Showing posts with label anakku. Show all posts
Showing posts with label anakku. Show all posts

Saturday, December 20, 2008

DOAKU UNTUK ANAKKU

Di saat bangsaku sedang terpuruk dalam keprihatinan dan kemiskinan,
Kupanjatkan doaku untuk anakku,
Ya Allah,
Jadikanlah anakku,
anak yang punya keahlian,
yang bisa diabdikan untuk kepentingan bangsa
yang bisa disumbangkan untuk masyarakat miskin,
yang bisa diberikan untuk kemanusiaan.

Ya Allah,
aku tidak berharap anakku kaya raya,
aku tidak berharap dia jadi punggawa negara,
tapi aku akan lebih bahagia
bila dia bisa berguna untuk sesama..
berikan dia kekuatan untuk meringankan beban
bagi mereka yang menderita
Kabulkanlah pintaku ini Ya Allah...
Amin

Friday, December 19, 2008

TAMU MAMA AKAN KUUSIR

Tahun 2006-2007, aku bekerja di sebuah LSM Perancis di Jakarta. Karena anak istriku tinggal di Samarinda maka setiap sebulan sekali aku pulang ke Samarinda. Sebagai laki-laki yang normal, maka kepulanganku dijadwalkan sesuai dengan kondisi masa subur istriku he..he....

Di sisi lain anakku si Dudi, seringkali merasa sudah kangen dan mengharap kepulanganku sesering mungkin. Suatu saat aku menelpon istriku tentang rencana kepulanganku, dan istriku menginformasikan bahwa kepulanganku sebaiknya ditunda saja karena istriku sedang berhalangan ..:-) Saat nelpon ternyata anakku dengar, sehingga dia protes sama mamanya.

Dudi: Ma kenapa papa nggak boleh pulang minggu ini?
Mama: Papa nggak boleh pulang karena mama sedang ada tamu.
Dudi: Siapa tamunya ma?
Mama: Tamunya teman akrab mama.

Dudi karena kangen denganku, menjadi sewot dengan jawaban mamanya. Dudi bilang: "Aku nggak setuju ada tamunya mama. Kalau tamunya datang nanti akan kuusir..." Mendengar ancaman Dudi, Mamanya hanya bisa tertawa karena merasa masih sulit menjelaskan kondisi yang sebenarnya sama Dudi.

Ternyata Dudi bisa cemburu juga dengan tamu Mamanya he..he...he....

Monday, September 08, 2008

Ibuku dan anakku

Tadi malam habis shalat tarawih, aku sempatkan telpon ibuku yang ada di pelosok desa di kaki gunung Merapi Jawa Tengah. Rencana menelpon ini sudah kusiapkan sejak beberapa hari sebelumnya karena tertunda lupa ataupun sinyal hp yang kurang bagus.

Setelah ngobrol basa-basi sebentar dengan kakakku yang pegang hp, hpnya kemudian dioper ke ibuku. Ibuku sangat gembira menerima teeponku karena sudah sekitar 2-3 minggu aku tidak nelpon beliau. Kalau aku lama tidak menelpon beliau, biasanya beliau akan merasa kuatir jangan-jangan aku dan keluargaku di samarinda sedang repot atau tertimpa sesuatu musibah. Ibuku cerita bahwa di kampungku panen padi sedang gagal...hasil panen nggak mencukupi untuk upah potong padi...padahal sebentar lagi lebaran tiba dan banyak sanak famili yang mau punya hajatan. Tai ibuku tidak patah semangat, beliau bertekad untuk tetap merayakan lebaran walau dengan cara yang sangat bersahaja,......

Dari suaranya, aku menangkap rasa kecewa ibuku ketika kuberitahu bahwa aku sekeluarga mungkin belum bisa berlebaran di kampung karena harga tiket Balikpapan - joga sangat mahal yakni mendekati 2 juta per kepala per sekali jalan. Kalo untuk aku, istri dan anakku pulang pergi berarti dibutuhkan biaya sekitar 11 juta untuk tiket... wah mahal banget. Tapi akhirnya ibuku bisa mengerti keadaanku itu, karena memang ada beberapa kebutuhan yang lebih mendesak untuk didahulukan...

Aku memahami kekecewaan ibuku karena ibuku sangat menyayangi dan kangen dengan anakku dan istriku... Kalao aku telpon, ibuku selalu mencari2 dan ingin ngobrol dengan anak dan istriku. Untunglah anak dan istriku cukup hormat pada ibuku....aku sangat bahagia bila ibuku gembira ketika diajak ngobrol oleh anak dan sitriku, waau hanya obrolan say hello saja... bahkan ibuku di kampung sering meluapkan kebanggaannya, dengan menginformasikan ke saudara2ku bahwa si Dudi habis nelpon beliau dan minta dikirimi ini dan itu.... atau si Dudi habis kirim surat untuk simbah dan didalamnya ada foto-foto Dudi....Aku menyadari bahwa aku tidak bisa membalas jasa-jasa ibuku yang penuh kasih terhadapku...Oleh karenanya aku hanya berharap di sisa kehidupan ibuku yang sudah berumur 76 tahun, aku, istri dan anakku senantiasa bisa memberikan senyum kebanggaan dan berbagi kebahagiaan dengan ibuku.. Aku tidak bisa memberikan harta yang melimpah, tapi aku berharap tetap bisa melakukan sesuatu untuk membahagiakan ibuku....

