Saturday, February 17, 2024

NYANYIAN SEORANG ABORIJIN

 


NYANYIAN SEORANG ABORIJIN

Penulis Thomas Keneally

Penerbit Hasta Mitra, Jakarta 1982

218 halaman

 

Novel ini berkisah tentang Jimmie Blacksmith yang merupakan anak “haram” dari ibu seorang Aborijin dan bapak orang kulit putih. Di saat itu adalah hal yang sering terjadi Ketika pria kulit putih mencari kepuasan seksual kepada kaum perempuan Aborijin. Jimmie sendiri dibesarkan di masyarakat perkampungan Aborijin yang masih lekat dengan stereotype percaya mistik dan tahyul, jorok, kurang berpendidikan, suka mabok, suka mengumpat, terobsesi dengan seks dan lain-lain. Meski demikian mereka juga dipandang mempunyai ikatan kekeluargaan, kesukuan dan budaya yang cukup tinggi, termasuk hormat kepada yang lebih tua. Dia tinggal bersama ayah tirinya Wilf, ibunya Dulcie, adik tirinya Morton, dan Bibra. Selain itu tinggal pula pamannya Tabidgi yang merupakan seorang pemabuk dan menyukai mistik.

Saat menginjak remaja  Jimmie diperbantukan di keluarga Pendeta Neville. Di sana dia dididik sehingga bisa membaca dan menulis. Sampai suatu saat dia harus menjalani ritual “agar menjadi lelaki dewasa” secara adat. Dia diasingkan di sebuah hutan dan disunat secara tradisional. Setelah prosesi tersebut, Jimmie tergugah kesadarannya  untuk memperbaiki nasib hidupnya. Dia berpamitan kepada pendeta Neville untuk pergi merantau guna mencari pekerjaan.

Jimmie kemudian merantau berjalan kaki dan mendapatkan pekerjaan memasang pagar batas pertanian milik keluarga Healy yang berkulit putih. Pekerjaan itu diselesaikan dengan  baik walaupun kemudian dia dibayar lebih rendah dari yang dijanjikan. Dia kemudian bekerja kepada keluarga kulit putih Claud Lewis yang sangat pelit. Di usia duapuluh tahun, setelah dari keluarga Lewis dia bekerja sebagai pembantu di sebuah kantor polisi di daerah terpencil. Namun dia kemudian keluar setelah tahu polisi atasannya seorang homoseks yang kejam yang tega membunuh tahanannya.

Jimmie kemudian bekerja di Keluarga Hayes sebagai pencukur domba. Di sini Jimmie berkenalan dengan Gilda gadis kulit putih yang agak dungu, pelayan keluarga Hayes. Hubungan Jimmie dan Gilda semakin erat, sampai Gilda menjadi hamil. Karena kontrak pekerjaan di Keluarga Hayes sudah selesai, maka Jimmie mencari pekerjaan lain supaya nanti bisa menikahi dan memboyong Gilda.

Setelah beberapa lama, Jimmie mendapatkan pekerjaan memasang pagar pertanian di keluarga Newby. Jammie kemudian membuat gubug kecil di lahan pertanian tersebut, kemudian memboyong Gilda dan menikahinya di sebuah gereja. Alangkah terkejutnya Jimmie, ketika Gilda melahirkan ternyata anaknya kulit putih. Hal ini menunjukkan Gilda telah berselingkuh dan anak yang dikandung Gilda adalah bukan anak Jimmie. Keluarga Newby mentertawakan nasib Jimmie yang diselingkuhi. Jimmie menjadi sakit hati terhadap Gilda maupun keluarga Newby dengan perlakuan tersebut.

Seminggu kemudian gubug Jimmie kedatangan tamu yakni Tabidgi dan Mort yang membawa jimat perlindungan Jimmie. Jimmie sendiri sebenarnya tidak menyukai kehadiran mereka, namun tidak kuasa mengusirnya karena mereka kerabat yang dituakan. Keluarga Newby sendiri juga tidak menyukai kehadiran Tabidgi dan Mort di wilayah pertaniannya karena kuatir akan mengganggu ketentraman hidupnya.

Untuk mengusir Tabidgi dan Mort, keluarga Newby kemudian menghentikan bantuan makanan dan kebutuhan pokok yang biasanya diberikan sebagai pembayaran upah di muka. Hal ini membuat Keluarga Jimmie kelaparan. Jimmie berusaha meminta pengertian dari Keluarga Newby, namun yang diperoleh malah ejekan.  Jimmie yang mata gelap mengajak Tabidgi untuk memaksa keluarga Newby memberikan makanan. Percekcokan terjadi dengan Nyonya Newbie dan anak-anak perempuannya, sampai pada puncaknya  Jimmie dan Tabidgi membunuh Nyonya Newby dan 3 orang anak perempuan  yang tinggal di rumah itu.

Setelah melakukan pembunuhan tersebut, Jimmie beserta keluarganya melarikan diri untuk membebaskan diri dari hukuman negara dan balas dendam Keluarga Newby serta kelompok orang putih lainnya. Menyadari kemungkinan aksi balas dendam kelompok orang kulit putih, Jimmie menyatakan “perang” terhadap orang kulit putih yang selama ini selalu meremehkannya dan mengejeknya.

Dalam pelarian itu, kondisi alam sedang banyak hujan dan dingin. Mereka harus melewati hutan dan pegunungan yang terkadang sulit ditempuh. Fisik Gilda yang masih dalam kondisi baru melahirkan, menyulitkan pergerakan rombongan kecil pelarian ini. Hal ini ditambah dengan kondisi Tabidgi yang sudah tua dan terkena depresi setelah melakukan pembunuhan. Akhirnya mereka bersepakat  untuk meninggalkan Gilda beserta bayinya dan Tabidgi dipinggir jalan untuk ditolong orang. Walaupun Tabidgi telah membunuh orang, namun karena tidak ada saksi mata dan dia sendiri depresi mendekati gila maka Jimmie menganggap Tabidgi aka naman dan tidak dituduh sebagai pembunuh. Mort adik Jimmie sendiri tidak tahu bahwa Jimmie dan Tabidgi telah melakukan pembunuhan sadis. Dia tahunya keluarga Newby tidak adil dan membayar hak-hak Jimmie. Jimmie sendiri mengajak Mort untuk menjadi teman pelarian karena masih muda dan kuat sehingga akan bisa membantunya saat dibutuhkan.

Adanya pembunuhan Keluarga Newby membuat apparat hukum bergerak. Selain itu terdapat sekelompok orang kulit putih yang berniat memburu dan membalas dendam pelarian tersebut. Apalagi negara juga menyediakan hadiah yang nilainya cukup besar bagi yang bisa menangkap pelarian tadi hidup ataupun mati.

Pelarian mereka sampai ke rumah keluarga Healy. Kedatangan mereka dihadapi oleh Nyonya Healy yang panik sehingga Mort menembaknya. Demikian pula Tuan Healy yang datang dari luar rumah, tewas tertembus peluru Jimmie.  Pembunuhan ini membuat Jimmie semakin jadi perhatian dan buronan kelas tinggi.

Pelarian mereka terus berlanjut hingga menemukan seorang kulit putih tua yang mantan seorang guru. Mereka menyandera orang tua itu dan membawa dalam pelarian. Tanpa diduga orang tua tersebut malah bersimpati dengan Jimmie yang selama ini sering dilecehkan dan ditipu oleh orang kulit putih. Orangtua itu bercerita bahwa tidaklah adil ketika orang Aborijin membunuh orang kulit putih kemudian menimbulkan kehebohan, sedangkan ketika orang kulit putih membunuh orang Aborijin, semuanya diam membisu. Padahal orang kulit putih yang jadi korban pembunuhan hanya sekitar 5,000 orang,  sedangkan orang Aborijin yang terbunuh sekitar 250,000 orang. Orangtua itu kemudian mengajak Jimmie dan Mort menuju sebuah situs peninggalan orang Aborijin yang sudah ternoda dengan graffiti ulah orang kulit putih. Kondisi fisik orangtua tersebut semakin lemah, sehingga Jimmie dan Mort berinisiatif menyerahkan orangtua tersebut ke kampung terdekat untuk mendapatkan perawatan. Ketika menyerahkan orangtua ini, mereka sudah diintai oleh para pemburu pelarian. Mort akhirnya tewas tertembak dalam peristiwa itu.

Jimmie terus melakukan pelarian dengan harapan akan bisa ke Queensland untuk menyelundup ke kapal dan pergi ke Amerika. Namun ketika menyeberangi sebuah Sungai, rahangnya tertembak oleh para pemburu pelarian. Dia kemudian bersembunyi di sebuah biara dan ditangkap disana untuk kemudian berakhir di penjara. Di penjara ini, pendeta Neville senantiasa mendampingi dan memberikan dukungan moral untuknya sampai ajal menjemputnya.

 

Komentar:

Novel dengan seting sekitar tahun 1900 ini merupakan novel yang nampaknya diangkat dari kisah nyata yakni kisah Jimmie Governor atau Si hitam dari Breelong. Novel ini konon termasuk dalam khasanah Sejarah dan cerita rakyat Australia. Perlakuan orang kulit putih terhadap orang Aborijin  yang tidak adil membuat Jimmie “memberontak” terhadap sekelilingnya. Dia “mengumumkan perang” kepada orang kulit putih yang memusuhinya, suatu  hal yang ia tiru dari orang kulit putih  untuk meresmikan balas dendam dan kekerasan.

Novel ini secara umum menarik dengan alur yang sederhana dan runtut. Pada awal buku memang terdapat  intro yang perlu dikunyah secara pelan, agar bisa ditangkap maknanya dengan baik (mungkin ini factor penterjemahan dan tata bahasa). Dalam pengantar diceritakan bahwa dalam naskah asli terdapat banyak kata-kata umpatan, yang mungkin agak sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia karena factor padanan kata ataupun kesopanan.  

 

 

 

 

No comments: