Sunday, August 04, 2024

Guru Kemanusiaan; Memoar Intelektualisme dan Aktivisme Susetiawan

 


Guru Kemanusiaan; Memoar Intelektualisme dan Aktivisme Susetiawan.

Editor: Krisdyatmiko

Penerbit Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan , FISIPOL-UGM

Yogyakarta, 2024

ISBN

306 halaman

 

Buku ini merupakan kumpulan tulisan kesan-kesan dari kolega, mantan mahasiswa dan mahasiswa terhadap Professor Susetiawan yang purna tugas di tahun 2023. Beliau yang biasa dipanggil akrab dengan sebutan Pak Sus merupakan seorang guru besar Ilmu Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dulu disebut Ilmu Sosiatri), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM).

Bagi saya, Pak Sus merupakan sosok dosen yang sudah “purna”  dalam menjalankan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi.  Dalam bidang Pendidikan Ilmiah, beliau merupakan sosok yang sangat menguasai materi ajar. Beliau mampu mengupas berbagai teori dan materi yang berat dengan Bahasa sederhana yang mudah dipahami. Pak Sus juga mempunyai pengetahuan yang luas dan up to date yang mudah “connect” dengan topik-topik skripsi dan tesis mahasiswa bimbingannya. Dari sisi  metodologi mengajar, beliau tanpa bantuan media ajar (seperti bahan presentasi) mampu menjelaskan materi dengan sangat fasih, runtut dan lengkap. Dalam mengajar, beliau suka membangun kedekatan fisik dan emosional dengan cara berkeliling ke meja para mahasiswa. Meski sudah sepuh, Pak Sus juga mau belajar teknologi mengajar jarak jauh ketika pandemi COVID merebak dimana-mana. Beliau dengan kemauan kerasnya terus belajar agar bisa melayani mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Dari sisi ideologi, Pak Sus tidak mau pendidikan kita menjiplak habis metode dan content dari negara luar. Beliaupun mengembangkan matakuliah tentang Local Knowledge Management yang berusaha menggali dan mempromosikan kearifan lokal masyarakat. 

Dalam bidang Penelitian Ilmiah, Pak Sus terlibat dalam banyak penelitian. Bahkan beliau juga sempat menjadi pimpinan  di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK UGM). Beliau juga sempat aktif menjadi Dewan Penasehat di Yayasan Institute for Research dan Empowerment (IRE) Yogyakarta. Dalam beberapa kegiatan penelitian ini, integritas Pak Sus dkk diuji karena temuan lapangan seringkali berbeda dengan “pesan sponsor” dari penyandang dana, dan Pak Sus dkk lebih memilih untuk mengutarakan fakta yang senyatanya meski harus menghadapi resiko berseberangan dengan sponsornya.

Dalam bidang Pengabdian Masyarakat, Pak Sus banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial termasuk menjadi relawan ketika Jogjakarta tertimpa bencana, beliau juga aktif menolak RUU Sumberdaya air yang dirasakan merugikan kepentingan petani dan pemakai air, fasilitasi konflik Masyarakat dalam pengelolaan SDA   dan pernah menjadi penasehat (Musytasyar) PW Nahdhlatul Ulama Yogyakarta.

Berbicara tentang Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), tidak lengkap kiranya bila tidak menyebut peran strategis Pak Sus dkk. Pak Sus di tahun 2005 menulis artikel Jurusan Ilmu Sosiatri: “Hidup” tak banyak orang tahu, “Mati” jangan dulu. Tulisan ini merupakan salah satu otokritik tentang Jurusan Ilmu Sosiatri yang dirasakan tidak begitu dikenal Masyarakat maupun ruang lingkup akademis yang kurang fokus. Melalui serial diskusi, Pak Sus berhasil membidani Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) sebagai nama baru jurusan Ilmu Sosiatri yang disahkan tahun 2010.  Departemen PSdK ini mempunyai fokus melahirkan alumni yang mempunyai kompetensi di bidang: (1) analisis kebijakan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, (2) tenaga pemberdayaan Masyarakat, (3) tenaga pengelola Corporate Social Responsibility (CSR) di Perusahaan. Refocusing  Departemen PSdK ini berdampak positif yang diindikasikan dengan semakin banyaknya Lembaga yang bekerjasama dengan Departemen PSdK dan meningkatnya jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di Departemen PSdK. Beliau pulalah yang berperan besar mendorong adanya Prodi S2 dan S3 untuk Pembangunan Sosial di FISIPOL UGM. Beliau juga yang mendorong terbentuknya Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia yang beranggotakan beberapa Departemen/Program Study  Pembangunan Sosial atau yang sejenis dari berbagai Perguruan Tinggi negeri dan swasta. APSI berusaha membangun kurikulum standar untuk  bidang Pembangunan Sosial, dengan tetap mengakomodir ciri khas masing-masing Perguruan Tinggi. 

Pak Sus yang biasa berpenampilan sederhana dengan topi fedora, mobil Datsun tua-nya dan pipa rokoknya, merupakan sosok yang tawadhu (rendah hati). Di saat orang berlomba-lomba mencari prestise dengan segala cara berburu gelar Profesor, sejak bertahun lalu Pak Sus malah gak mau dipanggil professor sekalipun dalam kehidupan kampus.  Sikap rendah hati tersebut dilengkapi dengan sifat sabar ketika menghadapi mahasiswa Tidak jarang Pak Sus yang proaktif menghubungi mahasiswa untuk mendorong mereka agar segera melanjutkan skripsi/Tesis atau penelitiannya. Beliau seorang “coach” yang handal, yang bisa mengeksplorasi kemampuan mahasiswa bimbingannya sehingga bisa menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas. Beliau juga merupakan sosok egaliter yang mampu bergaul akrab dengan siapapun baik dengan pejabat, akademisi, mahasiswa maupun petani kecil. 

Pak Sus walaupun menjadi senior, beliau tidak egoistis. Beliau mendorong kaderisasi dengan memberikan kesempatan kepada dosen yang lebih muda untuk tampil dalam berbagai forum. Beliau mendorong dosen-dosen muda untuk mengembangkan karir melalui pendidikan yang lebih tinggi. Beliau legowo memberikan tongkat estafet kepada generasi yang lebih muda.

Sebagai intelektual akademisi maupun sebagai pribadi, Pak Sus menunjukkan keberpihakan yang tinggi terhadap kaum marjinal. Beliau tidak segan-segan terlibat dalam akksi kemanusiaan dan advokasi untuk membantu yang lemah, dan seringkali dengan biaya pribadi. Keberpihakan tersebut juga tercermin dengan integritasnya yang berpegang pada “kebenaran akademis” yang terkadang harus berseberangan “penyandang dana penelitian” ataui pihak lain. Berulang kali beliau dkk masuk black list dan tidak mendapatkan tawaran proyek karena sikap tegasnya itu.

Selamat purna tugas Pak Sus. Njenengan sudah memberikan contoh utuh bagaimana ilmu digali, dikembangkan dan diamalkan. Semoga rekan-rekan dosen di Departemen PSdK bisa melanjutkan inisiatif dan kerja keras Pak Sus…Semoga semua kerja keras dan tauladan Pak Sus menjadi amalan yang mengalirkan pahala yang melimpah sepanjang masa…..

Thursday, July 25, 2024

Pembangunan Sosial; Teori dan Praktik

 


Pembangunan Sosial; Teori dan Praktik

Penulis: James Midgley

Editor: Suzanna Eddyono dan Milda Longgeita Pinem

Penerbit: Gadjah Mada University Press

Yogyakarta 2020

ISBN  978-602-386-824-7

330 halaman

 

Buku ini merupakan terjemahan  buku “Social Development; Theory and Practice" karya James Midgley (1st edition London: SAGE  2013). Buku adalah salah satu karya utama dalam bidang kesejahteraan sosial dan pembangunan sosial. Buku ini menyajikan kerangka teoritis dan aplikasi praktis yang komprehensif tentang bagaimana pembangunan sosial dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan sosial memiliki berbagai ragam definisi yang berkembang dari waktu ke waktu.. Salah satunya mengartikan Pembangunan Sosial sebagai proses perubahan sosial yang terencana untuk mempromosikan kesejahteraan seluruh masyarakat dalam konteks proses pembangunan multifaset yang dinamis. Kata kunci dalam definisi tersebut adalah:

1.    Pembangunan sosial merupakan suatu proses

2.    Proses perubahan bersifat progresif

3.    Proses bersifat multitahap dan multisector  yang terintegrasi

4.    Pembangunan sosial merupakan intervensi yang membutuhkan Tindakan manusia dalam bentuk proyek, kebijakan, rencana untuk mencapai tujuan Pembangunan sosial

5.    Proses bersifat produktif  atau berkontribusi positif untuk Pembangunan ekonomi

6.    Cakupan bersifat menyeluruh kepadada anggota Masyarakat (inklusif)

7.    Bertujuan mempromosikan Kesejahteraan Masyarakat.

Dalam praktiknya, Pembangunan sosial dan Pembangunan ekonomi saling berimpit dan saling mempengaruhi. Sehingga implementasinya idealnya dilakukan secara terintegrasi dan holistic.

