Thursday, February 07, 2013

SAPNNING A REVOLUTION (Kisah Mohamad Bondan, eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia)



Oleh: Molly Bondan
Yayasan Obor Indonesia
Jakarta, 2008
ISBN; 978-979-461-698-7
424 halaman

Buku ini merupakan biografi Mohamad Bondan yang merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Buku ini ditulis Molly Bondan, istri Mohamad Bondan yang semula berkewarganegaraan Australia dan banyak membantu Bondan dalam melakukan perjuangan pergerakan kemerdekaan selama Bondan tinggal di Australia maupun setelah Bondan pulang ke Indonesia.

Tidak ada tanggal pasti tentang kelahiran Bondan, kemungkinan ia  dilahirkan  15 Januari 1910 atau 13 Januari 1911. Bondan berasal dari keluarga bangsawan kecil keraton Kesepuhan Cirebon. Ayah Bondan seorang mantri  kehutanan di daerah Cirebon dan kuningan diera Hindia Belanda. Mantri kehutanan saat itu merupakan jabatan yang cukup dihormati di lingkungannya. Meski sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda, ayah Bondan sudah berpikiran cukup maju dan pro perjuangan kemerdekaan. Sehingga anak-anaknya di sekolahkan sejak dini, termasuk anak-anaknya yang perempuan. Bondan yang dibesarkan di daerah pedesaan dan kota kecil sangat menikmati masa kecilnya yang hidup di lingkungan yang asri dan penuh keakraban.

Sewaktu kecil, Bondan mulai disekolahkan di beberapa sekolah kampong yang tidak dijalaninya secara serius. Dia berpindah-pindah sekolah mengikuti ayahnya yang sering berpindah tugas. Bondan lulus dari HIS Kuningan (setingkat sekolah dasar jaman Belanda) pada tahun 1926. Namun saying karena ketiadaan biaya, Bondan tidak mampu melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dia akhirnya mendaftarkan dan diterima sebagai pegawai pembantu juru tulis di Pemerintah Kota Cirebon.

Pada usia 18 tahun, Bondan tertarik ikut rapat-rapat umum yang diselenggarakan oleh pergerakan kemerdekaan. Dia sangat termotivasi ketika menghadiri rapat umum yang menampilkan Soekarno sebagai pembicara. Dia kemudian bergabung dalam Partai Nasional Indonesia Cabang Cirebon. PNI merebut simpati dari masyarakat sehingga dikuatirkan akan merongrong kewibawaan pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya tokoh2 PNI termasuk Bondan kemudian dijebloskan penjara.  Adanya desakan dari berbagai pihak seperti Dr. Sutomo (PPPKI) dan Perhimpunan Indonesia (yang berada di Belanda) membuat pemerintah Hindia Belanda melepaskan tokoh-tokoh tersebut. Namun karena keaktifannya di PNI, Bondan kemudian dipecat dari jabatannya sebagai pegawai Pemerintah Kota Cirebon.

Pada tahun 1930, bondan pindah kerja ke Jakarta dan terus bergabung di PNI sampai Soekarno ditangkap dan PNI dibubarkan. Pada saat Bung Hatta dan Sjahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, Bondang bergabung dengan PNI Pendidikan. Pada tahun 1934, karena keaktivannya di PNI Pendidikan membuat Bondan ikut kena ciduk  dan dimasukkan ke penjara Glodok. Tokoh PNI Pendidikan lain yang ditangkap adalah Bung Hatta, Sjahrir, Maskun, Burhanuddin dll.

Pada bulan Januari 1935, Bondan bersama tokoh-tokoh  pergerakan dibuang ke Digul-Papua agar mereka sulit untuk membangun komunikasi dan jaringan poliutik dengan tokoh pergerakan lainnya. Digul merupakan suatu kamp interniran (tempat pembuangan tahanan politik) yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1926. Kondisi alam yang masih belantara, terpencil, banyak binatang buas dan malaria merupakan ancaman yang meatikan bagi para tahanan politik yang dikirim ke sana. Istilah “Digul-is” bermakna sebagai orang-orang tahanan politik yang pernah dibuang ke Digul. 

Selama pembuangannya di Digul,  Bondan banyak belajar ekonomi kepada Bung Hatta. Bersama-sama tokoh pergerakan yang lain (khususnya PNI Pendidikan) mereka mendirikan sekolah informal bagi anak-anak tahanan politik di Digul. Sepeninggal Bung Hatta dan Sjahrir yang dipindahkan ke Bangka, Bondan pernah mencoba kabur dari Digul dan sampai di Merauke. Namun tertangkap dan dikembalikan ke Tanah merah.

Pada tahun 1943, warga Digul (termasuk tahanan politik) dievakuasi ke Australia karena Perang Dunia II.  Pada mulanya Pemerintah Belanda memanipulasi bahwa tapol dari Digul disebutkan sebagai tawanan perang yang pro-Jepang. Namun lama-kelamaan hal ini terbongkar dan menimbulkan amarah public di Australia. Pemerintah Australia sendiri kemudian membebaskan para tapol untuk keluar dari tangsi tahanan dan memberikan kebebasan buat para tapol untuk mencari pekerjaan di Australia.

Pada tahun 1945, Bondan mendengar Soekarno Hatta  memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Bondan dan rekan-rekannya mengorganisir diri membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM)  di Brisbane yang bertugas untuk member dukungan pada Negara Indonesia yang baru merdeka. Sedangkan para pelaut Indonesia mendirikan SARPELINDO (Serikat Pelaut Indonesia) yang kemudian menjalin hubungan baik dengan serikat Buruh Australia untuk melakukan pemogokan terhadap kapal-kapal Belanda. KIM ini terus berkembang  di beberapa kota lain sehingga kemudian dibentuk CENKIM (Central Komite Indonesia Merdeka) untuk mengorganisirnya. CENKIM ini kemudian bertugas menjadi corong informasi tentang perkembangan di Indonesia, membangun hubungan diplomatic informal dengan Australia, membangun hubungan dagang (walau kurang berkembang karena Indonesia masih bergejolak), mengatur pemulangan para tapol ke tanah air hingga melakukan penggalanagan bantuan kemanusiaan korban perang revolusi kemerdekaan. CENKIM mempunyai peran strategis dalam  membangun hubungan baik Indonesia – Australia. Melalui CENKIM ini, Bondan dan Molly yang saat itu bekerja sebagai volunteer di CENKIM , dipertemukan dan menikah tahun 1946. Molly yang sejak semula simpati dengan perjuangan bangsa Indonesia kemudian ikut pindah ke Indonesia tahun 1947.

Sepulang dari perjuangan di Australia, Bondan kemudian mengabdikan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil di Departemen Perburuhan untuk urusan pelatihan dan pengembangan kualitas SDM. Walaupun hanya berpendidikan HIS, namun orang mengakui dedikasi, perjuangan dan pengalaman Bondan.  Sedangkan Molly mengabdikan diri menjadi pegawai Departemen Penerangan. Sisa-sisa penyakit malaria hitam  yang diperolehnya di Digul membuat Bondan beberapa kali jatuh sakit dan mengalami gangguan pendengaran. Bondan akhirnya meninggal tahun 1990 setelah menderita kanker paru-paru akut. Dia meninggalkan Alit (anak dari perkawinannya dengan Molly) dan Uwoh (anak dari pernikahannya dengan istri pertamanya yakni Dedeh yang diceraikannya ketika Bondan berada di tahanan Digul).

Secara umum buku ini sangat enak dibaca karena bahasanya luwes dan alurnya mengalir lembut.  Sangat bagus untuk menambah pengetahuan tentang sejarah perjuangan bangsa pra kemerdekaan. Banyak hal yang bisa diteladani dari seorang Bondan, seperti: sikap nasionalisme, bersahaja, pantang menyerah, mau belajar, akuntabel, bertanggung jawab dll dimana sikap-sikap tersebut sudah menjadi barang langka yang sulit ditemukan saat ini.




No comments: