Sunday, May 05, 2024

DOKTER BERHATI MALAIKAT


 

DOKTER BERHATI MALAIKAT

Penulis: Tracy Kidder

Penerbit Qanita, Bandung 2004

ISBN 979-3269-18-9

652 halaman.

 

Novel ini merupakan terjemahan dari novel  "Mountains beyond Mountains"  karya Tracy Kidder yang diterbitkan Random House Inc. New York 2003. Novel ini bercerita tentang kisah nyata Paul Farmer, seorang anak kulit putih  yang dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana yang berpindah-pindah dari Massachusetts Barat, ke alabama trus ke Gulf Coast dengan seting tahun 1980-an-2000-an. Mereka hidup di lingkungan kampung dan banyak berinteraksi dengan pendatang dari Haiti.Ayah Paul Farmer merupakan seorang pekerja serabutan yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap kaum miskin, sebuah sikap hidup yang kemudian menurun kepada Paul Farmer. Paul Farmer kecil merupakan anak yang cerdas dan mempunyai photographic memory yakni kemampuan untuk mengingat sesuatu secara detail. Kecerdasan ini yang menghantar prestasinya di sekolah dan menghantarnya masuk Duke University di Fakultas Kedokteran.

Paul Farmer lulus dari Duke University tahun 1983 dengan prestasi gemilang.  Paul Farmer mulai banyak bergaul dengan biarawati gereja dan pekerja sosial yang membantu masyarakat miskin. Dia mulai terlibat dengan kegiatan pekerjaan sosial bidang kesehatan di negara Haiti. Saat itu Haiti merupakan negara miskin yang dipimpin dictator Duvalier yang disokong Amerika. Kondisi kemiskinan yang sangat ekstrim ditandai dengan masyarakat yang kurang gizi dan banyak menderita penyakit tuberkolosis (TBC).  Sambil bekerja sebagai dokter pekerja sosial di Haiti, dia mendaftar di Harvard Medical  School untuk mendalami ilmunya.  Interaksi sosial dengan masyarakat membuatnya tertarik untuk mempelajari anthropologi medis. Dia punya keyakinan bahwa muncul dan menyebarnya suatu penyakit akan terkait erat dengan kondisi sosial budaya masyarakat tersebut. Dia menemukan bahwa penyakit TBC di masyarakat dampingannya terkait erat dengan sanitasi buruk dan kemiskinan masyarakatnya. Kemiskinan masyarakt di sana antara lain dipicu oleh terusirnya masyarakat dari tanahnya karena pembangunan bendungan pembakit listrik. Dengan logika berpikri seperti itu, Paul menyimpulkan bahwa kondisi kesehatan suatu masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan pembangunan sektor lain. Dengan demikian dibutuhkan sebuah pendekatan yang terpadu, untuk mengatasi masalah Kesehatan. Contoh lain adalah pasien yang sembuh dari TBC seringkali tidak  bisa segera Kembali pulih sehat karena nutrisi yang buruk. Oleh karena itu perlu dipikirkan agar mereka mempunya pekerjaan dan bisa mempunyai uang untuk membelai makanan yang bergizi.

Pergaulannya dengan kaum gereja juga memperkenalkannya pada Teologi Pembebasan. Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran teologis yang muncul di Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga, sekaligus merupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologi dimana titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin dan perjuangan mereka untuk pembebasan. Meskipun Paul hanya bisa mengikuti kegiatan perkuliahan secara paruh waktu, namun para pengajarnya toleran terhadap hal itu karena Paul mampu mengikuti ujian dengan sangat memuaskan dan dia seringkali memperkaya kegiatan perkuliahan dengan membawa kasus-kasus dari lapangan untuk didiskusikan di kampus.

Paul dan teman-temannya kemudian mendirikan Partners in Health (PIH) yang  sebuah organisasi nir laba yang bergerak di bidang Kesehatan di Haiti. Emphaty tulus Paul terhadap kaum miskin membuatnya dia mudah diterima dan bergaul dengan masyarakat yang didampinginya. PIH memperoleh respon positif atas keberhasilan dalam pemberantasan penyakit TBC lapangan di Haiti. PIH juga menangani kasus AIDS yang mulai merebak pada saat itu. PIH kemudian melebarkan sayap pelayanan ke negara Peru untuk pemberantasan TBC dan AIDS.

Dari pelayanan di lapangan, PIH kemudian menemukan basil TBC di beberapa tempat telah mengalami mutasi dan resisten terhadap obat-obat yang ada karena standar proses pengobatan yang ditetapkan WHO (organisasi Kesehatan Dunia) seringkali tidak dijalankan secara disiplin dan dimonitor dengan intensif. Dari eksperimen PIH, TBC yang resisten ini bisa disembuhkan melalui pendekatan pengobatan yang baru, dan obat-obatan yang sangat mahal. Melihat kondisi ini PIH kemudian membangun jejaring advokasi untuk melawan dominasi pabrik obat yang beriorientasi mencari keuntungan semata tanpa peduli nasib kaum miskin. Advokasi ini berhasil sehingga harga obat untuk penderita TBC bisa dikurangi 95% dari harga awal atau misalnya dari harga awal 100 dollar tinggal menjadi 5 dollar per paket. Keberhasilan lain adalah di tingkat internasional, WHO kemudian menerapkan standar pengobatan baru untuk TBC dan TBC resisten. Di Rusia, TBC resisten banyak diderita oleh para narapidana di sana. Lingkungan penjara yang kurang higienis membuat TBC berkembang biak dengan pesat. Keberhasilan eksperimen di Haiti dan Peru kemudian direplikasi ke penjara-penjara di Rusia dan menunjukkan hasil positif yang signifikan.  

Pengalaman Paul dalam penanganan medis di lapangan sulit ditandingi, sehingga karirnya melesat dan menjadikan seorang ilmuwan terkemuka di bidangnya. Banyak lembaga nasional dan internasional memintanya  menjadi sebagai salah seorang penasehat, karena pemikiran-pemikirannya yang brilian. Meski karirnya  bagus, namun Paul tentang seorang yang humble, yang setiap hari dengan sabar dan santun membalas ratusan email dari para dokter, donator, mahasiswa dan kalangan lain.  Jiwa dokternya juga masih menyala dengan tetap mengunjungi pasien-pasien di pelosok kampung yang terkadang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 3-4 jam. Dia rajin memenuhi undangan dari berbagai pihak seperti pemerintah komunis, pemerintah dan pengusaha kapitalis, kaum agamawan, akademisi dan lain-lain  untuk memberikan pemikiran dan pengalamannya dalam meyani kaum miskin. Dia tidak membeda-bedakan ras, agama dan suku bangsa seperti ungkapan Patria es Humanidad (Satu-satunya Kebangsaan adalah Kemanusiaan)

Paul Farmer mempunyai kepdulian kepada kepada kaum miskin dimanapun berada. Meski demikian tidak bisa diingkari kalau dia mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan kaum miskin di negara Haiti  Dimana dia membangun karir selama lebih 20 tahun. Pelayanan yang tulus luar biasa karena dia mengorbankan harta, mengorbankan waktu pribadi dan urusan keluarga serta mempertaruhkan nyawa untuk masyarakat miskin yang dibelanya.  Sebuah sikap mulia yang semakin jarang ditemukan di dunia yang makin individualis dan materialistis…..

 

Komentar:

Novel ini telah membangkitkan kekagumanku pada Paul Farmer yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap kaum miskin. Empathy dan pengorbanan  tulus untuk kaum miskin merupakan sikap yang perlu diteladani. 

Kekagumanku yang lain muncul terhadap Tracy Kidder yang mampu menuliskan kisah hidup ini dengan sangat indah. Kemampuan risetnya membuat tulisan ini menjadikan novel yang berbasis data dan bukan fiksi semata. Sebaliknya kemampuannya mengolah kata membuat novel ini terasa mengalir lembut seperti sebuah karangan semata.  Tracy sangat piawai membuat alur dan menonjolkan sudut-sudut pembelajaran kehidupan dalam novel ini (seperti juga dalam novel karyanya yang lain yakni novel Kelas 205).  

Penerjemahan buku ini juga sangat bagus sehingga karya terjemahan ini mudah dicerna dan dinikmati. Walau ada berbagai istilah teknis kedokteran, namun semua ditampilkan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam.

Bagiku buku ini sangat menginspirasi, karena mengajak kita berpikir sudah sejauh manakah kepedulian kita untuk kaum miskin? Apakah yang sudah kita perbuat untuk mereka?  Saya merekomendasikan buku ini dibaca oleh para pegiat pekerja sosial, mahasiswa dan orang lain yang punya kertertarikan terhadap dunia pekerjaan sosial dan kepedulian terhadap orang miskin.

Salah satu kekurangan buku ini adalah kualitas penjilidan yang kurang baik sehingga ada beberapa  puluh halaman yang lepas berserakan.


Sunday, April 28, 2024

SENI MENCINTA


 

SENI MENCINTA

Penulis Erich Fromm

Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1987

155 halaman

 

Erich Fromm (1900-1980) merupakan seorang ahli filsafat dan ilmu Jiwa kelahiran Jerman yang kemudian migrasi ke Amerika Serikat. Buku ini merupakan terjemahan buku The Art of Loving karya Erich Fromm yang diterbitkan Harper & Row Publishers, New York and Evanston tahun 1962. The Art of Loving" oleh Erich Fromm adalah sebuah karya yang mengeksplorasi konsep cinta dalam konteks psikologis, sosial, dan filosofis.

Cinta merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia dan sekaligus bukti eksistensi manusia. Dalam buku ini Fromm mengungkapkan cinta merupakan suatu seni sehingga memerlukan pengetahuan dan latihan. Hal ini berbeda dengan pandangan yang banyak berkembang saat ini bahwa cinta merupakan perasaan menyenangkan ketika seseorang beruntung mengalami “jatuh cinta” atau sebuah ketidaksengajaan sehingga tidak perlu dipelajari.

Orang sering terjebak dalam kekeliruan  memandang cinta sebagai suatu proses yang tidak perlu dipelajari karena:

  • Kebanyakan orang melihat masalah cinta ini pertama-tama sebagai masalah “dicintai” dan bukan masalah kemampuan orang untuk “mencintai”. Sehingga mereka terjebak dalam upaya agar mereka menarik dan dicintai oleh orang lain.
  • Masalah cinta lebih terkait dengan “obyek” dan bukan “bakat” dimana orang lebih focus belajar mencari obyek untuk dicintai dan bukan mempelajari bagimana mencintai orang lain.
  • Orang sering terfokus pada proses “jatuh cinta” dan terlupa untuk “memelihara rasa cinta” pada tahap selanjutnya.

Untuk mengatasi kekeliruan tersebut, Fromm menyarankan orang memperbaiki diri dengan: (1) menyadari cinta adalah suatu seni, sehingga kita harus mempelajarinya, (2) menguasai teori dan prakteknya, (3) menguasai seni sebagai salah satu tujuan/prioritas tertinggi.

Secara umum, beberapa pointer penting yang disampaikan Fromm dalam buku ini yang saya rangkum dari catatan saya dan AI adalah sebagai berikut:

Konsep Cinta: Fromm mendefinisikan cinta sebagai suatu tindakan yang terdiri dari elemen-elemen seperti perhatian, kepedulian, tanggung jawab, penghormatan, dan komitmen. Menurutnya, cinta bukanlah suatu perasaan yang pasif, tetapi sebuah kegiatan yang aktif dan dinamis. Cinta itu terutama memberi, dan bukan menerima. Orang yang kaya akan cinta adalah bukan orang yang kaya rasa cinta, tetapi orang yang “memberi banyak”. Ia memberi tidak untuk pamrih menerima balasan tapi memberi itu adalah kegembiraan yang sangat indah..

Asal-Usul Cinta: Fromm mengajukan bahwa cinta tidaklah bawaan atau naluri, melainkan suatu keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan. Dia berpendapat bahwa orang belajar cara mencintai dari lingkungan dan budaya mereka.

Jenis cinta; Di dalam keluarga seorang anak tumbuh dalam “kasih sayang dan pengasuhan ibu” yang tulus secara naluriah tanpa pamrih. Secara normal setiap ibu pasti akan mencintai bayinya yang tidak berdaya.  Setelah berkembang, anak tumbuh dalam “cinta kasih bapak” yang cenderung sudah berpamrih, dimana anak harus melakukan segala sesuatu yang diperintahkan ayahnya agar bisa mendapatkan kasih sayangnya secara penuh. Rasa cinta tersebut kemudian berkembang lebih lanjut menjadi kepada “cinta sesama makhluk”. Cinta kepada sesame ini akan tumbuh selaras dengan didikan Keluarga dan lingkungannya. Seseorang yang dibesarkan dalam Keluarga yang penuh kepedulian terhadap orang lain, cenderung akan mudah mempunyai emphaty terhadap orang lain. Bentuk cinta lain adalah "cinta erotis" dari seorang pria kepada wanita atau sebaliknya. Cinta erotis ini bersifat ekslusif, karena seseorang dapat meleburkan diri sepenuhnya dengan mendalam hanya kepada satu pribadi saja. Fromm tidak setuju dengan pendapat Freud bahwa kecocokan dan kepuasan seksual akan menumbuhkan rasa cinta.  Bahkan Fromm berpendapat bahwa cinta yang tulus lah yang akan menghasilkan kepuasan seksual. Oleh karena ketika seseorang mempunyai masalah seksual, treatment pengobatannya dilakukan dengan memperbaiki rasa cintanya.  Bentuk cinta yang lain adalah “Cinta diri”. Cinta diri adalah jika engkau mencintai orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Cinta diri ini merupakan kebalikan dari konsep mementingkan diri sendiri. Manusia juga mempunya "cinta kepada Allah", yang dianggap sebagai sesuatu yang Maha Tinggi yang harus disembah dan diikuti sehingga sifat-sifat baik Tuhan melebur dalam perilaku sesorang tersebut.

Cinta dan Kemandirian: Fromm menekankan pentingnya kemandirian dalam cinta. Dia mengatakan bahwa seseorang harus menjadi pribadi yang utuh dan mandiri sebelum dapat mencintai secara sehat. Cinta yang sejati memperkaya individualitas dan kemandirian masing-masing pasangan.

Cinta dan Kebebasan: Fromm menyoroti hubungan antara cinta dan kebebasan. Dia berpendapat bahwa cinta sejati membutuhkan kebebasan individu, bukan pemaksaan atau kontrol. Cinta yang sehat memberikan ruang bagi kedua pasangan untuk tumbuh dan berkembang. Cinta adalah anak dari kebebasan dan bukan dari penguasaan. Ketika seseorang mencintai orang lain, dia harus siap menerima orang itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Keterlibatan Sosial dan Politik: Fromm juga membahas relevansi konsep cinta dalam konteks sosial dan politik. Dia menekankan pentingnya cinta sebagai kekuatan untuk mengatasi egoisme dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Dalam kehidupan masyarakat Barat yang individualis dan materialistis, cinta menjadi salah satu kebutuhan untuk menjaga eksistensinya. Perlu ditanamkan rasa cinta dan emphaty kepada sesame, yang didasari ketulusan tanpa pamrih. Rasa cinta kepada Tuhanpun perlu dikembangkan agar manusia menyadari keterbatasannya dan dia sadar bahwa ada tempat bersandar untuk segala permasalahan hidupnya.

Berlatih cinta; untuk mempelajari seni mencinta, seseorang harus mempunyai jiwa disiplin, konsentrasi, sabar, perhatian yang tinggi untuk menguasai seni mencinta, belajar melalui seni yang lain seperti seorang pemanah harus belajar ilmu pernapasan. Latihan kepercayaan, keberanian dan bersikap obyektif. Pada intinya, kita harus berani banyak melakukan kontemplasi dan pengorbanan waktu untuk mengenali diri kita maupun untuk menemukan hakikat cinta.

Membaca karya Erich Fromm ini, saya jadi menemukan benang merah dengan karya para sufi seperti Ibn’ Rusdy dan Jalaludin Rumi serta Paulo Coelho (khususnya Alchemist). Mereka banyak mengupas tentang perlunya memupuk cinta kepada kekasih, kepada sesama maupun kepada Tuhan. "The Art of Loving" memberikan wawasan yang dalam tentang sifat cinta dan bagaimana kita dapat memahaminya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang multidimensional, Fromm mengajak pembaca untuk mempertimbangkan peran cinta dalam membangun hubungan yang bermakna dan memperbaiki dunia di sekitar kita.

Tantangan membaca buku ini adalah karena buku ini adalah buku terjemahan, terkadang saya menemukan kalimat yang agak sulit dicerna karena mungkin sulit dicari padanan katanya. Selain itu karena buku ini terbitan lama (terbitan tahun 1962 untuk buku asli dan terbitan 1987 untuk terjemahan, terkadang saya harus kilas balik membayangkan situasi sosial politik pada saat buku ini dituliskan agar memperoleh pemahaman yang sesuai.

Sunday, March 31, 2024

Syekh Akbar Ibn’Arabi; Taman Makrifat

 


Syekh Akbar Ibn’Arabi; Taman Makrifat

Imam Nawawi & Fajri Andika

Penerbit Forum, Yogyakarta 2023

ISBN 978-602-0753-78-2

102 halaman

 

“Di alam semesta ini, Tuhan memiliki Batasan yang bisa diketahui. Dia dapat diketahui  oleh manusia yang tidak tahu”

--Syekh Akbar Ibn ‘Arabi--

 

Tuhan tidak akan lari ketika dicari. Dia juga tidak akan pergi ketika ditinggalkan. Manusialah yang lari menjauhi-Nya dan pergi dari-Nya. Andai manusia tahu betapa Indah cinta itudengan buncahan rindunya, sungguh ia akan sampai kepada-Nya. Taman itu begitu Indah dan mempesona.Aromanya semerbak mewangi. Jika demikian, untuk apa berbahagia namun justru hanya  menemui yang semu? Di sanalah kebahagiaan sejati, di taman makrifat.

------------

Kutipan di atas merupakan epilog buku Taman Makrifat. Buku ini merupakan narasi dari kutipan-kutipan yang diambil dari Diwan Ibn ‘Arabi. Kutipan pilihan teologi mengenal Tuhan.

Ibn ‘Arabi merupakan seorang sufi yang rajin menuntut ilmu kepada siapapun dan dari aliran manapun. Hal ini membuat wawasan beliau sangat luas dan mempunyai sikap yang sangat toleran terhjadap sebuah perbedaan pandangan. Beliau berpandangan bahwa semua mahluk adalah ciptaan Tuhan sehingga kita harus menghormatinya. Tuhan menciptakan manusia beranekaragam supaya bisa saling mengenal.  Meski demikian toleransi tersebut mempunya batas yakni jangan sampai mencampur adukkan Aqidah.

Sebagai seorang sufi, Ibn ‘Arabi dikenal dengan ajaran tentang Wahdatul Wujud. Ajaran ini menyatakan bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Esa, sedangkan makhluk adalah bagian dari Dzat Yang Maha Esa tersebut. Tuhan memperlihatkan Diri pada apa saja yang ada di alam semesta ini, karena tak ada satupun di alam semesta ini kecuali wujud Tuhan. Dengan kata lain, eksistensi alam semesta merupakan manifestasi dari keberadaan Tuhan. Dalam diri mahluk tercermin sifat dan nama-nama indah Tuhan seperti sifat Penyayang, Pengasih, Pemaaf, dan lain-lain. Oleh karenanya manusia diminta untuk bisa merenung dan mengenali dirinya sendiri karena dengan mengenali dirinya sendiri dia akan bisa mengenali Tuhannya.

Meski manusia mencerminkan sifat-sifat Tuhan namun perlu dipahami bahwa manusia mempunyai banyak keterbatasan yang tidak akan mampu mengurai keagungan Tuhan yang tidak terbatas.  Sehingga manusia tidak boleh sombong dan terlalu mengagungkan akal. Ada banyak fenomena kehidupan dan keTuhanan yang tidak bisa dipecahkan dengan akal, namun bisa didekati dengan hati. Ibn ‘Arabi mendorong kita untuk selalu dekat denganNya melalui ibadah sesuai syariat dan  banyak berdzikir. Bagi Ibn ‘Arabi, kecintaan kita kepada Tuhan harus kita wujudkan dengan menjalankan syariat atau petunjuk yang telah diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. Adalah suatu sikap munafik bila kita mengaku cinta Tuhan tetapi kita tidak peduli dengan perintah dan larangan-Nya.