Dalam buku ini dikupas sejarah Pembangunan Sosial dan kebijakan Kesejahteraan yang dimulai tahun 1930-1940 an terus berkembang paska Perang Dunia ke II. Dinamika tersebut kemudian berkembang di awal era abad 21 dengan munculnya Millenium Development Goals (MDGs) sebagai platform bersama bangsa-bangsa di dunia. Selain actor negara, Pembangunan sosial sebenarnya juga telah melibatkan peran pihak lain seperti  organisasi non-pemerintah (masyarakat sipil), dan sektor swasta. Ia menyoroti pentingnya kerjasama dan kemitraan antar lembaga untuk mencapai tujuan pembangunan sosial.

Midgley menguraikan berbagai teori yang mendasari pembangunan sosial, termasuk teori modernisasi, teori ketergantungan, dan teori sistem dunia. Ia menjelaskan bagaimana setiap teori memberikan pandangan yang berbeda tentang bagaimana pembangunan sosial dapat dicapai. Menurut penangkapan saya, Midgley dalam buku ini juga mengupas dinamika kebijakan kesejahteraan di banyak negara yang berisi tarik menarik antara pihak liberalis dan kaum “sosialis” (menurut terminology saya). Kaum liberalis (pro Keynesian) berpendapat bahwa perlunya minimalisasi peran negara dalam urusan pembangunan (termasuk Pembangunan ekonomi maupun Pembangunan sosial dan kesejahteraan). Sebaliknya kaum sosialis berpendapat bahwa negara harus hadir dalam urusan Pembangunan dan tidak bisa semua diserahkan pada mekanisme pasar.

Dalam buku ini Midgley mengeksplorasi berbagai kebijakan dan strategi yang digunakan dalam pembangunan sosial. Midgley menekankan pentingnya pendekatan yang terintegrasi dan holistik, mencakup sektor-sektor seperti kesehatan, pendidikan, perumahan, dan perlindungan sosial. Midgley menyoroti tentang perlunya pebngembangan kebijakan dan program pekerjaan yang layak, pengembangan modal sosial, dukungan Usaha Mikro dan Keuangan Mikro, dan  Pengelolaan Aset.

Buku ini memberikan contoh-contoh praktis dari implementasi program pembangunan sosial di berbagai negara. Midgley membahas berbagai program dan inisiatif yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.Dalam kasus keuangan mikro, selain mengungkap kasus Grameen Bank di Banglasdesh, juga diungkap tentang kasus kredit berbunga ringan yang pernah diselenggarakan oleh Bank Rakyat Indonesia. Sayangnya buku ini belum mengupas Gerakan Credit Union yang diinisiasi oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat seperti LSM Pancur Kasih di Kalimantan Barat yang kemudian menjadi Gerakan cukup massif dan menyebar ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Dalam aspek perencanaan pembangunan sosial, Midgley menyoroti tentang kualitas perencanaan Pembangunan sosial yang seringkali menjadi tantangan di banyak negara. Dia juga mengungkapkan beberapa kasus perencanaan Pembangunan sosial di beberapa negara Asia Timur dan Tenggara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura yang telah berhasil mendongkrak kesejahteraan hidup warganya. Meski demikian satu keberhasilan Pembangunan sosial di satu negara tidak langsung bisa dijiplak dan akan bisa berhasil di negara lain, karena kompleksitas variable yang mempengaruhinya.

Pendekatan pemberdayaan menjadi salah satu fokus utama dalam buku ini. Midgley menggarisbawahi pentingnya melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pembangunan, serta memberdayakan mereka untuk mengambil peran aktif dalam meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemerintah harusnya bisa mengelola pluralisme yang ada di masyarakat dan potensi yang dimilikinya untuk mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat.

Midgley menyebutkan permbangunan sosial telah membawa dinamika kemajuan di banyak negara. Meski demikian terdapat tantangan-tantangan dalam pengembangan ke depan pembangunan sosial di banyak negara seperti: perang, konflik bersenjata, kekerasan terhadap anak, diskriminasi, rasialisme serta akses yang timpang dalam memperoleh pelayanan dasar pendidikan, kesehatan dan nutrisi.  

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Midgley menekankan pentingnya mendorong terwujudnya pemerintahan yang bersih dan mempunyai komitmen memajukan seluruh masyarakat melalui pembangunan ekonomi  dan pembangunan sosial secara terintegrasi. Selain itu pemerintah harus mampu merangkul dan membangun  sinergi dengan para pemangku kepentingan lain untuk mendorong implementasi agenda pembangunan sosial di masa depan.

Secara umum, melalui buku "Pembangunan Sosial: Teori dan Praktek," James Midgley menawarkan wawasan yang mendalam dan menyeluruh tentang konsep, teori, dan aplikasi praktis pembangunan sosial. Walaupun buku ini tidak berbicara detail aplikasi prkatik Pembangunan sosial, namun buku ini telah menunjukkan simpul-simpul penting  dalam pembangunan sosial

Dari sisi penulisan, buku ini ditulis dengan alur yang runtut sehingga pembaca bisa dengan mudah menangkap alur tulisan ini. Demikian pula tata bahasa yang digunakan juga menggunakan kaidah bahasa Indonesia baku yang mudah dipahami. Saya pikir buku ini menjadi referensi penting bagi para praktisi, akademisi, pemerhati, perencana (seperti Bappeda) dan pembuat kebijakan di  bidang kesejahteraan dan Pembangunan sosial.

 

(Diringkas dari buku Pembangunan Sosial dan artikel https://chatgpt.com/c/a1ec8669-7430-4588-9bbf-62b68dcb20c0)

Sunday, June 23, 2024

THE WILL TO IMPROVE; Perencanaan, Kekuasaan dan Pembangunan di Indonesia

 


THE WILL TO IMPROVE; Perencanaan, Kekuasaan dan Pembangunan di Indonesia

Penulis: Tania Murray Li

Penerjemah: Hery Santoso dan Pujo Semedi

Penerbit Marjin Kiri, Jakarta 2012

536 halaman

ISBN 978-979-1260-15-2

 

Buku ini ditulis oleh Tania Murray Li yang merupakan seorang anthropolog dari Universitas Toronto, Canada.  "The Will to Improve" oleh Tania Murray Li mengeksplorasi konsep "kehendak untuk memperbaiki" yang dimiliki oleh para pengembang, pemerintah, dan organisasi internasional yang terlibat dalam upaya pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Buku ini menggunakan pendekatan teoritis yang didasarkan pada konsep "governmentality" dari Michel Foucault, yang menggabungkan analisis kekuasaan, pengetahuan, dan praktik pemerintahan.

Li menguraikan bagaimana proyek-proyek pembangunan sering kali didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kondisi hidup masyarakat, tetapi sering kali tanpa memahami konteks lokal secara mendalam. Buku ini membahas bagaimana intervensi pembangunan sering kali membawa konsekuensi yang tidak diinginkan dan kompleks, serta bagaimana kekuasaan dan pengetahuan diproduksi dan digunakan dalam proses ini.

Buku dengan setting paska reformasi di awal tahun 2000-an bercerita tentang kasus bagaimana proses pembangunan kawasan konservasi  di Sulawesi Tengah dikonsep dan dilaksanakan. Li menunjukkan bagaimana program-program pembangunan, termasuk reformasi agraria dan konservasi lingkungan, dapat menghasilkan hasil yang berbeda dari yang diharapkan. Dia menyoroti ketegangan antara tujuan pembangunan yang ideal dan realitas di lapangan, serta bagaimana penduduk lokal merespons dan menavigasi intervensi eksternal ini. Niat baik serta rencana hebat untuk memakmurkan kehidupan orang banyak sama sekali bukan jaminan bahwa kemakmuran tersebut akan benar terwujud. Pada banyak peristiwa, alih-alih mendatangkan kemakmuran, “kehendak untuk memperbaiki” kehidupan ternyata justru membawa sengsara berkepanjangan, karen program pemakmuran itu sendiri tidak bebas nilai. – kaum yang hendak dibangun bukan ruang kososng yang bisa diisi apa saja, sementara kelompok yang hendak membangun entah itu pemerintah, organisasi keagamaan atau LSM juga tidak bebas dari kepentingan kelompok.

Buku ini juga membahas tentang peran para ahli dan teknokrat dalam proses pembangunan, serta bagaimana mereka sering kali memiliki pandangan yang terbatas tentang masyarakat yang mereka coba bantu. Li menekankan pentingnya memahami perspektif dan kebutuhan lokal serta mengkritik pendekatan top-down yang sering diambil dalam proyek-proyek pembangunan.

Dalam kasus di Sulawesi Tengah, beberapa Lembaga seperti proyek Central Sulawesi Integrated Area Development and Conservation Project (CSIADCP) yang disupport Asian Development Bank, The Nature Conservancy (TNC), CARE International Indonesia, Proyek Penelitian STORMA yang disupport Pemerintah Jerman, Balai Taman Nasional Lore Lindu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan berbagai LSM merupakan Lembaga-lembaga luar yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan (ekonomi) masyarakat dan konservasi di dalam dan sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Program Pemberdayaan Masyarakat dan konservasi ini muncul sebagai jawaban atas kerusakan hutan Taman Nasional Lore Lindu yang cukup massif karena aktivitas pertanian (khususnya kakao dan kopi) oleh masyarakat setempat dan pembalakan liar. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain seperti penetapan batas kawasan hutan, pemberdayaan ekonomi melalui usaha pertanian di luar kawasan hutan, pemanfaatan hasil hutan non kayu seperti rotan dan damar, pengembangan kesepakatan konservasi desa. Namun program-program tersebut dirasa kurang berhasil karena berbagai sebab antara lain: (1) program yang ada tidak mampu menjawab persoalan keterbatasan lahan masyarakat miskin karena sebagian masyarakat local sudah menjual lahannya kepada pendatang, (2) Konflik tenurial Masyarakat dengan Balai Taman Nasional Lore Lindu yang Meletus dengan kasus Dongi-dongi maupun konflik tenurial horizontal antar suku, (3) benturan kepentingan antar lembaga pendukung misalnya LSM setempat yang pro masyarakat adat dan reforma agraria dengan Lembaga konservasi, (4) pendekatan grass roots yang terkadang bias “elite capture”, (5) Keterbatasan mandat dari lembaga-lembaga  internasional  sehingga tidak bisa mengembangkan program yang bersifat perubahan structural.

Secara keseluruhan, "The Will to Improve" menawarkan analisis kritis terhadap praktik pembangunan dan mengajak pembaca untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis konteks dalam upaya meningkatkan kehidupan masyarakat di negara-negara berkembang.  Buku ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika kekuasaan, pengetahuan, dan praktik pemerintahan dalam konteks pembangunan, serta menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih sensitif dan partisipatif dalam upaya pembangunan internasional

Buku ini saya rekomendasikan untuk para pegiat Pemberdayaan Masyarakat, perencana pembangunan, dan akademisi sosial. Pada bagian awal khususnya Bagian Pendahuluan, buku ini perlu dikunyah agak pelan karena pembahasannya agak berbau filsafat dan paradigma Pembangunan. Namun bab-bab setelahnya relative mudah dipahami karena penulisannya menggunakan model bercerita.

Perlu menjadi perenungan kita, di saat negara kita marak dengan pembangunan yang “untuk rakyat”, kita perlu cermati ulang apakah benar masyarakat benar-benar menjadi subyek Pembangunan? Benarkah Masyarakat local nanti akan jadi pemanfaat utama (target beneficiaries) dari eksploitasi sumberdaya alam yang makin ugal-ugalan? Ataukah mereka akan menjadi korban bencana ekologi dampak dari eksploitasi tadi? Tidak ada kata terlambat untuk membenahi ke arah yang lebih baik.

 

Sumber:

Ringkasan ini saya kutip dari   https://chatgpt.com/c/6c75184d-d1fa-49e3-a28d-6e64c35be958 dan saya tambah dengan pencermatan saya terhadap buku The will to Improve karya Tania Murray Li, Penerbit Marjin Kiri, Jakarta 2012.

 

Sunday, June 09, 2024

KHASIAT SAKTI TANAMAN OBAT UNTUK DIABETES

 


KHASIAT SAKTI TANAMAN OBAT UNTUK DIABETES

Penulis: Oci Yunita M.

Penerbit Dunia Sehat, Jakarta  2013

ISBN 978-602-7602-30-4

123 halaman

 

Buku ini menyoroti gaya hidup modern yang kurang sehat seperti makanan junk food, kurang olah raga, minuman alcohol, minuman manis, merokok, stress  dan lain-lain yang mempengaruhi kesehatan manusia saat ini. Maka tidak mengherankan bila saat ini merebak berbagai penyakit seperti jantung, kanker, hipertensi, kolesterol, diabetes dan lain-lain.

Diabetes dikenal sebagai induk berbagai penyakit karena diabetes akan bisa menimbulkan komplikasi penyakit lain seperti ginjal, dan jantung. Diabetes Melitus dikenal dengan Diabetes  Tipe 1 dan Type 2. Diabetes Type 1 biasanya disebabkan autoimmun dari kerusakan sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Sedangkan Diabetes Type 2 disebabkan oleh gaya hidup yang diabetogenic (kelebihan asupan kalori, obesitas dan aktivitas fisik yang rendah) serta ada kecenderungan secara genetic dari penderita diabetes. Selain itu terdapat Diabetes Kehamilan yang diderita ibu hamil dan akan Kembali normal setelah melahirkan.

Faktor pemicu penyakit diabetes melitus antara lain; (1) pola hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang salah, kurang olahraga dll, (2) genetika/keturunan, (3) virus dan bakteri, (4) obesitas, dan (5) bahan kimia dan obat2an yang merusak pancreas.

Gejala penyakit diabetes (1) Polidipsi, sering merasa haus sehingga banyak minum, (2) Poliphagi, sering merasa lapar sehingga banyak makan, (3) Poliurie, sering buang air kecil di malam hari.

Cara mendiagnosa Diabetes melitus ini bisa dilakukan dengan (1) tes kadar glukosa darah. Bila hasil tes menunjukkan gula darah sewaktu 200 atau lebih itu berarti mengidap diabetes, (2)  pemeriksaan urine, (3) penentuan benda keton atau unsur pecahan lemak dalam kencing (4) pemeriksaan retina mata.

Beberapa Komplikasi  Akut Penyakit Diabetes antara lain: (1) Ketoasidosis Diabetika/KAD Dimana tubuh kekurangan insulin sehingga tidak bisa glukosa menjadi energi. Akibatnya tubuh membakar lemak untuk enerrgi dan menghasilkan senyawa keton. Kondisi glukosa darah tinghgai juga mengakibatkan darah menjadi asam, kerusakan  jaringan tubuh dan bisa sampai koma. Biasanya diderita untuk Diabetes tipe 1. (2) Hipoglemia. Kondisi kadar gula dibawah 50 mg/dl.  Kondisi ini ditandai dengan gemetar, pusing, kesemutan dan bisa pingsan  bahkan kematian, (3) Koma hiperosmoler non ktorik/KHNK, kondisi saat tubuh tidak memiliki timbunan lemak dan bisa menimbulkan hipotensi, dehidrasi berat dan shock.  (4) kemo laktor asidosis.  Keadaan ketika asam laktat dalam darah sangat tinggi  karena adanya gangguan hati, ginjal, infeksi.

Komplikasi kronis diabetes  antara  lain (1) Nefropati diabetika/ND,  pembengkakan dan kegagalan fungsi ginjal, (2) retinopati Diabetika/RD,  gangguan penglihatan  secara mendadak seperti buram, (3) Neuropati Diabetika/Neu D, bagian ujung lidah serasa terbakar, kesemutan, nyeri, keringat banyak, impotensi sementara, otot lengan atas menjadi lemah. (4) Diabetik Foot dan kelainan kulit seperti mudah terinfeksi.

Pengobatan Diabetes bisa dilakukan dengan Terapi Medis melalui Hipoglemik Oral (OHO) yang berfungsi menurunkan kadar gula darah bagi penyandang diabetes type 2. OHO bekerja  dengan memperbaiki kerja insulin, meningkatkan produksi insulin dan menekan produksi glukosa oleh hati. Terapi medis yang lain adalah melalui penyuntikan insulin (sulih insulin) untuk menggantikan insulin yang seharusnya diproduksi oleh tubuh.

Selain terapi medis, ada sejumlah terapi alternatif  untuk penderita diabetes seperti: (1) terapi obat herbal, (2) terapi diet, (3) terapi akupresure/totok saraf, (4) terapi yoga dan meditasi (5) terapi pijat refleksi. (6) terapi bekam.

Beberapa jenis tanaman herbal untuk pengobatan diabetes melitus antara lain: Beras merah, Batang Brotowali, Ceplukan, Kayu Manis, Biji Alpukat, Ketan Hitam, Biji Lamtoro/ Kemlandingan, Daun Mengkudu, Biji Semangka, pare, Daun Murbei, Daun Lidah Buaya, Daun Salam, Bunga Tunjung/water lily, Biji mahoni, Tapak Dara, Jombang  Kunyit dan Lenglengan. Sebagian tanaman herbal tersebut digunakan dalam bentuk diseduh seperti air teh.

Beberapa hal yang direkomendasikan untuk menangani penyakit diabetes melitus antara lain: aktivitas fisik yang cukup, berhenti merokok, mengurangi konsumsi gula, menghindari stress, tidur berkualitas, mengonsumsi makanan yang sehat dan gizi berimbang serta dukungan Keluarga yang memadai.

 

Secara umum buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Walaupun tidak bisa dihindarkan adanya istilah asing ilmu kedokteran yang belum ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia. Karena target [pembacanya adalah orang awam, isi buku ini tidak terlalu teknis dan pembahasannya tidak terlalu mendalam. Misalnya pembahasan tentang resep-resep tanaman obat yang ada belum disertai penjelasan detail terkait tingkat keberhasilan ramuan tersebut untuk penyembuhan penyakit. Jadi resep tersebut mungkin berasal dari pengalaman orang-orang namun belum dibuktikan melalui sebuah kajian ilmiah. Meski demikian saya respek dengan penulis yang telah berkontribusi pemikiran untuk mengatasi penyakit diabetes di Indonesia.

Sunday, June 02, 2024

HIKAYAT AULIYA’


 

HIKAYAT AULIYA’

Penulis: Syekh Muhammad Abu al-Yusr Abidin

Penerbit Qaf Media Kreativa

Jakarta 2020

ISBN 978-602-5547-81-2

486 halaman

 

Imam al-Junaid ditanya, “apa gunanya membaca hikayat-hikayat  bagi seorang murid?”. 

“Hikayat adalah serdadu dari serdadu-serdadu Allah yang karenanya hati para murid menjadi kuat”, jawabnya…

------------------

Buku ini merupakan terjemahan buku Hakaya al-Shufiyah, karya dr. Syekh Muhammad al Yusr Abidin yang diterbitkan di Libanon tahun 1993. Dalam edisi Indonesia buku Hikayat Auliya’ ini merupakan trilogy bersama buku Qisasul Auliya’ dan Makrifat Auliya’

Buku ini merupakan Kumpulan cerita yang dapat menghibur jiwa  tentang hamba-hamba Allah yang shaleh dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmu mereka dan berpegang pada pada syariat Allah serta sunnah Rasul-Nya. Cerita-cerita tersebut  dikumpulkan melalui berbagai kitab tafsir, Sejarah, biografi  dan lain-lain.

Lewat hikayat mereka, buku ini mengandung semua makna tasawuf sebagaimana yang disebutkan al-Junaid , yaitu sikap zuhud di dunia, tawakkal kepada Allah, bersemangat dalam melakukan ketaatan, sabar menghadapi kekurangan, dan makna luhur serta akhlak mulia lainnya. Imam al-Junaid meringkas lewat ucapannya, “Tasawuf ialah keluar dari akhlak-akhlak yang rendah, dan masuk ke akhlak-akhlak yang mulia”.

Sebagian besar, hikayat dalam buku ini ditulis dengan model bertutur (story telling) sehingga mudah dipahami alurnya. Gaya bahasa yang digunakan juga relative mudah dimengerti oleh orang awam di bidang agama. Buku ini cocok untuk pembaca (yang sibuk bekerja) karena bentuk artikel  yang berupa tulisan pendek membuat kita bisa membacanya per artikel untuk kemudian direnungkan, dan setelah itu dilanjutkan lagi….