Monday, December 07, 2015

MEMBANGUN CITA-CITA KETIKA MASA SMA

Ketika SMP aku menyukai hampir semua mata pelajaran, kecuali mata pelajaran kesenian (seni lukis, seni suara, dan seni-seni lainnya termasuk seni kriya/prakarya ). Meskipun saya saat ini merupakan penikmat seni namun aku paling merasa sulit kalua disuruh membuat karya seni tadi atau menyanyi. Pelajaran matematika, fisika, biologi, Bahasa Inggris merupakan pelajaran favoritku saat itu. Kesukaanku terhadap mata pelajaran itu muncul karena aku menyukai dengan gaya mengajar para guru yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Ketika masuk SMA, aku agak kesulitan adaptasi dengan gaya mengajar para guruku. Sehingga prestasi awal di SMA tidak terlalu menonjol atau biasa-biasa saja. Mata pelajaran matematika, fisika dan kimia agak susah aku kunyah dan aku telan sat itu. Tibalah ketika saat penjurusan, karena mata pelajaran eksaktaku jeblok,maka aku terlempar masuk ke jurusan IPS. Jujur kuakui saat itu, aku agak “down” karena walaupun belum punya cita-cita pasti tapi aku melihat dijurusan IPA kita punya lebih banyak pilihan untuk masuk ke perguruan tinggi. Rasa down ini berlanjut di kelas 1 semester 2, dimana aku sulit berkonsentrasidengan pelajaranku.

Akhirnya waktu jua yang menyembuhkan rasa frustasiku. Perlahan-lahan aku bisa mencerna pelajaran-pelajaran kelas IPS termasuk mata pelajaran inti berupa Tata Buku (akuntansi) dan Hitung dagang yang sedikit banyak memakai persamaan matematika sederhana didalamnya. Semangat belajarku yang tumbuh kembali berkorelasi positif dengan prestasiku yang mulai meningkat. Prestasi belajarku yang meningkat tersebut, berkorelasi negative (berkebalikan) dengan hubunganku soal teman perempuan. Aku saat itu masih “clingus”, pemalu dan tidak kenal atau jarang bertegur sapa dengan teman sekolah perempuan baik klas IPS apalagi klas IPA.

Ketika di SMA ini saya sering berbincang-bincang dengan kawan sebangku Thomas Yudarmoko (Koko). Koko ini merupakan putra Kepala Sekolah  SMP Kanisius Muntilan. Di usia muda, cara pikirnya sudah sangat berbau filsafat dan jauh melebihi pemikiran kawan-kawan sebayanya. Dalam perbincangan dengannya, saya yang sudah melihat berbagai realitas social seperti kemiskinan di sekeliling kita menyatakan bahwa saya kepengin masuk menjadi tenaga sukarela (social worker) di Depnakertrans. Depnakertrans  saat itu memiliki program rekrutmen Tenaga Kerja Sukarela (TKS) yang ditempatkan di berbagai pelosok pedalaman. Pilihan lain adalah saya pengen masuk dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Saya menyadari bahwa menjadi social worker tidak akan membuat kita kaya, tetapi saya ingin saya bisa memberikan darma bakti terbaik untuk mereka yang membutuhkan.

Pilihan hidup saya tersebut membuat saya memilih melanjutkan di jurusan Ilmu Sosiatri (Kesejahteraan Sosial) di FISIPOL UGM. Perjalanan kuliah di FISIPOL berjalan normal walaupun sempat tersendat karena “kisah kasih yang tak sampai”. Setelah saya lulus bekerja di sebuah LSM besar di Jakarta, dan ketika berjalan-jalan di Pecinan Muntilan saya secara kebetulan bertemu Koko. Kami mengobrol sejenak dan ketika saya cerita bahwa saya bekerja diLSM, dia mengingatkan bahwa cita-cita saya ketika SMA  terkabul karena berhasil masuk di dunia LSM. Pengembaraan saya di dunia LSM berlangsung selama 8 tahun dan selanjutnya pindah ke Lembaga Kerjasama Teknis Pemerintah Jerman. Perjalanan di proyek-proyek internasional ini berjalan terus sampai sekarang, dan sehari-hari banyak berinteraksi dengan kawan-kawan LSM, sehingga dunia LSM yang kuimpikan sejak jaman SMA tidak pernah aku tinggalkan....


Koko, dimana kamu?????

No comments: