul di Jakarta, sedang Golkar hanya nomor 2. Sikap dewmokratis bang Ali juga ditunjukkan dengan pribadi yang mau menerima kritik. Tidak mengherankan bila Bang Ali kemudian banyak bergaul akrab dengan para aktivis demokrasi, mahasiswa kritis, seniman, dan pers/media. Bang Ali menganggap massa kritis tadi bisa menjadi sumber infornasi dan inspirasi yang tidak pernah habis.

12. Pembangunan di bidang hukum dilakukan melalui fasilitasi pembentukan Lembaga Bantuan Hukum yang diinisiasi bersama Adnan Buyung Nasution. LBH ini ditugaskan untuk memberikan pendampingan layanan hukum  gratis kepada para pencari keadilan khususnya kaum miskin.

13. Memfasilitasi Pembangunan sarana rekreasi bagi warga ibukota seperti Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, bioskop-bioskop, museum dan lain-lain. Selain sebagai fasilitas hiburan sarana rekreasi tadi juga dimaksudkan untuk menggali sumber pendapatan daerah.

14. Untuk mendorong jakarta sebagai kota metropolitan modern, Bang Ali mendorong kerjasama luar negeri antara Jakarta dengan Amsterdam. Salah satu aspek yang dikembangkan adalah komputerisasi untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi  pelayanan publik warga ibukota.


Jakarta di bawah kepemimpinan Bang Ali, memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Atas kepemimpinannya Bang Ali memperoleh penghargaan internasional Ramon Magsaysay dari Philipina tahun 1971. Di dalam negeri banyak lembaga yang memberikan apresiasi serta penghargaan kepada Bang Ali atas kepemimpinannya selama menjabat Gubernur di Jakarta baik dari perguruan tinggi, seniman, organisasi profesi maupun masyarakat awam.

Tak ada gading yang tak retak, meski telah menorehkan berbagai prestasi selama menjabat Gubernur Jakarta, Bang Ali menyatakan bahwa prestasi yang dicapai adalah prestasi bersama. Selain itu beliau secara sportif juga mengakui bahwa masih banyak masalah yang belum bisa diselesaikan olehnya seperti masalah sampah, pengadaan tanah untuk pembangunan, sanitasi, kemiskinan dan lain-lain khususnya yang berkaitan dengan isu urbanisasi.  

Penampilan Bang Ali yang charming membuat banyak orang terpikat. Sampai seorang wartawan Jepang menyebutnya “Gubernur yang berparas Bintang film”. Tapi saya meyakini orang terpikat kepada beliau tidak hanya karena penampilan fisiknya, tetapi utamanya terpikat karena integritas, ketegasan, sportivitasnya, keterbukaannya, dan keperpihakannya kepada rakyat Jakarta. Sebuah suri teladan kepemimpinan yang semakin langka saat ini.  Sebuah quote yang saya temukan di toko kaos Joger Bali menyatakan: “ Bang Ali Sadikin adalah salah satu orang yang sebenarnya paling pantas, perlu dan mampu jadi Presiden kita yang baik, tapi kita tidak pernah memilih beliau untuk itu“.

Buku setebal 534 halaman ini, ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami. Saya belum menemukan tulisan lain tentang Bang Ali, sehingga secara subyektif, pendapat saya tentang pribadi Bang Ali sangat dipengaruhi oleh isi buku ini. Meski demikian, ketika membaca Kata Pengantar-nya ditulis oleh Mochtar Lubis yang merupakan orang yang kritis dan berintegritas, maka saya berpikir bahwa buku biografi ini BUKAN merupakan memoar glorifikasi, tapi merupakan sebuah cerita yang obyektif apa adanya… Sangat direkomendasikan dibaca untuk para calon pemimpin (daerah), orang-orang yang bergerak di birokrasi atau yang suka menggeluti isu kepemimpinan…