 


Wednesday, March 27, 2024

Syekh Akbar Ibn’Arabi; Tarekat Rindu

 


Syekh Akbar Ibn’Arabi; Tarekat Rindu

Imam Nawawi &Fajri Andika

Penerbit Forum, Yogyakarta 2023

ISBN 978-602-0753-77-5

110 halaman

 

“Jangan kau tanyakan rahasia rinduku,

Aku rindu namun tak punya alasan”

--Syekh Akbar Ibn ‘Arabi--

 

Bisakah rindu itu hadir di dalam hati tanpa ada cinta? Mustahil, itu mustahil Rindu adalah Bunga dari cinta. Jika cinta adalah tangkai, maka bunganya itulah rindu.  Cinta adalah keindahan, namun rindu adalah keresahan. Meskipun rindu itu meresahkan, namun itu adalah keresahan yang terasa begitu Indah. Umat manusia akan merasakannya ketika cinta bersemayam di hati mereka.

------------

Kutipan di atas merupakan epilog buku Tarekat Rindu. Buku ini merupakan narasi dari kutipan-kutipan yang diambil dari Diwan Ibn ‘Arabi. Kutipan pilihan seputar cinta dan rindu karya Ibn ‘Arabi diramu sedemikian rupa untuk mengangkat gagasan perihal pesona cinta dan buncahan rindu yang luar biasa.

Sebagai seorang sufi, Ibn ‘Arabi menggambarkan bahwa ketika kita mencintai seseorang kita selalu ingin dekat dengannya, ingin menuruti setiap permintaan dan perintahnya, ingin dia tidak berpaling ke yang lain, selalu rindu padanya, ingin selalu membuatnya terseyum, tidak ingin membuatnya murka dengan tingkah kita dan seterusnya. Ketika cinta tersebut dianalogikan sebagai cinta kepada Allah yang Maha Penyayang, ternyata situasinya hampir sama. Ketika cinta kepada Allah, perasaan-perasaan itu seperti rindu ingin dekat, ingin membuatnya tersenyum bahagia, ingin selalu memenuhi perintahnya dst juga muncul dengan sendirinya. Hal ini bisa menjadi indicator seberapa dalamkah cinta kita kepada-Nya? Apakah kita merasa rindu pada-Nya? Apakah kita sudah berusaha membuat-Nya tersenyum dengan menjalankan perintah-perintah-Nya? Ataukah kita selama ini hanya munafik  mengaku cinta kepada-Nya tapi hanya di mulut saja?

Ketika seseorang mencintai Tuhannya, dia akan melakukan semua perintahnya karena demi cinta, demi membahagiakan kekasih-Nya. Dia beribadah bukan karena iming-iming surga, ataupun ancaman api neraka… tapi karena memang rasa cinta kepada kekasihnya. Dia tidak akan berpaling ke dunia atau yang lain karena dia yakin kekasih yang dicintanya adalah tujuan akhir yang ingin dijumpainya. Seorang pecinta sejati akan mengorbankan apapun yang dimilikinya untuk sang kekasih.

Untuk bisa mencintai kekasih sejati, penyempurnaan akhlak perlu dilakukan melalui takhalli (menghilangkan sifat tercela),  tahalli ( pengungkapan secara progresif nilai-nilai moral yang etrdapat dalam Islam, dan tajalli (melembaganya nilai  Ilahiah yang direfleksikan dalam setiap gerak perilakunya).  Orang yang mampu mengendalikan diri dan mengenal dirinya sendiri, dia akan mengenal Tuhannya  dan tidak akan silau oleh kemilau dunia.

Saya menyukai buku ini karena beberapa bagian buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat puitis yang sangat Indah penuh metafora. Meskipun sebagai konsekwensinya kita terkadang harus mengunyah isi bacaan secara perlahan supaya dapat memahami maknanya secara tepat.   

 

 

 

Tuesday, March 19, 2024

360 PRINSIP KEBIJAKAN TATA NEGARA TIONGKOK KUNO (JILID 1)

 


360 PRINSIP KEBIJAKAN TATA NEGARA TIONGKOK KUNO (JILID 1)

Kutipan Karangan Qunshu Zhiyao

Penerbit Masyarakat Madani, Jakarta 2015

251 halaman

 

Buku ini merupakan karya Wei Zheng dan Yu Shinan. Mereka merupakan penasehat Kaisar Taizong (599-649 M). Buku ini merupakan rangkuman dari ribuan buku dan gulungan tulisan kuno terkait tata negara jaman Tiongkok. Buku yang sarat dengan ajaran etika dan moral ini kemudian dijadikan referensi oleh Master Chin Kung untuk mengembangkan Pusat Pendidikan Moral/Budi Pekerti  Kebudayaan Tionghoa. Dalam tempo 3-4 bulan  proyek Master Chin Kung berhasil memperbaiki tata krama dan budi kesopanan penduduk   setempat yang jumlahnya sekitar 48 ribu orang.

Beberapa prinsip kepemimpinan dalam ketatanegaraan yang terbuat dalam buku ini antara lain:

  • Pemimpin harus bisa menjadi suri tauladan. Pemimpin tidak boleh serakah, harus rajin dan hemat, tidak emosional, mau menerima masukan, mampu melakukan intropeksi diri, cermat mengambil Keputusan, dan respek kepada orang lain.
  • Pemimpin harus mampu memilih pejabat yang berkualitas (merit system). Pejabat yang dipilih hendaknya piunya integritas moral, loyal dan penuh pengabdian kepada negara, mampu memberikan masukan secara obyektif, pandai dan bijaksana.
  • Pemimpin harus memiliki akhlak yang luhur. Pemimpin harus mempunyai hati nurani yang baik, berbakti kepada orang tua dan sesame, berpegang pada nilai Kebajikan dan kebenaran, dapat dipercaya, berjiwa besar, rendah hati, teliti dan hati-hati, tabah  rajin menimba ilmu dan memupuk Kebajikan serta pintar memilih pergaulan yang baik.
  • Pemimpin harus menguasai ilmu tata negara. Pemimpin harus memahami prinsip administrasi yang baik, mampu melakukan penilaian secara obyektif, mengangkat pejabat yang bersih dan bijak, bersikap adil, berpihak kepada rakyat, memperhatikan pemenuhan kebutuhan rakyat, memajukan Pendidikan rakyat, disiplin, belajar dari orang bijak, mampu membangun militer yang tangguh namun tidak ofensif.
  • Pemimpin harus bersikap hormat dan hati-hati. Seorang pemimpin harus bersikap hati-hati terhadap hal-hal kecil yang berpotensi merugikan negara dan sebaliknya mendukung hal-hal kecil yang membawa kebaikan untuk negara, menghormati adat istiadat yang luhur, adil dan konsisten dalam penegakan hukum, mampu melakukan deteksi dini dan mencegah hal-hal yang berpotensi merugikan negara, bersikap tenang dan obyektif dalam menghadapi masalah, teliti dalam menangani suatu kasus dari awal hingga akhir serta mampu menjaga Kesehatan jasmani dan Rohani.
  • Pemimpin  harus cermat dan seksama. Seorang pemimpin harus berani mendukung yang benar dan melawan yang sesat, mampu mengekang diri dari perilaku buruk, berperilaku bijak dan adil, tidak egois, tidak kolusi/berkomplot untuk kepentingan pribadi, berpikiran positif, peka terhadap isyarat semesta dan mengkaitkannya dengan kondisi tata pemerintahan yang dipimpinnya.

 Buju ini ditulis dalam bentuk pointer-pointer dengan bahasa yang mudah dipahami. Nilai-nilai yang dimuat di buku ini bersifat universal, walau unsur “ ketimuran”nya sangat kental. Sehingga isi buku ini relevan untuk diterapkan di Indonesia. Saya pikir buku ini bagus untuk jadi referensi dalam diklat kepemimpinan untuk para pejabat. Suatu tantangan adalah bagaimana membuat isi buku ini tidak sekedar dipahami namun “diamalkan” oleh para pejabat atau calon pejabat, di tengah sistem birokrasi yang masih sering kurang mendukung.