Tuesday, August 05, 2008

Kebo nyusu gudel

Anakku si Dudi yang mulai masuk di kelas SBI (Sekolah Berstandar Internasional) di SMPN I Samarinda, telah mulai aktif mengikuti pembelajaran sejak beberapa minggu lalu. Di kelasnya, sebagian guru memberikan materi pengajaran dengan bahasa Inggris dan internet. Istriku yang biasa mendampingi Dudi belajar, kalang kabut dibuatnya karena istriku kurang bisa berbahasa Inggris dan tidak mahir internet. Karena kesulitan tersebut, aku seringkali diminta mendampingi anakku dalam belajar. aku sih senang-senang saja karena aku hobby main internet dan aku bisa berbahasa Inggris walau tidak fasih.
Sekian lama meninggalkan bangku sekolah, membuatku terkadang harus belajar kembali baik melalui diskusi dengan Dudi maupun dengan mencari info di internet. Meski ibarat "kebo nyusu gudel" (kerbau menyusu pada anak), ternyata belajar dari anakku sangat mengasyikkan dan banyak informasi pengetahuan yang kudapatkan darinya.
Kemarin aku belajar bersama dengan Dudi tentang pelajaran matematika. Ketika masuk ke materi pelajaran associative, commutative dan closure, aku sempat bingung karena kayaknya dulu nggak pernah dengar istilah itu (atau mungkin karena lupa). Dudipun sudah lupa materi pelajaran itu karena itu materi pelajaran matematika tingkat SD. Akhirnya kami cari di internet dan mendapatkan jawabnya.
Pelajaran lain misalnya tentang Bahasa Inggris conversation dimana Dudi disuruh membuat cerita tentang budaya masyarakat Mexico. Dari koleksi buku ensiklopedi perpustakaanku dan internet akhirnya kami mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan.
Ada suatu kepuasan bisa membantu memecahkan soal yang dihadapi anak. Memang kita dituntut untuk berkorban waktu dan mengenyampingkan rasa capek dan ngantuk setelah pulang kerja, namun belajar dengan anak itu bisa sangat menyenangkan....kita bisa belajar sesuatu yang baru sambil menyalurkan kasih sayang kita.....

Monday, August 04, 2008

Protes anakku...

Anakku si Dudi yang berusia 12 tahun pada September 2008 nanti, biasanya dia sangat cuek dalam berpenampilan. Dia pake pakaian yang tidak neko-neko dan jarang mau aksesoris seperti jam tangan...apalagi macam kalung atau gelang.... dia nolak abiiiiss karena kalo pake gelang atau kalung nanti kayak banci....
Seringkali dia protes kalo aku pake kacamata ketika naik motor. Katanya kacamataku nggak keren, bikin dia jadi malu dihadapan teman-temannya atau orang lain. Protes itu ada benarnya karena kacamata yang kupakai kacamata murahan yang kubeli hanya untuk proteksi dari debu saat naik motor. Kalau aku pakai kacamata bermerek terkenal, dia biasanya tidak complain.
Kemarin aku potong rambut model cepak. Memang rambutku banyak rontok dan cenderung botak sekarang. Biar botak abiss dan ngirit sampo plus sisir maka model cepak yang dipilihkan oleh si tukang cukur langgananku di jalan AW Sjahranie. Sampai di rumah anak dan istriku ketawa abis melihat penampilan baruku. "Kepalanya mirip permen kojack" kata istriku. Anakku menimpali; "wah Papa jelek betul. aku nggak mau jalan bareng sama papa lagi karena malu-maluin"....mendengar ledekan anakku aku hanya bisa tersenyum lebar sambil mengelus-elus kepalaku yang botak narsis.......

Monday, July 21, 2008

Anakku dan kisah sepotong martabak

Sejak kami tinggal dan kerja di Jakarta, istriku yang pintar masak terbiasa membuatkan bekal makanan untukku setiap hari. Selain makanan bikinan sendiri lebih higienis dan bergizi, alasan penghematan keuangan keluarga juga menjadi alasannya. Kebiasaan ini kemudian juga dijalankan ketika anakku Dudi sekolah TK, istriku membiasakan si Dudi membawa bekal makanan ke sekolah.

Sejak sekolah di SMPN 1 Samarinda, istriku biasa mengantar makan siang untuk anakku. Kemarin istriku cerita bahwa saat menjemput Dudi pulang sekolah, istriku ketemu teman lama yakni Mama Ikun yang juga sedang menunggui anaknya sekolah di SMPN 1 tersebut. Dudi dan Ikun dulu teman akrab satu kelas di SDN Loa Bakung. Sambil ngobrol dengan Mama Ikun, istriku yang merasa lapar melihat bahwa di kotak makanan anakku masih tersisa dua potong martabak mie (telur dadar yang dikasih bakmi indomie). Istriku berpikir tumben si Dudi kok makannya sedikit banget, karena biasanya dia makan banyak dan jarang bekalnya tersisa. Tanpa pikir panjang istriku kemudian mencomot makanan itu sepotong untuk diberikan kepada Mama Ikun dan satu potong lagi dimakan sendiri untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Walau hanya sisa bekal makanan pagi, martabak tersebut masih terasa enak apalagi untuk perut yang sedang lapar.

Setelah Dudi keluar dari ruang kelas, Dudi mencari mamanya dan mengajak untuk pulang. Sambil menuju tempat parkir motor, Dudi bertanya: “Ma, martabak yang dua potong di kotak makananku mana ma?. Mamanya menjawab; “Karena mama pikir kamu sudah kenyang, martabak sisa tadi sudah mama makan bersama dengan mama Ikun”. Dudi menjawab: “ Hah dimakan? Martabak tersebut tadi tidak kumakan karena sudah jatuh di tanah dan kotor. Karena tidak ada tong sampah makanya martabak yang jatuh kutaruh kembali di kotak makanan yang sudah kosong”. Mendengar jawaban Dudi, istriku ngomel-ngomel: “Dasar jahil…makanan kotor kok ditaruh di kotak makanan. Awas kalo mama besok diare kamu harus tanggung jawab…” Si Dudi malah makin gembira dengan omelan mamanya: “ah mama, gimana ma rasanya makan martabak yang sudah jatuh? Tambah lezat kan ma? He..he…he….”

Perjalanan waktu anakku

Dudi, anak semata wayangku akan menginjak usia 12 tahun bulan sepetember 2008 ini. Perjalanan waktu yang begitu cepat, karena aku dan istriku terkadang merasa baru kemarin dia lahir dan berada di timangan kasih sayang kami. Apalagi si Dudi perilakunya penuh kemanjaan dan cenderung agak lamban (seperti “putri solo” kata istriku), itu membuat kami sering menganggapnya masih kanak-kanak.

Waktu yang bergulir begitu cepat terkadang kami sebagai orangtua kurang bisa mengikuti perjalanan sang waktu.. Terkadang kami masih terlalu banyak campur dan overprotective dalam soal makan, soal berpakaian, soal menata dirinya sendiri dll. Mamanya Dudi yang memang sangat menyayangi anak semata wayangnya terkadang gagap, lupa dan masih memperlakukan Dudi seperti anak kecil. Seperti waktu Mamanya memberi perintah: “Dud, habis mandi kamu siapin baju seragam putih biru, kaos kaki putih dll”. Dudi sendiri yang akhirnya protes; ”Ma aku sudah SMP, aku sudah tahu itu…..”. Mendengar jawaban itu, Mamanya Dudi hanya bisa tersenyum malu dan menggumam padaku:” Pa, anak kita sudah besar ya… tapi kita sering memperlakukan dia seperti anak-anak ya…”. Memang nggak mudah untuk bisa mengikuti alur perjalanan sang waktu ……..

Wednesday, May 28, 2008

Mama Cemburu tuh..

Di malam Rabu kemarin, sambil santai aku dan istriku menonton acara Empat Mata yang dipandu oleh Thukul Arowana. Malam itu, topik yang dibicarakan adalah budaya dari Arab. Nampak di TV, para pengunjung di studiopun sebagian keturunan Arab. Hal itu terlihat dari wajah mereka yang khas Arab termasuk cara berpakaiannya. Acara dibuka, dengan suguhan musik dan tari arab. Ditengah irama musik yang didominasi oleh rebana berirama riang, tampil 2 orang laki-laki penari yang licah gemulai. Setelah acara pembukaan, Thukul mengundang bintang tamu yang ternyata Nayla Alatas. Melihat penampilan Nayla, aku terkesiap dan berucap pada istriku: "Wah si Nayla ini cantik dan manieez banget ya ma?. Namun istriku sambil melengos malah ngomong: "ah kayak gitu kok cantik. Si Nayla nggak cantik ah". Aku nggak terima dengan pendapat istriku, maka aku cari dukungan pada si Dudi yang saat itu lewat ruang keluarga sehabis dari kamar mandi. Aku bilang: "Si Nayla cantik kan Dud? Mosok maniez kayak gitu kok dibilang nggak cantik sama Mama. Dia cantik kan? Si Dudi dengan cuek tapi senyam-senyum bilang: "Papa mosok nggak tahu sih. Mama bilang Nayla nggak cantik karena cemburu. Habis papa memuji wanita lain di depan Mama sih". Mendengar jawaban Dudi itu aku tertawa ngakak... sedangkan mamanya Dudi tersenyum malu-malu mendengar tuduhan anaknya yang polos itu....

Monday, May 12, 2008

Anakku dan Ujian sekolah

Tanggal 13 Mei 2008 besok Dudi anakku mau ujian sekolah karena dia sudah kelas VI di SDN 011, Vorfoo - Samarinda. Dudi sendiri biasanya nyantai saja walau sambil berusaha baca-baca buku pelajaran Biasanya kalo mau ujian, mamanya Dudi yang stress duluan karena kuatir prestasi Dudi jeblok. Apalagi lihat si Dudi nyantai belajarnya, mamanya biasanya jadi ngamuk-ngamuk.....

Alhamdulillah, walaupun belum ujian SD, si Dudi sudah lolos tes di kelas khusus SMPN1 dan SMPN2 Samarinda. Dia juga lolos tes akademik di SMP Islam Terpadu Cordova. Aku sendiri sebenarnya sangat menginginkan anakku sekolah di SMPIT Cordova karena aku ingin anakku dapat bekal agama yang mencukupi dan budi pekerti yang luhur, dan hal ini biasanya cukup sulit didapat di sekolah negeri yang sekuler. Istriku sendiri agak keberatan kalo anakku masuk di SMPIT Cordova karena persoalan sepele yakni istriku kuatir kesepian sendiri di rumah karena jam sekolah di Cordova dimulai pagi sampai sore hari. Nah anakku sendiri pengin masuk di SMPN 1 karena ada beberapa kawan SD-nya yang diterima di SMPN 1 dan beberapa kawan kursus english-nya juga sekolah di SMPN 1. Tapi Dudi sebenarnya juga tidak terlalu keberatan bila sekolah di SMPIT Cordova karena di sekolah itu ada makan siang catering yang enak dan warungnya murah-murah katanya.....

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu menyetir cita-cita Dudi. Aku hanya berharap, berdoa dan berusaha membekali Dudi agar jadi anak yang berguna bagi sesama... Mau jadi dokter, polisi, tukang insinyur, sarjana hukum, tukang bakso, tukang becak semua terserah anakku... aku hanya ingin dia punya akhlak luhur dan bisa mengabdikan diri untuk kepentingan dan kemajuan masyarakatnya khususnya kaum dhuafa yang terpinggirkan selama ini...Semakin banyak masyarakat yang memperoleh layanan pengabdian anakku, itu semakin baik...

Aku lebih bangga
anakku nanti hidup bersahaja,
tapi dia dicintai masyarakat dhuafa,
daripada,
hartanya berlimpah,
tapi dia panen sumpah serapah,
dari masyarakat marginal yang terjajah.

Wednesday, October 31, 2007

Anakku gemuk plus enak dipeluk

Anakku si Dudi pada tanggal 13 September 2007, berusia 11 tahun. Sejak kecil oleh Mamanya si Dudi sudah diajak prihatin. Dia minum susu ASI eksklusif hingga umur dua tahun. Dia tidak doyan susu kaleng, sehingga ketika krismon tahun 1997/1998 ketika harga susu melonjak lipat 4 kali, kami tenang-tenang aja. Dudi cukup makan lauk tahu tempe plus setiap pagi dikasih sarapan telur ayam kampung setengah matang dicampur madu.
Ketika usia Dudi mencapai 2 tahun, kami berusaha menyapihnya... Kami datangi seorang dukun kampung dan Dudi dibacain mantera plus disuruh makan telur ayam kampung. Selain itu mamanya dikasih biji mahoni untuk dioleskan ke puting payudaranya. Ketika malam hari si Dudi terbangun dari tidur dan merengek minta netek karena haus. Ketika dia mulai netek dia teriak-teriak karena air susu mamanya pahit gara-gara sudah diolesi biji mahoni. Dia nangis terus sambil memelas..."Ma, nenen ma....Ma, haus ma...." Aku yang mendengar Dudi nangis sampai nggak tega dan trenyuh. Karena mungkin saking hausnya, akhirnya dia embat juga susu Mamanya walau pahit...Namun sejak itu pagi harinya dia langsung peeet.... berhenti...nggak mau netek lagi...
Untuk merangsang Dudi doyan makan, istriku setiap pagi memberikan vitamin Supradyn junior (setengah kapsul). Dia akhirnya kuat makan dan tumbuh sehat. Tetangga-tetangga juga suka mengundang Dudi untuk makan karena mereka suka melihat Dudi makan dengan lahap. Anak-anak tetangga yang susah makanpun biasanya terangsang ikut makan bila lihat Dudi makan dengan lahap.
Saat menginjak 11 tahun sekarang ini, Dudi sudah tumbuh adi anak yang bongsor dan gemuk bahkan mungkin agak overweight. Tinggi badannya sudah mulai bersaing dengan mamanya. Terkadang aku dan istriku berusaha mengajar dia untuk diet, tapi terkadang kami sendiri kangen lihat dia makan dengan lahap. Akhirnya program diet seringkali gagal....
Dengan tubuh bongsornya, aku dan istriku paling senang memeluk dia. Rasanya hangat, kenyal dan menggemaskan. Apalagi kalau dia bobok masih suka telanjang baju..nyaman benar untuk dipeluk...Itulah yang membuatku sering kangen kalau lama tidak ketemu dan bobok dengan anakku...

Friday, September 28, 2007

Anakku sedang pubertas

Anakku saat ini sudah berusia 11 tahun. Ketika suatu saat istriku bilang sama anakku: "dik, kamu kok suaranya serak sih? sakit batuk ya?" Anakku menjawab: "mama...mama... aku ini sedang puber .. jadi suaraku jadi berubah begini ma....."

Ternyata anakku sedang tumbuh dewasa, walau di rumah dia masih bersikap manja dan seringkali masih suka telanjang hanya bercawat saja. Tapi ketika mau sekolah atau kursus bahasa Inggris di English First atau Primagama, dia sudah mulai suka pakai handbody lotion dan parfum untuk menghilangkan bau keringat. Dia juga sudah suka memadu serasikan baju dan celana yang dia pakai, padahal sebelumnya dia sangat cuek dalam berpakaian. Dia juga suka rajin menyisir rambut agar rapi, padahal biasanya hanya jabrik begitu saja.

Tak terasa waktu terus berlalu, menjemput anakku menuju dewasa...

Tuesday, August 21, 2007

Cari Mama Baru yuk...

Suatu ketika saat berkumpul dengan istri dan anakku, sering muncul isengku. Dudi anakku kuprovokasi: "dik, kita jalan-jalan yuk...cari Mama baru yang cantik dan baik hati". Saat itu Dudi sedang berantem dengan mamanya, sehingga dengan semangat Dudi menjawab: "Iya pah...kita cari mama baru saja... nanti mama kita jadikan pembantu kita saja". Mendengar jawaban itu mamanya hanya bisa ngomel:" anak dan suami sama-sama sablengnya. Mosok mama turun derajat jadi pembantu"...ha..ha...ha...

Tapi suatu saat ketika Dudi sedang baikan dengan Mamanya kucoba provokasi Dudi untuk cari mama baru. Eh, Dudinya malah menjawab:" ah nggak mau.. papa nanti kulaporkan sama Mbah uti Jawa biar dimarahi karena meninggalkan mama. Kan kasihan mama." Mamanya biasanya lalu tersenyum bangga penuh kemenangan kalau mendapatkan pembelaan dari anak semata wayangnya.....

Monday, August 20, 2007

Ceiiiilah Mama....

Dongeng lain yang sering kuceritakan pada anakku Dudi menjelang bobok adalah kisah nostalgia percintaanku dengan mamanya. Sambil berbaring bersama Dudi dan mamanya di tempat tidur, kumulai bercerita:
Alkisah pada 10 tahun lalu ada seorang pemuda desa yang sederhana nan bersahaja memulai bekerja di sebuah kota kecil bernama Bumiayu... (biasanya sampai di sini, anakku sudah mulai menebak jalan ceritanya lalu berdehem ehm..ehm..sambil melirik nakal sama mamanya).
Pemuda desa tersebut tinggal di sebuah rumah kos dekat musholla Baitul Amin - Bumiayu. Di rumah kos tersebut, si pemuda desa rajin membersihkan rumah, halaman dan sekitarnya, sehingga menarik perhatian tetangga-tetangganya karena di daerah itu biasanya membersihkan rumah menjadi pekerjaan ibu-ibu atau gadis-gadis. Banyak tetangga yang memuji sikap rajin si pemuda desa. Di antara para tetangga tersebut terdapat seorang gadis yang tinggal di seberang rumah kos. Si gadis nampaknya terpesona sama si pemuda desa dan untuk menarik perhatian si pemuda, gadis itu kemudian ikut-ikutan setiap pagi membersihkan halaman rumahnya padahal dulunya gadis itu paling malas kalau disuruh menyapu halaman...(biasanya sampai disini anakku mulai ngeledek mamanya...ceilaaaah mama.....!!!)
Suatu saat di kala mentari pagi mulai menampakkan sinarnya nan cerah, si gadis tersebut berpakaian rapi bak sekretaris eksekutif dengan baju blazer putih bergaris hitam, rambutnya yang berombak disisir rapih, bergincu merah dan berbedak tipis. Gadis itu berjalan penuh percaya diri menuju jalan raya. Si gadis tersebut memakai sepatu hitam memakai hak tinggi, dan suara langkahnya terdengar nyaring klothak...klothak...klothak... kayak Hansip dikejar anjing....ha..ha...ha... Si pemuda desa yang melihat gadis itu berjalan tegap namun anggun, hanya bisa terpana dan terpesona...Anggun nan cantik nian, ucap si pemuda desa dalam hati.
Di sore hari si gadis pulang ke rumah, dan mampir ke rumah kos si pemuda. Si Gadis tersebut bercerita bahwa dia ternyata sedang mendaftar kerja di sebuah kantor di kota Tegal. Dia ingin bekerja dan menjadi pegawai, untuk meringankan beban keluarga.
Tapi lama ditunggu tiada kabar berita hasil tes di kantor itu. Si gadis pun tiada bersedih karena sebenarnya tiada peduli lagi dengan hasil tes-nya. Sejatinya si gadis merasa berat meninggalkan kampung halamannya. Dimana di sana tinggal si pemuda desa yang menjadi pujaan hatinya.,....
Mendengar cerita tersebut, si Dudi biasanya langsung meledek mamanya; "ceilaaah mama, diam-diam ngebet sama papa ya....".
Mamanya yang diledek cuma bisa bilang: "ah itu papamu yang menjungkir balikkan fakta. Dulu yang ngejar-ngejar itu papa. Mama hanya kasihan ke papa, maka mama mau jadi pacar papa. Tuh lihat surat-surat cinta papa, disitu kelihatan kalo papa yang ngejar-ngejar mama"
Tapi mendengar mamanya sewot si Dudi malah tambah seneng ngerjain mamanya: "Ceiiilah mama, cantik-cantik kok langkahnya kayak hansip dikejar anjing hi..hi...hi..."
Akhirnya mamanya cuma bisa nyerah dan dengan wajah merona merah dia bilang sambil sewot ke aku: "Pa, kalo cerita mbok jangan memutar balik fakta , aku kan malu walau sama anakku..."
Akupun hanya bisa ngakak ha..ha.,...ha... melihat mamanya Dudi nyerah dikerjain anaknya........

Tuesday, August 14, 2007

Mama dulunya dipungut dari tong sampah?

Kalo anakku mau bobo, dia biasa minta didongengi. Aku biasanya menemani sambil mendongeng tentang masa kecilku di desa yang menyenangkan, masa sekolahku, sampai pacaran dan berumah tangga. Dudi sangat senang kalau kudongengi dan biasanya dia minta didongengi ketika "papa masih kecil hingga aku lahir".
Salah satu dongeng fiktif yang kuceritakan adalah sebagai berikut:
"Di suatu senja yang berkabut, nan temaram kota Bumiayu diguyur hujan lebat. Semua orang lebih suka tinggal di rumah untuk menghindarkan diri dari sengatan hawa dingin yang menusuk tulang dan guyuran air yang deras. Setelah beberapa lama, di tengah malam hujanpun reda. Di saat yang dingin, gelap nan kelam itu terdengar rengekan suara tangis bayi dari sebuah bak sampah. Sepasang suami istri mendengar tangisan itu dan mencari arah suara itu berasal. Di tumpukan sampah yang lembab nan busuk, terlihat seorang bayi perempuan berselimut kain kumal sedang dirubung ribuan lalat hijau. Pasangan tua itu kemudian segera mengambil dan menggendong bayi yang kurus kering nan bau busuk itu untuk segera di bawa ke rumah. Karena bayi itu dirubung lalat, maka sampai gadis itu besar tahi lalat yang bertebaran di tubuh gadis itu tiada hilang. Gadis itulah yang kemudian dikenal dengan nama Dewi Setiawati."
Kalau mendengar cerita itu Dudi langsung bertanya pada mamanya (karena mamanya juga bernama Dewi Setiawati): "benarkah mama ditemukan di tong sampah dulu? benarkah mama hanya anak nemu atau anak pungut?
Sebelum mamanya menjawab, aku bilang ke Dudi: " Itu benar dik, coba lihat aja badan mama banyak tahi lalatnya. Itu karena waktu kecil dia dirubung lalat hijau di tong sampah. Dulu dia ditemukan di tong sampah oleh mbah kakung dan mbah uti"
Mendengar provokasiku yang menyesatkan itu, mamanya Dudi biasanya complain sambil bersungut-sungut : "Itu bohong dik, papamu aja kok dipercaya untuk dongeng gituan...Dasar papa...nanti kubilangin ke Bapak ibu biar dimarahin."
Tapi dasar Dudi juga suka ngeyel, dia terkadang nanyain terus dan membumbuin agar mamanya makin keki... he..he...he... Tinggal Mamanya yang ngomel-ngomel karena di-diskreditkan oleh cerita bualanku dan ledekan Dudi he..he...he...

Dudiku yang jahil...

Sejak kecil Dudi sudah menunjukkan bakatnya yang jahil. Salah satu tingkah kejahilannya adalah kalau aku sedang enak-enak tidur siang, dia pelan-pelan merangkak di belakangku kemudian merangkulkan tangannya yang gemuk ke leherku dengan gaya seperti pemain smackdown sambil menghitung 1,2,3 dst sampai sepuluh pertanda kalau aku menyerah....Tentu saja aku yang dibekap demikian menjadi gelagepan karena kehabisan nafas. Akhirnya tidur siang jadi batal karena ulahnya he..he..
Kejahilan lain adalah dia masih TK, ketika aku sedang mandi pagi dia kancing pintu kamar mandi dari luar dan dia diam-diam aja ngeloyor pergi ke sekolah. Mamanya sendiri tidak tahu kalo Dudi ngancing pintu, sehingga aku terjebak di kamar mandi dan nggak bisa keluar karena nggak ada yang bukain pintu kamar mandi....Paling-paling mamanya Dudi yang bukain pintu setelah dia pulang dari ngantar Dudi ke sekolah TK yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah....
Terkadang aku jengkel namun juga akhirnya ketawa sendiri melihat kejahilannya karena apa yang dia lakukan merupakan potret kejahilan dan warisan dariku...he...he...

Thursday, August 09, 2007

Dudi dan Kak Dita

Ketika Dudi berumur sekitar 1 tahun, kami tinggal di Perumahan Pondok Cipta, Kranji-Bekasi Barat. Di tempat itu ada seorang gadis kecil yang lincah bernama Dita. Dita saat itu kelas 3 SD atau berumur sekitar 9 tahun. Dita sangat sayang sama Dudi, sehabis pulang sekolah dia "culik" Dudi ke rumahnya untuk diajak main-main. Saat bobok siang, Dudi dianterin ke rumah dan sorenya diambil lagi. Mamanya Dita yang kami sebut Mama Aang juga sangat sayang sama Dudi. Sehari-hari Mama Aang masak untuk Dudi.
Sayang, ketika Dita menginjak kelas 4 SD, Dita pindah ke kampung halaman mama Aang di Pati. Dan sejak itu Dita dan mama Aang tidak pernah kami jumpai walaupun aku sudah mencari melalui berbagai media. Surat yang kukirim ke alamat mereka di Pati juga tiada berbalas karena konon mereka sudah pindah... Semoga Allah senantiasa melindungi dan melimpahkan hidayah-Nya untuk Dita dan Mama Aang sekeluarga.....Semoga suatu saat kami bisa bersilaturahmi dengan Dita dan Mama Aang sekeluarga, untuk membalas budi baik Mama Aang yang tidak akan pernah kami lupakan....

Tuesday, August 07, 2007

Dudiku yang penuh pengertian...

Sewaktu aku bekerja di LSM Bina Swadaya, gaji yang kuterima tidak terlalu besar sehingga aku sekeluarga dituntut untuk hidup hemat dan pintar mengelola uang. Alhamdulillah dengan cara tersebut, gaji yang kuperoleh bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk hidup sederhana. Aku, Istriku dan Dudi anak semata wayangku alhamdulillah masih bisa berteduh, makan kenyang dan berpakaian pantas walau tidak mewah...
Ketika Dudi masih berusia 2 tahunan dan saat itu sedang musim sinetron Panji Milenium dan Saras 008, Dudi pengin banget punya kaos bergambar Saras 008. Dengan berbekal uang 30 ribu di kantong, kuajak dia ke pasar tradisional dekat tempat tinggalku yakni di Pasar Kranji - Bekasi Barat untuk membeli kaos idamannya. Saat masuk ke pasar matanya tertarik melihat 5 buah robot Power Ranger ukuran kecil yang ada lampu didadanya. Walau dia tidak ngomong padaku kulihat dia naksir berat dan tatapan matanya menyiratkan keinginannya yang amat dalam untuk memiliki mainan robot itu.... Robot itu kuperiksa dan ternyata harganya 50 ribu, padahal uang di kantongku hanya ada 30 ribu....
Akhirnya dengan lembut kurayu Dudi; "Dudi pengin mainan robot itukah?"
Dudi matanya berbinar dan mengangguk pasti sambil menjawab; "Ya pa..bagus banget robot itu"
Dengan perlahan kubilang; "Papa juga pengin banget beliin mainan robot untuk Dudi. Tapi papa lagi nggak bawa uang nih...karena tadi kita kan hanya ingin beli kaos. Jadi papa hanya bawa uang sedikit. Nanti kalau papa sudah gajian, nanti kita kembali ke sini dan beli robot itu ya? sekarang kita beli kaos Saras dulu ya dik....? Papa janji nanti kalau gajian kita beli robot itu"
Alhamdulillah Dudi dengan penuh pengertian Dudi mengangguk ikhlas dan menjawab: "bener ya pa nanti kita beli robot itu kalau papa sudah gajian ya.. kita sekarang beli kaos aja...."... Plong rasanya mendengar jawaban Dudi yang penuh keikhlasan itu....
Setelah 2-3 mingguan ketika aku mempunyai sejumlah uang yang cukup untuk membeli robot itu, aku bilang kepada Dudi;"Dik, kita jalan-jalan ke pasar Kranji yuk...kita beli robot Power Ranger yang dulu adik suka itu". Apa jawaban Dudi?
Dudi menjawab dengan nada sabar namun penuh gembira dan mata berbinar:"Emangnya papa sudah punya uang untuk beli robot itu? kalau belum punya nanti aja nggak apa-apa kok, nanti belinya kalau papa sudah punya uang".
Mendengar jawaban itu, hatiku menjadi trenyuh, terharu bercampur bahagia sampai mataku berkaca-kaca karena anakku yang masih kecilpun sudah mampu dan mau untuk memahami keadaan orang tuanya yang hidup sederhana. Akhirnya kami pergi ke Pasar Kranji dan Dudi mendapatkan robot Power Ranger idamannya. Sampai saat ini robot itu masih terawat baik walaupun robot itu dibeli sekitar sepuluh tahun lalu.
Pesan moral dari pengalaman ini adalah: (1) Sejak dini kepada anak perlu ditanamkan sikap hidup bersahaja dan mau memahami keadaan dan kesulitan orangtuanya sehingga dia tidak tumbuh menjadi anak manja (2) Orang tua juga harus konsisten dan amanah. Kalau orangtua berjanji juga harus ditepati agar tumbuh rasa percaya dari anak kepada orangtua. (3) adanya rasa saling percaya ini akan membantu menumbuhkan sikap saling pengertian menuju terciptanya keluarga yang harmonis.

Monday, August 06, 2007

Dudi: singa pejuang kecilku

Tahun 1996, waktu istriku hamil mendekati delapan bulan, dia kukirim ke kampung halamanku di Magelang dengan pertimbangan agar irit saat melahirkan, karena biaya melahirkan di Magelang lebih murah daripada biaya melahirkan di Jakarta. Selain itu di kampungku ada ibuku yang bisa membantu menjaga istriku bila mau melahirkan sewaktu-waktu…

Di kampungku, ibu selalu rutin mengajak istriku kontrol ke bidan atau dokter. Alhamdulillah saat itu istriku juga nggak ngidam yang aneh-aneh. Dari USG oleh dokter, diperkirakan anakku sangat sehat karena detak jantungnya kuat dan diperkirakan akan lahir 16 September 1996. Istriku saat itu kemudian menelponku dan bilang sangat bahagia, karena kalau anakku lahir tanggal itu maka itu akan jadi hadiah ulang tahun yang paling berharga buat dia. Istriku sendiri lahir pada tanggal yang sama tahun 1972. Mendengar telpon istriku, aku merencanakan pulang pada hari Jumat tanggal 13 September 1996 agar bisa menunggui istriku melahirkan. Mbak Yuni yang menjadi bosku di kantor LSM Bina Swadaya juga merekomendasikan aku agar ambil tugas luar di Jateng saja selama seminggu agar bisa dekat keluarga…

Tanggal 13 September sewaktu aku pulang dari shalat Jumat, teman-temanku menyalami aku dan mengucapkan selamat. Aku bingung dan teman-temanku menjelaskan bahwa ketika aku shalat jumat ada telpon dari keluargaku yang menginformasikan anakku sudah lahir selamat dan sehat tanggal 13 September pagi di rumah sakit Gladiol Magelang. Sore harinya dengan menumpang bus aku pulang ke Magelang. Perjalanan ke Magelang yang 12 jam terasa amat lambat bagiku yang sudah kangen istri dan kepengin melihat anakku.
Keesokan hari, sampailah aku disana dan langsung menuju ke rumah sakit menengok anak istriku. Di pagi yang cerah itu, istriku kemudian bercerita tentang pengalamannya melahirkan. Sejak jam 1 malam tanggal 13 September, dia sudah merasa mulas dan berulangkali ke kamar kecil. Dia tidak berani membangunkan ibuku karena kuatir mengganggu. Untunglah setiap subuh ibuku selalu menengok istriku. Melihat pagi itu istriku sudah bangun maka ibuku terkejut dan menanyakan apakah istriku merasa mulas? Ibuku juga langsung membangunkan kakakku dan saudara-saudaraku untuk berkemas-kemas ke rumah sakit untuk mengantar istriku. Jam 7 pagi mereka berangkat ke Rumah Sakit. Di rumah sakit dia langsung dimasukan ke ruang bersalin dan langsung ditunggui dokter spesialis kandungan. Eh …mungkin karena ditunggui dokter, bayinya malu ke luar maka setelah menyuntik terlebih dahulu dokter kemudian meninggalkan istriku ke luar kamar. Walaupun mulas-mulas istriku mencoba sabar dan tawakal. Kakak sepupuku yang menungguinya juga menawarkanpada istriku untuk makan telur ayam kampong mentah agar persalinan lancar, tapi istriku menolak karena tidak biasa makan telor mentah. Kakak sepupuku sangat memuji ketabahan istriku yang tetap tenang meski menahan sakit mulas. Tidak sedikit orang perempuan sering meraung-raung kesakitan karena tidak kuat menahan sakit ketika melahirkan. Alhamdulillah sekitar jam 9 pagi bayinya lahir. …

Ibuku yang mengetahui kedatanganku pagi itu kemudian membawaku menengok bayiku ke ruang karantina bayi. Disana kulihat bayiku yang masih merah sedang memejamkan mata sambil sesekali menggeliatkan badan. Mungil, imut dan lucu bayi itu... Ibuku cerita bahwa bayiku mudah dikenali karena kalau menangis suaranya kencang. Bayiku suka menangis terutama kalau lapar atau haus. Dia juga suka kentut ...duuuut...bunyinya keras juga...

Sehabis menengok bayiku, aku tertidur di kamar istriku karena semalaman sulit tidur di bus. Aku terbangun sewaktu ada suara celoteh dari perawat-perawat yang akan memeriksa dan memandikan istriku. Kalau ingat peristiwa saat itu, istriku sering protes karena aku bukan seorang suami yang romantis. Alasannya selain dia harus bertaruh nyawa sendirian ketika melahirkan tanpa ditunggui suami, eh...suami datang nggak ngucapin selamat sambil membelai istri tercinta malah ngorok di lantai di bawah kolong tidurnya he.,..he...he...

Akhisnya setelah 3 hari di rumah, bayiku kubawa pulang. Sudah kusiapkan sebuah nama untuknya yakni Muhammad Azaduddin Hazazi yang artinya Singa Pembela Agama yang rajin dan gagah berani. Hazazi juga kupilih untuk mengingat tahun tersebut terdapat pelanggaran hak azazi yang serius dimana kantor PDI di Jakarta yang dikuasai kelompok Megawati diserbu oleh pihak lain dan korban meninggal maupun luka berjatuhan walau tidak ada angka pasti tentang jumlah korban yang bisa dijadikan rujukan.. aku duga korban yang jatuh sebagian besar adalah wong cilik yang saat itu simpati kepada Megawati karena Megawati didzolimi oleh pihak lain. Melalui nama Mohammad Azaduddin Hazazi atau biasa kupanggil Dudi itu, kuberdoa semoga anakku nantinya mampu menjadi singa pejuang kebenaran azazi yang gagah berani....khususnya pembela bagi masyarakat yang tertindas....Semoga Tuhan mengabulkan doaku........Amin....

Impotensi (pelajaran 1)

Suatu siang sehabis sekolah, anakku yang semata wayang bernama Dudi dijemput oleh Mama-nya (yang notabene istriku) dari sekolah dengan naik sepeda motor Honda yang agak reyot dan tua (10 tahun). Tatkala melewati perempatan Air Hitam, dimana terpasang sebuah spanduk iklan rokok, terjadi perbincangan antara Dudi dengan Mamanya.
Dudi: Ma, apakah artinya impotensi?
Mamanya agak terkejut dengan pertanyaan itu karena tidak pernah menduga pertanyaan itu muncul dari Dudi. Akhirnya mamanya sadar bahwa Dudi tanya tentang impotensi karena baca iklan layanan rokok yang mengatakan bahwa "merokok bisa mengakibatkan impotensi dst..."
Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, mama Dudi menjawab: "Impotensi adalah suatu penyakit yang menyebabkan orang laki-laki tidak bisa punya anak".
Dudi: "kalo begitu papa itu impotensi ya? karena aku minta adik kok nggak dikasih-kasih?"
Mama-nya Dudi tercengang mendengar tanggapan Dudi yang tak dinyana itu. Mamanya hanya ternganga dan geli mendengar jawaban Dudi.
Akhirnya Dudi melanjutkan kata-katanya bahwa: "Kalo gitu ma, nanti kalau aku sudah punya anak 2, aku mau impotensi aja ah biar tidak punya anak...."
Mama: ??????????
Pelajaran moral yang kupetik dari kasus nyata dialog Dudi dan mamanya, adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang sesuatu hal seperti sex education adalah tidak mudah dan perlu berhati-hati (disiapkan dengan baik), sehingga tidak menimbulkan salah pengertian dari si anak.